
'Aku harus pergi dari sini. Aku tidak sudi, harus bertanggung jawab. Salah siapa, sudah berani membohongiku selama ini. Dasar wanita sampah! Aku bodoh, terlalu percaya padamu. Kini aku jadi kehilangan semuanya, gara-gara wanita sialan itu.' geram Chandra, sambil mengepalkan kedua tangannya.
Chandra pun berjalan menuju kamar untuk mengambil koper, baju dan celana untuk pergi dari rumah tersebut.
Setelah sampai kamar, dengan segera Chandra mengambil baju, celana dan barang-barang lainnya milik dirinya.
Setelah semuanya beres, dengan segera Chandra keluar dari kamar tersebut. Lalu berjalan menuju keluar.
'Aku harus pergi jauh. Jangan sampai nanti Vika dan Rey, menemukanku.' gumam Chandra, yang kini sudah berada di luar rumah.
Chandra merongoh ponselnya, lalu membuka ponsel tersebut dan langsung memesan taksi online.
'Untung saja aku punya uang yang di simpan di celengan. Lumayanlah, walaupun cuma dapat sajuta juga.' Chandra, sambil menatap uang hasil celengannya yang kini di genggam.
Taksi online pesanan pun datang, dengan segera Chandra masuk ke dalam taksi tersebut.
Sopir taksi online pun dengan segera menjalankan mobilnya, saat Chandra mengasih tahu alamat yang di tujunya.
'Kenapa hidupku jadi hancur begini? Mungkinkah, ini karma untukku? Karma karena telah menyakiti hati seorang mantan istri?' Chandra bertanya pada diri sendiri, dan merebahkan kepalanya di atas kursi mobil taksi online tersebut.
Tiba-tiba rasa kangen menyelimuti hati Chandra, saat teringat anaknya yaitu Chika.
'Apa kabar anakku, sayang? Maaf ya, Ayah belum pernah menemuimu lagi selama ini. Maaf ya, Ayah egois tidak memikirkanmu. Sekarang kamu lagi apa? Ayah sangat kangen padamu Nak,' ucap Chandra saat menatap wajah putrinya dari ponsel dirinya.
Tiba-tiba airmatanya menetes membasahi pipi dirinya. Ada rasa menyesal, dan ingin kembali bersama seperti dulu.
'Kenapa aku jadi menangis seperti ini? Terlalu cengeng, dan lemah diriku ini. Aku ini pria bukanlah wanita, stop menangis.' gumam Chandra, yang terus mengalirkan airmatanya membasahi pipi nya.
__ADS_1
Chandra dengan segera mengusap pipinya yang basah, lalu menarik napas dan membuangnya dengan perlahan.
'Nasi sudah menjadi bubur, percuma saja aku menyesalinya. Karena semuanya sudah terlambat.' Chandra, kemudian menyimpan ponselnya kembali ke dalam saku celana.
Tiba-tiba mobil taksi yang di tumpangi Chandra, berhenti mendadak tepat di rumah kosong.
"Lho, kenapa berhenti pak?" tanya Chandra, merasa heran karena mobilnya tiba-tiba berhenti begitu saja.
"Tidak tahu saya juga. Kayaknya ada sesuatu yang terjadi nih pada mobil," ucap pak Toni, sambil menatap Chandra dari kaca depan mobil.
"Terus, gimana dong pak?" tanya Chandra.
"Saya akan periksa mobilnya dulu, barang kali ada kabel mobilnya tiba-tiba terputus," ucap pak Toni.
"Ada-ada saja pak sopir ini. Baiklah kalau begitu." ucap Chandra
Chandra merasa terkejut, saat menatap rumah kosong tersebut. Bagaimana tidak, ternyata rumah tersebut rumah yang pernah ia tinggali bersama mantan istrinya yaitu Tika.
Ada rasa kangen, dan menyesal saat menatap rumah tersebut. Rumah tersebut juga, menjadi saksi saat dirinya berjanji terhadap wanita yang dulu dicintainya. Dulu Chandra berjanji terhadap Tika akan selalu setia dan selalu ada saat duka dan suka.
Kini pikiran Chandra kembali teringat masa dulu bersama Tika, saat tinggal bersama.
"Sayang, aku akan berjanji. Aku akan selalu setia, dan selalu ada saat duka maupun suka, dan tetaplah selalu ada disisiku sayang," ucap Chandra sambil menatap wajah cantik istrinya.
Tika tersenyum saat suaminya mengatakan seperti itu. Tika sangat beruntung mempunyai suami yang selalu mengerti keadaan dirinya.
"Iya Mas, aku akan selalu ada di sisimu. Terima kasih Mas, selalu ada di saat duka, dan suka." ucap Tika tersenyum terhadap suaminya.
__ADS_1
"Iya sayang. Karena kamulah satu-satunya orang yang sangat Mas cintai." ucap Chandra, dengan meraih dagu istrinya.
Mata hitam mereka pun kini saling menatap satu sama lain. Chandra mendekatkan wajahnya dengan wajah Tika. Sehingga hidung mereka saling bersentuhan. Chandra pun dengan segera menempelkan bib*ir dirinya, ke bibi*r mungil milik istrinya. Baru saja mau memulai, tiba-tiba terdengar tangisan seorang bayi.
"Mas, Baby cantiknya nangis. Aku harus segera menyusui nya," ucap Tika, dengan segera beranjak dari atas sofa dan langsung berjalan menghampiri putri kecilnya.*
Chandra pun hanya tersenyum, lagi pula putri kecilnya lebih penting dari dirinya.
Chandra, mulai meneteskan kembali airmatanya saat mengingat masa lalu bersama sang mantan istri, dan anaknya.
'Aku benar-benar pria yang tidak bisa menempati janjiku. Aku yang berjanji kepada dia, aku juga yang menghianati dia. Sungguh keterlaluan sekali diriku ini.'
'Andai saja diriku tidak mengkhianati dia, mungkin aku akan bahagia bersama dirinya, dan anakku. Aku benar-benar menyesal, telah melukai seseorang yang begitu tulus, dan menerimaku apa adanya.' Chandra terisak menangis, tangan kekarnya menutupi matanya.
"Mas, benar kan apa yang saya katakan, kalau kabel depannya terputus," ucap Pak Toni, saat masuk ke dalam mobil. Lalu menatap Chandra.
Chandra pun hanya diam saja, tanpa menjawab perkataan pak Toni.
Pak Toni pun hanya mengelengkan kepala, saat Chandra tidak menjawab perkataannya. Pak Toni pikir, kalau Chandra tertidur.
Chandra dengan segera melepaskan tangannya yang menutupi matanya.
"Eh, kirain saya, Mas tidur tuh." ucap pak Toni, lalu merasa heran saat melihat Chandra, matanya merah.
Pak Toni mengerti apa yang membuat matanya Chandra merah. Pak toni dengan segera menjalankan mobilnya kembali menuju tempat yang Chandra pinta.
Di sepanjang jalan, Chandra hanya merenung menyesali semua sikapnya yang begitu keterlaluan terhadap mantan istrinya dulu.
__ADS_1