Izinkan Aku Pergi(Aku Lelah)

Izinkan Aku Pergi(Aku Lelah)
156.Tidur bersama Ayah dan Ibu.


__ADS_3

Andrew, Tika dan Chika pun kini sudah berada di ruang meja makan, dan kini mereka sedang menikmati makan malamnya.


"Ibu, Ayah ...," panggil Chika.


"Iya, kenapa sayang?" tanya Tika, kepada putrinya.


"Emm ... enggak apa-apakan, bila Chika sekolah diluar negeri bersama nenek?" lirih Chika, sambil menatap Ibunya.


"A-apa? Kamu pingin sekolah di luar negeri?" Tika terkejut, sambil mengulangi lagi perkataan putrinya.


"Iya Bu. Gimana Bu, bolehkan? Chika pingin ngerasain sekolah diluar negeri, bosen di indonesia mulu," Chika, dengan mengembungkan pipinya.


"Kalau kamu pergi, Ibu disini sama siapa dong?" ucap Tika.


"Kan, ada Ayah Andrew, jadi tidak akan sendirian Bu. Kata orang kalau orang baru nikah, bakal punya dedek bayi. Nanti Chika ada teman, dan main bareng sama dedek bayi," lirih Chika.


"Emangnya kamu pingin punya dedek bayi?" tanya Andrew, sambil menatap Chika.


"Tentu sajalah Ayah, pingin banget biar Chika ada teman dirumah."


"Ya sudah, doakan saja semoga Ibu secepatnya punya dedek bayi lagi," Andrew, kemudian mengusap lembut perut istrinya.


"Iss apaan sih Ndrew, baru juga-"


"Baru juga sekali gitu, nanti rutin tiap hari bikinnya," bisik Andrew dengan memotong pembicaraan Andrew.


Tika hanya menggelengkan kepala saat suaminya berkata seperti itu.


"Ya Ayah, Chika akan selalu mendoakan agar ibu secepatnya, memiliki Dedek bayi lagi," ucap Chika.


"Terima kasih sayang." Andrew tersenyum kepada Chika.


"Sama-sama Ayah. Oya, gimana Bu, Ayah, apakah mengizinkan Chika untuk sekolah di luar negeri bersama nenek?" tanya Chika, dengan harapan agar ibunya mengizinkan.


"Jika itu memang mau kamu, ya silahkan, Ibu izinin kamu untuk sekolah di sana," lirih Tika, sambil menatap putrinya.


"Serius Bu? Chika boleh sekolah disana?" tanya Chika, sekali lagi untuk menyakinkan.


"Iya Sayang. Ingat, menimbalah ilmu setinggi langit, agar kelak menjadi orang yang berguna dan sukses." Tika, kemudian tersenyum kepada putrinya.


"Iya siap Bu. Oya Nek, Kakek, akhirnya ibu izinin Chika untuk sekolah di tempat nenek," ucap Chika merasa sangat senang.


"Iya cucu Nenek yang cantik. Besok kita berangkat ya," ucap Bu Lily.


"Siap Nek." jawab Chika.


"Loh, Ibu sama Ayah mau besok berangkat kesananya?" tanya Andrew kepada mertuanya.


"Iya Ndrew, karena disana ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan," ujar Ayah Efendy.


 "Maksudnya, pekerjaan apa Yah?" tanya Andrew kembali.

__ADS_1


"Disanakan, Ayah mempunyai hewan peliharaan, jadi enggak mungkin Ayah tinggal lama-lama. Nanti hewan peliharaan Ayah pada mati kalau tidak ada yang kasih makan," ucap Ayah Efendy.


"Bukannya, ada asisten rumah tangga ya Ayah? Masa mereka mendiamkan hewan peliharaan Ayah sih, setidaknya kasih makan gitu," ucap Andrew.


"Mereka enggak mendiamkan kok Nak, malahan para asisten rumah tangga menawarkan diri agar dirinya yang mengurus dan memberikan makan. Akan tetapi, dasar saja Ayah, selalu menolak, biarkan urusan Ayah saja kalau masalah hewan peliharaan, malah bilang begitu." ucap Bu Lily.


"Loh Ayah aneh banget. Mending diam saja nikmati hari tua, biar asisten rumah tangga yang mengurus semuanya," lirih Tika, sambil menatap Ayah Efendy.


"Kamu tahu sendiri, Ayah tidak biasa kalau diam terus di rumah. Dari dulu kan, Ayah terbiasa kerja. Makanya biar hewan peliharaan Ayah kerjakan sendiri, biar ada kerjaan buat Ayah," ucap Ayah Efendy.


"Emang benar sih Ayah, kalau terbiasa dulu pekerja keras, diem di rumah pun merasa jenuh." timpal Andrew.


"Nah, benar itu Nak." ucap Ayah Efendy.


"Emangya Kakek memelihara hewan apa sih?" tanya Chika.


"Banyak. Ada burung angry bird, burung hantu, ayam, kelinci, pokoknya banyak deh," jawab Ayah Efendy.


"Waw asyik dong Kek." ucap Chika.


"Tentu saja asyik, kalau kamu datang kesana pasti bakal betah, soalnya ramai dengan penuh hewan," ucap Ayah Efendy.


"Di rumah banyak hewan? Ih jorok dong, kakek," Chika dengan bergiding.


"Ya ampun sayang, enggak mungkin Kakek tempatkan di rumah. Yang pastinya terpisahlah." Ayah Efendy sambil mengelengkan kepalanya.


"Kirain Chika, semua hewan ditempatkan dirumah." Chika dengan unjuk gigi.


"Sudah lanjutin lagi makannya, dari tadi ngobrol mulu," ucap Bu Lily.


Dengan segera mereka pun melanjutkan makan malamnya hingga selesai.


****


15 menit kemudian ....


"Bu, Ayah, boleh tidak Chika tidur bareng di kamar Ibu, sama Ayah?" tanya Chika dengan penuh harapan.


Tika pun menatap sebentar Andrew, lalu menatap putrinya," tentu saja boleh kok sayang." jawab Tika.


"Beneran nih Bu? Enggak apa-apa kan, Ayah, Chika tidur dikamar Ayah?" tanya Chika kepada Andrew.


"Iya Sayang, tentu saja boleh." jawab Andrew.


"Makasih Ayah, Ibu. Sebenarnya, Chika sengaja pingin tidur sama Ibu dan Ayah, karena besok Chika akan berangkat ke luar negeri bareng nenek, dan kakek." lirih Chika.


"Iya sayang, Ibu mengerti." ucap Tika, dengan mengusap lembut rambut putrinya.


"Gimana, kalau kita ikut juga untuk mengantarkan mereka sampai rumah. Sekalian, kita bulan madu disana," ceplos Andrew dengan polosnya, sambil menatap Tika.


"Bulan madu? Emang ada ya Ayah, namanya bulan madu?" celetuk Chika, sambil menatap Andrew.

__ADS_1


"Bukan begitu Sayang. Itu hanya pribahasa saja, bagi orang yang sudah menikah, lalu melakukan liburan ke luar negeri bersama," bohong Andrew, karena entah harus berkata apa, kepada anak yang masih usia dini.


"Makanya kalau bicara tuh jangan main asal ceplos. Jadi begini kan," bisik Tika kepada Andrew, kemudian terkekeh.


Ayah Efendy dan Bu Lily pun ikut tertawa terkekeh, melihat tingkah menantunya.


"Ya sudah Ayah pamit duluan ya, mau ke kamar." Ayah Efendy, sambil menatap Andrew dan Tika.


"Iya silahkan, Ayah." jawab Andrew.


"Ibu juga sama, duluan ya." ucap Bu Lily.


"Iya Bu."


Ayah Efendy, Bu Lily pun dengan segera pergi meninggalkan Andrew dan Tika, lalu berjalan menuju kamar.


"Ayah, Chika ngantuk."


"Ya sudah, ayo kita tidur." ajak Andrew.


"Baik Ayah."


Seperti biasa Andrew, dengan mengendong Chika dari pangkuannya, lalu berjalan menuju kamar. Tika pun ikut berjalan menuju kamar.


Saat sudah sampai dikamar, tiba-tiba Chika sudah tertidur di pangkuannya. Andrew dengan segera menidurkan Chika di atas ranjang.


"Cepat sekali dia tidurnya? Persis sama kayak Ibunya, tadi aku lihat langsung tertidur begitu saja," sindir Andrew, sambil menatap Tika, yang kini padangannya menuju ke luar jendela kamar.


"Iss, lagian itu karena ulahmu sendiri yang membuatku lelah. Hingga akhirnya, aku tertidur," gerutu Tika.


"Sorry Sayang. Bukankah, tadi kita sama-sama menikmatinya, bukan?" Andrew, memeluk tubuh Tika dari belakang.


"Sstt ... ada anak kecil, jangan bahas itu. Bahaya kalau sampai di mendengarkannya."


Karena merasa gemas dengan istrinya yang mengalihkan pembicaraan, Andrew dengan segera memutar pinggang istrinya, sehingga wajah mereka begitu sangat dekat, hingga hidungnya besentuhan satu sama lain.


"Kalau aku bertanya, dijawab bukannya mengalihkan pertanyaan." lirih Andrew, dengan menatap mata hitam milik istrinya.


"Bukannya be-"


Andrew dengan segera menempelkan benda kenyal, ke bi*bir mungil istrinya. Kemudian melepaskannya kembali dan mengusap bibir istrinya yang basah karena ulahnya.


"Iya, aku tahu Sayang. Ya sudah, yuk kita tidur." ajak Andrew dengan merangkul pundak istrinya.


"Iya, ayo." jawab Tika.


Andrew dan Tika pun dengan segera berjalan menuju atas ranjang. Setelah sampai di atas ranjang, kemudian Tika, dan Andrew mencium lembut rambut putrinya yang kini sedang tertidur pulas.


Kemudian Andrew mencium lembut rambut istrinya. Hingga akhirnya mereka pun memejamkan matanya, dan kini mereka sedang di berada dibawah alam sadarnya.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2