Izinkan Aku Pergi(Aku Lelah)

Izinkan Aku Pergi(Aku Lelah)
93. Harus pamit Ayah.


__ADS_3

"Gimana makanannya, enak kan?" tanya Andrew, kepada Chika.


"Tentu saja sangat enak Om. Aku pesan makanan yang sangat special, kayaknya ini memang sangat special deh. Soalnya enak banget." ucap Chika, sambil menguyah makanan tersebut.


"Tentu saja, itu memang makanan yang sangat special. Mau tabah lagi?" tanya Andrew, kepada Chika saat makanannya sedikit lagi.


"Enggak Om sudah kenyang nih. Oya, emangnya Om tahu ya kalau makanan ini special ya?" tanya Chika, sambil menatap Andrew.


"Tentu saja tahu karena Om ...." ucapan Andrew sengaja di gantung lalu menatap Tika sekilas, kemudian kembali menatap Chika.


"Karena apa Om?" tanya Chika merasa penasaran.


"Karena Om Andrew pemilik restoran ini." jawab Tika, sambil menatap putrinya.


"Masa sih Bu?" tanya Chika merasa tidak percaya.


"Tanya saja sama Om Andrew. Iya kan, Om?" ucap Tika sambil menatap Andrew.


"Benar kah Om, apa yang dikatakan oleh Ibu?" tanya Chika, kepada Andrew.


"Iya sayang, apa yang dikatakan oleh Ibu memang benar kalau restoran ini punya Om." jawab Andrew, sambil tersenyum terhadap Chika.


"Wah hebat, ternyata yang punya restoran ini Om Andrew. Bagus juga tempatnya, mewah lagi." puji Chika.


"Benarkah? Kamu bisa saja kalau memuji Om." Andrew, sambil menatap gemas Chika, lalu mencubit pipi Chika.


"Om, sakit tahu." rengek Chika, sambil menatap sebal Andrew.


"Sorry sayang, habisnya kamu itu mengemaskan. Selain itu kamu juga cantik dan baik hati." puji Andrew, sambil menatap Chika.


"Benarkah Om? Tentu saja, Chika memang sangat cantik." Chika dengan pede.


Tika, dan Andrew pun tertawa bersamaan saat melihat tingkah putrinya.


Kenapa dari tadi aku di cuekin mulu? Bahkan tidak ada yang menyapaku. Putriku, tiba-tiba cuek lagi tidak mengajakku mengobrol batin Chandra sambil menatap kesal Andrew dan Tika.


"Eh ya ampun aku lupa, disini ada pak Chandra ya? Apa kabar pak Chandra?" tanya Andrew, sambil menatap Chandra.


Ck, sok menyapaku segala lagi. Tadi dia cuek begitu saja tanpa memperdulikan keberadaanku batin Chandra, sambil menatap sebal Andrew.


"Ayah ...." panggil Chika kepada Chandra.


"Eh iya, kenapa sayang?" tanya Chandra kepada putrinya.

__ADS_1


"Ayah kenapa diam saja? Om Andrew tadi bertanya sama Ayah," ucap Chika, sambil menatap Chandra.


"Ayah tadi mau menjawab kok, tapi kamu sudah panggil Ayah, jadi mau jawab gimana?" ucap Chandra.


"Habisnya Ayah kelamaan sih jawabnya. Chika pikir, Ayah melamun," ucap Chika.


"Kamu itu jadi orang sok tahu ya," ucap Chandra, tersenyum kepada putrinya.


Chika pun ikut tersenyum saat Chandra berkata seperti itu.


"Kabarku baik kok pak Andrew." jawab Chandra, sambil tersenyum terpaksa.


"Syukurlah kalau begitu." ucap Andrew, membalas senyuman Chandra.


Ck, dia membalas senyumanku. Kalau bukan karena Chika, mana mau aku tersenyum kepada dia batin Chandra.


"Oya kebetulan waktu makan siangnya sudah beres nih, ayo kita pulang." ajak Tika, terhadap putrinya.


"Oke, baiklah Bu." jawab Chika.


"Ya sudah, kamu sama Ayahmu tunggu saja di dalam mobil, Ibu bayar dulu ke kasir." ucap Tika, kepada putrinya, sekilas menatap Chandra.


"Oke, siap Bu." ucap Chika terhadap Ibunya."Ya sudah Ayah, ayo kita tunggu di dalam mobil." ajak Chika kepada Chandra.


"Oya Om, Chika pulang dulu ya, lain kali kita ketemu lagi." ucap Chika, sambil menatap Andrew.


"Oke gadis cantik, hati-hati di jalannya sayang." ucap Andrew, sambil mengusap lembut rambut Chika.


"Iya Om." jawab Chika.


"Ya sudah sayang, ayo kita tunggu di dalam mobil," ucap Chandra, sambil menarik tangan Chika untuk pergi.


"Tunggu dulu Ayah!" Chika, mencoba menahan langkah Chandra.


"Apa lagi sayang?" tanya Chandra, terhadap putrinya.


"Ayah tidak mau pamitan dulu sama Om Andrew?" ucap Chika, sambil menatap Chandra.


"Emangnya harus ya, Ayah pamitan dulu sama pak Andrew?" tanya balik Chandra terhadap putrinya.


"Tentu saja harus Ayah. Kan, Ayah sama Om Andrew saling mengenal, masa sih tidak pamitan? Kata Ibu, kita harus sopan santun. Kalau mau pulang, harus pamitan dulu sama orang yang di kenal." ucap Chika.


Tika dan Andrew pun tertawa renyah, saat mendengar perkataan Chika.

__ADS_1


Sial, ini punya anak malah memalukanku. Andai saja anakku tahu, kalau aku sangat membenci dia batin Chandra, sambil menatap tidak suka Andrew.


"Ya sudah kalau begitu saya permisi dulu ya pak Andrew." ucap Chandra.


"Iya silahkan pak Chandra, hati-hati dijalannya." Andrew, sambil tersenyum kepada Chandra.


"Nah gitu dong Ayah. Ya sudah, ayo kita tunggu di dalam mobil Ayah." ajak Chika.


"Oke." jawab Chandra.


Chika dan Chandra pun pergi dari hadapan Tika dan Andrew, lalu berjalan menuju mobil untuk menunggu disana.


"Ada-ada saja pak Chandra itu," ucap Andrew sambil tertawa renyah, dan merasa lucu saat Chika menasehatinya.


"Dosa loh, menertawakan kesalahan orang." ucap Tika, sambil menatap Andrew.


"Sory, sory, habisnya lucu sih." lirih Andrew, sambil menatap kembali Tika,"cie ... rujuk lagi nih sama dia." Celetuk Andrew.


"Rujuk? Kalau bicara jangan ngaco deh. Kata siapa saya rujuk sama dia?" tanya Tika, merasa sebal dengan perkataan Andrew.


"Tentu saja kata saya. Masa sih tidak rujuk? Kalau tidak rujuk, mana mungkin kamu makan bareng sama dia, dan kumpul bareng." ucap Andrew.


Tika tiba-tiba tertawa, merasa lucu dengan ucapan Andrew.


"Kenapa malah tertawa? Ada yang lucu dengan perkataanku?" tanya Andrew, merasa bingung.


"Emang iya ada yang lucu. Lagian, pak Andrew ini ada-ada saja deh. Asal pak Andrew tahu ya, saya bisa kumpul bareng mantan suami bukan berarti sudah rujuk kembali loh." ucap Tika sambil menggelengkan kepala.


"Masa sih?" tanya Andrew, sambil menatap intens Tika.


"Ya ampun, ini orang benar-benar tidak percayaan banget ya. Dengar ya, Chandra itu kerja di PT.Berlian sebagai office boy, nah kebetulan disana ketemu dengan anakku, dan Chika meminta saya untuk mengajak Chandra makan bersama. Ya sudah saya turutin saja kemauan dia. Lagi pula ...." ucapan Tika sengaja di gantung, lalu menatap Andrew.


"Lagi pula apa?" tanya Andrew merasa penasaran dengan ucapan Tika yang terputus.


"Iya selama saya berpisah dengan Chandra, dia tidak pernah datang menemui Chika. Saat tadi ketemu sama Chandra, dia sangat senang banget bisa melihat seseorang yang sangat ditunggunya selama ini. Saya tadi sempat egois ingin menjauhkan Chika dan Chandra." ucap Tika.


"Lalu saya berpikir kembali. Lagi pula Chandra masih berhak untuk menemui Chika, karena Chandra, ayah kandungnya Chika. Maka nya, saya mengajak Chandra makan bersama karena Chika yang memintanya." ucap Tika kembali, lalu tersenyum.


"Saya tidak habis pikir sama Chandra, kenapa dia egois banget tidak pernah memikirkan Chika? Padahal Chika, darah dagingnya dia." ucap Andrew, benar-benar tidak mengerti dengan Chandra.


"Entahlah. Sudah ah, jangan bahas dia. Enggak penting banget bicarain dia." ucap Tika.


Andrew pun tersenyum kepada Tika, Andrew begitu kagum dengan sikap Tika yang begitu dewasa.

__ADS_1


__ADS_2