
"Tika, kenapa kamu diam saja? Kamu mau kan, memaafkanku? Aku benar-benar menyesal, dan kini aku sadar kamulah wanita yang begitu berarti bagiku." lirih Chandra, sambil menatap Tika.
"Kenapa kamu baru sadar sekarang? Dan kenapa juga kamu baru menyesal sekarang? Bukankah, itu sudah keputusanmu hidup dengan Vika?" tanya Tika, sambil menatap sinis Chandra.
"Keputusanku sangat salah, harusnya aku mempertahankanmu, dan tidak tergoda dengan wanita malam itu. Maafkan aku, Tika. Aku manusia yang tidak pernah luput dari salah, dan manusia yang tidak pernah luput dari kata khilap," ucap Chandra, sambil memegang tangan Tika.
Tika dengan segera menghempaskan tangan Chandra, yang memegang tangan dirinya.
"Kamu bilang khilap? Masa iya, kamu selingkuh dibelakangku hampir sudah tiga tahun lebih. Apakah itu yang di nama kan, khilap?" Tika, sambil tertawa sinis.
"Namanya juga manusia Tika, pasti semua orang juga pernah terlibat dalam permasalahan ini, termasuk aku. Entahlah apa yang membuatku terperangkat dalam perselingkuhan, padahal kamu wanita yang begitu istimewa. Aku benar-benar bodoh," Chandra, benar-benar menyesal.
"Sudahlah Chandra, percuma kamu menyesali semua ini, karena tidak ada artinya buat aku." jawab Tika dengan datar.
"Tika, aku mohon-" ucapan Chandra, harus terputus saat Tika memotong pembicaraan dirinya.
"Sudahlah Chandra, sekarang kamu keluar dari mobilku." perintah Tika, saat mobilnya sudah berhenti di persimpangan jalan ramai.
"Kamu mengusirku?" tanya Chandra, sambil menatap Tika.
"Iya, aku mengusirmu!" tegas Tika, sekilas menatap Chandra, lalu matanya menatap ke depan.
"Yang benar saja kamu mengusirku? Kamu tidak kasihan apa, aku nanti pulang naik apa?" tanya Chandra, kepada Tika.
"Kamu tidak lihat apa? Disana banyak bis, yang pastinya akan mengantarkanmu pulang sampai rumah." ucap Tika.
"Kalau aku tidak mau gimana?" tanya Chandra, sambil menatap Tika.
"Oke, kalau kamu tidak mau keluar, mending aku saja yang keluar dari mobil," ucap Tika, sambil membukakan pintu mobil tersebut.
"Jangan Tika! Oke, baiklah aku akan segera keluar dari mobilmu," ucap Chandra, sambil menahan tangan Tika.
"Baguslah kalau begitu. Sekarang juga kamu keluar dari mobilku!" bentak Tika, terhadap Chandra.
Chandra dengan segera keluar dari mobil Tika.
__ADS_1
"Aku tunggu jawabanmu Tika. Apakah kamu mau memaafkanku? Lagi pula, Aku benar-benar tulus dari hati yang paling dalam ingin meminta maaf padamu." teriak Chandra, sambil menatap Tika di dalam mobil.
"Tanpa kau minta, aku sudah memaafkanmu Chandra. Sudahlah aku mau pergi sekarang." ucap Tika, langsung menjalankan mobilnya.
"Terima kasih Tika, akhirnya kau memaafkanku." teriak Chandra, sambil menatap mobil Tika yang kini sudah pergi jauh dari hadapan dirinya.
Akhirnya, aku lega banget. Tika sudah memaafkanku. Aku harus meminta maaf sama siapa lagi ya? Oh, iya, aku harus minta maaf sama bu Lily dan pak Efendy. Karena aku telah membuat hatinya terluka karena Tika gumam Chandra, sambil tersenyum.
Chandra langsung berjalan menuju bis, dimana bis tersebut melewati jalan menuju rumahnya. Kemudian Chandra, masuk ke dalam bis tersebut, dan bis tersebut dengan segera pergi menuju tempat yang di tuju.
*Di dalam mobil, Tika sesegukan menangis. Sakit rasanya bila kembali mengingat masa lalu bersama Chandra. Apalagi, saat Chandra berkata kalau dirinnya tidak mungkin berpikir negatif tentang Vika. Sedangkan dulu Chandra selalu menyalahkan dirinya, tanpa alasan apapun.
'Begitu istimewakah dia di matamu? Sehingga kamu tidak pernah berani mengutik kehidupan Vika yang jelas dia wanita yang tidak punya ahlaq, dan wanita ******. Sedangkanku? Selalu salah dimatamu, bahkan kamu selalu berbuat seenaknya terhadapku. Sungguh kamu itu, pria terbodoh yang aku kenal.' gumam Tika, pada diri sendiri sambil tersenyum sinis.
'Sudahlah Tika, ngapain menangis karena masa lalu. Lagi pula, yang lalu biarkan jadi pelajaran. Ingat Tika, masa depanmu masih panjang. Siapa tahu, nanti kamu menemukan pria yang jauh lebih baik, bertanggung jawab dan kaya,' gumam Tika, sambil tertawa renyah.
'Eh sejak kapan aku jadi matre? Menginginkan pria yang kaya raya? Masa bodoh deh, no problem dong, itu hak saya. Sudah ah, pusing, ngapain mikirin jodoh? Sekarang fokus dulu sama kerjaan, dan terutama masa depan anakku.' gumam Tika, sambil menghembuskan napasnya dengan kasar.
Tika pun dengan segera mempercepat laju mobilnya, menuju kediaman rumahnya.
Mobil yang dikendarai Tika, kini sudah sampai di rumah. Tika dengan segera keluar dari mobil tersebut.
"Selamat malam Non," ucap pak Satpam yang bertugas menjaga keamanan di rumah.
"Malam juga pak. Oya apakah Ibu sama Ayah ada di rumah?" tanya Tika, kepada pak Adi.
"Ada kok Non di dalam." jawab pak Adi.
"Oke, terima kasih." ucap Tika.
"Sama-sama Non." jawab pak Adi.
Tika dengan segera berjalan masuk ke dalam rumah.
"Baru pulang ya?" tanya pak Efendy, terhadap Tika.
__ADS_1
"Ayah? Iya ayah baru pulang, karena banyak banget pekerjaan yang harus di kerjakan." ucap Tika, sambil menatap Ayah efendy yang kini sedang duduk di ruangan tamu, sambil menikmati segelas kopi. Lalu berjalan menghampiri Ayah Efendy.
"Apakah kamu habis menangis?" tanya Ayah efendy kepada Tika, karena melihat mata Tika memerah.
"Siapa yang menangis Ayah? Ayah ngaco deh kalau bicara." Tika, sambil mengelengkan kepala.
"Ayah serius bertanya padamu Tika! Apakah Chandra telah menyakitimu? Ayah dengar, katanya pria brengsek itu bekerja di perusahaanmu?" tanya Ayah Efendy, sambil menatap intens putrinya.
Tika merasa terkejut saat Ayahnya berkata seperti itu. Apalagi kini Ayahnya telah mengetahui kalau Chandra bekerja di perusahaannya.
"Memang Chandra bekerja di perusahaanku Yah. Tapi, dia tidak menyakitiku kok Yah," ucap Tika, sambil menatap Ayah Efendy.
"Jangan berbohong kamu, Nak. Apa salahnya sih kamu jujur sama Ayah? Lagi pula, ngapain kamu menerima Chandra bekerja di perusahaanmu?" ucap Ayah Efendy.
"Ya ampun Ayah, kenapa sih Ayah tidak percaya banget sama Tika? Lagi pula mata Tika merah, tadi kena debu, di tambah lagi tadi Tika sangat ngantuk banget Ayah. Oya, emangnya kenapa kalau Chandra bekerja di perusahaanku Yah?" tanya Tika, terhadap Ayah Efendy.
"Oke, baiklah, ayah percaya kok sama kamu. Kenapa kamu bertanya seperti itu Nak? Kamu lupa ya, kalau si pria brengsek itu telah membuatmu terluka! Jadi dia tidak pantas menginjakan kakinya di perusahaan kita." ucap Ayah Efendy dengan menaikan nadanya suara semakin tinggi.
"Apakah Ayah masih dendam sama Chandra?" tanya Tika, dengan hati-hati.
"Pertanyaanmu bodoh sekali. Tentu saja, Ayah masih dendam terhadap pria
brengsek itu! Ayah pingin si pria brengsek itu, merasakan karma yang sangat luar biasa. Karena dia telah berani sekali berselingkuh di belakangmu, dan serta orangnya tidak tahu terima kasih!" ucap Ayah Efendy merasa geram. Lalu mengepalkan kedua tangannya.
"Lagi pula di sedang menjalani karmanya kok Yah. Jadi kita tidak perlu harus ikut serta membuat dia menderita lagi." ucap Tika.
"Kata siapa? Emangnya kamu, tau dari mana kalau dia sedang menjalani karmanya?" tanya Ayah Efendy.
"Dia sendiri yang bilang Yah. Katanya dia sudah berpisah dengan istri barunya, karena ternyata Vika berselingkuh dengan pria lain. Lebih naasnya lagi, ternyata anak yang ada di kandungan Vika, ternyata bukan anaknya. Tetapi anak hasil hubungan gelap." ucap Tika.
"Serius, dia berkat seperti itu?" tanya Ayah Efendy untuk menyakinkan.
"Tentu saja serius Ayah." jawab Tika.
"Hahaha ... baguslah kalau begitu. Inilah yang ayah mau, dia merasakan gimana sakitnya saat putriku di berlakukan seperti itu. Dan Ayah akan menendang Chandra, untuk berhenti bekerja di perusahaanmu." ucap Ayah Efendy, sambil senyum menyeringai.
__ADS_1