
"Dok, gimana keadaan Tika?" tanya Andrew, kepada dr.Salsa saat selesai memeriksa Tika.
"Beliau baik-baik saja kok pak. Mungkin karena dia kecapean, dan kayaknya beliau sering telat makan sehingga membuat asam lambungnya begitu cepat naik, sehingga mengakibatkan beliau pingsan," jawab dr.Salsa, sambil menatap Andrew.
"Oh gitu ya dok? Tapi enggak ada masalahkan dengan kesehatannya?" tanya Andew kembali.
"Tidak ada kok, pak Andrew enggak usah khawatir. Oya ini obatnya pak! Jangan lupa nanti bila beliau sudah sadar, beri obat itu." ucap dr. Salsa sambil memberikan resep obat tersebut.
"Oke, terima kasih banyak ya Dok." ucap Andrew.
"Iya, sama-sama pak. Kalau begitu saya pamit pulang ya pak," ucap dr. Salsa.
"Iya silahkan Dok. Hati-hati dijalannya, dan terima kasih sudah datang kesini." Andrew, sambil tersenyum kepada dr. Salsa.
"Sama-sama pak. Iya, pak." ucap dr. Salsa, lalu pergi meninggalkan Andrew.
Andrew pun segera berjalan menuju sebuah ruangan rahasia yang ada di ruangan kantor tersebut.
'Dokter bilang, katanya Tika sering telat makan? Apakah ada sesuatu yang membuat Tika jadi begitu?' gumam Andrew, sambil menatap Tika.
'Sebenarnya apa yang kamu pikirkan, Tika? Apakah karena sebuah perjodohan kita yang membuatmu jadi begini? Apakah terlalu membebani hidupmu? Dan salahkah diriku, bila menginginkan dirimu, untuk jadi istriku?' gumam Andrew, kemudian mengusap lembut rambut Tika.
Tika pun tiba-tiba membukakan matanya dengan perlahan-lahan.
"Tika? Syukurlah, akhirnya kamu sadar juga," ucap Andrew, merasa senang.
"Aku ada dimana ya?" tanya Tika, sambil menatap seluruh ruangannya, dan masihn, tatapan samar.
"Kamu ada di ruanganmu, ternyata besar dan mewah banget ya ruanganya." Andrew, sambil membantu mendudukan Tika.
"Ruangan? Maksudnya ruangan apa?" tanya Tika.
"Ruangan milikmu lah, sudah punya ruangan punya siapa?"
"Oh. Eh tunggu! Kenapa kamu bisa tahu, kalau ruanganku ada tempat rahasia?" tanya Tika, dengan menyipitkan matanya.
"Tentu saja tahu! Memangnya cuma kamu saja yang punya ruangan rahasia? Aku juga punyaku," ucap Andrew.
"Emm .... "
"Oya kalau kamu lagi sakit, jangan maksain kerja! Jadinya begini kan, tadi kamu pingsan. Untung ada mantan suamimu yang nolongin, dan enggak macam-macam sama kamu tuh, itu juga mungkin karena ada aku datang ke kantormu! Coba, kalau tidak ads aku? Mungkin sudah habis kali kamu di apa-apain sama dia," gerutu Andrew, merasa kesal saat Chandra mengusap pipi Tika.
"Ih ngacoo ya kamu kalau bicara," Tika sambil menatao tidak suka Andrew.
"Aku serius Tika! Kamu tahu tidak, pas aku datang ke ruanganmu si Chandra mengusap pipimu, terus menyentuh bibirmu lho," ucap Andrew, sambil memperagakan, apa yang tadi Chandra lakukan kepada Tika saat pingsan.
"Ih, apaan sih, geli tahu," Tika dengan menghempaskan tangan Andrew,"jangan bohong Ndrew, aku tahu kamu berbohongkan? Enggak lucu tahu, enggak!"
"Ih ini orang, enggak percayaan banget sih. Tatap mata aku? Ada kebohongan enggak?!" ucap Andrew, sambil meraih dagu Tika agar menatap netranya.
"Ih Andrew, enggak sopan banget sih. Sudahlah aku pusing, ngapain bahas dia!" ucap Tika, sambil melepaskan tangan Andrew.
Apakah Tika masih mengharapkan Chandra? Sebenarnya hubungan Tika sama Chandra gimana sih? Aku benar-benar tidak mengerti antara Tika dan Chandra, kadang mereka baik-baik saja, dan selalu saling menyapa batin Andrew.
"Tika ... " panggil Andrew dengan lembut.
__ADS_1
"Iya, kenapa Ndrew?" tanya Tika.
"Apakah kamu masih ada cinta untuk Chandra?" tanya Andrew, dengan hati-hati.
"Apa sih Ndrew, pertanyaan tidak bermutu sekali," ucap Tika, sambil memalingkan wajahnya.
"Tika, aku serius loh bertanya! Kenapa kamu tidak jawab?" Andrew, dengan meraih dagu Tika, lalu melepaskannya.
"Kenapa sih Ndrew, kenapa kamu berpikiran seperti itu? Asal kamu tahu ya, aku tidak ada perasaan apapun sama dia!"
"Tapi kenapa tadi Chandra ada di dalam mobilmu, saat kamu pulang dari kantorku?"
"Iya, dia gantiin sopir yang biasa menjemputku. Pak romi malah menyuruh Chandra untuk mengantikannya, karena keluarganya ada yang meninggal! Aku juga terkejut saat mengetahui siapa yang menjemputku. Kenapa kamu cemburu ya?" goda Tika, kepada Andrew.
"Ya pastinya aku bakal jawab iya. Wajar dong, bila aku cemburu karena kamu calon istriku," ucap Andrew, kemudian memegang tangan Tika.
"Pede banget ya, kalau aku ini calon istrimu," Tika sambil tertawa renyah.
"Tentu saja harus pede dong, karena kamu orang yang sudah membuat aku nyaman, dan memberikan sejuta pelangi yang membuat hidupku lebih berwarna!" ucap Andrew, sambil menatap Tika.
"Lho kok sejuta? Bukannya pelangi ada tujuh warna ya? Wah kamu ngaco nih kalau bicara," ucap Tika.
"Hak-hak aku dong, mau sejuta atau satu milyar juga, yang penting bagiku, kamu wanita yang sangat berharga bagiku."
"Lebay deh!" gerutu Tika, sambil menyunggingkan bibir atasnya.
"Bodoh amet deh, dibilang lebay juga! Terima kasih sayang, kamu sudah memberikan aku kesempatan, dan membuka hatimu untukku! Aku berjanji akan selalu membahagiakanmu," ucap Andrew, sambik mencium kedua tangan Tika.
Deg. Jantung Tika berdetak begitu sangat cepat, entah apa yang dirasakannya, yang pasti hatinya merasa berbunga dan kini menjadi salah tingkah. Tika tidak menyangka dengan apa yang dilakukan oleh Andrew. Tiba-tiba pipinya memerah.
Tiba-tiba seseorang datang mengetuk pintu.
Tika pun menganggukan kepalanya.
Andrew, dengan segera berjalan menuju pintu tersebut.
Saat sudah sampai di depan pintu, dengan segera Andrew membukakan pintunya.
"Ini pak, makanan sama minumannya sudah siap," ucap seorang pria paruhbaya.
"Terima kasih," ucap Andrew sambil tersenyum.
"Sama-sama. Kalau begitu saya permisi pak, karena masih banyak pekerjaan yang harus saya kerjakan," ucap pak Doni.
"Iya silahkan, hati-hati di jalannya." ucap Andrew.
"Iya siap pak." pak Doni, sambil pergi dari hadapan Andrew.
Andrew pun dengan segera membawa makanan, dan minumannya ke dalam ruangan, dimana Tika berada disana.
Tika merasa terkejut dengan apa yang dibawa oleh Andrew.
Andrew pun terus berjalan menghampiri Tika. Saat sudah berada di samping Tika, Andrew menyimpan minumannya di dalam meja, sedangkan makanannya masih di atas tangan Andrew.
"Makanan, dan minuman buat siapa sih?" tanya Tika, kepada Andrew.
__ADS_1
"Ya buat kamulah," jawab Andrew.
"What, buat aku? Lagian aku enggak pesan makanan kok," ucap Tika.
"Tapi aku yang memesannya. Aku tahu, kamu belum makan kan? Kenapa sih Tika, kamu sampai telat makan? Apakah karena perjodohan kita, yang membebanimu? Sehingga membuat kamu jadi telat makan?" tanya Andrew, sambil menatap Tika.
"E-enggak kok, bukan karena itu," protes Tika.
"Lalu karena apa dong?"
"Kamu tahu sendirikan aku sibuk banget dalam pekerjaan, sehingga membuatku kadang telat makan." ucap Tika.
"Sesibuk-sibuknya kerjaan, jangan sampai telat makan! Nanti, kalau kamu sakit siapa yang akan pegang perusahaanmu? Menyusahkan orangtua, tahu!" ucap Andrew, dengan meninggikan suaranya, karena merasa kesal.
"Iya-iya deh." ucap Tika.
"Jangan cuma di mulut doang bilangnya iya, tapi harus dilaksanakan!"
"Iya, bawel banget sih jadi orang!" gerutu Tika.
Andrew pun tidak memperdulikan perkataan Tika, justru Andrew hanya tersenyum.
"Sekarang makan, setelah itu makan obat biar cepat sembuh! Sekarang buka mulutnya, nih makan dulu," ucap Andrew sambil menyodorkan sesendok makanan berserta menunya.
"Sudah sini, biar aku saja makan sendiri!" protes Tika.
"Sudah jangan banyak protes! Sekarang buka mulutmu," ucap Andrew, dengan kekeuh.
Tika pun terpaksa menuruti kemauan Andrew, dari pada berdebat terus.
"Nah gitu dong," ucap Andrew merasa senang karena berhasil menyuapi Tika.
Sampai akhrinya Tika pun terus di suapi oleh Andrew, sampai tidak tersisa satu pun.
"Nah gitu dong. Sebenarnya doyan, atau lapar sih? Sampai bersih gini piringnya," sindir Andrew.
"Ih apaan sih, kamu sendiri maksa terus! Ya sudah karena kebetulan lapar juga, ya aku habisin sampai tidak tersisa satu pun," ucap Tika dengan cengengesan.
"Eemzz ... ya sudah sekarang minum obatnya," ucap Andrew sambil memberikan obatnya.
Tika dengan segera mengambil obatnya, lalu meminumnya.
"Kamu enggak apa-apa kan, saya tinggal? Soalnya sekarang ada rapat dikantor," ucap Andrew.
"Iya tidak apa-apa kok. Ya sudah sana pergi, kasihan, nanti mereka menunggu lama!"
"Baiklah." Andrew segera beranjak dan berdiri. Sebelum melangkahkan kakinya, Andrew mendekati Tika, lalu mencium lembut rambut pucuk Tika.
"Ya sudah, aku pamit dulu ya." Andrew sambil melangkahkan kakinya untuk pergi dari ruangan tersebut.
Tika merasa terkejut, dan merasa tidak percaya apa yang dilakukan oleh Andrew. Jantungnya semakin berdetak kencang, dan rasanya, entahlah yang pasti bahagia.
Bersambung ...
***"
__ADS_1
Yuk mampir dan kepoin karya dari author ini pastinya dijamin seru banget nih.