
5 bulan kemudian ...
"Sayang, aku sudah membelikan baju se.
"Aduh Mas, baru juga usianya 5bulan Mas. Pamali katanya, kalau masih usia segitu. Harusnya usia di 7 bulan," Tika, mencoba menjelaskan.
"Ya ampun Sayang, itu cuma mitos. Lagian, aku sudah tanggung membelinya. Apa aku kembalikan lagi bajunya ke toko," lirih Andrew.
"Jangan dong Mas, kalau sudah beli ya sudah enggak apa-apa. Emangnya mana barangnya Mas?" tanya Tika.
"Itu lagi di ambilin sama pak amin dan pak ujang," jawab Andrew.
"Ini Den, taruh dimana ya?" tanya Pak Amin, sambil membawa baju dan perlengkapan lainnya bersama Pak Ujang.
"Disana saja Pak," jawab Andrew.
Pak Amin dan Pak Ujang dengan segera meletakan barang tersebut sesuai apa yang dikatakan oleh majikannya.
"Ya ampu Sayang, banyak banget," Tika, merasa terkejut, ternyata suaminya membelikan baju serta box bayi dan lainnya hampir ruangan tamu penuh.
"Kenapa emangnya, kalau beli banyak? Lagian baby kita twins kan, jadi enggak mungkin beli sedikit."
"Tapi enggak banyak-banyak amet kali Mas, apalagi kalau masa bayi tuh pertumbuhannya cepat loh, jadi enggak mungkin pakai baju itu terus," jelas Tika.
"Iya, Mas tahu kok. Lagian ini bukan baju untuk baby twins saja, tapi ada baju, celana, sepatu dan tas untukmu Sayang," ucap Andrew, sambil tersenyum.
"Masa sih?"
"Seriuslah Sayang, ini aku ambilkan bag paper untukmu," Andrew, dengan segera mengambilnya.
Andrew, langsung memberikan 10 bag paper untuk istrinya.
"Untukku, Mas?" tanya Tika.
"Tentu saja untukmu, Sayang," jawab Andrew.
"Boleh dibuka?"
"Tentu saja boleh Sayang, itukan untukmu."
Tika, dengan segera membuka bag paper yang diberikan oleh suaminya. Tika, merasa terkejut ternyata suaminya membelikan baju yang harganya jutaan dan bajunya sangat mewah.
Tika, tidak menyangka suaminya begitu perhatian kepada dirinya. Bahkan apapun yang Tika, mau, Andrew, selalu mengabulkannya. Tika merasa bersyukur mempunyai suami seperti Andrew, selalu menyayangi dirinya serta anaknya dan orangtuanya.
__ADS_1
"Ibu, Ayah ...," panggil Chika, yang kini tiba-tiba datang.
"Eh anak Ayah, sudah pulang ya. Gimana jalan-jalannya senangn?" tanya Andrew, kemudian memangku Chika, dipangkuannya.
"Tenti saja Ayah, Chika sangat senang. Tadi diajak main ke Taman Ancol, seru banget Ayah."
"Naik apa kamu disana?" tanya Tika, kepada putrinya.
"Naik semuanya Ibu," jawab Chika.
"Masa sih? Ibu, enggak percaya ah," ledek Tika.
"Tanyain saja sama Nenek dan Kakek, kalau enggak percaya," Chika, sambil menatap sebal Tika.
"Lagian Ibu, percaya Kok. Ibu, tadi cuma bercanda," lirih Tika, tersenyum lalu mencubit pipi putrinya karena merasa gemas.
"Ibu, sakit tahu," rengek Chika.
"Dasar anak manja," omel Tika.
"Biarin yey." Chika, dengan menjulurkan lidahnya.
"Oya Ayah, bawa apaan sih kok banyak banget Yah?" tanya Chika.
"Ayah bawa baju, box serta perlengkapan lainnya untuk adik kamu, Sayang," jawab Andrew, tersenyum.
"Kamu kenapa sedih Sayang? Bukannya senang Ayah sudah beli perlengkapan untuk adikmu," ucap Andrew.
"Iya, Ayah, Chika senang kok tidak sedih," Chika, berusaha tersenyum.
"Ayah, juga membelikan baju, sepatu, celana dan permainan untukmu."
"Serius Ayah? Ayah membelikan buat Chika?" tanya Chika, kembali.
"Iya, Sayang. Bentar ya, Ayah ambilin dulu bag paper untukmu," Andrew, dengan menurunkan Chika, dari pangkuannya lalu mengambil bag paper.
"Iya, Ayah."
Andrew, dengan segera memberikan bag papernya kepada Chika.
Chika, dengan segera membuka bag paper tersebut, hatinya begitu sangat senang ternyata Andrew, membelikan baju, sepatu juga mainan seperti yang iya inginkan.
"Ayah, terima kasih," lirih Chika, sambil menatap Andrew.
__ADS_1
"Iya Sayang." Andrew, menjongkokkan tubuhnya untuk mensejajarkan dengan putrinya.
"Sini peluk Ayah dong." pinta Andrew.
Chika, dengan segera memeluk Andrew.
"Maafin, Chika, ya Ayah."
"Maaf? Emangnya kenapa Sayang?" tanya Andrew, sambil mengerutkan kepala karena tidak mengerti maksudnya.
"Iya, tadi Chika, sudah berpikiran buruk sama Ayah. Chika, pikir Ayah pilih kasih dan tidak sayang lagi sama Chika," lirih Chika.
"Ya ampun Sayang, kenapa berpikiran seperti itu? Lagian, Ayah tidak ada niat untuk pilih kasih, kalau adikmu sudah lahir. Kamu tetap anak Ayah yang sangat dibanggakan," Andrew, tersenyum kepada putrinya.
"Bagian untuk Ibu, mana?" ucap Bu Cantika, memasuki ruangan tamu.
"Ada, nih. Semuanya Andrew, beliin," lirih Andrew, dengan mengambil bag paper untuk Ibunya.
"Andrew, juga nih beliin buat Ibu dan Ayah mertua," sambung Andrew, sambil memberikan bag papernya.
"Terima kasih Nak. Padahal, enggak usah repot-repot," kata Bu Lily.
"Lagian, enggak apa-apa kok Bu. Jarang-jarang Andrew, ngasih buat mertua cinta," gombal Andrew.
"Dasar gombal," ledek Tika.
"Enggak apa-apa lah, gombal juga demi memenangkan hati Ibu sama Ayah, agar Sayang terus sama Aku," ucap Andrew.
"Huh dasar!" gerutu Tika, dengan mencubit pinggang Andrew.
"Sayang ...," rengek Andrew.
Tika hanya tertawa renyah, tanpa menjawab perkataan suaminya.
Bu Lily, Ayah Efendy dan Bu Cantika, hanya menggelengkan kepala, lalu ikut tertawa karena merasa lucu.
"Andrew, bawa makanan mumpung masih hangat nih," ucap Andrew, dengan mengeluarkan spagethi dan martabak telor serta rasa manis.
"Aduh, punya menantu baik ya, bersyukur sekali Tika, punya suami sepertimu, Nak," puji Ayah Efendy.
"Sudahlah Yah, ayo makan mumpung masih hangat. Jangan terlalu banyak memuji dia, nanti hidungnya terbang loh Yah," Canda Tika.
"Dasar, Istriku ini Yah." Andrew, menatap Tika.
__ADS_1
Tika, hanya cengegesan tanpa merasa bersalah.
Mereka pun kini sedang menikmati makanan yang Andrew, bawa.