
Andrew merasa terkejut, tiba-tiba ada yang mengandeng tangannya.
"Tika?" ucap Andrew dengan gugup, karena merasa terkejut.
Tika hanya tersenyum, sambil menatap Andrew.
"Oya maaf ya pak, enggak apa-apa kan, saya pinjam dulu pak Andrew?" tanya Tika, kepada seorang pria yang kini sedang berdiri di samping Andrew.
"Iya tidak apa-apa kok, jika memang ada keperluan dengan pak Andrew." jawab pak Akmal.
"Terima kasih ya pak, maaf banget ya." ucap Tika, merasa tidak enak hati.
"Santai saja lah, Bu Tika. Ya sudah pak Andrew, saya juga mau nyamperin dulu teman saya yang disana," ucap pak Akmal.
"Iya silahkan pak." jawab Andrew, sambil menganggukan kepala.
Pak Akmal segara berjalan menghampiri rekannya yang sedang berkumpul dengan yang lainnya.
"Oya Tik, ngomong-ngomong ada apaan ya?" tanya Andrew, sambil menatap Tika.
"Ayo anterin aku, cari chika dari tadi belum pulang juga," jawab Tika.
"Loh emangnya chika kemana? Emangnya, Chika ikut kesini juga ya tadi?" tanya Andrew lagi.
"Iya, dia ikut kesini sama Ibu. Tapi kata Ibu, satu jam lalu chika keluar bersama bi nani karena chika merengek pingin eskrim, dan tidak betah di dalam." Tika, mencoba menjelaskannya.
"Ya sudah, ayo kita cari chika." ucap Andrew.
"Oke." jawab Tika.
Andrew dan Tika dengan segera pergi berjalan keluar dari hotel tersebut.
Reza yang melihat kepergian Andrew dan Tika keluar bareng, merasa geram dan kesal.
Ini semua gara-gara Mamih, Tika sampai sekarang masih membenciku, dan aku menyesal dulu telah memperkenalkannya sama Mamih batin Reza, sambil mengepalkan kedua tangannya.
Di tempat lain, Chandra yang kini sedang menikmati segelas air jus merasa tidak terima Andrew pergi berdua bersama Tika.
Ck, apa-apaan dia? Maen gandeng tangan segala. Padahal tadi aku sudah berusaha mengacaukan obrolan Tika dan Andrew. Kenapa sekarang jadi begini? geram Chandra, lalu meminum kembali minumannya.
Setelah Tika, dan Andrew berada di parkiran mobil, dengan segera Tika melepaskan tangannya dari lengan Andrew.
"Loh, kenapa dilepaskan? Sudah enggak apa-apa gandeng saja," ucap Andrew, sambil menatap Tika.
__ADS_1
"Iss enak banget ya, nanti ketagihan loh. Lagi pula, aku terpaksa lakuin ini." gerutu Tika, sambil memanyunkan bibirnya.
"Sangat menyebalkan. What, terpaksa? Apakah ada sesuatu yang terjadi?" tanya Andrew, dengan menaikan satu alisnya.
"Sudah jangan banyak tanya, ayo kita masuk ke dalam mobil," ajak Tika, sambil mendorong tubuh Andrew untuk masuk ke dalam mobil.
"Ih apa-apaan sih, main dorong lagi. Aku bisa jalan sendiri kok. Lagi pula, apa salahnya sih tinggal jawab," gerutu Andrew, dengan segera masuk ke dalam mobil.
Tika, tidak memperdulikan perkataan Andrew yang kesal terhadap dirinya. Tika langsung masuk ke dalam mobil.
"Sekarang kita mau cari Chika kemana?" tanya Andrew, sambil menjalankan mobilnya.
"Di tempat biasa." jawab Tika.
"Tempat biasa mana? Aku tidak tahu. Kecuali sih, kalau aku sudah jadi Ayahnya buat Chika, pasti tahu deh." goda Andrew, sambil menatap Tika, dan menaikan satu alisnya.
"Iss, ngaco benar kalau bicara. Lagi pula, aku lupa." ucap Tika terkekeh.
"Mulai pikun." Celetuk Andrew.
"Barusan kamu bilang apa hem? Aku pikun? Kurang ajar ya, kalau bicara," ucap Tika, tangannya sambil memukul lengan tangan Andrew.
"Emang iya, kamu itu sekarang pikun! Mau apa hayo?" Andrew, semakin sengaja mengejek Tika.
"Kurang ajar ya ini orang, menyebalkan," geram Tika.
Andrew tertawa lepas, karena merasa lucu telah mengerjai Tika.
"Kenapa malah tertawa hem? Ada yang lucu ya?" Tika, kemudian menjewer telinga Andrew.
"Ih Tika, apa-apaan sih kamu ini. Wah, kdrt nih. Aku laporin nih sama polisi." ucap Andrew, sambil menatap Tika.
"Aku tidak peduli! Gimana sakit kan? Itulah hukumannya untuk orang yang suka menghinaku." Tika, sambil tersenyum sinis.
"Mentang-mentang orang kaya, jadi seenaknya nih." gerutu Andrew.
"Yang seenaknya itu kamu, bilang aku pikun lagi." ucap Tika.
"Kok aneh ya, kamu beraninya cuma sama aku. Jangan-jangan aku memang sudah ada di hatimu ya," ucap Andrew, sambil menaikan satu alisnya.
"Ih apaan ini orang, enggak nyambung banget deh, apa hubungannya dengan hatiku? Ih rese tahu enggak," ucap Tika, sambil kembali memukul lengan Andrew.
"Tika, berhenti memukulku. Aku sedang mengendarai mobil, nanti takut terjadi apa-apa deh," gerutu Andrew.
__ADS_1
"Habisnya kamu itu rese' tahu enggak?" Tika, memukul pelan Andrew.
"Rese' apa sih?" tanya Andrew, dengan menarik tangan Tika, sehingga tidak sengaja kini wajah Tika, dan Andrew sangat dekat.
Mereka kini saling memandang. Mata hitam mereka saling menatap satu sama lain.
Ada perasaan yang sangat berbeda, tapi entah perasaan apa, Tika juga merasa tidak mengerti.
Tiba-tiba Tika dan Andrew tersadar, saat mendengar klakson mobil.
"Eh," ucap Tika, dengan segera kembali duduk seperti semula.
Tika menjadi tidak enak, dan jadi sarba salah.
"Tika, maaf ya." ucap Andrew, merasa tidak enak hati.
"Tidak apa-apa." Jawab Tika, dengan tersenyum kaku.
Andrew menarik napasnya dengan panjang, lalu membuangnya. Tiba-tiba Andrew menatap Tika, dan memegang tangan Tika.
Tika membulatkan matanya, karena merasa terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Andrew.
"Tika .... " panggil Andrew, sekilas menatap Tika, dan tangan satunya tetap memegang tangan Tika.
"I-iya kenapa Ndrew? Oya, kamu itu apa-apaan sih, lepasin tanganmu itu."
"Aku tidak akan melepaskannya. Kamu tahu tidak Tika, setelah kamu keluar dari perusahaanku, dan tidak pernah ada kabar lagi, hidupku seperti tidak hidup, hilang semua semangatku. Kamu itu sangat berarti untukku. Aku ingin di kehidupanku selalu ada kamu, disisiku." ucap Andrew sambil tersenyum terhadap Tika.
"Kamu itu bicara apaan sih Ndrew, aku sungguh tidak mengerti." ucap Tika.
"Aku tahu kok, kamu pura-pura tidak mengerti. Aku sangat menginginkanmu, Tika. Kamu mau kan, menua bersamaku untuk selamanya?" tanya Andrew.
Deg. Perasaan Tika jadi tidak menentu, entah apa yang harus di jawab oleh Tika. Dengan segera Tika, melepaskan tangan Andrew yang dari tadi memegang tangannya.
"Ndrew, kamu itu masih muda loh. Masih banyak kok disana wanita cantik, yang masih virgin, dan bisa membuatmu nyaman dan bahagia kok." ucap Tika, sambil menatap Andrew.
"Emangnya salah ya, bila aku jatuh cinta sama seorang janda? Lagi pula, aku tidak peduli Tika, statusmu apa. Yang penting bagiku, kamu sudah membuatku nyaman, dan membuat hidupku berarti," ucap Andrew, kembali memegang tangan Tika.
"Tapi Ndrew-"
"Tika, aku mohon sama kamu, pasti kamu mau kan, hidup bersamaku untuk selamanya?" tanya Andrew, dengan memotong langsung pembicaraan Tika.
"Aku ...." ucapan Tika, harus tergantung karena bingung harus berkata apa.
__ADS_1
Bersambung.