Izinkan Aku Pergi(Aku Lelah)

Izinkan Aku Pergi(Aku Lelah)
187. Tetap di hati


__ADS_3

Orang-orang yang ada di dalam ruangan pun merasa terkejut mendengar apa yang di ucapkan oleh Dokter Alsa.


"Tidak Dok, tidak! Ini tidak boleh terjadi, tidak boleh," Andrew, langsung berjalan menghampiri istrinya dan memeluknya.


"Sayang, bangun Sayang. Kamu jangan pergi ... kamu tidak kasihan apa sama anakmu yang baru lahir? Kenapa kamu tega harus pergi meninggalkan kita!" Andrew, meneteskan airmatanya dan merasa sangat sakit.


"Sabar ya Nak, kamu harus kuat. Mungkin ini memang sudah takdir, jodohmu sama Tika harus sampai sini dan Tika sudah waktunya pulang kepada Sang Pencipta," ucap Ayah Efendy, berusaha menenangkan menantunya dan air matanya tiba-tiba jatuh karena putri semata wayangnya harus pergi.


"Kenapa secepat ini Ayah, kami dipisahkan? Ini sungguh tidak adil! Baru saja aku merasa sangat bahagia karena sudah lahir anak-anakku dan istriku sehat. Akan tetapi, kenapa jadi begini? Tuhan cabut nyawa dia, ini tidak boleh terjadi, tidak boleh Ayah!" Andrew, terisak menangis karena belum menerima kenyataan.


"Sayang, bangun dong Sayang? Kamu tega sekali pergi di hari dimana, hari ini hari yang sangat bahagia untuk kita Sayang," sambung Andrew, sambil mengusap lembut rambut istrinya.


Bu Lily pun berjalan menghampiri putrinya yang berada di atas ranjang.


"Nak, kenapa kamu  harus pergi, Sayang? Enggak kasihankah kamu dengan putra-putrimu yang baru saja lahir? Secepat inikah engkau ambil nyawa putriku,Tuhan? Harusnya ini tidak boleh terjadi," Bu Lily, menangis karena merasa kehilangan putri satu-satunya.


"Andai saja, aku tahu bakal kayak begini akhirnya? Aku tidak akan membiarkan istriku mengandung Bu. Maafkan aku Bu, ini semua gara-gara aku," Andrew, merasa bersalah.


"Kamu enggak boleh berbicara seperti itu Sayang, mungkin ini sudah suratan takdir hidup Tika, sampai disini Nak," jelas Bu Lily.


Kemudian Andrew, memeluk Bu Lily.


"Kalau dia pergi, kasihan mereka pasti membutuhkan kasih sayang Ibunya dan ...," ucapan Andrew, tergantung karena susah mengungkapkan dan Andrew, terus menangis.


"Nenek, kenapa mereka menangis?" tanya Chika, kepada Bu Cantika, yang kini ada di pangkuannya.


"Kamu yang sabar ya Nak, harus ikhlas ya menerima kepergian Ibumu, Sayang," ucap Bu Cantika, dengan hati-hati dan mengusap lembur rambut cucunya.


"Maksudnya apa Bu? Chika, tidak mengerti?"


"Ibumu Sayang, dia sudah harus ditakdirkan pergi dunia ini dan tidak bisa bersama kita lagi," jawab Bu Cantika, tiba-tiba meneteskan airmatanya karena begitu tidak percaya menantunya harus secepat ini pergi.


"Maksudnya apa Nenek?" Chika, benar-benar tidak mengerti.


"Ibumu, sudah meninggal Sayang. Ibumu, tidak ada lagi didunia ini Sayang," Bu Cantika, kemudian memeluk cucunya.


"Turun aku Nek, aku mau menghampiri Ibu," pinta Chika.


Bu Cantika, dengan segera menurunkan Chika, dari pangkuannya.


Chika, lalu berjalan menghampiri Tika.


"Ibu ... bangun, jangan tinggalin Chika, Bu," Chika, menangis.


"Ibu enggak sayang sama Chika, Ibu tega mau ninggalin Chika, apa salah Chika sama Ibu? Ibu pergi ninggalin Chika," sambung Chika, menangis histeris.


Andrew, kemudian memeluk putrinya.

__ADS_1


"Ayah, bilang sama Ibu, jangan pergi ninggalin Chika, Ayah. Chika janji sama Ibu, tidak akan jadi anak nakal dan akan menuruti apa yang diperintah oleh ibu, Ayah!" Chika, dengan suara sendu khas orang menangis.


Andrew, tidak bisa berkata apa-apa, Andrew, ikut menangis juga saat mendengar perkataan putrinya.


"Ayah, jangan diam saja! Katakan sama Ibu, apa yang saya ucapkan, Ayah," pinta Chika.


"Ini tidak mungkin terjadi Sayang, Ibumu sudah tidak bisa bersama kita lagi," jawab Andrew, menguraikan pelukannya.


"Tidak Ayah, tidak! Ibu, jahat Ayah! Dia tega pergi ninggalin Chika. Apa salah Chika sama Ibu, Ayah?"


"Tidak Sayang, ibu tidak jahat dan bukan salah kamu. Ini sudah takdir dari  Sang Kuasa, Sayang," Andrew, menenangkan putrinya.


"Nanti Chika, sama siapa Ayah, kalau Ibu tidak ada?"


"Kamu tidak sendiri Sayang. Disini kamu ada Ayah bersama adik-adikmu,  ada Nenek juga Kakek," jawab Andrew.


*


*


1 jam kemudian.


Mereka pun kini sudah mulai menerima  kenyataan dan mengikhlaskan Tika, untuk pergi dari hadapan Sang Kuasa.


Tika, dengan segera ditutupi dengan kain putih lalu di bawa menuju ambulan untuk dibawa pergi ke rumahnya.


*


*


Semua keluarga dan orang-orang terdekat sedang menyaksikan terakhir kalinya Tika, dikuburkan ke dalam lihat lahat.


Apalagi Andrew dan kedua orangtua Tika, sebenarnya masih belum rela harus kehilangan Tika. Akan tetapi, harus gimana? Kalau sudah takdir menimpa dirinya mereka pun mencoba harus iklas atas kepergian orang yang sangat di sayanginya.


Saat sudah selesai dikuburkan dan berdoa sama-sama untuk kepergian almarhumah. Tika Lestari. Satu persatu, orang-orang mulai pergi dari pemakaman tersebut. Kini hanya tinggal Andrew, seorang di dalam pemakaman tersebut.


'Kamu cepat sekali harus pergi, Sayang. Harusnya hari ini, hari yang sangat bahagia untuk kita karena anak-anak kita sudah lahir ke dunia dan kita akan main bersama-sama dengan anak kita. Sayangnya, Tuhan harus memanggilmu terlebih dahulu dan membiarkan anak-anak kita dan aku, hidup tanpamu, Sayang. Ini tidak adilkan, Sayang?' Andrew, sambil menatap batu nisan, dimana istrinya dikuburkan.


Andrew, berusaha untuk menahan airmatanya agar tidak terjatuh dan mencoba harus ikhlas menerima kepergian istrinya agar tenang di dalam kubur.


'Aku pernah dengar, kalau meninggal karena melahirkan berarti dia sudah termasuk jihad fisabililah, karena kamu sudah berjuang untuk melahirkan anakku. Terima kasih Sayang, kamu sudah mau melahirkan anakku, aku berjanji akan merawat dan menjaga dia baik-baik. Aku juga janji tidak akan pilih kasih sama Chika. Bagiku, dia tetaplah anakku, Sayang. Tenang disana ya Sayang, jangan khawatirkan anak-anakmu. Pasti aku akan selalu ada disisi anak-anak kita. Surgamu untukmu, Sayang.' guman Andrew, berbicara pada diri sendiri sambil menatap batu nisan, bertulisan nama istrinya.


'Setiap pertemuan pasti akan ada perpisahan. Inilah yang terjadi sekarang, kamu pergi dahulu meninggalkan aku. Kadang aku berpikir, Tuhan tidak adil telah membuatmu pergi dari dunia ini. Izinkanlah aku untuk menangis sebentar saja ya, sayang, untuk menumpahkan rasa sakit hati yang terdalam karena ditinggalkan olehmu,' Andrew, tiba-tiba menjatuhkan airmatanya yang ia tadi tahan.


Kesedihan milikku seutuhnya.


Ditemani airmata dan angan-angan tentangmu yang masih ada.

__ADS_1


Jiwa telah berpisah dari jasadnya.


Sudah cukup Tuhan, meminjamkan untukmu, Sayang.


Menangis adalah cara sederhana melupakanmu, sementara.


Setelah itu selesai entah aku harus berbuat apa?


Aku akan selalu rindu padamu, Sayang, tapi tidak akan bisa bertemu.


Yang bisa aku lakukan hanya melihat kenangan masa lalu.


Tertawa hingga perut kita sakit.


Kamu marah-marah karena aku suka salah.


Kamu menangis karena aku nyebelin.


Kamu selalu mencium keningku dan memeluk dari belakang.


Yang jelas kamu orang pertama yang selalu memberikan semangat buat hidupku.


Kamu orang pertama yang datang saat yang lain pergi.


Tunggu aku hingga waktuku sudah habis disini dan kita akan bersama lagi.


Kenanganmu akan selalu ada dihatiku. Tak kan ada orang lain yang bisa menggantikanmu. Cintamu, keterlaluan dihidupku.


Aku tak habis pikir dengan semesta kenapa DIA tega memisahkan kita secepat ini.


Andrew, menghapus airmatanya yang membasahi wajanya. Andrew, mencoba menarik napas dan membuangnya dengan kasar.


'Aku harus kuat, tidak boleh nangis. Kasihan istriku, bila aku tangisi terus. Tenang disana ya Sayang, aku akan selalu mendoakanmu disini. I love you, Sayang. Maaf, aku harus pergi meninggalkan kamu sendiri. Terima kasih atas semuanya, aku akan selalu mengenangmu dihatiku selamanya, Sayang,' gumam Andrew, sambil menatap batu nisan.


Andrew, terpaksa harus  pergi meninggalkan istrinya sendiri di sana. Kini hanya ada suara angin gemuruh di dalam pemakaman tersebut.


"Janganlah engkau sakiti seseorang yang ada disampingmu, jagalah dia, sayangi dia, dan istimewakan dia. Bila engkau menyakiti seseorang yang ada disampingmu, pasti kamu akan menyesal karena selama ini ternyata dia baik, dan istimewa. Saat kamu ingin meminta maaf dan ingin bersatu dengannya, pasti tidak akan bisa karena dia sudah tidak ada lagi di dunia ini. Penyesalan selalu datang terlambat! Jadi jangan seenaknya sama pasangan kita, kita sudah ada hak dan kewajiban kita setelah menikah dan janji kita sudah di saksikan oleh orang banyak saat ijab qobul berlangsung"


 


                         


Sebelumnya Saya, ucapkan terima kasih banyak sama Kakak, Bunda, teteh, abang yang sudah mampir ke karya novelku ini🙏🙏😘😘. Maaf ya, masih banyak Typo, Eyd dan penulisannya masih berantakan🙏. Tapi Saya, tidak menyerah terus memperbaiki kesalahan dalam menulis.


Sebelumnya, Saya ucapkan terima kasih semuanya pada Kakak2 yang sudah mampir🙏🙏😘. Semoga kalian dalam sehat selalu dan bye, bye, sampai bertemu lagi dicerita lain😂😂😅😅(pede).


wassalamuaikum wr. wb.

__ADS_1


__ADS_2