
Seorang wanita cantik kini sedang duduk di sebuah cafe bersama asistennya.
Setelah selesai pertemuan dengan klien, Tika memilih untuk menikmati makanan dan minuman di cafe tersebut.
Tanpa di sengaja ternyata dirinya satu cafe dengan mantan adik iparnya yaitu Lisa.
Tika merasa terkejut saat Lisa, membicarakan suaminya dan Tika, sengaja memilih untuk mendengarkan apa yang di ucapkan oleh Lisa secara langsung.
Tika, kini sedang menahan emosinya dan merasa geram saat mendengar percakapan Lisa dan temannya.
Tika tidak menyangka, sejahat itukah Lisa demi mendapatkan Andrew.
'Ternyata Andrew, orangnya tidak seperti apa yang aku pikirkan. Lisa, benar-benar wanita licik. Dia akan melakukan apa yang dia mau. Lihat saja Lisa, aku akan kasih pelajaran padamu karena telah membuat Aku dan Andrew, jadi berantem.' gumam Tika, sambil mengepalkan kedua tangannya dan matanya terus menatap kepergian Lisa dari cafe tersebut.
Tika, memilih untuk tidak mencari keributan dan membiarkan Lisa pergi begitu saja. Tika, mempunyai ide untuk kasih pelajaran buat Lisa.
Kemudian Tika menatap jam tangannya menunjukan pukul jam 7 malam.
'Ternyata aku sudah 4 jam, berada di cafe. Aku harus segera pulang, aku harus minta maaf kepada suamiku karena telah membuat dia kesal kepadaku.' gumam Tika, dengan segera beranjak dari meja makan tersebut.
"Ayo kita pulang." ajak Tika, kepada asistennya.
"Baiklah, Bu." Jawab Olin dengan menganggukan kepala.
Tika dan Olin pun dengan segera pergi dari cafe tersebut dan berjalan menuju mobilnya.
"Bu, Saya turun di persimpangan saja," lirih Olin.
__ADS_1
"Loh kenapa turun disana? Bukannya rumah kamu masih jauh ya?" tanya Tika, sambil menatap Olin.
"Emang masih jauh sih Bu. Tapi ...," ucapan Olin tergantung karena merasa bingung untuk mengatakannya.
"Tapi kenapa? Saya tahu, pasti kamu di jemput sama kekasihmu ya?" ujar Tika.
"Iya, Bu." Olin cengengesan.
Tika hanya mengelengkan kepala melihat Olin karena pipinya merah.
"Pak, turun dipersimpangan sana ya," lirih Tika, kepada sopir.
"Baik, Bu." Jawab pak Arif.
Saat sudah di jalan persimpangan, Pak Arif dengan segera memberhentikan mobilnya.
"Iya, Lin." Tika, tersenyum.
"Hati-hati dijalannya ya Bu, semoga sampai tujuan." Olin, membalas senyuman Tika.
"Iya, terima kasih! Ya sudah pak, ayo jalankan kembali mobilnya," perintah Tika.
"Baik, Bu." Pak Arif, dengan segera menjalankan mobilnya.
__ADS_1
Tika kini sudah sampai di rumahnya, lalu berjalan memasuki rumah tersebut.
"Bi, apakah Andrew sudah pulang?" tanya Tika, kepada Bi Anin yang kini sedang membereskan gelas yang ada di meja ruang tamu.
"Sudah Non, dari tadi siang Den Andrew, sudah pulang," jawab Bi Anin, sambil menatap Tika.
"Wait, dari tadi siang sudah pulang?" Tika, mengerutkan keningnya, karena enggak biasa suaminya suka pulang siang.
"Iya Non. Den Andrew, lagi sakit. Tadi saja dia muntah-muntah mulu dan pusing katanya," kata Bi Anin.
"Sa-sakit, Oke, terima kasih Bi." Tika, dengan segera pergi berlalu dari hadapan Bi Anin dan berjalan menuju kamar.
Tika, kemudian membuka gagang pintu kamarnya dan kebetulan tidak terkunci.
Tika, dengan segera masuk ke dalam kamar tersebut.
"Mas ...," lirih Tika, sambil menatap suaminya yang kini sedang tidur di atas ranjang.
Tika pun terus berjalan menghampiri suaminya. Kemudian, menempelkan tangannya ke kening Andrew.
__ADS_1
'Ya ampun, panas banget! Aku harus ambil air hangat untuk mengompres dia, agar suhu tubuhnya menurun.' gumam Tika, berbicara pada diri sendiri lalu pergi dari kamarnya dan berjalan menuju dapur untuk mengambil air hangat.