
"Kamu itu kenapa sih, pikirannya negatif mulu. Benar-benar ya, kamu itu jadi orang, tidak pernah berubah!" Bentak Tika sambil menatap tajam Chandra.
"Maksud kamu apa, berkata seperti itu hah?" Chandra sambil menatap tajam Tika.
"Sudah, sudah, kalian ini kenapa sih bertengkar terus. Dan kamu, Chandra, jadi orang jangan menuduh sembarangan sebelum Tika menjelaskan semuanya." Andrew merasa geram, melihat mantan suaminya Tika.
"Oh, ternyata kamu mengenal namaku ya? Jangan-jangan si Tika, selalu membicarakan aku kepadamu ya? Pantesan saja kupingku terasa panas, ternyata ada seseorang yang membicarakan aku dibelakang," ucap Chandra dengan tersenyum sinis, sambil menatap Tika dari kaca mobil depan.
"Kamu ...." Tika menatap tajam Chandra, tangan telunjuknya sambil menujuk Chandra di depan kaca mobilnya.
"Apa hah?" Tantang Chandra.
Ini orang benar-benar brengsek, dan kurang ajar! Bicara seenaknya. Andai saja kalau istrinya tidak hamil, mungkin sudah aku suruh anak buah ayah, menghabisi si Chandra batin Tika, sambil menatap kesal Chandra.
"Aww ... sakit perutku Mas ...." teriak Vika, meringis kesakitan.
__ADS_1
"Sabar sayang, tahan ya." Chandra kemudian memeluk istrinya, lalu menguraikan pelukannya dan mengusap perut istrinya.
Tika yang melihat perlakuan lembut Chandra terhadap istrinya, dengan segera memalingkan wajahnya. Entah kenapa, Tika merasa sakit hati saat mengingat masa lalunya. Bagaimana tidak? Chandra selalu kasar, dan tak pernah bersikap lembut lagi terhadap dirinya.
"Heh, kenapa kamu diam saja? Jalanin mobilnya sekarang! tidak dengar apa? Barusan istriku berteriak kesakitan," teriak Chandra, sambil menatap Andrew.
"I-iya maaf." ucap Andrew, dengan gugup karena ikut merasa cemas.
Andrew pun dengan segera menjalankan mobilnya.
"Iya, kenapa Tika?" tanya Andrew, saat Tika memanggil dirinya.
"Tika! Kamu itu kenapa sih, ganggu saja orang mau jalanin mobil. Kamu tidak dengar apa? Istriku berteriak kesakitan." gerutu Chandra, sambil menatap Tika.
"Asal kalian tahu, mobilku tadi oleng. Terus tadi aku lihat, ban mobilnya juga kempes. Nah, sekarang kamu nyuruh Andrew untuk menjalankan mobilnya. Apakah kamu, menyuruh kita untuk mati?!" Tika mencoba menjelaskan.
__ADS_1
"Oh my god, saya lupa Tik." Andrew sambil menepuk jidatnya dengan tangan,"terima kasih, sudah mengingatkan Tik." ucap Andrew sambil tersenyum terhadap Tika.
Ada sedikit rasa malu di dalam hati Chandra, karena telah menuduh yang enggak-enggak terhadap Tika. Karena egonya tinggi, sehingga Chandra ogah meminta maaf.
"Ya sudah, kita keluar cari taksi. Dan kalian harus ikut aku ke rumah sakit, karena kalian harus tanggung jawab." Chandra sambil sambil menatap Andrew dan Tika bergiliran. Lalu keluar dari mobil tersebut, dan segera mencari taksi.
Andrew dan Tika pun saling menatap satu sama lain, Tika mengindikan bahunya, dan Andrew membalas dengan tatapan matanya, sambil memberikan kode.
Dengan segera Andrew, dan Tika keluar dari mobilnya menyusul Chandra.
Saat mobil taksi datang, Andrew dengan segera melambaikan tangannya, meminta agar taksi tersebut berhenti. Dengan segera, taksi tersebut berhenti tepat di depan Andrew.
"Pak, boleh aku pinjam mobilnya?" ucap Andrew terhadap supir taksi.
"Enggak bisa. Enak saja, main pinjam mobil. Ini ladang pekerjaan saya pak, kalau mobilnya dipinjam sama kamu, saya punya uang dari mana untuk menghidupi keluarga saya hari ini." ucap Edi, sang sopir taksi.
__ADS_1
"Ayolah pak, please. Kasihan, wanita ini sedang kesakitan," Andrew sambil mengatupkan kedua tangannya, agar pak sopir mau memberi pinjam mobilnya.