
"Bu ...," panggil Tika kepada Bu Cantika, sambil memeluk calon ibu mertuanya tersebut.
"Iya sayang, kamu yang sabar ya, Nak," ucap Bu Cantika membalas pelukan Tika, dan mengusap lembut punggung Tika.
"Andrew Bu ... Andrew ...," Tika dengan terus meneteskan airmatanya.
"Kita doakan semoga Andrew baik-baik saja ya Nak, lagian hanya dengan takdir-Nya lah, Andrew bisa sadar kembali," ucap Bu Cantika ikut meneteskan airmatanya.
"Iya Bu. Tika berharap, ada keajaiban dari sang maha kuasa agar Andrew bisa segera sadar. Tika benar-benar tidak mau kehilangan Andrew! Karena Andrew sangat berarti buat Tika," ucap Tika dengan sesegukan.
"Iya sayang, Ibu ngerti gimana perasaan kamu, Nak," ucap Bu Cantika dengan menguraikan pelukannya, lalu mengusap airmata menantunya yang mengalir di pipinya.
"Kamu jangan menangis terus ya sayang, yang Andrew butuhkan sekarang adalah doa, supaya dia cepat sadar, dan bisa kembali seperti biasa lagi," ucap Bu Cantika dengan menatap menantunya.
Tika pun hanya menganggukan kepala, dan masih tersisa sesegukan karena terus-terusan menangis.
Di sebuah ruangan, kini para suster dan dokter sedang sibuk dengan alat pacu jantung, dan memastikan denyut jantung Andrew.
Dokter dengan segera menempelkan alat tersebut ke bagian tubuh Andrew, tepatnya di area dada.
__ADS_1
Sudah beberapa kali dokter mencobanya, tapi hasilnya nihil. Eksalator pun masih berjalan datar, pertanda detak jantung Andrew sudah tidak berfungsi untuk berdetak.
"Ayo kita coba sekali lagi," ucap Dokter Zian, dengan terus menempelkan alat tersebut.
"Kayaknya, detak jantung beliau sudah berhenti Dok. Berarti tanda dia sudah-" ucap Suster Ella, tidak diteruskan perkataannya, karena dokter dan suster pun sudah tahu, pertanda apa.
Dokter pun dengan segera menyimpan alat pacu tersebut, dan pergi keluar untuk menemui keluarga pasien.
Saat melihat dokter Zian sudah berada diluar ruangan, Tika dan Bu Cantika pun dengan segera berjalan menghampiri dokter tersebut.
"Dok, gimana keadaan Andrew sekarang?" tanya Bu Cantika.
Dokter pun hanya diam saja, karena merasa bingung harus mulai dari mana untuk berbicara.
"Dokter ...," panggil Bu Cantika, merasa cemas karena dokter tidak menjawab perkataannya.
"Sebenarnya keadaan pasien -" ucapan Dokter Zian sengaja di gantung, lalu menatap Tika dan Bu Cantika bergiliran.
"Dok kenapa diam saja? Bagaimana keadaan Andrew," tanya Tika.
"Maksud dokter, kalau Andrew sudah meninggal dunia gitu?" tanya Bu Cantika sekali lagi, untuk menyakinkan.
"Iya Bu!" jawab Dokter Zian dengan menganggukan kepala.
"A-apa? Tidak mungkin Dok, tidak," ucap Tika dengan menggelengkan kepala, lalu Tika segera pergi memasuki ruangan, dimana Andrew terbaring.
Bu Cantika pun merasa gemetaran, dan begitu merasa hancur hatinya saat mendengar perkataan Dokter.
"Tidak Dok, ini tidak mungkin," ucap Bu Cantika merasa tidak percaya, lalu dengan segera pergi memasuki ruangan, dimana Andrew berada.
"Andrew ...," teriak Tika, kemudian memeluk Andrew.
__ADS_1
"Ndrew, bangun dong! Aku mohon, kamu jangan pergi tinggalkan aku, Ndrew," Tika dengan menangis sesegukan, dan histeris.
"Sayang, kita benar-benar harus kehilangan dia! Kenapa kamu secepat itu meninggalkan Ibu Nak," ucap Bu Cantika sambil menatap wajah putranya yang terlihat pucat, lalu memeluk menantunya.
"Kenapa Bu, dia harus pergi meninggalkan Tika? Ini sungguh tidak adil Bu! Kenapa orang yang begitu tulus mencintai aku, dan selalu sabar dan ada di sisiku harus secepat ini pergi? Ini sungguh tidak adil tuhan! Kenapa tega sekali mengambil nyawa dia," Tika terus berceloteh, merasa tidak terima.
"Sayang, kamu harus ikhlas menerima kepergian Andrew. Mungkin ini sudah takdir Andrew, harus hidup sampai disini, dan sudah waktunya Andrew kembali kepada sang pencipta." ucap Bu Lily, mencoba menjelaskan.
"Tidak Bu, Andrew belum meninggal! Dia masih hidup kok. Andrew bangun dong, kamu tahu tidak? Mereka tega sekali berkata kalau kamu sudah meninggal? Benar-benar gila kan mereka?" ucap Tika sambil menggoyangkan tubuh Andrew.
"Nak, kamu harus sadar sayang, kenapa kamu kayak orang hilang akal sayang," ucap Bu Lily mulai khawatir.
"Habisnya kalian tega sekali berkata kalau Andrew sudah meninggal! Padahal dia belum meninggal, Andrew cuma sedang tidur nyenyak saja tanpa tidak ada yang mau menganggunya," ucap Tika.
Tiba-tiba Dokter Zian dan para suster mulai datang kembali ke ruangan tersebut.
"Maaf Bu, karena beliau sudah meninggal saya harus-"
"Jaga ucapanmu Dokter! Tega sekali menuduh Andrew sudah meninggal!" bentak Tika kepada Dokter Zian, dengan memotong pembicaraan Dokter Zian.
"Aku tidak menuduh Mbak! Tapi memang kenyataanya kalau beliau sudah meninggal," ucap Dokter Zian.
"Aku sudah katakan sama kalian, kalau Andrew belum meninggal!" Tika meski kekeuh.
Seluruh orang-orang yang berada diruangan tersebut merasa iba melihat Tika.
Tiba-tiba suatu keajaiban terjadi, tangan Andrew bergerak dengan perlahan.
"Dokter lihatlah, dia belum meninggal," ucap Tika sambil menunjuk tangan Andrew yang bergerak.
"Alhamdulilah, suatu keajaiban. Ayo semuanya kita periksa dia, dan saya harap Ibu sama Bapak untuk menunggu diluar dulu," ucap Dokter Zian.
__ADS_1
Bu Cantika, Tika, Bu Lily dan Ayah Efendy dengan segera keluar. Kini Andrew dalam pemeriksaan oleh Dokter dan juga suster.
Bersambung ....