Izinkan Aku Pergi(Aku Lelah)

Izinkan Aku Pergi(Aku Lelah)
146. Hari Bahagia.


__ADS_3

"Dokter ...," panggil Tika kepada dokter Zian.


"Iya kenapa?" tanya Dokter Zian.


"Dokter kenapa menatapku seperti itu dari tadi. Bagaimana keadaan Andrew?" tanya Tika sekali lagi.


"Maaf, kalau boleh tahu, Anda siapanya pasien ya?" tanya Dokter Zian.


"Saya, istrinya Andrew!" bohong Tika.


"Oh istrinya pasien ya. Maaf aku kira anda hanya orang luar tanpa ada hubungan dengan pasien," ucap Dokter Zian.


"Gimana keadaan Andrew sekarang Dok?" tanya Tika, tidak sabar menunggu kabar dari dokter.


"Keadaan pasien baik-baik saja, tapi-" ucapan Dokter Zian tergantung, lalu menatap intes Tika.


"Tapi kenapa Dok?" tanya Tika dengan mengerutkan keningnya karena merasa penasaran.


"Dia masih belum sadarkan diri, sepertinya beliau dalam keadaan koma, karena pendarahan dikepalanya yang begitu banyak," ucap Dokter Zian.


"A-apa?! Tapi tidak terjadi masalahkan dengan kepalanya?" tanya Tika dengan gugup.


"Enggak usah khawatir Mbak, tidak ada masalah kok. Pasti Mbak berpikir, kalau suami Mbak bakal ilang ingatan kan?" tanya Dokter Zian.


"Iya benar Dok, kebanyakan suka kaya gitu. Tapi syukurlah kalau Andrew tidak seperti itu, nanti aku bakal di bilang sama reader membosankan dan sudah tidak asik lagi karena sama dengan yang lain kalau hilang ingatan haha ...," Tika dengan tertawa renyah.


"Memang sih kebanyakan seperti itu. Tapi Andrew beruntung dengan pendarahan banyak dikepalanya tidak membuat dia akan kehilangan ingatannya kok. Lagi pula, jangan di pikirin apa kata readers, nyantai sajalah, kayak dipantai," Dokter Zian mencoba menghibur.


"Setuju Dokter. Oya, boleh saya masuk?" tanya Tika kepada Dokter Zian.


"Tentu saja boleh. Saya juga mau pamit dulu, karena masih ada pekerjaan yang harus di kerjakan di ruangan lain," ucap Dokter Zian.


"Ya sudah, silahkan Dokter," Tika, sambil tersenyum.


Dokter Zian pun dengan segera pergi meninggalkan Tika, karena ada pekerjaan diruangan lain.


Tika pun dengan segera masuk ke dalam ruangan, dimana Andrew berada disana dengan berselang infus ditangannya, dan di hidung serta kepalanya dibalutin dengan kain kassa.


Tiba-tiba hati Tika pun ada rasa sakit, saat menatap calon suaminya terbaring lemah.


Tika terus berjalan mendekati Andrew. Kemudian Tika duduk di kursi, tepat disamping Andrew.


Tika pun meraih tangan Andrew, lalu mengeratkan tanganya ke tangan dirinya.

__ADS_1


'Ndrew, Kenapa bisa sih kamu seperti ini? Aku harap kamu jangan lama-lama ya tidurnya, kamu harus segera bangun. Dua hari lagi, pernikahan kita akan dilaksanakan, bukankah itu impian kamu untuk hidup denganku bukan?' gumam Tika, berbicara seolah-olah Andrew sadar.


Kemudian mengangkat tangan Andrew, dan menempelkan ke pipi milik Tika.


Entah kenapa tiba-tiba airmatanya menetes begitu saja, saat menatap Andrew yang masih memejamkan matanya, belum sadarkan diri.


'Kenapa diriku secengeng ini? Aku yakin, Andrew pasti baik-baik saja. Kamu janji kan padaku Ndrew, kamu tidak akan lama tidurnya? Ingat, janjimu untuk menikahiku. Aku berharap secepatnya kamu bangun,' gumam Tika, kemudian mengusap lembut wajah Andrew.


Tiba-tiba datanglah Bu Lily dan Bu Cantika masuk ke dalam ruangan tersebut.


"Ibu? Ibu Cantika? Syukurlah akhirnya sudah sampai sini juga," ucap Tika, kemudian menghapus pipinya yang basah karena airmatanya yang menetes.


"Bagaimana keadaan Andrew, sayang?" tanya Bu Cantika kepada calon menantunya.


Tika tidak membalas perkataan Bu Cantika, tapi Tika hanya dengan menggelengkan kepala karena tidak tahu harus berkata apa.


"Andrew ...," teriak Bu Cantika kepada putranya, sambil berjalan menghampiri Andrew.


'Kenapa bisa jadi seperti ini Nak? Kenapa harus terjadi Nak?!' gumam Bu Cantika, lalu mengusap lembut kepalanya yang kini memakai perban.


"Sabar ya Cantika. Lagian yang namanya musibah tidak ada yang tahu akan terjadi, dan lagi pula setiap orang pasti tidak menginginkan musibah seperti ini terjadi," ucap Bu Lily mencoba menguatkan Bu Cantika.


Bu Cantika pun menatap putranya yang masib belum sadarkan diri.


"Iya memang benar apa yang kamu katakan Li. Semua tidak bisa kita hindari jika takdir harus datang kepada kita.


"Aamiin. Kita doakan saja semoga Andrew secepatnya sadar, dan bisa kembali lagi seperti biasa." ucap Bu Lily.


"Iya Li." jawab Cantika.


Mereka pun bertiga kini sedang menemani Andrew, dan berharap Andrew secepatnya sadar.


Tiba-tiba suara perut berbunyi, pertanda minta di isi. Pipi Tika pun memerah karena merasa malu.


"Kamu belum makan siang Nak?" tanya Bu Cantika.


"Belum sempat Bu. Sudahlah lupakan saja jangan dipikirin," ucap Tika.


"Iss kenapa kamu bicara begitu sayang? Kalau perut itu harus di isi, jangan sampai telat makan sayang, kan tidak baik buat kesehatan," ucap Bu Cantika.


"Iya Bu." ucap Tika.


"Kebetulan tadi Ibu bawa makanan untuk makan siang, karena tadi Ibu sama Ibu Cantika berhenti dulu di restoran dan pesan makanannya." ucap Bu Lily.

__ADS_1


"Apakah Ibu belum makan siang juga?" tanya Tika.


"Belum sayang. Lagian pas tadi kamu nelpon Ibu, kebetulan Ibu sama Ibu Cantika sedang ada di restoran untuk makan siang," jawab bu Lily.


"Maaf gara-gara Tika ya, Ibu sama Bu Cantika tertunda makan siangnya," ucap Tika merasa tidak enak hati.


"Enggak kok sayang, justru Ibu sangat berterima kasih karena kamu sudah langsung memberitahu Ibu," ucap Bu Cantika sambil tersenyum kepada menantunya.


"Ya sudah, karena kebetulan pesanan makanannya lumayan banyak, ayo kita makan bersama disini," ajak Bu Lily.


"Oke, baikah." ucap Bu Cantika.


Bu Lily pun dengan segera mengeluarkan makanannya yang tadi sempat dipesan di restoran. Kini mereka pun sedang menikmati makan siang.


******


Hari ini, Hari yang paling bahagia untuk Tika dan Andrew, dimana hari ini mereka akan melangsungkan pernikahannya, dan menyatukan dua insan tersebut menjadi pasangan suami istri yang sah.


Tapi sayangnya, pernikahan mereka harus tertunda karena Andrew masih koma, dan belum sadarkan diri.


Tika pun tetap meminta MUA untuk menandaninya, dan juga meminta pihak KUA tetap datang, karena Tika merasa yakin kalau Andrew pasti akan segera sadar.


"Sayang ...," panggil Bu Lily kepada .putrinya.


"Iya kenapa Bu? Gimana Tika kelihatan cantikkan, dengan berdandan jadi pengantin lagi?" ucap Tika merasa bahagia.


Bu Lily pun merasa tidak tega melihat Tika yang seharusnya hari ini, hari yang bahagia untuk dirinya.


"Sayang, tidak bisakah kamu undur saja pernikahan kalian? Lagian, kamu tahu Andrew masih belum sadar juga," ucap bu Lily.


"Tidak bisa dong Bu, masa iya harus di undur sih, ada-ada saja deh Ibu ini. Lagian Tika yakin, kalau Andrew pasti sudah sadar, dan kini sedang menunggu Tika disana." ucap Tika.


Bu Lily pun merasa menjadi tidak tega, dan merasa terluka melihat putrinyan yang masih dengan tetap keinginannya untuk tetap dilaksanan acara pernikahannya.


Tika pun kini sudah selesai didandani. Lalu dengan segera Tika mengajak Ibunya, Ayah Efendy serta saksi dan pak KUA untuk berjalan masuk ke dalam mobilnya, untuk pergi ke rumah sakit, dimana Andrew masih ada disana.


'Tunggu Aku, Ndrew disana, Aku sekarang lagi siap-siap mau kesana. Aku berharap kamu siap-siap juga, karena hari ini, hari yang special untuk kita berdua' gumam Tika dengan tersenyum.


Saat mereka sudah berada di dalam mobil, dan sudah siap, dengan segera pak sopir menjalankan mobilnya menuju rumah sakit.


Bersambung ....


******

__ADS_1


Seperti biasa mau promo lagi. Yuk mampir dan kepoin dijaamin bikin baper dan ceritanya seru banget loh, enggak percaya? Yuk ah langsung mampir.



__ADS_2