
Keesokan Harinya.
Hari ini, hari yang sangat bahagia untuk Bu Lily. Bagaimana tidak, hari ini dimana Bu Lily berulang tahun. Serta Tika mengadakan syukuran dimana Tika, diberikan kepercayaan untuk hamil.
Seluruh keluarga dan saudara-saudaranya sedang berkumpul untuk menghadiri acara syukuran yang dilakukan di kediaman rumah Tika.
Acara syukuran tersebut Tika mendatangkan anak yatim piatu ke rumahnya. Selain itu juga, Tika, membagikan sembako dan uang kepada warga yang membutuhkan, juga kepada tunawisma yang berada di pinggir jalan.
Tika kini sedang duduk di ruangan tamu bersama putrinya serta saudara lainnya sedang mengobrol.
Tiba-tiba ponsel Tika berbunyi tanda ada panggilan masuk. Dengan segera Tika mengambil ponselnya yang di simpan di atas meja.
"Sebentar ya, saya mau angkat dulu telepon." Kata Tika, kepada saudaranya sambil pergi menuju kamar.
Tika dengan segera mengangkat panggilan masuk tersebut dari suaminya.
"Selamat siang Sayang. Lagi apa?" tanya Andrew, disebrang sana.
"Siang juga Mas. Lagi pada kumpul saja sama keluarga," jawab Tika.
Mereka kini saling bertanya-tanya keadaan di rumah Tika, serta kabar saudara-saudaranya dan saling mengungkapkan rasa kangen diantara mereka.
"Sayang," panggil Andrew, kepada istrinya.
"Iya, kenapa Mas?" tanya Tika, sambil menatap wajah Andrew.
Kebetulan mereka melakukan video call, sehingga mereka bisa melihat wajahnya lewat ponselnya.
"Mas, benar-benar minta maaf tidak bisa pulang. Tadi ada telpon mendadak, akan ada pertemuan dengan duta industri disini," jelas Andrew.
"Oh gitu ya Mas. Ya sudah enggak apa-apa kok Mas," Tika, tersenyum kepada suaminya dan sedikit menyimpan kekecewaan.
"Kamu enggak marahkan, Sayang?" tanya Andrew, dengan hati-hati.
"Marah? Enggak kok Mas. Lagian aku ngerti Mas, gimana posisi kamu sekarang," jawab Tika.
Andew begitu salut dengan pola pikiran istrinya yang dewasa serta selalu mengerti posisi dirinya.
"Terima kasih Sayang, sudah mengertiin Mas." Andrew di sebrang sana, sambil tersenyum kepada istrinya.
"Iya Mas." Tika, membalas senyuman suaminya.
Tiba-tiba ponsel Tika yang satu lagi dapat notif pesan masuk.
__ADS_1
"Coba kamu buka video yang aku kirim barusan," lirih Andrew.
"Video? Memangnya kamu kirim video apa?" Tika, sambil mengerutkan keningnya karena merasa penasaran.
"Sudah jangan banyak tanya, buka saja." Perintah Andrew.
Tika dengan segera mengambil ponsel lain, lalu membuka video yang dikirim oleh suaminya.
Tika begitu terharu saat melihat video kebersamaan dirinya dengan Andrew. Apalagi di iringi dengan musik yang sangat enak di dengar. Ingin rasanya Tika memeluk Andrew, dan melepaskan kerinduannya selamai ini.
"Gimana Sayang, kamu suka?" tanya Andrew, disebrang sana.
"Iya, aku suka," Tika sambil menganggukan kepala.
Tiba-tiba airmata Tika lolos begitu saja membasahi wajah cantiknya. Andrew, mulai cemas melihat istrinya tiba-tiba menangis.
"Sayang, kamu baik-baik saja kan?" tanya Andrew, merasa khawatir.
"Iya aku baik-baik saja Mas." Jawab Tika, dengan menghapus airmatanya yang membasahi pipi.
"Kalau baik-baik saja, kenapa kamu menangis? Jujurlah, Sayang, apakah ada seseorang yang menyakitimu?!" tegas Andrew.
"Tidak ada Mas. Aku menangis karena begitu terharu melihat kiriman video darimu. Sebenarnya ...," ucapan Tika, sengaja di gantung karena begitu berat untuk mengungkapkan perasaannya.
"Aku ... i miss you, Mas!" lirih Tika, lalu tersenyum kepada suaminya.
Andrew membalas senyuman Tika ," I miss you too, honey."
"Maaf ya Sayang, Mas belum bisa pulang karena disini sibuk banget. Bilangin sama Ibu, maaf aku belum bisa pulang," ucap Andrew.
"Iya nanti dibilangin sama Ibu, Mas."
"Terima kasih, Sayang."
"Iya. Oya Mas, sudah dulu ya karena acara syukuran sudah mau di mulai tuh."
"Iya Sayang."
Setelah Tika berpamitan dengan suaminya, kemudian Tika memutuskan sambungan telponnya.
Ada rasa kekecewaan saat suaminya bilang tidak bisa pulang sekarang. Padahal, Tika ingin memberikan kejutan kepada suaminya kalau dirinya sedang hamil.
Akan tetapi, Tika, tidak boleh egois. Karena Tika pun pernah merasakan saat berada di posisi Andrew.
__ADS_1
Tika dengan segera keluar dari kamarnya dan berjalan menuju ruang tamu, dimana disana ada saudara-saudaranya sedang berkumpul.
Acara pun akan segera di mulai, saat anak-ana yatim piatu sudah berkumpul di rumahnya bersama Bu ustadzah.
Bu ustadzah pun dengan segera mempimpin ngaji serta doa.
Para anak yatim piatu dan orang-orang yang berada disana dengan mengaminkan ucapan doa dari Bu ustadzah saat mendoakan Bu Lily dan Tika.
*
*
Tiga jam kemudian.
Acara syukuran pun sudah selesai. Bu ustdzah dan anak yatim piatu berpamitan untuk pulang.
"Terima kasih ya Bu, Mbak, sudah mengundang saya dan anak-anak saya kesini. Semoga rezeki Ibu sama Mbak semakin ngalir dan dibalas semua kebaikannya sama Sang Pencipta.
"Aamiin. Terima kasih atas doanya." ucap Bu Lily.
"Iya. Kalau begitu Saya, permisi pulang," pamit Bu Wati.
"Iya, silahkan Bu. Hati-hati di jalannya ya Bu." ucap Bu Lily.
"Assalamualaikum ...," ucap Bu Wati.
"Walaikumsalam." Jawab Bu Lily dan Tika.
Para anak yatim piatu pun segera pergi keluar dari rumah Tika, setelah selesai dibagikan uang dan makanannya.
Tika pun menguap, saat rasa kantuk mulai menyerangnya. Tika berpamitan kepada Ibunya, Ibu mertua dan saudara yang lainnya untuk ke kamar.
Mereka tidak keberatan, apalagi saat mengetahui kalau Tika sedang hamil, mereka menyuruh Tika untuk beristirahat.
Tika dengan segera melangkahkan kakinya menuju kamar.
Saat Tika sudah sampai dikamar, dengan segera Tika berjalan menuju ranjang.
Saat Tika akan merebahkan tubuhnya, tiba-tiba ponsel Tika berbunyi. Dengan segera, Tika, mengambil ponselnya lalu membuka pesan masuk.
Tika membulatkan mata-nya, dan merasa tidak percaya apa yang dilihatnya. Hati Tika kini merasa sakit bagaikan disayat dengan pisau tajam.
Tiba-tiba airmatanya tumpah membasahi wajah cantiknya saat Tika terus menatap ponselnya.
__ADS_1
Bersambung ....