
Tiga minggu kemudian.
'Aku harus secepatnya, mengurusi surat perceraianku dengan Chandra. Agar Rey bisa menikahiku. Lagi pula, aku tidak sudi harus hidup dengan suami kere, dan bertempat tinggal di tempat terpencil,' gumam Vika, pada diri sendiri. Vika membayangkan saat dirinya bertempat tinggal di sebuah rumah yang kecil dan kumuh bersama Chandra.
'Bye, suami kere ku. Maaf aku harus melepaskanmu. Ini semua demi masa depanku, hidup dengan Rey.' Vika sambil tersenyum miring.
Vika pun segera mengambil segelas teh hangat dari meja yang berada di ruangan tamu. Vika merasa beruntung, bisa ketemu kembali bersama Rey, dan bersyukur dua hari yang lalu Rey memberikan sebuah rumah untuk di tempati Vika.
'Aku harus segera pergi ke kantor Rey, untuk mempertanyakan kapan Rey akan menikahiku? Agar Rey, mempercepat lamaran untuk menikahiku. Karena aku tidak sabar lagi ingin hidup bersama dia, untuk selamanya,' gumam Vika, merasa sangat senang.
Vika pun dengan segera beranjak dari sofa, lalu mengambil tasnya yang berada disofa kemudian memakaikannya.
'Kurasa ini sudah cukup,' gumam Vika, kemudian pergi dari rumahnya dan berjalan menuju mobilnya.
Disetiap perjalanan, Vika senyum-senyum sendiri. Vika sangat bahagia. Bagaimana tidak, Rey memberikan sebuah rumah dan mobil untuk dirinya.
'Aku harus segera mempercepat mengendarai mobilnya, karena bentar lagi waktunya jam makan siang dan aku akan mengajak Rey untuk makan di luar,' gumam Vika tersenyum lebar. Kemudian mempercepat laju mobilnya.
***
Di tempat lain.
"Sayang, bentar lagi kita waktunya istirahat. Gimana kalau kita makan di luar saja?" tanya Rey, sambil menatap wajah cantik wanita tersebut.
"Ya ampun, kamu ini gimana sih. Setiap hari kita selalu makan di luar, dasar kamu ini ada-ada saja deh," ucap Via sambil mengelengkan kepala.
"Iya kah, kita selalu makan di luar?" tanya Rey, terhadap kekasihnya.o
"Kamu pura-pura bego ya? Aku hajar nih mukamu sampai bonyok," Via sambil mengepalkan tangannya, tepat di depan mata Rey.
"Ih sayang, kamu jahat benar ya sama aku. Lagi pula, aku cuma bercanda kok." Rey, sambil menyengir kuda.
"Tapi enggak lucu tahu bercandanya," gerutu Via menatap kesal Rey.
"Maaf sayang." ucap Rey, kemudian memeluk Via dari belakang, dan membuat Via susah untuk mengerjakan pekerjaannya.
"Ih apa-apaan sih, main peluk-peluk sana menjauh bukan mukhrim tau," geram Via, merasa kesal.
"Oke baiklah." jawab Rey, kemudian melepaskan tangannya yang memeluk tubuh Via.
Rey tersenyum terhadap kekasihnya tersebut," ayo kita makan, waktunya makan siang nih."
"Oke, baiklah." jawab Via. Lalu beranjak dari kursinya.
__ADS_1
"Ayo," ucap Rey, sambil mengulurkan tangannya.
Via menatap tangan Rey, lalu membalas uluran tangannya.
"Apa-apa kalian!" bentak seseorang, yang tiba-tiba datang masuk ke ruangan Rey.
"Vi-vika?" ucap Rey, dengan gugup karena merasa terkejut.
"Kenapa kamu terkejut ya? Kamu itu apa-apaan Rey, main pegang tangan segala dengan wanita gatal seperti dia," ucap Vika, merasa kesal terhadap Rey, sambil menghempaskan tangan Rey, dan Via yang bersatu.
"Vika! Kamu itu apa-apaan sih," ucap Rey, merasa geram melihat tingkah Via.
"Siapa wanita itu?" tanya Via, sambil menatap tidak suka Vika.
"Dia, wanita yang aku ceritakan ke kamu." jawab Rey, sambil menatap Via.
"Oh." jawab Via, sambil menatap Vika dari atas sampai bawah. Lalu mengelengkan kepala. Karena melihat baju Vika begitu seksi dengan memakai rok sebatas paha.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu? Kamu iri kan, melihat wanita cantik ada di depanmu," ucap Vika dengan sombong.
"Yang benar saja pak, pernah menjalin hubungan dengan wanita seperti ini," ucap Via, sambil tersenyum sinis menatap Vika.
"Maksud kamu, apa berbicara seperti itu? Perkenalkan ya, nama saya Vika septian, calon istrinya Rey. Asal kamu tahu ya, bentar lagi Rey, akan menikahiku," ucap Vika sambil menatap tajam Via, lalu melingkarkan tangannya ke lengan Rey.
"Kamu tahu apa tentang semua ini hem? Jangan sok tahu deh." bentak Vika kembali terhadap Via.
"Emang benar kok. Kamu itu pelakor! Wanita yang telah merebut suami dari sepupuku." ucap Via.
"Maksud kamu, Tika?" tanya Rey, terhadap kekasihnya.
"Iya." Jawab Via sambil menganggukan kepalanya.
"Ya ampun, aku benar-benar tidak menyangka ternyata dia orangnya." Rey, merasa tidak percaya.
"Lho emangnya kenapa kalau aku sudah merebut suami sepupumu? Bukannya si Chandra sendiri yang kegatalan sama aku. Dia sendiri tuh yang deketin aku duluan." Vika menatap benci Via.
"Tapi seorang pria tidak akan mudah terpicut, kalau bukan wanita duluan yang kegatalan!" Via, sambil menatap sinis Vika.
"Maunya kamu apa sih, pinter sekali ya membalikan perkataanku. Sekarang, aku minta kamu pergi dari sini!" bentak Vika, terhadap Via.
"Kamu pikir, kamu orang yang berkuasa disini gitu?!" Via, merasa geram.
"Tentu saja. Karena aku calon istrinya Rey."
__ADS_1
"Stop! Hentikan." ucap Rey, menengahi perdebatan Via dan Vika.
"Aku minta, kamu pergi dari sini!" bentak Rey terhadap Vika, sambil menujuk pintu keluar.
"Rey, kamu itu apa-apaan sih, kenapa malah mengusirku? Harusnya wanita itu yang harus kamu usir!" ucap Vika merasa tidak terima.
"Aku tidak mungkin mengusir dia, karena dia ...." ucapan Rey tergantung sambil menatap Via.
"Karena dia apa? Dia kan, cuma wanita gatal yang hanya menginginkan harta!" Sindir Vika.
"Kalau ngomong tuh dijaga ya, seenaknya sekali kalau bicara," ucap Via, sambil menatap tajam Vika.
"Sabar Vi," ucap Rey, sambil memberikam kode. Lalu melingkarkan tangannya ke tangan Via.
"Rey, kamu itu apa-apaan sih. Main pegang tangan wanita gatal segala." ucap Vika, sambil mencoba menghempaskan tangan Rey dari tangan Vika.
"Kamu itu apa-apaan sih Vika! Asal kamu tahu ya, dia calon istriku." bentak Rey, sambil menatap Vika.
"A-apa calon istri? Yang benar saja, kamu mau jadikan dia calon istrimu? Paling juga dia wanita yang sudah pernah di cicipi pria lain."
Plakk ... Via menampar pipi Vika dengan keras, membuat Via meringis kesakitan.
"Dengar ya, aku bukan seperti dirimu. Orang yang suka merebut suami orang, dan bukan orang yang suka menyerahkan kehormatanku demi pria berhidung belang! Aku masih punya harga diri, dan bukan seperti wanita yang kamu maksud." Via menatap tajam Vika.
"Sudahlah sayang, ayo kita pergi dari sini, jangan dengarkan perkataan dia. Dia hanyalah wanita sampah yang sudah putus urat malunya." ucap Rey, sambil menatap Vika.
"Rey, kenapa kamu jadi berkata seperti itu padaku? Aku tahu, ini semua gara-gara wanita kurang ajar!" Vika sambil mengangkat satu tangannya, dan menampar Vika. Tapi sayang nya harus gagal karena Rey, dengan cepat memegang tangan Vika.
"Kamu jangan kurang ajar sama Via, dia calon istriku! Jadi jangan berani-beraninya menyakiti dia!" Rey, dengan perasaan emosi melihat prilaku Vika lalu menghempaskan tangan Vika dengan kasar." Ayo sayang, kita pergi dari sini." ajak Rey, terhadap Via.
"Baiklah."
Rey, dan Via pun dengan segera pergi meninggalkan Vika. Kemudian Vika, berteriak memanggil Rey, tapi tidak di respons.
"Rey, tunggu aku." ucap Vika, sambil menahan lengan Rey, dengan segera Rey menghempaskan tangan Vika dengan kasar, membuat Vika terjatuh ke lantai.
"Aww, sakit." ucap Vika, sambil mengusap pantatnya yang sakit," Rey, kamu itu benar-benar gila ya! Seharusnya aku yang jadi istrimu, bukan wanita gila itu!" teriak Vika, sambil menatap punggung Rey.
'Aargh ... kenapa semuanya jadi begini? Hancur sudah hidupku, ini sungguh tidak adil tuhan. Bagaimana nasibku nanti ke depannya,' gumam Vika, merasa marah dan tidak terima.
Sebenarnya alasan Rey, memberikan rumah dan mobil kepada Vika bukan berarti dia masih cinta dan sayang terhadap Vika. Tapi karena kasihan seminggu yang lalu, orangtua Vika meninggal karena kecelakaan, dan rumahnya harus dijadikan jaminan karena orang tua Vika terlilit hutang. Makanya ada rasa iba, untuk memberikan sebuah rumah dan mobil untuk Vika. Rumah yang tinggali pun, tidak terlalu mewah juga.
Bersambung ....
__ADS_1