
Cafe Hoki.
Mereka kini sudah ada di sebuah cafe dan menikmati secangkir kopi, juga segelas jus, di temani dengan menu istimewa khas cafe tersebut.
"Bentar Sayang, aku permisi." ucap Andrew.
"Mau kemana?" tanya Tika, sambil menatap suaminya.
"Rahasia." Andrew, sambil pergi berlalu.
Tika hanya mengelengkan kepala, saat Andrew berkata seperti itu.
Tiba-tiba Andrew naik ke atas panggung, dan menyanyikan sebuah lagu dari Uje "BIDADARI SURGA."
Para pengunjung memberikan tepuk tangan meriah, saat Andrew mulai bernyanyi.
Tika merasa terkejut saat Andrew menyanyikan lagu religi. Benar-benar tidak menyangka, suaminya menyanyikan lagu seperti itu. Suaranya yang cukup bagus, sangat enak di dengar. Para pengunjung dan Tika pun sangat menikmati lagu tersebut.
Andrew terus bernyanyi sambil menatap Tika. Lalu turun dari atas panggung, sambil berjalan ke arah Tika.
"Lagu ini, aku persembahkan untuk istriku tercinta. Aku berharap rumah tanggaku dengan istriku, bertahan hingga mau memisahkan kita," lirih Andrew, kemudian tersenyum kepada istrinya.
Tika tiba-tiba memeluk Andrew. Perasaan Tika begitu sangat senang, apa yang barusan dikatakan oleh suaminya.
Para pengunjung cafe pun, memberikan tepuk tangan meriah untuk pasangan yang sedang berbahagia ini.
"Terima kasih Ndrew," ucap Tika, kepada suaminya.
Andrew menguraikan pelukannya ,"terima kasih, untuk apa?" tanya Andrew, merasa tidak paham.
"Terima kasih, karena kamu telah memilih aku sebagai istrimu." jawab Tika, tersenyum kepada suaminya.
"Iya Sayang. Aku berharap tetaplah menjadi bidadariku, yang selalu ada saat suka maupun duka dan jangan pernah ada dusta diantara kita." pungkas Andrew.
"Iya Ndrew, pastinya. Aku akan berusaha sebisa mungkin, untuk menjadi istri yang baik, dan bisa membuatmu bahagia." lirih Tika.
"Terima kasih Sayang. Selain itu juga, kamu harus memuaskanku di ranjang malam ini," bisik Andrew.
"What? Iss, apa-apaan sih Ndrew." Tika, dengan sedikit malu.
"Bukankah, kita sudah sepakat dengan perjanjian kita? Jadi tempatilah janjimu itu." Andrew, dengan mengedipkan satu matanya.
"Iddih, genit." omel Tika.
"Bukankah, genit itu lebih menggoda, bukan?"
"Kata siapa?"
"Kata kucing!" jawab Andrew.
"Iss mana ada kucing berbicara." gerutu Tika.
"Lagian kamu itu bikin aku gemas tahu, enggak. Ya pastinya, kata akulah. Kan, aku yang berbicara."
"Kita pulang yuk, Ndrew?" ajak Tika, dengan mengalihkan pembicaraan.
"Kebiasaan, suka mengalihkan pembicaraan," sindir Andrew.
Tika hanya unjuk gigi, lalu tersenyum.
"Sudah, ayo pulang." ajak Tika, dengan mengalungkan tangannya ke lengan suaminya.
"Oke, baiklah." jawab Andrew.
__ADS_1
Mereka pun kini pergi dari cafe tersebut, dan berjalan menuju mobil miliknya.
"Ayo, masuk." lirih Andrew, sambil membukakan pintu mobilnya.
"Terima kasih." ucap Tika, dengan segera masuk ke dalam mobil.
"Iya Sayang."
Andrew pun, dengan segera masuk ke dalam mobil, lalu menjalankan mobilnya saat keadaan sudah aman dan siap.
"Kita mau kemana lagi?" tanya Andrew, kepada istrinya.
"Kita pulang sajalah." jawab Tika, sambil menatap suaminya.
"Pulang? Tidak mau kah, kita jalan-jalan lagi?" tanya Andrew, sekali lagi.
"Enggak ah Ndrew, kita pulang saja." lirih Tika.
"Oke, baiklah kalau begitu. Pasti kamu sudah tidak sabar lagi kan, untuk melayaniku dengan puas?" goda Andrew, dengan mengusap dagu istrinya.
"Ih Andrew, bisa enggak sih, jangan bahas itu mulu." Tika, dengan menyingkirkan tangan Andrew.
"Loh, kenapa?"
"Ini kan, rahasia. Enggak usah ditanya, kamu sendiri yang suka-" ucapan Tika, harus terpotong, tiba-tiba ponsel Andrew berbunyi.
Andrew pun segera mengangkat panggilan masuk dari asisten kerjanya.
" .... "
"Selamat siang juga. Iya, ada apa?" tanya Andrew, kepada asistennya.
" .... "
Andrew pun, dengan segera mematikan ponselnya saat tidak ada lagi, obrolan diantara mereka.
"Oya Sayang, tidak apa-apa kan, bila harus ke kantor dulu?" tanya Andrew, kepada istrinya.
"Iya, tidak apa-apa. Emangnya tadi siapa yang menelponmu?" tanya balik Tika.
"Biasa, asisten pribadiku. Dia bilang, katanya ada berkas penting yang harus di tandatangani." jawab Andrew.
"Oh."
"Iya Sayang. Ya sudah, ayo kita pergi dari sini." ajak Andrew.
Andrew dan Tika pun kini pergi meninggalkan cafe tersebut, dan berjalan menuju mobil.
******
Mobil yang dikendarain Andrew pun, kini sudah sampai di kantornya.
Tika dan Andrew pun langsung keluar dari mobil tersebut. Lalu berjalan masuk ke dalam perusahaan tersebut.
Para staff, karyawan dan karyawati, memberikan ucapan selamat, serta menyambut baik pengantin yang baru saja menikah.
Andrew dan Tika kini sudah berada di ruangan kerja suaminya.
"Selamat Siang, Pak, Kak," ucap Lisa.
"Selamat siang juga," jawab kembali Tika, sambil tersenyum.
"Juned, mana?" tanya Andrew, kepada Lisa.
__ADS_1
"Tadi keluar dulu pak." jawab Lisa.
"Oh."
Juned pun tiba-tiba datang, dengan membawa segelas kopi.
"Selamat siang, Pak, Bu. Ini, Saya bawakan secangkir kopi istrimewa," ucap Juned, sambil berjalan menghampiri atasannya.
Tiba-tiba Juned terjatuh, karena merasa ada seseorang yang sengaja membuat kakinya keseleo. Hingga akhirnya, kopi tersebut tumpah mengenai baju Tika.
"Aww, panas," teriak Tika, merasakan panas saat kopinya tumpah dan tersentuh ke kulit miliknya serta bajunya.
"Juned! Kamu bisa jalan dengan baik, enggak!" geram Andrew, merasa emosi.
"Maaf Pak, Saya benar-benar tidak sengaja. Tadi Saya merasa ada seseorang yang sengaja membuat kakiku keseleo," ucap Juned, sambil menatap Lisa yang kini sedang fokus bekerja.
"Jangan bilang kalau Lisa yang melakukannya. Kamu lihat, dia lagi fokus tuh bekerja," ucap Andrew.
"Tapi benar Pak, aku merasa ada seseorang-" ucapan Juned, harus terputus saat Tika menyela pembicaraannya.
"Stop, hentikan. Lagian, aku tidak apa-apa kok Ndrew." ucap Tika, sambil menatap Andrew.
"Tidak apa-apa gimana Sayang. Tadi kamu berteriak panas, dan lihatlah ini yang kedua kalinya kamu tertumpah air." ucap Andrew.
"Sudahlah Mas. Lagian, tadi Juned sudah minta maaf kok. Lagi pula, sekarang aku tidak apa-apa kok." ucap Tika.
"Saya benar-benar minta maaf ya Bu. Saya benar-benar tidak sengaja." ucap Juned, merasa tidak enak hati.
"Iya, tidak apa-apa kok." jawab Juned.
"Ya sudah, sekarang kamu ganti baju."
"Mau ganti baju dimana, Ndrew?" tanya Tika.
"Ayo, ikuti aku." ajak Andrew.
Tika dengan segera, mengikuti langkah suaminya.
Tika merasa terkejut, saat Andrew membawa keruangan pribadinya yang cukup luas.
"Ini rumah, atau kantor?" tanya Tika, merasa terkejut.
"Emangnya, kenapa? Ini bukan rumah, juga bukan kantor. Ini ruangan pribadiku untuk menenangkan pikiranku, di saat mumet." jawab Andrew.
"Oh." lirih Tika.
Tiba-tiba Andrew, mengendong Tika dan membawanya ke dalam ranjang yang sangat luas, lebih dari ukuran XXL.
"Ndrew, apa yang akan kamu lakukan?"
"Aku sangat menginginkanmu, Sayang."
"Tapi Ndrew, ini di kantor loh."
"Tidak masalah. Lagian, ruangannya juga kedap suara kok. Jadi tidak akan ada yang mendengar."
"Tapi Ndrew-"
Ucapan Tika harus terputus, tiba-tiba Andrew menempelkan benda kenyalnya ke bib*r mungil istrinya. Tika pun tidak bisa menolak, dan mau tidak mau harus melayani istrinya.
Karena hasratnya tidak bisa ditahan lagi, Andrew pun dengan segera melepaskan baju miliknya dan baju Tika. Mereka pun kini sedang memulai pergumulan panas dan menikmati indahnya surga dunia.
Bersambung ..
__ADS_1