Izinkan Aku Pergi(Aku Lelah)

Izinkan Aku Pergi(Aku Lelah)
141. Terakhir Kerja!


__ADS_3

Empat hari kemudian ....


Seperti biasa Andrew selalu menjemput Tika tiap hari kalau mau berangkat kerja ke kantor. Hari ini, hari dimana mereka terakhir bekerja, karena esok mereka akan cuti nikah selama dua minggu.


Mobil yang dikendarai Andrew pun kini sudah sampai dirumah Tika, dengan segera Andrew keluar dari mobil miliknya.


Hatinya kini merasa senang, karena dua hari lagi pernikahan mereka akan berlangsung.


Andrew dengan segera berjalan masuk ke dalam rumah.


"Assalamualaikum, selamat pagi Bu," ucap Andrew menyapa Ibu mertuanya.


"Walaikumsalam Nak Andrew, pagi juga," jawab Bu Lily sambil tersenyum.


"Oya, Tika mana Bu?" tanya Andrew


"Biasa, lagi ada di kamar tuh," jawab Bu Lily.


"Oh. Enggak apa-apa kan Bu, Andrew  masuk ke kamar Tika?" tanya Andrew kepada Bu Lily.


"Iya silahkan saja, tapi ingat jangan macam-macam ya," Bu Lily mengingatkan.


"Ya ampun Ibu ini gimana sih, enggak mungkinlah Andrew macam-macam sama Tika. Lagian kan, cuma tinggal dua hari lagi menuju halal Bu. Jadi Andrew bisa nahan syahwat kok," ucap Andrew.


Bu Lily pun hanya tersenyum saat Andrew berkata seperti itu.


"Ya sudah Bu, Andrew permisi dulu mau ke kamar Tika ya."


"Iya silahkan Nak." jawab Andrew.


Andrew dengan segera berjalan menuju kamar calon istrinya.


Saat sudah sampai di depan pintu kamar, Andrew kemudian memegang gagang pintu, ternyata pintunya tidak terkunci.


Andrew dengan segera membukakan pintunya, lalu menatap Tika yang kini sedang berhias di depan cermin. Andrew pun dengan segera berjalan menghampiri calon istrinya tersebut.


'Waduh, ini jerawat menganggu wajahku saja, mana ada dua biji lagi,' gerutu Tika pada diri sendiri, sambil menatap cermin yang ada di depannya.


"Kata orang sih, kalau ada jerawat katanya ada perasaan yang di pendam tuh sama orang lain," ucap Andrew yang kini sudah berada disamping Tika.


"Andrew? Sejak kapan kamu ada disini? Kok aku tidak dengar kamu masuk ke dalam kamarku," ucap Tika sambil menatap Andrew.

__ADS_1


"Karena kamu sibuk dengan jerawatmu, sampai-sampai kedatanganku tidak kamu dengar. Hayo, jujur punya perasaan sama siapa sih, selain sama aku?" tanya Andrew, sambil menatap Tika dari cermin.


"Ih Andrew, kamu kenapa bicara gitu sih? Aku tidak punya perasaan yang dipendam sama siapa pun kok," protes Tika.


"Lalu kenapa itu ada jerawat muncul di wajahmu? Kata orang sih-" ucap Andrew harus terputus karena Tika menyela pembicaraannya.


"Apa yang dikatakan orang itu, tidak betul. Mereka cuma mengada-ngada saja. Lagian munculnya jerawat karena darah kotor yang kebanyakan suka makan sembarangan, seperti berminyak, dan semacamnya gitu," ucap Tika, kemudian memutarkan kursinya lalu menatap intens netra Andrew.


"Kirain aku karena ada pria lain," ucap Andrew, sambil membungkukkan punggungnya dan mensejajarkan dengan Tika.


"Ngaco kalau bicara. Aku orangnya setia loh pada satu orang! Kebanyakan yang suka sama aku, si pria yang duluan bukan aku," ucap Tika dengan pedenya.


"Emmz ... so pede ya," ucap Andrew sambil mencapit hidung Tika.


"Ih Andrew, sakit tahu," rengek Tika.


"Habisnya aku tuh gemas banget sama kamu, jadi tidak sabar pingin melahapmu," ucap Andrew, sambil menatap gemas Tika.


"Emangnya aku makanan apa, yang bisa dilahap olehmu," ucap Tika sambil menggelengkan kepala.


"Ya tentu saja bisa. Mau aku praktekin?  Eh jangan nanti saja deh, kalau sudah halal," ucap Andrew.


"Ih mesum ya, dasar! Sudah, ayo kita berangkat kerja," ajak Tika.


"Tentu saja sudah, makannya aku mengajakmu berangkat kerja," ucap Tika.


"Emm ... ya sudah ayo," ucap Andrew sambil mengulurkan tangannya.


Tika pun tersenyum, lalu membalas uluran tangan Andrew.


Tika dan Andrew pun dengan segera berjalan menuju meja makan, untuk sarapan pagi terlebih dahulu.


"Emm ... calon pengantin, pagi-pagi sudah pamer kemesraan," ucap bu Lily sambil menatap putrinya dan calon menantu tersebut.


"Harus dong Bu, mumpung enggak ada Ibuku, jadi bebas," ucap Andrew.


"Emm ... dasar nakal ya," ucap bu Lily.


"Enggak apa-apa lah Bu, satu atau dua kali juga, asal jangan sering," ucap Andrew.


"Lagian kamu memang sering kok kayak gini, bukan satu atau dua kali ih," tembal Tika.

__ADS_1


"Ya wajarlah, kalau cuma sebatas pegang tangan asal jangan keterlaluan batas saja."


"Setuju! Ibu salut sama kamu, Ndrew, ternyata kamu dewasa ya, bukan cuma itu juga, kamu baik, dan bisa menerima kekurangan Tika," puji Bu Lily kepada Andrew.


"Ibu bisa saja memuji saya. Lagian manusia itu saling melengkapi  satu sama lain, dengan kekurangan dan kelebihan yang dimiliki oleh pasangannya. Lagi pula, Tika tidak ada kekurangan satu persen pun. Hampir hidupnya sempurna! Sungguh bodoh sekali, orang yang telah meninggalkan Tika begitu saja demi wanita lain," ucap Andrew.


"Justru itu Ndrew, karena dia bodoh! Coba, apa lagi kekurangan putri Ibu? Dia bagaikan kacang lupa pada kulitnya. Sudah banyak dibantu, tapi tidak pernah bersyukur dan terima kasih," gerutu Bu Lily merasa kesal jika mengingat Chandra.


"Sudahlah Bu, ngapain sih jadi bahas masa lalu Tika? Yang lalu biarlah berlalu, dan biarkan jadi pelajaran saja buat masa depan, biar tidak seperti kayak dia lagi," ucap Tika, sambil menatap Andrew.


"Ih sayang, jangan menatap aku seperti itu. Lagian aku akan selalu setia kok, kamu harus percaya sama aku deh."


"Setia? Setiap tingkungan ada!" ucap Tika, sambil menatap Andrew.


"Ih pemikirannya negatif mulu ih. Dengar ya sayang, tidak semuanya pria seperti itu kok. Jadi jangan samakan pria lain dengan mantan suamimu yang bodoh itu," gerutu Andrew.


"Ih kayak anak kecil, padahal sudah punya anak! Ingat umurmu Nak, sudah tua." Sindir Bu Lily.


"Ih Ibu, Tika tidak tua banget kali. Tika cuma bercanda kok. Lagian Tika tidak mau saja, bila suatu saat nanti takut terulang kembali masa yang begitu menyakitkan untuk Tika." ucap Tika dengan suara sendu.


"Ya ampun sayang, kamu jangan berkata seperti itu. Ingatlah,ucapan itu adalah doa! Lagian aku berjanji sebisa mungkin akan selalu membahagiakanmu, dan selalu ada untukmu," ucap Andrew sambil menatap Tika.


"Janji jangan cuma bilang janji! Tapi harus sesuai dengan ucapanmu, dan jangan sampai kamu mengingkari perkataanmu," ucap Tika, sambil membayangkan dulu Chandra pun berkata seperti itu.


"Iya sayang, pastinya. Aku akan membuktikan semuanya padamu! Kamu harus percaya sama aku," ucap Andrew lalu meraih tangan Tika, dan menempelkannya ke dada bidang Andrew.


"Iya aku percaya kok sama kamu." jawab Tika sambil tersenyum.


"Cie ... ada yang main pegang-pegangan ya Nek. Kalau kata orang dewasa, me- me ... apa ya? Lupa lagi Chika," ucap Chika datang tiba-tiba lalu duduk di meja makan.


"Eh anak Ayah, ada disini ternyata? Maaf ya, Ayah lupa tidak ke kamarmu," ucap Andrew sambil menatap Chika.


"Iya tidak apa-apa kok Ayah," ucap Chika.


"Oya, mumpung masih hangat nih, ayo kita makan." ajak Bu Lily.


"Oke baiklah." ucap Chika.


Mereka pun kini sedang menikmati sarapan paginya bersama.


****

__ADS_1


Promo lagi, yuk mampir dan kepoin karya dari author ini, dijamin bikin baper nih.



__ADS_2