
Sebelumnya saya minta maaf ya, mungkin bab.112. (Gara-gara andrew) sedikit menganggu karena itu sedang penghapusan oleh sistem (lama sekali di hapusnya ya? Padahal sudah komplen tapi masih belum di hapus,)🤔
👇👇👇
langsung kesini saja
bab.112. Maafkan Ibu.
Dan saya ucapkan terima kasih atas dukungannya, kritik dan saran dari kakak2 semuanya 🙏🙏
Happy Reading ....
Bu Lily dengan segera melepaskan tangannya dengan kasar, sehingga membuat Mamih Mira hampir terjatuh kalau tidak ditahan oleh Reza.
"Memang apa yang dikatakan oleh Tika, dan Andrew memang benar, kalau Mamih dulu pernah menghina Tika hingga Tika menangis. Maafin Mamih, Bu. Mungkin Mamih khilap dan hatinya waktu itu sudah tertutup karena urusan duniawi. Tapi percayalah Bu, sekarang Mamih sudah berubah kok," ucap Reza sambil menatap Ibu Lily.
Bu Lily semakin geram, dan semakin marah saat mendengar pengakuan dari Reza.
"Sekarang juga, kalian keluar dari sini!" Bu Lily, sambil menunjuk pintu keluar.
"Bu Lily, saya benar-benar minta maaf. Saya tidak tahu kalau Tika ternyata putrimu. Saya mohon maafkan saya, Bu." ucap Mamih Mira sambil dengan memohon.
"Saya bilang, kalian keluar!" bentak Ibu Lily kepada Mamih Mira.
"Sudahlah Mih, ayo kita keluar dari sini," ajak Reza kepada Mamih Mira.
"Mamih tidak akan keluar dari sini! Lagi pula Mamih sama Ibu Lily sudah sepakat untuk jodohin kamu sama Tika," ucap Mamih Mira.
"Perjodohan kita dibatalkan! Saya tidak sudi, mempunyai besan sepertimu. Ternyata benar, orang akan tulus menerima kita, di saat kita dalam keadaan susah! Bukan sepertimu, saat anakku hidup sederhana, kamu caci maki dia. Lalu saat melihat kalau ternyata Tika anak konglomerat kamu berusaha mendekati dia karena kasta!" ucap bu Lily sambil menatap tajam Mamih Mira.
"Bu Lily, perjodohan kita harus tetap dilanjutkan. Bukankah kita sudah sepakat," ucap Mamih Mira dengan kekeuh.
"Maaf saya tidak bisa. Sekarang keluar dari sini! Atau saya panggil satpam," ucap bu Lily semakin geram.
"Saya tidak akan keluar dari sini, saya akan tetap menjodohkan putraku dengan putrimu!" ucap Mamih Mira.
"Satpam ...," panggil bu Lily.
Dua orang satpam pun, dengan segera berjalan menghampiri bu Lily.
__ADS_1
"Iya Bu, ada apa?" tanya pak Eko, salah satu satpam yang bertugas di hotel.
"Bawa dia keluar!" perintah bu Lily, sambil menunjuk Mamih Mira dan Reza.
"Baik Bu." ucap pak Eko, dengan segera berjalan menghampiri Mamih Mira dan Reza.
"Lepaskan tanganmu! Berani sekali menyentuhku. Lagi pula saya tidak mau keluar," teriak Mamih Mira kepada satpam saat di tarik paksa keluar.
"Dasar benar-benar gila!" gerutu Bu Lily, sambil menatap kepergian Mamih Mira dan Reza.
Saat sudah sampai di luar, dengan segera pak Eko, dan pak Usep melepaskan tangan Mamih Mira dan Reza.
"Dasar satpam gila! Sakit sekali tanganku di tarik paksa oleh dia," ucap Mamih Mira, sambil menatap kesal pak satpam.
"Sudahlah Mih, ayo kita pulang ke rumah," ajak Reza, sambil menatap kepada Mamih Mira.
"Arrgh ... gagal sudah mendapatkan menantu kaya raya," teriak Mamih Mira.
Mamih Mira, dan Reza, dengan segera berjalan menuju mobil miliknya.
**
"Iya Bu, Tika sudah maafin Ibu kok." jawab Tika, sambil menatap Ibunya. Lalu menguraikan pelukannya.
"Terima kasih sayang. Maaf tadi Ibu tidak mempercayaimu, dan berkata yang enggak-enggak padamu," ucap bu Lily merasa tidak enak.
"Sudahlah Bu, lupakan saja. Anggap saja, tadi Ibu lagi khilap. Lagi pula, Tika sekarang merasa bersyukur akhirnya Ibu sudah percaya sama Tika," ucap Tika.
"Tenti saja Ibu percaya, karena Ayah sudah kasih videonya sama Ibu. Coba kalau tidak ada bukti, mungkin Ibu tetap akan menyalahkanmu," sindir ayah Efendy sambil menatap Ibu Lily.
"Ih Ayah, sudahlah jangan dibahas. Lagi pula Ibu kan, mengenal dia, orangnya baik kok. Makanya Ibu merasa tidak percaya, dan menyangka Tika memfitnah dia. Tapi kalau sudah ada bukti, Ibu sudah tahu kebenarannya." ucap bu Lily sambil menatap Ayah Efendy.
"Memang benar sih, kita tidak bisa menuduh orang sembarangan kalau tidak ada bukti." jawab Ayah Efendy sambil, mengalungkan tanggannya ke pundak bu Lily.
"Setuju." jawab Andrew.
Ayah Efendy langsung menatap Andrew, dari atas sampai bawah.
"Siapa dia?" tanya Ayah Efendy kepada Tika.
__ADS_1
"Dia, Andrew, teman rekan kerja Yah." jawab Tika.
"Oh. Cakep juga sih." puji Ayah Efendy kepada Andrew.
"Terima kasih pak. Kenalkan nama saya, Andrew," ucap Andrew, sambil mengulurkan tangannya, dan tersenyum.
"Saya, Efendy, Ayahnya Tika," jawab Ayah Efendy, membalas uluran tangan Andrew, dan tersenyum kembali.
Mereka dengan segera melepaskan jabatan tangannya.
"Oya, melihat wajahmu kok teringat sahabatku ya? Ngomong-ngomong kalau boleh tahu, siapa nama orang tuamu?" tanya Ayah Efendy.
"Ibuku, namanya Cantika pak," jawab Andrew.
"Apakah Cantika puspita?" tanya kembali Ayah Efendy.
"Iya. kok pak Efendy bisa tahu ya?" tanya Andrew.
"Wah jangan-jangan benar tuh, si Cantika, sahabatku dulu sejak smp? Pantesan saja mukamu mirip dengan sahabatku." ucap Ayah Efendy.
"Sahabat apa sahabat? Ngomong saja, cinta monyet masa jaman smp," celetuk bu Lily.
"Serius dia itu sahabat Ayah. Kenapa Ibu cemburu ya?" goda Ayah Efendy, kepada bu Lily.
"Siapa yang cemburu Ayah? kagak ada yang cemburu!"
"Bohong! Cemburu nih," ucap Ayah Efendy lalu mencium kening bu Lily.
"Ih apaan sih, main cium kening lagi. Ini dimuka umum loh Yah."
"No problem! Kan biar cemburunya hilang saat Ayah cium kening Ibu."
"Ih Ayah, ada-ada saja deh." ucap bu Lily sambil mengelengkan kepala, dan pipinya memerah karena malu.
Andrew dan Tika hanya tertawa renyah, saat melihat tingkah Ayah Efendy dan Ibu Lily bagaikan di mabuk asmara.
Di tempat lain, Chandra mengepalkan kedua tangannya karena merasa tidak terima kedekatan Andrew dan Tika.
Bersambung ....
__ADS_1