
Bu Lily kemudian menatap jam tangannya,"sekitar satu jam yang lalu." Jawab bu Lily.
"Sudah lama berarti? Kenapa mereka belum kesini juga Bu?" Tika mulai mengkhawatirkan putrinya.
"Ya ampun Nak, enggak usah khawatir begitu. Chika sudah biasa kok suka lama begini kalau ada sesuatu yang dia inginkan. Oya sayang, kenalin ini teman Ibu, namanya Mira," bu Lily sambil menatap temannya.
"Hallo sayang, cantik sekali kamu. Kenalkan saya Mira, temannya Ibu kamu. Selamat ya sayang, semoga tambah sukses dan maju terus," Mamih Mira tersenyum kepada Tika, sambil mengulurkan tangannya.
Ya ampun ini orang jadi pura-pura baik, dan pura-pura belum mengenaliku lagi batin Tika, sambil menatap sinis Mamih Mira.
"Sayang, kenapa kamu malah diam saja, bukannya membalas perkataan Mamih Mira." ucap bu Lily, netranya menatap putrinya.
"Eh iya, maaf Bu." ucap Tika dengan cengengesan.
"Saya Tika, tante." jawab Tika, lalu membalas uluran tangan Mamih Mira.
"Panggil Mamih Mira, jangan tante. Semua orang juga panggil Mamih Mira, termasuk ibumu," ucap Mamih Mira dengan tersenyum kepada Tika.
"Iya tante, eh maksudnya Mamih Mira." ucap Tika dengan tersenyum kaku, sambil melepaskan jabatan tangannya.
"Bu Lily, kayaknya cocok nih Tika di jodohkan dengan putra saya." ucap Mamih Mira, sambil menatap Ibu Lily.
"Mana ada yang mau, dia kan bukan anak perawan lagi, tapi sudah berkepala satu." ucap bu Lily, dengan menggelengkan kepalanya karena merasa lucu dengan ucapan Mamih Mira.
"Lagi pula, anakku tidak pernah memandang status dia, mau anak perawan atau janda juga. Bu Lily tahu enggak? Putraku juga dulu pernah punya kekasih seorang janda, tetapi sekarang entah kemana dia pergi meninggalkan putraku." Mamih Mira dengan ekspresi sedih.
Apakah yang di maksud dia aku? Orang tua yang hanya menginginkan hartanya saja kalau menurutku. Sudahlah Tika, ngapain di pikirin. Yang penting sekarang aku tahu dia seperti apa batin Tika, sambil menatap Mamih Mira.
"Oya? Masa sih, anakmu masih muda kan? Masa iya, mendapatkan kekasih yang berstatus janda?" tanya Ibu Lily.
"Iya serius. Emangnya kenapa kalau putraku mendapatkan wanita yang berstatus janda?" tanya balik Mamih Mira kepada bu Liliy.
"Tidak kenapa-napa sih, soalnya jarang aja sih ada pria muda mau menjalin hubungan dengan wanita tidak bersegel lagi kan." ucap bu Lily.
"Ih Ibu, aku bukan tidak bersegel karena murahan tahu," gerutu Tika sambil menatap kesal Ibunya.
"Ya ampun sayang, siapa bilang Ibu berkata seperti itu kepadamu," bu Lily sambil menatap putrinya, dan merasa terkejut mendengar apa yang diucapkan oleh putrinya.
"Habisnya kan, disini aku merasa di lecehkan Bu, karena aku berstatus janda," ucap Tika, dengan mengembungkan pipinya.
"Ada-ada saja deh kamu ini nak, emang siapa yang melecehkanmu hem? Kenapa kamu sekarang jadi sensitif banget ya. Jangan-jangan kamu ya, orang yang di maksud sama mamih Mira?" tanya Ibu Lily.
"Ka-kata siapa bu? Bukan Tika, Bu. Lagian, Tika tidak kenal siapa lagi putranya Mamih Mira ini," ucap Tika, dengan gugup.
__ADS_1
"Kirain Ibu, kamu orangnya." Ibu Lily tertawa terkekeh.
"Ih bukan, Bu."
"Iya, Ibu percaya kok, memang bukan kamu, orangnya." ucap bu Lily.
"Bentar ya, saya panggilin anakku dulu," ucap Mamih Mira.
Kemudian Mamih Mira memanggil putranya yang sedang mengobrol dengan rekannnya.
"Reza ...," panggil Mamih Mira pada putranya. Tangannya tidak tinggal diam, melainkan melambaikan tangannya, agar putranya menghampiri Mamih Mira.
Maksud dia apa memanggil Reza? Apakah mau memperkenal Reza, padaku? Apakah mau akting lagi dia, pura-pura tidak kenal aku lagi si Reza? batin Tika, sambil menatap sinis Mamih Mira.
Reza dengan segera berjalan menghampiri Ibunya, dan berpamitan kepada rekannya.
Saat Reza sudah sampai dimana Mamihnya berada, betapa terkejutnya Reza, saat mengetahui ada Tika.
Reza dan Tika pun saling menatap, dengan segera Tika memalingkan wajahnya.
"Perkenalkan Bu, dia anakku, namanya Reza Rahardian," ucap Mamih Mira, memperkenalkannya pada Ibu Lily.
"Oh, jadi ini putramu ya? Wah, cakep sekali." puji bu Lily, sambil menatap Reza.
So kepede'an sekali ini orang. Tapi memang iya cakep sih, eh apa-apaan mulutku ini, malah memuji dia batin Tika.
"Oya sayang, perkenalkan dia, Ibunya Tika, namanya Bu Lily." ucap Mamih Mira.
"Oh. Perkenalkan Bu, nama saya, Reza Rahardian," ucap Reza, sambil mengulurkan tangannya.
"Saya Lily Lestari, Ibunya Tika," bu Lily mempekenalkan dirinya, dan membalas uluran tangan Reza, dan mereka saling menjabat tangan.
"Senang bisa berkenalan dengan Ibu Lily," Reza, tersenyum elegan terhadap Bu Lily.
Bu Lily hanya tersenyum, lalu melepaskan jabatan tangannya.
"Oya Tika, selamat ya, sekarang kamu sudah jadi pemimpin perusahaan Pt. Antana, dan juga Pt.Berlian. Semoga semakin sukses, berkembang pesat, dan tambah maju lagi," ucap Reza, netranya menatap wajah Tika, lalu mengulurkan tangannya.
Tika tidak langsung membalas uluran tangannya, tetapi malah menatap tangan Reza. Karena merasa tidak enak hati, Tika pun membalas uluran tangan Reza.
"Iya sama-sama." jawab Tika, dengan melepaskan jabatan tangannya.
"Loh, ternyata kalian sudah saling mengenal ya?" tanya bu Lily, merasa tidak menyangka.
__ADS_1
"Iya Bu, kita memang sudah saling mengenal kok." jawab Reza.
"Iya Bu Lily, ternyata mereka sudah saling mengenal ya, benar-benar tidak menyangka saya juga," ucap Mamih Mira.
Ya ampun, ini sok akting lagi. Mau dia apa ya? Dan untungnya saja, bohongnya tidak menular terhadap putranya batin Tika, sambil menatap tidak suka Mamih Mira.
Begitu pun dengan Reza, merasa terkejut saat mendengar perkataan Mamihnya. Bagaimana tidak? Padahalkan, Mamihnya pernah mengenali Tika sebelumnya.
"Ya sudah Bu Lily, ayo kita kesana. Teman-teman sudah menunggu disana tuh," ucap Mamih Mira, sambil memberikan kode kepada bu Lily.
"Oh iya, ya sudah ayo." ajak bu Lily, terhadap Mamih Mira.
"Ibu mau kemana?" tanya Tika.
"Ibu, mau nyamperin teman Ibu dulu disana, kamu ngobrol dulu saja sama Nak Reza ya," ucap bu Lily.
"Tapi Bu-" ucapan Tika, tepotong saat bu Lily menyela pembicaraan putrinya.
"Sudahlah Nak, Ibu tidak punya waktu lama lagi. Sudah kamu ngobrol saja dulu sama Nak Reza," ucap bu Lily."Oya Nak Reza, Ibu mau kesana dulu, mau menemui teman Ibu. Kalian ngobrol saja dulu."
"Iya Bu baik." Reza, sambil tersenyum kepada bu Lily.
Dengan segera bu Lily dan Mamih Mira pergi meninggalkan Tika, dan Reza berdua.
Kini suasana pun terasa canggung di antara mereka. Sekilas, mereka saling menatap.
"Oya maaf ya, saya ada urusan penting, dan harus pergi dari sini," ucap Tika, sambil berlalu pergi. Tapi sayangnya langkah Tika terhenti, saat Reza menahan tangannya.
"Tika ...." panggil Reza.
"Kamu itu apa-apaan sih, lepasin tanganku. Lagi pula, ada apa sih memanggilku? Aku tidak ada waktu disini denganmu," ucap Tika, sambil menatap Reza.
"Kamu itu kenapa sih Tika, selalu menghindar terus dariku? Apa salahku, padamu? Mamihku yang salah, tapi kenapa kamu malah membenciku." Reza, menatap intens Tika.
"Sudahlah, tidak ada waktu lagi untuk membahas semua itu." Tika, dengan segera menghempaskan tangan Reza.
"Tapi Tika-"
"Maaf, aku harus pergi dari sini." ucap Tika, tangannya sambil mengandeng seorang pria yang tiba-tiba melewati dirinya.
Reza pun tidak terima, Tika mengandeng pria tersebut. Kemudian mengepalkan kedua tangannya.
Di sisi lain pun, seorang pria merasa cemburu saat melihat Tika, mengandeng pria tersebut.
__ADS_1
Bersambung ...