Izinkan Aku Pergi(Aku Lelah)

Izinkan Aku Pergi(Aku Lelah)
85. Vika, Syok?


__ADS_3

Rey berjalan masuk kedalam ruangan. Dimana ruangan tersebut ada Vika sedang berbaring lemah, dan tangannya memakai selang infusan.


Ada rasa kasihan saat menatap wajah cantik Vika. Apa jadinya, jika nanti Vika sudah sadarkan diri, dan mengetahui kalau dirinya keguguran serta tidak bisa memiliki seorang anak untuk selamanya.


Rey menjadi khawatir terhadap Vika. Perasaannya jadi was-was takut sesuatu yang tidak di inginkan menimpa Vika. Apalagi Vika orangnya selalu nekat, jika sesuatu hal buruk terjadi terhadapnya. Begitulah Vika, yang Rey kenal saat menjalin hubungan dengannya.


Ada alasan tersendiri kenapa Rey waktu itu pergi meninggalkan Vika.


Tangan Vika pun dengan perlahan bergerak. Rey sangat bersyukur saat Vika sudah sadarkan diri, dan Rey langsung memencet tombol hijau untuk memberitahu dokter.


Mata Vika, dengan perlahan-lahan membuka. Lalu menatap seseorang yang sedang berdiri di sampingnya.


"Rey ...?" panggil Vika dengan lemah, dan matanya terlihat kabur saat menatap Rey.


"Iya, kenapa Vik?" tanya Chandra, sambil menatap Vika.


"Aku dimana Rey?" tanya Vika, sambil menatap seluruh ruangannya yang begitu aneh.


"Kamu ada di rumah sakit Vik." jawab Rey.


"Rumah sakit?" tanya Vika kembali.


"Iya, kamu ada di rumah sakit Vik."


"Bayiku?" ucap Vika, saat sudah sadar apa yang terjadi pada dirinya. Lalu, mengusap dan melihat perutnya sendiri.


Rey pun semakin khawatir, saat Vika sudah menyadari tentang bayinya.


"Rey, anakku baik-baik saja kan?" tanya Vika sambil menatap Rey.

__ADS_1


Rey pun hanya diam saja, tanpa menjawab pertanyaan Vika. Karena Rey bingung, harus mulai dari mana untuk menjelaskannya.


"Rey, kenapa kamu diam saja? Jawab pertanyaanku. Kalau anak yang ada dikandunganku, baik-baik saja kan?" tanya Vika terhadap Rey, dengan perasaan kesal.


"Sebenarnya ...." ucapan Rey sengaja di gantung, karena belum sanggup untuk mengatakan apa yang terjadi pada Vika.


"Sebenarnya apa Rey? Kalau ngomong yang benar, dan jelas." protes Vika.


"Sebenarnya anak yang-" ucapan Rey harus terjeda, saat dr. Meli memasuki ruangannya.


Dr. Mela dengan segera berjalan menghampiri Vika, lalu memeriksa kondisi Vika.


"Gimana Dok?" tanya Rey, terhadap dr.Mela.


"Keadaan istri, bapak sudah baik. Hanya perlu istirahat saja." jawab dr.Mela


"Syukurlah kalau begitu. Baiklah, dok." Rey sambil tersenyum terhadap dr. Mela


Dr. Mela pun menatap Rey, untuk memberikan kode. Rey pun menganggukan kepalanya, pertanda untuk mengasih tahu kepada Vika.


"Sebelumnya saya mau meminta maaf yang sebesar-besarnya. Kami sudah berusaha sekuat mungkin, tapi mungkin ini sudah kehendak sang maha kuasa, kalau Mbak harus keguguran." ucap dr. Mela dengan hati-hati.


"A-apa? Aku keguguran?" tanya Vika, dengan gugup karena merasa tidak percaya.


"Iya. Sebelumnya kami minta maaf Mbak. Kami tidak bisa menyelamatkan janin yang ada di dalam kadungan Mbak." dr. Mela sambil menatap sendu Vika.


Vika pun terisak menangis. Vika merasa tidak percaya, secepat inikah dirinya harus kehilangan seorang anak dari benih pria yang sangat dicintainya.


"Satu lagi yang ingin kami katakan, kalau kemungkinan besar Mbak tidak bisa mengandung lagi untuk selamanya, karena rahim yang lainnya sudah kami angkat, karena ada kerusakan di rahim tersebut. Kami minta maaf Mbak." ucap dr. Meli merasa bersalah.

__ADS_1


"Kenapa dokter melakukan itu kepadaku! Dokter sengaja ya, ingin membuatku mandul selamanya? iya kan? Dokter ini sadis benar ya, melakukan hal ini. Apa salahku terhadapmu dokter? Apa!?" bentak Vika berteriak histeris karena tidak terima.


"Maaf Mbak, itu terpaksa harus kami lakukan. Karena tidak mungkin kami membiarkan rahim yang rusak memburuk di dalam perut Mbak. Itu sangat tidak baik untuk kesehatan." ucap dr. Mela berusaha menjelaskan.


Vika semakin menangis kencang, dan merasa tidak terima kenyataannya.


"Maaf ya pak, saya permisi dulu. Karena masih ada pasien yang harus di tanggani." ucap dr. Mela kepada Rey.


"Iya silahkan Dok." jawab Rey.


Dr. Mela dengan segera pergi meninggalkan Rey dan Vika berdua di ruangan.


Karena merasa tidak tega melihat Vika. Rey pun dengan segera berjalan menghampiri Vika, lalu memeluknya.


"Vik, kamu yang sabar ya. Kamu harus terima kenyataan semua ini." ucap Rey, mencoba menenangkan Vika.


"Aku tidak bisa menerima kenyataan ini Rey! Apa kata orang-orang bila tahu, kalau aku ini mandul, tidak bisa memiliki keturunan lagi." Vika terus menangis, masih belum menerima kenyataannya.


"Sudahlah jangan dengerin perkataan mereka bila nanti menghinamu. Kita tidak tahu kan, ada keajaiban tuhan yang bisa membuat kamu bisa memiliki keturunan lagi." ucap Rey, meraih dagu Vika.


"Tapi-" ucapan Vika harus terpotong, saat Rey memotong pembicaraannya.


"Sudahlah kamu jangan banyak pikiran Vik. Tenangkan dulu, hati dan pikiranmu ya," ucap Rey, sambil menatap Vika.


"Ini semua gara-gara Chandra! Andai saja dia tidak mendorongku, mungkin tidak akan seperti ini!" ucap Vika merasa geram, dan benci terhadap Chandra.


"Nanti kita akan buat perhitungan terhadap dia. Sekarang, kamu tidurlah supaya pikiranmu tenang." ucap Rey.


"Baiklah." jawab Vika, lalu menuruti apa yang dikatakan oleh Rey.

__ADS_1


Vika pun secara perlahan-lahan sudah tertidur kembali, mungkin masih ada efek obat bius yang tersisa di tubuhnya saat menjalani operasi tadi.


Vik maaf ya, mungkin aku harus pergi meninggalkanmu. Aku tidak bisa memilihmu sebagai istriku. Karena aku sebenarnya sudah ada wanita yang sedang menungguku disana batin Rey sambil menatap wajah Vika yang sedang tertidur.


__ADS_2