
"Tidak bisa!" Jawab pak Edi.
"Pak, saya mohon. Baiklah, saya akan bayar mobil tersebut setelah sampai rumah sakit. Gimana pak?" tanya Andrew mencoba merayu sang sopir.
"Enggak mau ah. Emangnya, saya percaya apa dengan perkataanmu? Sekarang banyak penipuan, dengan membawa kabur mobil dan uangnya hanya angan-angan saja, tidak dibayar."
"Pak, tidak semua orang seperti itu. Saya ini orang baik-baik lho. Kalau bapak tidak percaya, ini saya kasih uang untuk membayar mobil tersebut." Andrew sambil mengambil uang dari dompetnya, senila satu juta. Lalu memberikannya kepada pak Edi.
"Serius nih, ini buat saya?" tanya pak Edi, merasa tidak percaya.
"Iya saya serius. Jadi saya boleh dong pak, pinjam mobilnya?"
"Iya silahkan pak. Tapi ingat, nanti mobilnya balikin jangan dibawa kabur." ucap pak Edi.
"Iya siap pak. Nanti saya balikin kok, saya enggak mungkin mencuri mobil bapak. Lagian, mobil saya banyak tuh di rumah saya." ucap Andrew.
'Ck, sombong banget dia. So pamer punya mobil banyak lagi.' Batin Chandra sambil menatap sinis Andrew.
"Oke, baiklah saya percaya kok." ucap pak Edi. Lalu keluar dari mobilnya, sambil memberikan kunci mobil kepada Andrew.
"Terima kasih ya pak." ucap Andrew sambil tersenyum kepada pak Edi."Sekarang, ayo kita masuk kedalam mobil." Ajak Andrew.
__ADS_1
Dengan segera Andrew, Tika, Chandra dan Vika masuk ke dalam mobil taksi. Sedangkan, bu Lena dan Lisa sudah terlebih dahulu naik taksi.
"Mas sakit, perutku Mas." Ringis Vika, mencoba menahan perutnya yang sakit.
"Sabar sayang." Chandra, sambil mengusap lembut rambut istrinya.
"Pak Andrew yang terhormat, tolong cepatin mobilnya." ucap Chandra, dengan menaikan nada tinggi.
"Sabar pak Chandra, saya sedang berusaha menjalankan mobilnya dengan cepat." Andrew sambil menatap Chandra dari kaca mobil depan.
******
"Ayo sayang, kita keluar dari mobil." ucap Chandra sambil membantu istrinya keluar dari mobil tersebut.
Mereka pun, kini sudah berada di depan rumah sakit. Andrew berteriak, saat melihat suster sedang membawakan kursi roda kosong.
"Suster ...." teriak Andrew kepada suster tersebut.
Suster tersebut dengan segera berjalan menuju Andrew.
"Sus tolong wanita ini, cepat tangani dia sedang kesakitan." ucap Andrew.
__ADS_1
"Baik pak. Ya sudah Mbak, cepat duduk di kursi roda ini." Ucap Suster tersebut kepada Vika. Dengan segera Vika duduk di kursi roda tersebut.
Suster tersebut dengan segera mendorong Vika menuju ruangan pemeriksaan.
"Maaf pak, Bu, saya harap tunggu di luar saja. Biarkan Dokter yang akan memeriksa keadaan pasien dulu." ucap suster tersebut saat sudah berada di ruangan pemeriksaan.
"Baiklah Sus, saya mohon selamatkan istri saya. Jangan biarkan terjadi sesuatu terhadap istri dan anak yang ada di dalam kandungannya." ucap Chandra sambil menatap suster tersebut.
"Insya allah pak, nanti saya bersama dokter akan berusaha semaksimal mungkin." ucap Eli sang suster.
"Terima kasih suster," ucap Chandra sambil tersenyum.
"Iya pak. Ya sudah, kalau begitu saya permisi dulu." ucap Eli.
"Iya silahkan Suster."
Suster pun dengan segera masuk ke dalam ruangan pemeriksaan, untuk menemani Dokter dalam menangani pasien. Chandra langsung menatap Tika dan Andrew, dengan tatapan yang sangat susah di artikan.
Tika dan Andrew pun merasa tidak enak hati, saat Chandra menatap dirinya.
Bersambung..
__ADS_1