Izinkan Aku Pergi(Aku Lelah)

Izinkan Aku Pergi(Aku Lelah)
177. Andrew, ngidam?


__ADS_3

Tika dan Andrew pun kini sudah ada di ruangan meja makan. Mereka tidak berduaan di sana, tetapi ada Bu Lily, Ayah Efendy dan putrinya.


Kini mereka sedang menikmati sarapan paginya.


Hari ini, Andrew merasa sangat senang. Akhirnya yang selama ini di tunggu-tunggu  terwujud juga, istrinya sedang mengandung anak darinya.


"Oya Sayang, apakah kamu senang punya adik?" tanya Andrew, kepada putrinya.


"Tentu saja Ayah, Chika, sangat senang. Nanti Chika bakal ada teman main boneka dan ngobrol," jawab Chika.


"Emm ... Kamu pingin punya adik cewek, apa cowok?" tanya Andrew lagi.


"Chika pingin punya adik cewek dan cowok, Ayah."


"Berarti Ibu harus mengandung baby Twins dong? Doain saja, semoga baby yang ada di dalam perut Ibu, memang baby twins," Andrew, mengusap perut istrinya yang masih rata.


"Iya Ayah. Biar nanti rame  jadi bertiga, ada adik  cowok nanti paling ganteng disini," ucap Chika.


"Ayah juga ganteng kok, jadi nanti yang ganteng ada dua orang dong," ucap Andrew, sambil menatap putrinya.


"Ih pede banget sih, Ayah." ejek Chika.


"Memang harus pede dong, karena memang kenyataanya Ayah ini cakep," Andrew, dengan mengedipkan satu matanya.


"Iya, ya, deh. Memang Ayah cakep,"  ucap Chika.


"Nah gitu dong, harus mengakui punya Ayah yang super keren ini."


"Karena Chika, tepaksa mengakuinya." Chika, dengan menjulurkan lidahnya.


"Dasar ya ." Andrew, tersenyum lalu mengusap rambut putrinya.


Tika, hanya mengelengkan kepala saat mendengarkan percakapan Andrew dengan putrinya.


"Kalian ini ada-ada saja deh. Kamu lagi, Mas, kenapa bilang pingin cewek atau cowok? Lagian, mau berjenis kelamin cewek atau cowok, mau twins atau enggak yang penting baby nya sehat, selamat dan menjadi orang yang berbakti, serta menjadi orang yang berguna untuk nusa dan bangsa," ucap Tika.


"Setuju!" timpal Ayah Efendy.


"Sudah, ayo kita makan kembali!" perintah Bu Lily.


Mereka pun kini kembali melanjutkan makannya hingga selesai.


Saat selesai sarapan  paginya, tiba-tiba Andrew, merasa mual kembali. Kemudian dengan segera Andrew berjalan menuju wastafel.


"Pergi sana ke dokter, kasihan tuh suamimu. Kayaknya, Andrew muntah-muntah karena efek dari kehamilan kamu," ucap Bu Lily.

__ADS_1


"Masa sih Bu? Ada-ada saja Ibu ini. Tika, yang lagi hamil mana mungkin Andrew yang kena imbas muntah-muntah mulu." Tika, merasa tidak percaya.


"Masa kamu tidak tahu sih? Coba saja periksa kalau tidak percaya. Ya sudah, Ibu sama Ayah permisi dulu mau ke rumah saudara Ibu dulu," pamit Bu Lily.


"Iya, silahkan Bu." Tika, dengan menganggukan kepala.


"Nenek, Kakek, tunggu Chika," ucap Chika, sambil berjalan mengahampiri Bu Lily dan Ayah Efendy.


"Kamu mau ikut? Sudah kamu disini saja Nak, bersama Ibu." ucap Tika.


"Enggak mau ah, Chika pingin ikut sama Nenek dan Kakek," rengek Chika.


"Huh dasar, anak Nenek sama Kakek," ledek Tika.


"Biarin saja, sudah ayo Nek, Kek, kita pergi. Ya sudah Ibu, Chika pergi dulu. Bilangin juga sama Ayah."


"Iya, Sayang." ucap Tika, kepada putrinya.


"Bilangin sama Andrew, Ibu sama Ayah pergi dulu ya. Jangan lupa periksa ke dokter!" tegas Bu Lily.


"Iya, Ibu."


Bu Lily dan Ayah Efendy pun dengan segera pergi dari hadapan putrinya dan berjalan menuju mobilnya untuk pergi ke rumah saudaranya yang kebetulan ada acara nikahan.


Tika dengan segera berjalan menyusul suaminya ke westafel.


"Lelah, Sayang," jawab Andrew.


"Ya sudah, ayo kita pergi ke dokter."


"Baiklah, Sayang."


Andrew dan Tika, dengan segera pergi meninggalkan rumahnya, dan berjalan menuju rumah sakit untuk berobat.


Disetiap perjalanan Andrew, begitu manja layaknya seorang anak kecil yang terus menyender di pundak istrinya sambil mengusap-ngusap perut Tika, yang masih rata.


*


*


Satu jam sudah Tika dan Andrew berada dirumah sakit, dan Kini Andrew sudah selesai diperiksa oleh dokter.


Andrew dan Tika, kemudian duduk dikursi dan saling bertatapan dengan dokter Elan.


"Gimana Dok, sebenarnya suami saya kenapa ya?" tanya Tika.

__ADS_1


"Maaf sebelumnya saya mau bertanya, apakah Anda lagi hamil?"  tanya dokter Elan kepada Tika.


"Pantesan saja. Kayaknya suami Anda sedang mengalami sindrom couvade. Dimana pak Andrew sedang mengalami kehamilan simpatik," jawab Dokter Elan.


"Maksudnya saya hamil Dok? Yang benar saja kalau bicara Dok,"  gerutu Andrew.


"Bukan begitu maksudnya, Pak. Jadi apa yang setiap Ibu hamil alami, bapak pun ikut mengalaminya seperti morning stickes, dan pusing. Begitu yang dinamakan kehamilan simpatik."


"Oh begitu jadinya. Apakah ada obatnya?" tanya Andrew.


" Saya akan memberikan obat sakit kepala, dan rasa mual." Jawab Dokter Elan.


"Baiklah."


Dokter Elan pun dengan segera memberikan resep obat tersebut dan dengan segera Tika, mengambilnya.


"Terima kasih ya, Dok. Kalau begitu Saya permisi dulu." Kata Tika.


"Iya silahkan." ucap Dokter Elan.


Tika dan Andrew pun dengan segera pergi dari ruangan dokter elan, lalu berjalan menuju mobilnya.


Saat mereka sudah berada di dalam mobil, pak Amin dengan segera menjalankan  mobilnya.


"Kita pergi ke Mall, pak," ucap Andrew, kepada sopirnya.


"Wait? Mau ngapain ke Mal, Mas. Kamu lagi sakit," lirih Tika.


"Aku pingin jalan-jalan Sayang. Sudahlah Sayang aku lagi ngidam nih, turutinlah  nanti kalau tidak di turutin katanya bisa ileran, mau?"


"Ya enggak mau lah. Oke kalau begitu." ucap Tika.


3 jam sudah mereka sudah sampai di Mall yang dimaksud. Tika dan Andrew pun dengan segera keluar dari mobil tersebut.


Saat Tika dan Andrew akan berjalan, tiba-tiba seseorang tidak sengaja menyenggol pundak Tika.


"Maaf, aku tidak sengaja," ucap seseorang tersebut.


"Iya tidak apa-apa." Jawab Tika.


Lalu Tika dan Seseorang tersebut saling menatap satu sama lain. Mereka terkejut saat mengenal seseorang tersebut.


"Lisa?"


"Kak Tika?"

__ADS_1


"Kamu ...," ucapan Andrew, tergantung lalu menatap tajam Lisa.


Bersambung ...


__ADS_2