
'Kemana lagi aku harus mencari makanan yang Ibu pesan? Tumben sekali enggak ada yang jualan hari ini,' gumam Andrew.
'Eh iya, aku lihat waktu acara dihotel milik pak Efendy kayaknya ada yang jualan deh. Ya sudah, aku kesana saja, siapa tahu memang masih ada,' Andrew sambil menatap jam tangannya menunjukan jam 12 malam.
Andrew pun dengan segera menjalankan mobilnya menuju hotel Antana.
15 menit kemudian ...
Mobil yang di kendarai Andrew pun kini sudah sampai di jalan kawasan hotel milik pak Efendy.
Andrew pun merasa kecewa ternyata tidak ada sama sekali yang jualan, sudah mulai sepi.
'Ya ternyata sudah mulai sepi, mana enggak ada siapa-siapa lagi. Apalagi tadi di setiap perjalanan enggak ada yang jualan juga. Mau kemana lagi mencarinya?' gumam Andrew, merasa kecewa.
'Ya sudah, lebih baik pulang saja deh. Eh tunggu dulu, bukannya itu mobil Tika ya? Lalu orangnya kemana ya? Padahal hotelnya pun sudah sepi, mana lampunya sudah di matiin semuanya,' gumam Andrew, sambil menatap hotel Antana yang cuma bagian lampu saja yang menyala.
*Chandra pun tiba-tiba tersadar, lalu membukakan matanya, tiba-tiba Chandra teringat Tika.
'Tika? Aku harus bangun mencari Tika, aku yakin pasti Tika masih di ganggu sama preman brengsek itu,' gumam Chandra, dengan berusaha bangkit, dan berdiri dengan mencoba menahan rasa sakit di kepala, pipi dan bibirnya karena ulah preman tersebut.
'Aww, sakit sekali. Mana pusing kepalaku. Aku teriak saja, siapa tahu ada orang yang mendengar teriakanku.' gumam Chandra.
"Tolong ... tolong ...," teriak Chandra sambil berjalan sempoyongan karena masih sakit dan pusing.
'Aduh pusing banget, mana enggak ada orang yang mendengar teriakanku. Aku harus coba sekali lagi. Tolong ... tolong ...,' teriak Chandra sambil berjalan, tapi tiba-tiba Chandra terjatuh ke bawah tanah dan pingsan.
'Aku mendengar ada orang yang berteriak minta tolong tadi? Suaranya itu, kayak suara Chandra? Tapi dimana ya?' gumam Andrew, sambil menatap ke arah depan, kiri, dan kanan.
'Mungkin halusinasiku saja kali, perasaan ada yang memanggilku? Sudahlah, lebih baik aku pergi saja dari sini,' gumam Andrew, dengan segera menghidupkan kembali mobilnya, dan untuk pergi dari tempat tersebut.
*Sebelum Herman, dan Aryo pergi dari tempat tersebut, Aryo sengaja menggotong tubuh Chandra, lalu membuangnya di tempat di semak-semak rerumputan dan pepohonan yang tidak jauh dari tempat tersebut, tujuannya agar tidak orang yang curiga.
**
Di tempat lain, kini Tika sedang berada di rumah tua, yang kotor dan tidak ada penghuninya. Tika terus menangis, dan merasa ketakutan saat Herman terus mengusap lembut pipinya.
"Saya mohon jangan lakukan itu. Saya akan mengabulkan semua keinginan kalian. Mau uang, mau mobil, motor, rumah aku akan mengabulkan semuanya," ucap Tika, dengan suara serak, khas orang menangis.
"Kalau aku ingin semuanya gimana?" tanya Herman, sambil menatap Tika.
"Saya akan berikan!"
__ADS_1
"Termasuk tubuhmu kan?" ucap Herman, dengan memaksa menyobek baju lengan tangan Tika.
"Aahh ... jangan, saya mohon jangan lakukan itu!" Tika dengan terus menangis tiada henti-hentinya.
"Berisik tahu, enggak! Sudahlah cuma satu kali saja aku mencicipimu," ucap Herman dengan mengusap paha Tika.
"Tidak ...," Tika, sambil mengelengkan kepala, dan menghempaskan tangan Herman dengan kasar.
"Jangan kasar-kasar sayang, bukankah itu nikmat," Herman dengan meraih dagu Tika, dan menatap tajam Tika.
"Saya mohon, jangan lakukan itu hiks, hiks," Tika sesegukan.
Tiba-tiba ada seseorang yang mengebrak pintu kamar dengan keras.
Brrukkk ... pintu tersebut berhasil di buka oleh seseorang.
Tika dan Herman pun langsung menatap seseorang tersebut. Ada rasa senang saat melihat seseorang yang kini datang.
"Andrew?" Tika, merasa bersyukur ada orang yang kini menyelamatkan dirinya.
"Kamu siapa? Berani sekali masuk kesini!" bentak Herman, sambil berjalan menghampiri Andrew.
Emosi Andrew pun semakin memuncak, dan merasa tidak terima dengan di lakukan oleh Herman.
Andrew mengepalkan kedua tangannya lalu berjalan menghampiri Herman.
"Dasar, brengsek!" bentak Andrew, lalu memukul Herman, dengan keras. Sehingga membuat bibir Herman kembali berdarah, dan luka parah.
"Dasar kurang ajar!" Herman kembali membalas pukulan yang sudah dilakukan oleh Andrew, tapi sayangnya gagal, karena Andrew berhasil memutar balikan pukulannya.
Bugghk ... bugghkk ... Andrew terus memukul Herman terus menerus, sehingga membuat Herman tersungkur ke bawah lantai dan tidak berdaya.
Aarrgghh ... kurang ajar! Bugghkk ... Andrew kembali memukul Herman, sehingga Herman pingsan.
"Tika ...," ucap Andrew, sambil berjalan menghampiri Tika.
"Andrew ...," Tika dengan meneteskan airmatanya karena merasa bersyukur, Andrew datang menolongnya.
"Tika, kamu baik-baik saja kan?" tanya Andrew merasa khawatir kepada Tika.
Tika kemudian memeluk Andrew, saat sudah Andrew sudah berada disisinya.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja kok Ndrew, terima kasih sudah datang menolongku," ucap Tika.
"Serius kamu baik- baik saja Tika? Mereka tidak ngapain-ngapain kamu kan? Dan tidak ada yang terluka kan pada tubuhmu?" tanya Andrew, melepaskan pelukan Tika, lalu menatap tubuh Tika dari atas sampai bawah karena sangat mengkhawatirkan Tika.
"Tidak ada yang terluka kok Ndrew. Aku baik-baik saja. Hampir saja, dia akan melakukan kekejian, tapi syukurlah kamu datang," ucap Tika, sambil menatap Andrew.
"Syukurlah kalau tidak ada yang terluka, dan kamu baik-baik saja," Andrew memeluk Tika, lalu mengusap lembut rambut Tika.
Tiba-tiba Tika teringat Chandra, terakhir kali melihat Chandra tidak berdaya dan tergeletak dibawah tanah.
"Andrew, kita harus pergi dari sini. Kita harus segera nolongin Chandra." ucap Tika, sambil menguraikan pelukannya.
"Emangnya Chandra kenapa?" tanya Andrew, sambil menatap Tika.
"Aku tidak bisa menjelaskannya sekarang! Pokoknya kita harus pergi dari sini, dan bantu Chandra, Ndrew." ucap Tika, dengan menarik tangan Andrew.
"Kamu yang sabar Tika, nyantai, jangan terburu-buru jalannya. Sebenarnya Chandra sudah ada di mobilku kok." ucap Andrew.
"Serius? Chandra ada dimobil kamu?" tanya Tika, untuk menyakinkan terlebih dahulu.
"Iya serius."
"Loh kok bisa?" tanya Tika.
"Sudah nanti aku ceritain di dalam mobil, sekarang ayo kita pergi dari sini," ucap Andrew, kemudian melepaskan jas miliknya. Lalu memakaikannya ke pundak Tika.
"Terima kasih Ndrew," ucap Tika, sambil tersenyum kepada Andrew.
"Heem," ucap Andrew, membalas senyuman Tika.
Andrew dan Tika kemudian pergi dari rumah kosong tersebut, lalu berjalan menuju mobil milik Andrew. Tanpa mereka sadari, Andrew merangkul pundak Tika hingga menuju mobil Andrew.
Tika dan Andrew pun kini sudah sampai di mobil milik Andrew, dengan segera Tika membuka pintu mobil belakang untuk menyakinkan, kalau di dalam mobil ada Chandra.
"Chandra?" ucap Tika, kemudian masuk ke dalam mobil tersebut, dimana Chandra sedang tidur karena belum sadarkan diri.
Andrew yang kini sudah berada di dalam mobil bagian depan, dengan segera menjalankan mobilnya untuk pergi dari tempat tersebut.
Bersambung ...
Jangan lupa, tinggalkan jejaknya😊
__ADS_1