
Dokter dan suster kini sedang sibuk memeriksa keadaan kondisi Andrew.
"Sus pasang kembali infusannya," perintah Dokter Zian.
"Baik, Dok." jawab Suster Hani.
Suster Hani dengan segera memasangkan infusannya ke tangan Andrew.
"Ini benar-benar sebuah keajaiban," ucap dokter Zian, merasa tidak menyangka.
"Iya Dok, ini benar-benar sebuah keajaiban! Akhirnya pasien kembali lagi bisa bernapas," timpal Suster Hani.
"Iya Sus." jawab Dokter Zian.
Setelah selesai memeriksa kondisi keadaan Andrew, dokter Zian segera memberikan peralatan pemeriksaannya kepada Suster Hani, lalu keluar dari ruangan tersebut.
"Dok, gimana keadaan Andrew sekarang?" tanya Bu Cantika, berjalan menghampiri dokter Zian saat sudah berada di luar ruangan.
Dokter Zian pun tersenyum, lalu menatap Bu Cantika dan Tika.
"Keadaan Andew sekarang-"
"Gimana keadaan Andrew, Dok? Jangan buat kita khawatir!" ucap Tika, saat Dokter Zian mengantung ucapannya.
"Benar-benar sebuah keajaiban, beliau bisa bernapas kembali, dan tidak ada yang mustahil bila yang Maha Pencinta sudah berkehendak," ucap Dokter Zian, lalu tersenyum kepada Bu Cantika, dan Tika.
"Alhamdulilah Bu," ucap Tika, langsung memeluk Bu Cantika karena begitu sangat senang mendengar perkataan dokter.
"Iya Nak, Ibu sangat senang mendengarnya sayang, semoga saja Andrew secepatnya sadar ya sayang," ucap Bu Cantika sambil menguraikan pelukannya.
"Terima kasih Dok, telah berusaha menyelamatkan putra saya," ucap Bu Cantika.
__ADS_1
"Iya sama-sama Bu. Tapi terima kasih juga sama yang Maha Kuasa, karena atas izin-Nya lah beliau bisa bernapas kembali," ucap Dokter Zian.
"Iya tentu saja Dokter, itu memang hal yang utama untuk selalu bersyukur dan berterima kasih kepada yang Maha Pencipta," ucap Bu Cantika, kemudian tersenyum kepada Dokter Zian.
"Ya sudah kalau begitu, saya permisi dulu ya Bu," pamit Dokter Zian.
"Iya silahkan Dokter." jawab Bu Cantika.
Dokter Zian dengan segera pergi berlalu, dari hadapan mereka.
"Bu, ayo kita masuk ke dalam." ajak Tika merasa tidak sabar.
"Iya, ayo sayang," ucap Bu Cantika.
Tika dan Bu Cantika pun dengan segera berjalan memasuki ruangan, dimana kini Andrew sedang berbaring dengan tangan berselang infusan.
Ayah Efendy, dan Bu Lily segera menyusul masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Iya, apa yang dikatakan oleh Ibumu memang benar. Kamu tahu tidak Ndrew? Setiap malam waktunya tidur, aku tidak pernah tidur nyenyak, aku selalu kepikiran kamu terus Ndrew, dan berharap semoga kamu secepatnya sadar, dan kita bisa kembali menikmati dunia ini bersama." ucap Tika, kemudian memegang tangan Andrew.
"Kita berdoa saja, semoga Andrew secepatnya bisa sadar kembali. Kamu jangan terlalu khawatirkan Andrew, kamu harus yakin pasti Andrew sekarang baik-baik saja," Bu Lily berjalan menghampiri putrinya.
"Iya Bu," jawab Tika, sambil menganggukan kepala.
"Oya Nak, kita pulang dulu yuk," ajak Ayah Efendy kepada putrinya sambil menatap jam tangannya menunjukan pukul 7 malam.
"Tidak Yah, Tika disini saja. Ayah sama Ibu pulang saja, kasihan Chika pasti tidak ada teman selain bi atin.
"Tapi kamu juga harus pulang dulu sayang, kamu-"
"Tika mohon Yah, izinkan Tika untuk disini. Tika tidak mau pulang," Tika langsung memotong pembicaraan Ayahnya, dan berharap Ayah Efendy mengerti.
__ADS_1
Ayah Efendy lalu menatap Bu Lily, dan Bu Lily pun hanya menganggukan kepala, memberi kode agar suaminya mengizinkan.
"Oke, baiklah kalau keinginanmu seperti itu." ucap Ayah Efendy, menatap putrinya.
"Terima kasih Ayah," Tika langsung memeluk Ayah Efendy.
"Sama-sama sayang." ucap Ayah Efendy, sambil mengusap lembut rambut putrinya. Kemudian Ayah Efendy menguraikan pelukannya.
"Oya, nanti Ibu akan suruh pak amin untuk membawa baju ganti untukmu," ucap Bu Lily kepada putrinya yang kini masih memakai gaun, yang tepatnya cocok untuk dipakai di acara nikahan.
"Iya Bu. Terima kasih ya Bu, Ayah sudah mengertiin Tika," ucap Tika sambil tersenyum kepada Ibunya dan Ayahnya.
"Ya sudah kalau begitu, Ayah sama Ibu pulang dulu ya," ucap Ayah Efendy.
"Iya Ayah." jawab Tika.
"Cantika, saya permisi pulang dulu ya," pamit Ayah Efendy kepada sahabatnya.
"Iya silahkan Ndy." jawab Bu Cantika.
"Saya permisi ya, Cantika. Semoga Andrew secepatnya sadar ya, dan bisa seperti biasa biasa lagi." ucap Bu Lily, tersenyum kepada Bu Cantika.
"Iya terima kasih Li. Hati-hati di jalannya ya." ucap Bu Cantika.
"Iya." jawab Bu Lily.
Bu Lily dan Ayah Efendy dengan segera pergi dari hadapan Tika dan Bu Cantika.
Kini hanya ada Bu Cantika, dan Tika sedang menunggu Andrew di ruangan rawat inap.
Bersambung ....
__ADS_1