Izinkan Aku Pergi(Aku Lelah)

Izinkan Aku Pergi(Aku Lelah)
113.Calon Ayah?


__ADS_3

Acara pun kini sudah selesai, para tamu undangan satu persatu mulai berpamitan pulang kepada Ayah Efendy dan Ibu Lily.


Lalu Ayah Efendy dan Ibu Lily berjalan menghampiri putrinya saat semua para tamu undangan sudah pulang.


"Tika, saya permisi ya mau pulang dulu. Semangat ya, sekarang sudah menjadi presdir di perusahaanmu, semoga sukses, makin maju dan berkembang pesat," ucap Andrew kepada Tika.


"Aamiin, terima kasih ya Ndrew. Ya sudah silahkan, hati-hati di jalannya." ucap Tika.


"Iya, Tika." Andrew tersenyum kepada Tika.


"Ternyata masih ada Nak Andrew disini," ucap bu Lily sambil menatap Andrew.


"Iya Bu. Oya kebetulan saya mau pamit pulang, bu, pak," ucap Andrew dengan tersenyum.


"Iya silahkan Nak, terima kasih ya sudah hadir di acara kami," ucap Ayah Efendy.


"Iya pak. Ya sudah saya permisi." Andrew sambil berlalu pergi dari hadapan Tika, bu Lily dan ayah Efendy.


"Eh tunggu dulu," panggil ayah Efendy, sehingga membuat langkah Andrew terhenti.


Andrew langsung membalikan tubuhnya, dan langsung menatap ayah Efendy.


"Iya, kenapa ya pak?" tanya Andrew, kepada Ayah Efendy.


"Saya cuma mau titip salam saja sama Ibumu, cantika puspita. Salam dari Efendy si ganteng, kalem, dan baik hati," ucap ayah Efendy.


"Oh. Iya, pak, nanti saya sampaikan sama Ibu saya." Andrew, sambil tersenyum.


"Eh ayah, so pede amat ya. Kalau ibunya, Nak Andrew sahabat ayah. Kalau bukan gimana?" ucap bu Lily.


"Iya juga sih. Tapi enggak apa-apa salah juga, itung-itung saja silahtuhrahmi walaupun bukan orang yang dimaksud juga." ayah Efendy dengan cengengesan.


"Ya sudah kalau begitu permisi ya pak."


"Iya, silahkan. Jangan lupa sampaikan salam saya untuk Ibumu." ucap ayah Efendy.


"Baik pak." Andrew, dengan menganggukan kepalanya.


Andrew pun dengan segera berjalan kembali untuk pergi dari hotel tersebut.


"Kamu sudah kenal lama sama dia?" tanya bu Lily sambil menatap punggung Andrew.


"Tentu saja Tika sudah kenal lama dengan Andrew, Bu." jawab Tika.


"Apakah dia calon ayah untuk anakmu?" tanya ayah Efendy, dengan menaik turunkan kedua alisnya.

__ADS_1


"Iss ayah, kalau bicara itu jangan ngaco deh. Dia itu mantan atasan Tika, ketika Tika kerja di Pt. Cahya Yah."


"Oh, jadi selama ini kamu kerja di perusahaan dia?" tanya bu Lily.


"Iya Bu." Tika, sambil menganggukan kepala.


"Pantesan saja, kamu sama dia begitu akrab." ucap bu Lily.


"Masih muda, tampan, pengusaha lagi, dan pasti kayaknya dia orang baik deh. Apakah kamu tidak ada niat untuk jadikan dia sebagai ayah untuk anakmu?" ucap ayah Efendy.


"A-apa? Tika merasa terkejut mendengar perkataan ayah Efendy.


"Yang benar saja kalau bicara ayah. Jangan ngawur kalau bicara Yah, Mana mau dia sama Tika. Lagi pula dia masih muda kayak tidak laku saja sama wanita yang masih single." ucap Tika, dengan menggaruk jenjang lehernya yang tidak gatal.


"Iya juga sih, dia masih muda. Pastinya juga akan mencari wanita yang masih gadis ya." ucap ayah Efendy.


"Betul Yah, makannya jangan ngawur lagi kalau bicara." Tika, dengan menghembuskan napas kasarnya karena tadi hampir membuat dada nya sesak.


Tiba-tiba ponsel milik pak Efendy berbunyi, lalu dengan segera pak Efendy pergi menjauh untuk mengangkat panggilan telpon masuk.


"Apakah kamu mau pulang bareng sama Ibu dan Ayah?" tanya bu Lily kepada Tika.


"Duluan saja Bu, Tika ada urusan bentar sama Via, dia nyuruh Tika untuk nunggu disini," jawab Tika, kepada Ibu Lily.


"Oh iya, itu anak kemana ya? Tumben enggak hadir? Biasanya selalu hadir kalau ada acara kayak gini," ucap bu Lily.


"Kalau dia sama ada acara juga, kenapa si via, memintamu untuk menunggu?" tanya bu Lily.


"Mana Tika tahu, makanya Tika mau menunggu via disini."


"Ya sudah kalau begitu." ucap bu Lily.


"Ayo kita pulang," ajak ayah Efendy saat sudah selesai menerima panggilan telpon masuk.


"Ya sudah ayo, ayah." ucap bu Lily.


"Kita berdua pulang? Kamu tidak mau pulang bareng sama kita?" tanya ayah Efendy, sambil menatap Tika.


"Bukannya tidak mau ayah, tapi Tika ada janji sama via untuk bertemu disini."


"Ya sudah Ayah sama Ibu pulang duluan ya. Nanti pulangnya hati-hati di jalan ya." ucap ayah Efendy.


"Iya Ayah." jawab Tika.


Ayah Efendy dan Ibu Lily pun dengan segera pergi meninggalkan Tika. Tanpa di sengaja, ayah Efendy berpas-pasan dengan Chandra lalu ayah Efendy menyenggol pundak Chandra dengan keras, sehingga membuat tubuh Chandra mundur ke belakang.

__ADS_1


Chandra pun hanya pasrah tanpa berniat untuk membalas apa yang sudah di lakukan oleh ayah Efendy.


Karena Chandra sadar, dirinya memang pantas untuk di benci.


Tiba-tiba ayah Efendy menghentikan langkahnya, lalu menatap Chandra.


"Ingat, sebentar lagi akan ada orang yang membongkar dekor, serta membersihkan hotel ini. Jadi kamu harus ikut kerja dengan mereka, kalau tidak saya akan terpaksa memecatmu." ucap ayah Efendy dengan datar.


"Iya, baik pak." jawab Chandra, dengan menganggukan kepala.


"Baguslah. Ayo kita pulang dari sini Bu," ucap ayah Efendy dengan menatap sinis Chandra, dan dengan menyeringai.


"Ayah ini apa-apaan sih, anak orang malah disuruh untuk membantu membersihkan hotel ini. Mentang-mentang dia kerja sebagai office boy di perusahaan kita, pakai ngancam lagi," bisik bu Lily, kepada ayah Efendy.


"Biarin saja Bu, masa bodo ah. Lagi pula, itu belum seberapa dengan rasa sakit Tika dulu, kalau boleh aku bunuh dia. Tapi, tidak tega sih kalau lihat Ibunya sedang sakit, jadi kerjain saja dengan cara gitu." ucap ayah Efendy.


Bu Lily pun hanya menggelengkan kepala, tanpa membalas perkataan suaminya.


Saat bu Lily dan ayah Efendy sudah sampai di parkiran mobil, dengan segera mereka masuk ke dalam mobil tersebut.


***


Chandra pun mencoba menarik napas lalu menghembuskan napasnya dengan kasar, dan lebih baik untuk menahan emosinya.


'Tidak apa-apa Chandra, kamu tetap harus sabar. Mungkin pak Efendy masih belum memaafkanmu, tapi harus yakin Chandra, suatu saat nanti pak Efendy akan memaafkanmu' gumam Chandra, pada diri sendiri penuh dengan semangat.


Saat Tika akan berjalan menuju pintu keluar tanpa di sengaja, Tika berpas-pasan dengan Chandra. Kemudian Chandra tersenyum kepada Tika saat netra mereka saling bertemu, dan Tika pun membalas senyuman Chandra, lalu Tika berjalan menuju pintu keluar.


Saat aku dimilikimu, aku selalu menyia-nyiakanmu.


Seakan kamu tak pernah berarti di dalam hidupku.


Seakan kamu bukan yang teristimewa, di dalam hidupku.


Sekarang, penyesalanku datang dan menghantuiku.


Ketika kisah ini berakhir karena kebodohanku.


Aku tak mungkin bisa, dimilikimu lagi.


Kini ku hanya bisa merelakan kepergianmu.


Dan melupakan aku yang kini sadar bahwa aku butuh hadirmu.


Kamu berarti, kamu istimewa dalam hidupku.

__ADS_1


Hanya penyesalanku, menemani setiap langkahku. Batin Chandra, sambil menatap punggung Tika.


Kini Chandra benar-benar menyesal, dan merasa rindu mengingat cinta manis mereka saat dulu.


__ADS_2