Izinkan Aku Pergi(Aku Lelah)

Izinkan Aku Pergi(Aku Lelah)
137.Ada hantu?


__ADS_3

"Lagian, kamu kenapa sih harus menceritakan semua ini sama orang lain? Tidak bisakah kita selesai kan setiap masalah terjadi berdua saja? Belum tentu loh, apa yang kita lihat seperti apa yang kita pikirkan. Belum tentu juga, kita cerita sama orang lain, dia setia mendengarkan tapi di dalam hatinya bisa jadi ada kesempatan membuat sebuah hubungan menjadi hancur!" Andrew, sambil menatap Tika.


"Maaf," ucap Tika sambil menundukan kepalanya karena merasa bersalah.


"Dengar ya sayang, kamu itu sudah dewasa, pasti punya pengalaman banyak tentang masa lalumu. Jangan cepat mengambil keputusan, sebelum sesuatu benar-benar terjadi sesuai dengan fakta," ucap Andrew meraih dagu Tika, agar menatap dirinya.


"Aku, akui memang salah, tidak bisa mencerna dulu sebelum membuktikan kebenarannya. Aku terlalu cepat mengambil tindakan tanpa berpikir dulu. Mungkin rasa traumaku yang masih ada, membuatku langsung mengambil tindakan,"ucap Tika merasa tidak enak hati.


Andrew kemudian langsung memeluk Tika.


"Maafkan aku, sayang. Maaf ya, aku telah membuat hatimu terluka, dan telah meruntuhkan ketegaranmu," Andrew sambil mengusap lembut rambut Tika.


"Tidak Ndrew, ini bukan salah kamu kok. Ini semua salah aku, karena mungkin aku belum bisa move on dari masa lalu yang penuh luka," ucap Tika.


"Tidak sayang, ini salah aku. Maafkan aku belum bisa membuatmu menghilangkan rasa trauma. Tapi sebisa mungkin aku akan berusaha melupakan semuanya, dan selalu membahagiakanmu," ucap Andrew, kemudian melepaskan pelukannya dan menatap intens mata hitam milik Tika.


Tika pun tersenyum saat mendengar perkataan Andrew," terima kasih." ucap Tika.


"Sama-sama sayang," Andrew kemudian mencium pucuk rambut Tika.


"Hah, kalian! Kalau mau mesra-mesraan sonoh, disana tuh bukannya disini! Emangnya kalian pikir bagus gitu bisa di tonton sama aku? Muak yang ada melihat kalian berdua!" bentak Mila sambil menatap Andrew, dan Tika dengan tatapan tidak suka.


"Sayang, kamu dengar tidak? Ada orang bicara, teriak-teriak, ngomel, dan marah-marah?" tanya Andrew kepada Tika.


"Aku tidak mendengarnya Ndrew, emangnya kamu mendengarnya iya?" tanya Tika.


"Iya aku mendengarnya sayang. Tapi dimana ya, orang itu?" Andrew sambil melihat seluruh ruangan tersebut.


"Entahlah, atau jangan-jangan hantu lagi Ndrew," ucap Tika, sambil bergiding ketakutan.


"Yang benar saja sayang, di rumah sebagus ini ada hantu? Jangan ngaco deh," ucap Andrew, sambil menatap Tika.


"Iya bisa saja. Soalnya rumah ini jarang ada penghuninya kan? Biasanya suka banyak penghuni hantu," bisik Tika.


"Heh kalian berdua, dasar gila kalian! Aku yang ngomong, bukan hantu! Awas ya kalian, kurang ajar banget ya. So pura-pura tidak lihat aku lagi," teriak Mila dengan emosi, dan kesal.


"Tuh kan sayang, aku dengar lagi orang yang marah-marah," ucap Andrew.


"Iya, aku juga dengar Ndrew." ucap Tika.


"Jangan-jangan benar, disini ada hantu lagi. Ya sudah, ayo kita pergi dari sini sayang," ajak Andrew kepada Tika.


"Ayo."


Andrew dan Tika dengan segera keluar dari ruangan tersebut.


"Heh, kalian mau kemana?! Lepasin aku dong, dasar brengsek loh Ndrew." teriak Mila, yang kini masih ada di sebuah ruangan dengan tangan masih terikat tali.

__ADS_1


Aarrggh ...'Andrew, lepasin aku dulu ....' teriak Mila, sambil menatap pintu ruangan yang tertutup.


Saat Andrew dan Tika sudah berada diruangan tamu, mereka pun tertawa karena merasa lucu telah mengerjai Mila.


"Oya, kamu tidak akan lepasin dia? Kasihan tuh anak orang, kamu terkam," ucap Tika kepada Andrew.


"Emangnya aku harimau yang suka menerkam orang? Ada-ada saja deh. Ya nanti biarkan anak buahku saja yang melepaskan dia," ucap Andrew.


"Oh." jawab Tika.


"Sekarang, ayo kita pergi ke rumahmu," ucap Andrew.


"Pergi ke rumahku? Mau ngapain? Kita ke kantor saja, soalnya masih banyak kerjaan di kantor," ucap Tika.


"Aku lagi males ke kantor! Lagi pula kan, ada sekretarismu, jadi biarkan saja mereka yang menghundle pekerjaan kita," ucap Andrew sambil menarik tangan Tika untuk pergi dari rumah tersebut.


"Tapi Ndrew-" ucapan Tika terputus karena Andrew menyela pembicaraannya.


"Jangan banyak protes!"


Tika pun terpaksa mengikuti langkah Andrew menuju mobil, karena Tika tidak mau mendengar coletahan Andrew.


"Oya, ini uang buatmu, kalian bekerja sangat bagus. Kalian boleh lepasin dia, dan terserah kalian, mau apain dia," ucap Andrew kepada anak buahnya, sambil menyodorkan uang tersebut.


"Andrew ...." panggil Tika, sambil mencubit pinggangnya, sehingga membuat Andrew kesakitan.


"Habisnya kamu nyebelin tahu, malah nyuruh mereka bebas lakuin apa sama Mila. Aku tidak suka ah, kamu menyuruh mereka begitu," ucap Tika.


"Habisnya aku tuh kesal banget sama dia. Coba saja kalau Juned tidak memberi tahu kalau kamu ternyata datang ke kantorku, mungkin sampai saat ini kamu akan terus membenciku, bahkan kamu akan pergi meninggalkan aku," ucap Andrew.


"Tapi enggak gitu juga kali, cukup lepasin si Mila ya sudah beres. Enggak usah suruh mereka buat macam-macam. Tega sekali kamu, biadab ih," Tika sedikit ilfil.


"Lagian aku cuma bercanda kok sayang. Aku begitu salut sama kamu, ternyata kamu tidak pernah dendam sama siapapun, dan aku beruntung mempunyai calon istri yang sangat cantik. Tetapi bukan luarnya saja yang cantik, di dalamnya pun begitu cantik," puji Andrew sambil tersenyum kepada Tika.


"Apaan sih Ndrew, keterlaluan banget sih mujinya. Lagian kalau kamu banyak memujiku nanti hidungku terbang loh," ucap Tika.


"Enggak apa-apa terbang juga, kan bagus."


"Kalau hidungku terbang, aku enggak punya hidung dong? Kan sayang, hidungku mancung gini nih," ucap Tika sambil mengusap hidungnya.


"Kalau hidungmu nanti terbang, aku buatin dari kayu dengan super mancung," ucap Andrew.


"Emangnya aku pinokio? Ih rese loh Ndrew."


Andrew pun tertawa saat Tika berkata seperti itu.


"Dilarang tertawa! Sudah ah, ayo masuk ke dalam mobil," ajak Tika.

__ADS_1


"Baiklah sayang." ucap Andrew.


Andrew dan Tika pun kini sudah berada di dalam mobil.


"Sudah siapkan?" tanya Andrew.


"Sudah kok," jawab Tika.


Andrew pun dengan segera menjalankan mobilnya untuk pergi dari rumah tersebut.


"Ndrew, sebenarnya kamu mau ngapain sih ke rumahku?" tanya Tika, sambil menatap Andrew.


"Mau tahu, atau mau tahu banget?"


"Ih apaan sih Ndrew, enggak lucu tahu. Bukannya menjawab, tapi malah malik bertanya," gerutu Tika, sambil menatap kesal Andrew.


"Mmzz ... begitu saja marah sih. Sebenarnya aku pingin ke rumahmu, karena-" ucapan Andrew sengaja digantung, lalu meraih tangan Tika, dan memegangnya erat.


"Kalau bicara itu yang benar, jangan sok kebiasaan seperti itu," protes Tika.


"Sabar dulu dong. Aku ke rumahmu, ingin berbicara sama Ibumu agar pernikahan kita dipercepat!" ucap Andrew.


"What?!" Tika merasa terkejut.


"Kenapa terkejut begitu? Pokoknya kita harus segera mempercepat pernikahan kita. Karena aku tidak sabar lagi, ingin cepat bersatu denganmu," ucap Andrew, kemudian mencium tangan punggung Tika.


"Kamu serius dengan keputusanmu itu? Kamu tidak akan menyesal telah memilihku sebagai pendamping hidupmu," Tika sambil menatap Andrew.


"Ya ampun sayang, kenapa kamu berkata seperti itu? Lagian ya, kamu itu orang yang berhasil membuat hatiku nyaman, dan damai bila ada di sampingmu. Banyak wanita diluar sana yang mengejar-ngejarku, tapi aku menolak mereka, karena aku lebih memilihmu sebagai pendamping hidupku."


"Terima kasih Ndrew, aku berjanji sebisa mungkin akan menjadi istri yang baik untukmu."


"Jangan lupa juga, jadilah ibu yang baik untuk anak kita nanti," ucap Andrew sambil tersenyum simpul.


"Ya ampun Ndrew nikah juga belum, sudah mikirin tentang anak. Lagi pula, pastinya dong aku akan menjadi ibu yang kuat, tegar, baik dan pokoknya serbaguna!"


"Bagus dong, istri luar biasa." Andrew tersenyum.


"Sebelum ke rumah ibu, kita makan dulu yuk, aku lapar nih."


"Boleh, aku juga sama lapar. Ya sudah, mari kita makan dulu." ucap Andrew dengan menjalankan mobilnya menuju restoran yang di tujunya.


Bersambung ...


Yuk kepoin karya kak author ini, di jamin bikin baper dan seru nih,


__ADS_1


__ADS_2