Izinkan Aku Pergi(Aku Lelah)

Izinkan Aku Pergi(Aku Lelah)
55.kenapa jadi salah Ibu?


__ADS_3

Di tempat lain.


"Kita mau kemana Bu? Lisa sudah cape nih, dari tadi jalan kaki terus." Protes Lisa, kini merasa cape.


"Enggak tahu nih, kakakmu. Ibu juga sama cape Lis." ucap bu Lena.


"Sabar ya Bu, bentar lagi kita nyampai di rumah baru kok." Chandra sambil menatap Ibunya.


"Kamu bilang rumah baru? Sejak kapan, kamu membeli rumah? Emangnya kamu punya uang dari mana, bisa membeli rumah lagi?" tanya bu Lena sambil menatap putranya.


"Maksudnya Chandra, rumah kontrakan Bu," Chandra sambil nyengir kuda, dan tangannya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kirain aku rumah milik kita Mas. Mas, aku tuh cape dari tadi jalan terus. Mas enggak kasihan apa, sama anak kita? Miris banget ya, hidup kita kok jadi miskin sih Mas." Vika sambil menatap sendu Chandra, dan ada sedikit rasa kesal.


"Sabar ya sayang, ini ujian buat kita. Lagian, ini juga salah Ibu sih."


"Lho kok, jadi salahin Ibu sih?" gerutu bu Lena, merasa tidak terima dirinya jadi sasaran kesalahan.


"Emang benar, Ibu yang sudah mengadaikan rumah Chandra. Uangnya pun hanya untuk keperluan Ibu saja dan si Lisa, berpoya-poya demi menikmati duniawi. Padahal Chandra sudah kasih uang, tiga juta sebulan. Masa enggak cukup sih Bu?" ucap Chandra sambil menatap Ibunya.


"Oh, jadi kamu enggak iklas gitu kasih uang sama Ibu? Ngapain dong, kamu kasih uang sama Ibu tiap bulannya kalau kamu memang tidak ikhlas memberinya."

__ADS_1


"Ya ampun Bu, Chandra bukannya enggak ikhlas. Ibu jangan salah paham, dengan ucapan Chandra barusan." Chandra mencoba menjelaskan.


"Kalau kamu ikhlas, pasti enggak bakalan bicara tentang uang yang selalu kasih sama Ibu." bu Lena masih merasa kesal terhadap putranya.


"Ibu tolong ngertiin Chandra! Ibu pasti ngerti, maksud Chandra itu apa? Tidak selamanya kan, kita akan ada di atas terus. Pasti bakal merasakan posisi dibawah juga. Seperti yang terjadi sekarang. Perusahaan Chandra bangkrut, aset semuanya sudah di ambil oleh ayah Efendy. Dan rumah kita, di ambil oleh pihak bank karena Ibu  tidak membayar selama sembilan bulan? Kenapa sih bu, kenapa Ibu lakukan ini secara diam-diam? Jika Ibu butuh uang, tinggal bilang sama Chandra."


"Memangnya, kamu akan peduli sama Ibu, jika Ibu meminta uang sama kamu?" tanya Ibu Lena sambil menatap sinis putranya.


"Ya ampun Bu, kenapa bicara seperti itu? Ibu itu kan, orang yang sudah melahirkan Chandra, dan merawat serta membesarkan Chandra sampai sekarang. Jadi, Chandra enggak mungkin akan menolak atau tidak memperdulikan Ibu. Chandra, kurang apa sih sama Ibu? Semua keinginan Ibu, juga Lisa selalu Chandra kabulkan." ucap Chandra, sambil menatap sendu Ibunya, dan merasa sedikit kecewa terhadap Ibunya.


Bu Lena pun, menatap putranya sebentar. Apa yang di katakan oleh Chandra memang benar, putranya selalu memberikan apa yang Ibunya minta. Ada sedikit penyesalan di dalam hati bu Lena.


"Ini semua memang salah Ibu. Andai saja Ibu tidak mengambil sertifikat rumahmu, mungkin kita masih punya rumah. Dan Ibu ...." ucapan bu Lena tergantung, kemudian menatap menantunya.


"Dan kenapa Bu?" tanya Lisa, penasaran dengan ucapan Ibunya yang tergantung.


"Sudahlah, lagi pula tidak penting harus di jelaskan." ucap bu Lena.


Sebenarnya, ada rasa penyesalan bu Lena terhadap Tika, mantan menantunya. Sejenak bu Lena, merasa rindu terhadap Tika. Ingin rasanya, bu Lena meminta Tika untuk bersatu kembali dengan putranya. Tetapi itu akan mustahil, karena Chandra sudah mempunyai istri, yaitu Vika.


"Maaf ya Nak, kamu harus merasakan hidup susah bersama Chandra." ucap bu Lena sambil menatap menantunya. Ada rasa kasihan terhadap Vika, karena harus hidup tidak seperti dulu lagi.

__ADS_1


"Makannya dong Bu, jangan main ambil tanpa sepengetahuan Chandra. Jadi gini kan, harus hidup susah. Mana aku lagi hamil, masa iya, anak kita mau hidup susah sih? Aku enggak mau," Vika sambil memalingkan wajahnya, karena merasa kesal dan tidak terima hidupnya tidak seperti dulu lagi.


Vika pun dengan segera pergi meninggalkan Chandra, dan berjalan duluan.


"Vika tunggu .... " teriak Chandra, sambil berjalan menyusul istrinya.


"Yang sabar ya Bu. Kak Vika lagi hamil, jadi harus ngertiin kak Vika ya  Bu." ucap Lisa, mencoba agar Ibunya   bisa memaklumi sikap Vika.


"Iya Nak." bu Lena sambil tersenyum kecewa, saat menatap menantunya yang kini sudah berjalan duluan.


"Ya sudah, ayo kita jalan Bu. Kita susul kak Chandra sama kak Vika." Ajak Lisa kepada Ibunya.


"Baik Nak."


Bu Lena dan Lisa pun, dengan segera berjalan menyusul Chandra, dan Vika yang sudah jalan duluan.


"Vika tunggu ... kamu jangan berjalan dengan cepat, takut kenapa-napa sama anakmu." panggil Chandra saat istrinya terus berjalan tanpa mendengarkan ucapan suaminya.


Tiba-tiba mobil pun datang dari arah kanan, Vika berteriak saat mobil berjalan menuju arahnya.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2