
Saat Tika dan Chika akan berjalan menuju wahana permainan, tanpa di sengaja Tika bertemu dengan Andrew.
"Tika ...," panggil Andrew.
"Eh Andrew? Ternyata kamu ada disini juga ya?" tanya Tika, merasa terkejut.
"Iya Tika, aku lagi nemenin Ibuku disini, dan sekarang dia lagi berbelanja keperluannya. Kamu juga ternyata ada disini juga ya?"
"Iya, aku lagi nememin anakku main di wahana disana," ucap Tika, sambil menatap putrinya yang kini sedang berjalan menuju wahana tersebut.
"Oh, gitu ya. Bolehkah, aku temani? Soalnya aku jenuh nih, enggak ada teman," ucap Andrew, dan berharap Tika membolehkannya.
"Emmzz ... gimana ya?" ucap Tika, sengaja di gantung, sambil berpikir.
"Ya sudah kalau memang enggak boleh, tidak apa-apa kok, tidak masalah," ucap Andrew, sambil tersenyum terpaksa.
"Tentu saja boleh kok!" jawab Tika.
"Serius nih?" Andrew merasa tidak percaya. Padahal tadi sempat sedih, jika ditolak.
"Heem." ucap Tika, sambil menatap Andrew.
"Thank's." ucap Andrew, merasa senang.
Tika dan Andrew pun, kini berjalan menuju wahana, dimana Chika sudah ada disana.
"Ibu ... cepetan jalannya, Chika sudah tidak sabar lagi pingin masuk ke dalam sana," teriak Chika, kepada Ibunya.
"Iya bentar sayang," ucap Tika, sambil mempercepat jalan kakinya.
"Ya sudah, biar aku saja beli tiketnya," ucap Andrew.
"Eh enggak usah Ndrew, biar aku saja!" tolak Tika, merasa tidak enak hati.
"Sudah, kamu jangan banyak protes! Sekarang kamu temani dulu putrimu, biar aku beli dulu tiketnya," ucap Andrew, sambil menatap Tika.
"Tapi-" ucapan Tika terputus saat Andrew menempelkan jari telunjuk ke bi*bir Tika.
Tika pun membulatkan matanya, karena merasa terkejut dengan apa yang sudah dilakukan oleh Andrew.
"Sudah jangan banyak bicara!" Andrew, dengan segera melepaskan tangannya, lalu berjalan untuk membeli tiket masuk ke dalam wahana tersebut.
Tika pun dengan segera berjalan menuju putrinya.
"Mana Bu, tiketnya?" Chika, sambil menadahkan satu tangannya.
"Belum beli sayang." jawab Tika.
"Loh kok Ibu belum beli sih? Chika mau masuk gimana?" Chika menundukan kepalanya, merasa sedih dan kecewa.
"Tapi om andrew lah yang sedang membelikan tiketnya," ucap Tika, sambil meraih dagu putrinya, dan menatap wajah cantik putrinya.
"Serius Bu? Om andrew sedang beli tiketnya?" tanya Chika, untuk menyakinkan kembali ucapan ibunya.
"Iya sayang, Ibu enggak bohong kok!"
"Baiklah Bu." ucap Chika
"Ya sudah, sambil menunggu tiketnya, kita duduk dulu disana yuk," ajak Tika kepada putrinya, sambil berjalan menuju tempat duduk yang tidak jauh dari tempat wahana permainan tersebut.
*Lima menit kemudian.
"Maaf, lama menunggu ya," Andrew tiba-tiba datang menghampiri Tika, dan Chika.
"Iya, Om lama sekali sih. Chika tidak sabar, pingin masuk ke dalam," ucap Chika, sambil menatap Andrew.
"Sory ya sayang, Om tadi beli minuman dan makanan, untuk kalian," Andrew sambil menaruh minumannya dan makanan spagety, dan pizza.
"Wah, itu kan kesukaan Chika. Tapi Chika mau main dulu deh Om, soalnya Chika sudah tidak sabar ingin masuk ke dalam."
"Ya sudah ini tiketnya, hati-hati kalau main disana," ucap Andrew, sambil memberikan tiketnya.
"Iya Om. Ya sudah Bu, Chika kesana dulu ya."
"Iya silahkan Nak, hati-hati ya. Ingat jangan nakal."
"Baik Bu!" jawab Chika.
Chika pun dengan segera berjalan menuju wahana mainan tersebut.
"Ternyata kamu ada disini ya Nak," ucap Cantika, Ibu kandung Andrew.
__ADS_1
"Eh Ibu? Sudah selesai belanjanya?" tanya Andrew, sambil menatap Ibunya.
"Sudah selesai kok Nak! Oya, kamu sedang ngapain disini?" tanya Cantika, sambil menatap Tika.
"Andrew lagi ngobrol Bu! Oya Bu, kenalin dia Tika, rekan bisnis Andrew.
Tika pun dengan segera memperkenalkan namanya, dan mengulurkan tangannya kepada Cantika.
"saya, Tika, Bu." ucap Tika, sambil mengulurkan tangannya.
"Cantika, Ibunya Andrew," Cantika sambil membalas uluran tangan Tika.
"Oh, Ibunya Andrew ya, senang bertemu dengan tante." ucap Tika, sambil tersenyum.
"Boleh Ibu duduk disini?" tanya Cantika, sambil menatap Tika, dan Andrew bergiliran.
"Tentu saja boleh kok Tante." jawab Tika.
"Oke, terima kasih."
Tiba-tiba, pak Efendy dan bu Lily pun berjalan menghampiri Tika.
"Gimana, Chika sudah masuk kan, ke dalam wahana permainan tersebut?" tanya Ayah Efendy kepada Tika.
"Sudah kok ayah!" jawab Tika.
"Ternyata ada Nak Andrew disini ya." ucap ayah Efendy.
"Iya pak. Saya lagi nemenin Ibu berbelanja." jawab Andrew.
"Oh, jadi kamu kesini sama Ibumu? Sekarang dimana Ibumu?" tanya Ayah Efendy sambil menatap wanita yang ada di samping Andrew, sedang sibuk dengan ponselnya.
Bu Lily pun berdehem, saat Ayah Efendy terus menerus menatap wanita yang ada disamping Andrew.
"Apaan sih Bu, berdehemnya keras sekali! Lagi pula jangan berpikir negatif, jika ayah pingin tahu Ibunya Andrew, kan siapa tahu benar, kalau ternyata Ibunya Andrew, sahabat Ayah!"
"Sahabat ... apa sahabat," sindir bu Lily.
"Ih Ibu enggak percayaan banget ya jadi orang."
Andrew pun berbisik kepada Ibunya, dan mengatakan ada orangtua Tika.
Saat Cantika menatap ayah Efendyz, betapa terkejutnya mereka. Ternyata benar, mereka saling mengenali satu sama lain.
"Eef?" ucap Ayah Efendy, dan bu Cantika secara bersamaan.
"Apakah benar, kamu, Titik kan? Tanpa koma, dan tanda tanya." ucap Ayah Efendy.
"Ih tenyata masih ingat juga ya, kelakuanmu yang sangat menjengkelkan karena suka merusak nama orang!" ucap Cantika, sambil mengingat masa lalu saat masih sekolah SMP.
"Tentu saja masih ingat! Apakahnya Tik?"
"Baik kok Ef." jawab Cantika.
"Oya, kenalin dia, istri aku," ucap Ayah Efendy sambil merangkul pundak istrinya.
"Wah Cantik sekali istrimu, benar-benar pasangan yang serasi." puji Cantika.
"Terima kasih atas pujiannya. Perkenal nama saya, Lily Lestari, istrinya Efendy." ucap bu Lily memperkenalkan diri.
"Saya, Cantika puspita, Ibunya Andrew. Sangat senang sekali, bisa berkenalan dengan anda," ucap Cantika, sambil tersenyum.
"Saya juga sama sangat senang sekali, bisa berkenal denganmu! Katanya kalian bersahabat sejak smp ya?" tanya bu Lily.
"Benar banget Bu Lily, dulu kan rumah saya dengan Eef tuh berdekatan, bahkan Ibu saya dan dia juga bersahabatan. Makanya kemana- mana selalu bareng." ucap Cantika.
"Oh gitu ya."
"Kamu sudah punya anak belum? Kenalin sama saya, anakmu. Kita jodohin yuk." ucap Cantika.
Tika pun tiba-tiba terbatuk saat Ibu Cantika berkata seperti itu.
"Kamu baik-baik saja kan Nak?" tanya Cantika kepada Tika.
"Iya saya baik-baik saja kok," ucap Tika, kemudian mengambil air botol minum yang ada di atas meja.
"Syukurlah kalau begitu." ucap Cantika.
Ayah Efendy pun tertawa renyah, melihat putrinya sampai terbatuk begitu.
"Sebenarnya, dia adalah putriku." ucap Ayah Efendy sambil duduk di samping Tika, dan begitu juga, bu Lily ikut duduk.
__ADS_1
"A-apa dia, putrimu?" Cantika merasa gugup, karena merasa terkejut.
"Iya, dia, putriku! Cantikkan? Siapa dulu yang buat, Efendy dan Lily gitu dilawan," Ayah Efendy sambil tertawa terbahak-bahak.
"Ih apa-apaan sih Yah, bikin malu saja," bisik bu Lily merasa malu dengan tingkah suaminya.
"Ih sombong banget loh Ef! Putraku juga sama, tidak kalah gantengnya, hidungnya yang mancung, wajahnya yang putih, alisnya yang tebal, serta bi*birnya yang ke pink-pink an, yang membuat putraku sangat tampan." puji Cantika, kepada putranya.
"Apaan sih Bu, lebay banget deh." bisik Andrew kepada Ibunya.
Namun Cantika tidak peduli dengan perkataan putranya, dia memilih masa bodoh.
"Gimana kalau kita jodohkan mereka?" ucap Cantika, dengan semangat.
Tika pun terbatuk kembali, lalu mengambil air minum. Andrew pun tertawa renyah saat Tika, mengambil air minum.
"Loh kok kamu terbatuk lagi sih? Ada yang salah ya, dengan ucapanku?" tanya Cantika, sambil menatap Tika.
"Tidak kok Tante." ucap Tika, sambil mengelengkan kepala.
'*Kok air minumnya, bukan yang tadi aku minum ya? Aku tadi minum air botol rasa jambu, tapi ini rasa teh?' Tika sambil menatap minuman botol yang di pegangnya.
'Oh ya ampun, ini kan punya Andrew. Kenapa bisa aku salah minum? Mana tadi dia sudah meminum, minuman miliknya lagi! Bib*ir dia? Sudah ... ? Ah tidak ...' Tika sambil mengelengkan kepala*.
"Tika, kamu kenapa sih? Kok pakai geleng-geleng kepala?" tanya Bu Lily.
"Tidak apa-apa kok Bu," ucap Tika, kemudian menatap Andrew, lalu Andrew membalas dengan senyuman.
Iddih, aku jadi malu nih. Kok bisa ya, sampai ceroboh begini batin Tika, pipinya memerah.
"Gimana setuju kan, kita jodohin mereka?" tanya Cantika.
"SetujunTik!" jawab Ayah Efendy dengan semangat.
"Tika, tidak setuju Yah!" tolak Tika.
"Loh kenapa Nak? Kalian pasangan yang serasi kok." ucap Cantika.
"Asal tante tahu ya, aku ini seorang janda, beranak satu. Jadi tidak cocok putra tante denganku." Tika, sambil menatap Cantika.
"A-apa?" Cantika merasa terkejut.
"Tapi aku tidak peduli statusmu, Tika! Kamu tahu, saat pertama kali bertemu denganmu, aku sudah jatuh cinta sama kamu, Tika! Aku tulus mencintai, bukan karena ada sesuatu," ucap Andrew, sambil memegang tangan Tika.
"Andrew, kamu itu apaan sih? Tapi aku masih trauma Ndrew dengan masa laluku, aku masih takut," ucap Tika, dengan sendu.
"Kamu tidak usah takut, Tika! Aku akan selalu ada disisimu, aku mohon bukukakanlah hatimu untukku! Beri aku kesempatan! Aku berjanji akan memudarkan rasa traumamu, dan kenyamanam untukmu," ucap Andrew, sambil menatap Tika.
"Benar Nak, apa yang dikatakan Andrew. Kamu enggak usah takut, ada orang yang akan selalu melindungimu. Bahkan dengan seiringnya waktu, rasa trauma itu akan memudar, jika kalian sudah ada kenyamanan, dan cinta pun akan tumbuh dengan seiringnya waktu, Nak." ucap Ayah Efendy.
"Terima saja Nak. Kamu tahu tidak, dia selalu menceritakan seseorang yang telah merubah hidupnya menjadi dewasa, serta dia bilang cintanya untuk seseorang begitu tulus, dan pingin menjadikan seorang wanita itu istrinya. Tante yakin, kayaknya itu kamu deh." ucap Tante Cantika.
"Iya benar Bu, seseorang wanita yang dimaksud yaitu Tika!" ucap Andrew.
"Sudahlah Nak, beri Andrew kesempatan!"
"Tapi Yah-"
"Ayah yakin kok sama Andrew, pasti dia bakal mampu melupakan rasa traumamu, dan dengan berjalannya waktu pasti bakal ada rasa cinta, dan nyaman untukmu Tika," ucap Ayah Efendy memotong pembicaraan putrinya.
Gimana ini? Ayah meski kekeuh dengan perjodohan ini. Tapi aku juga merasa berhutang budi sama Andrew, karena dia selalu menolongku tepat saat aku butuh bantuan batin Tika.
"Jadi gimana, Tika?" tanya Andrew.
"Baiklah, aku bersedia menerima perjodohan ini. Aku akan mencoba memberikan kesempetan untuk dia, dan membuka hatiku untuk Andrew."
"Terima kasih." ucap Andrew merasa senang."Aku berjanji, akan selalu ada untukmu, dan selalu membuatmu bahagia, sebisa mungkin." Andrew merasa tersenyum kepada Tika.
Bu Lily, Ayah Efendy, dan bu Cantika pun ikut senang.
Di sisi lain, seseorang tidak sengaja mendengar percakapan mereka, dan merasa terkejut dengan perjodohan antara Tika dan Andrew.
Fash back Off#
****
Yuk mampir karya dari author ini dijamin bikin baper nih.
Napen: Enis sudrajat.
Judul karya: Cinta Di Atas Perjanjian.
__ADS_1
o