Izinkan Aku Pergi(Aku Lelah)

Izinkan Aku Pergi(Aku Lelah)
185. Sembilan bulan, kemudian ..


__ADS_3

Hari berganti hari. Bulan berganti bulan. Kini usia kandungan Tika, memasuki 9 bulan.


Seluruh keluarga dari pihak Tika dan Andrew sedang berkumpul di ruangan tamu.


"Oya Nak, sudah kamu siapin kan, baju untuk baby twinsnya?" tanya Bu Lily, sambil menatap menantunya.


"Sudah kok, Bu," jawab Andrew.


"Syukurlah kalau begitu. Jadi nanti tidak repot-repot lagi untuk mempersiapkannya." Bu Lily, tersenyum kepada menantunya.


"Iya Bu." Andrew, membalas senyumannya.


Saat Tika, sedang mengobrol dengan saudaranya tiba-tiba Tika, merasakan nyeri dibagian perutnya.


"Mas," panggil Tika, sambil mencengkram baju suaminya. Kebetulan mereka sedang duduk saling berdampingan.


"Iya, kenapa Sayang?" Andrew, mulai panik.


"Perutku mules sekali, mana sakit lagi," Tika, dengan mengusap-ngusap perutnya yang kini sudah besar.


"Sayang, kayaknya kamu sudah mau melahirkan," ucap Andrew, tambah cemas.


"Memang benar Mas, aku mau melahirkan makanya terjadi kontraksi," jelas Tika.


"Ya sudah, ayo kita ke rumah sakit," ajak Andrew.


"Bu, Tika, kayaknya sudah mau melahirkan Bu," lirih Andrew, sambil menatap Bu Lily dan Bu Cantika.


"Oya? Kamu sudah merasakan kontraksi ya, Sayang?" Bu Cantika, ikut panik.


"Iya Bu," jawab Tika.


"Ya sudah, ayo kita ke rumah sakit," ajak Bu Cantika.


"Tolong panggilkan bi anin, untuk membawa perlengkapan bayi," perintah Bu Lily, kepada Andrew.


"Baik Bu." Andrew, dengan segera berjalan untuk mencari bi anin.


Saat semua sudah siap, dan perlengkapan bayi sudah dibawa dengan segera mereka berjalan menuju mobil.


Pak Amin, yang bertugas sebagai sopir pribadi dengan segera menjalankan mobilnya menuju rumah sakit.


Di setiap perjalanan, Tika, meringis kesakitan karena kontraksi yang semakin lama semakin kuat.

__ADS_1


Andrew, pun mencoba menenangkan istrinya dan mengusap-ngusap punggungnya sesuai permintaan Tika.


"Kamu yang kuat ya, Sayang," Andrew, mengusap rambut istrinya dan merasa tidak tega melihat Tika, terus meringis kesakitan.


"Mas, aww ... sakit sekali, Mas," Tika, mencoba menarik napas lalu membuangnya.


"Sayang, aku jadi merasa bersalah karena telah membuatmu seperti ini," ucap Andrew, dengan polosnya.


"Ya ampun Mas, kamu bicara apaan sih? Bukannya kita mengingikan anak, hasil pernikahan kita? Ya jadi begini kalau Ibu hamil mau melahirkan," jelas Tika.


"Makanya kalau jadi laki tuh, jangan suka kasar-kasar sama perempuan. Hargailah istrimu, sebagaimana kamu menghargai Ibumu. Seorang wanita akan melahirkan mengandung benih si laki. Dia rela selama mengandung tidurnya terganggu demi buah hatinya. Kadang, makan pun suka keluar lagi saat tubuhnya tidak menerima asupan makanan tersebut," lirih Bu Lily.


"Apalagi pas masa melahirkan, seorang perempuan sedang berjuang menghadapi hidupnya antara hidup dan mati, pokoknya seorang perempuan itu rela berkorbannya besar banget. Makannya, laki-laki yang suka menyakiti istrinya sama saja telah menyakiti Ibunya dan tidak merasakan bagaimana perjuangan seorang perempuan saat melahirkan," sambung Bu Lily.


Andrew, tiba-tiba memeluk istrinya dan merasa bersalah.


"Sayang, Maafin aku ya bila selalu kasar dan menyakitimu," ucap Andrew.


"Iya, Mas, Tika, Maafin kok. Aww ... Mas," rengek Tika.


Andrew menguraikan pelukannya lalu menatap istrinya.


"Kamu harus kuat ya, Sayang, bentar lagi nyampai," Andrew, mencoba menguatkan istrinya.


Tika, kini sudah berada diruangan bersalin. Di dalam ruangan Tika, ditemani oleh Andrew dan dokter.


Andrew, menjadi tambah cemas saat Tika, terus meringis kesakitan. Dokter pun menyuruh Tika, untuk menarik napas dan untuk berjalan-jalan diruangan agar persalinannya lancar dan mengurangi  rasa sakit.


30 menit kemudian ...


"Dok, Saya tidak kuat lagi, benar-benar sakit," Tika, mencoba menahan rasa sakitnya.


"Bentar, saya cek dulu ya sudah memasuki pembukaan berapa," ucap Dokter Alsa.


Dokter pun dengan segera memeriksa dan memasukan tangannya ke dalam vagi*na Tika.


"Gimana Dok, sudah memasuki pembukaan berapa?" tanya Andrew, menjadi was-was.


"Beliau sudah memasuki pembukaan 8, beranti sebentrak lagi akan melahirkan," jawab Dokter Alsa.


"Mas, sakit, tidak kuat lagi," Tika, meneteskan airmata karena benar-benar sakit luar biasa.


"Pasti kamu kuat, Sayang," Andrew, mencium kening Tika dan dirinya pun ikut bersedih.

__ADS_1


"Ingin rasanya aku menyerah, Mas, ini benar-benar tidak kuat," ucap Tika.


"Sayang, tidak boleh berbicara seperti itu. Kamu harus kuat, kasihan baby kita, kalau kamu mengeluh begini," ucap Andrew.


20 menit kemudian ...


"Ayo, tarik napasnya lalu buang dan mengejanlah," ucap Dokter Alsa.


Tika pun menuruti intruksi Dokter.


"Ayo, sekali lagi Sayang. Babynya sedikit lagi akan keluar. Tarik napas, lalu mengejanlah," pinta Dokter Alysa.


Tika pun dengan segera melakukan apa yang dikatakan oleh Dokter.


Andrew, yang kini ada disamping istrinya seolah-olah merasakan apa yang dirasakan istrinya. Andrew, mempererat tangan istrinya dan menciumnya.


"Mas, sakit ...," lirih Tika, sudah tidak kuat terus mengenjan lalu menarik napasnya.


"Kamu harus kuat Sayang, kamu bisa," Andrew, menyemangati  lalu mencium kening istrinya.


"Ayo, Sayang, sekali lagi sesuai apa yang saya tadi instruksikan," ucap Dokter Alsa.


Tika, dengan segera melakukan perintah Dokter Alsa.


Oe ... oe ... Baby pun berhasil keluar dengan berjenis kelamin laki-laki, lalu Dokter Alsa, memberikannya kepada Suster untuk membersihkan baby tersebut dari sisa-sisa plasenta dan darah.


Kini masih ada lagi, satu bayi masih diperut Tika.


Tika, kemudian menarik napas lalu mengenjan.


Oe ... Oe... suara tangisan baby kedua, berjenis kelamin perempuan.


"Alhamdulilah akhirnya sudah selamat, selamat ya Sayang, baby twinsmu berjenis kelamin laki-laki dan perempuan,"   ucap Dokter Alsa.


"Iya, Dok." Tika, tersenyum.


Dokter Alsa, dengan segera memberikan baby tersebut kepada suster, untuk dibersihkan dahulu dari sisa plasenta dan darah yang masih menempel serta mengunting tali pusar yang masih panjang.


Tika, merasa senang akhirnya baby twins lahir selamat dan rasa sakit yang ia alami selama hamil terbayar sudah dengan hadirnya baby twins.


Andrew, merasa sangat bahagia, karena dirinya kini sudah menjadi seorang Ayah. Andrew, terus mencium kening Tika, karena bersyukur istrinya sudah mau mengandung anak darinya.


"Alhamdulilah, akhirnya baby twins kita selamat Sayang, sehat dan tidak kurang satu pun. Terima kasih Sayang, sudah mau mengandung anakku," lirih Andrew, kemudian meneteskan airmatanya lalu mencium kening istrinya.

__ADS_1


Tiba-tiba terlahirlah baby twins, dengan berjenis kelamin laki-laki dan perempuan.


__ADS_2