
"Tidak perlu dijelaskan kali. Kamu sendiri juga pasti sudah tahu, kenapa aku melakukan hal bodoh seperti itu," ucap Tika sambil tersenyum sinis kepada Chandra.
"Emangnya, dengan sandiwara yang kalian lakukan bisa membuat ku menyesal dan cemburu gitu? Tidak, Tika!" Chandra dengan geram, lalu menatap tajam Tika.
Saat melihat situasi yang kini semakin mencengkram. Andrew dengan segera mengajak Tika untuk pergi dari rumah sakit.
"Tik, ayo kita pulang. Sebentar lagi ada acara rapat, sekarang kita harus segera ke kantor." ucap Andrew kepada Tika.
"Baiklah pak. Lagi pula buat apa berlama-lama disini, membuat kita stress berhadapan sama orang yang tidak tahu berterima kasih!" Tika sambil menatap Chandra.
"Barusan bilang apa hah?" Chandra tidak kalah tajam menatap Tika.
"Stop! Kalian jangan berdebat terus. Ini di rumah sakit, orang-orang disini butuh ketenangan. Bukannya kalian malah membuat berisik disini. Kalian tuh, sudah dewasa. Apa salahnya kalau masih ada urusan pribadi, kenapa tidak di selesaikan secara baik-baik saja? Bukannya seperti ini," ucap Andrew sambil berusaha menghentikan perdebatan Tika dan Chandra.
"Aku juga berpikir seperti itu. Tapi enggak tahu kenapa si Chandra benci banget sama aku, dan selalu duluan cari masalah." Tika sambil menyilangkan kedua tangannya.
"Ya sudahlah Tik, ayo kita pergi dari sini. Kita tidak ada waktu lama lagi disini." ucap Andrew sambil menatap Tika.
"Baiklah." Jawab Tika.
"Oya, jika ada apa-apa kamu bisa hubungi saya. Dan semua pengobatan, saya yang akan tanggung jawab." ucap Andrew sambil memberikan kartu nama miliknya beserta, nomor ponselnya.
"Oke, baiklah." Jawab Chandra sambil mengambil kartu yang diberikan oleh Chandra.
"Ya sudah, kalau begitu saya permisi dulu. Karena ada pekerjaan yang harus di kerjakan." ucap Andrew terhadap Chandra.
Andrew dan Tika pun dengan segera pergi dari rumah sakit. Mereka harus berangkat ke kantor.
'Ck, so sibuk jadi orang kantoran.' gumam Chandra, berbicara pada diri sendiri sambil menatap kepergian Tika dan Andrew.
__ADS_1
Bu Lena dan Lisa pun baru saja sampai di rumah sakit. Dengan segera mereka berjalan menghampiri Chandra.
"Oya Ndra, gimana keadaan istrimu?" tanya bu Lena kepada putranya.
"Entahlah Bu, Chandra juga masih nungguin kepastian dokter yang memeriksa Vika," ucap Chandra, sambil menatap sendu Ibunya.
"Kamu yang sabar ya Nak. Semoga saja, istrimu baik-baik saja," ucap bu Lena sambil mengusap lembut wajah putranya.
"Iya Bu." Jawab Chandra sambil menganggukan kepalanya.
"Oya Ndra, bukannya Tika tadi ikut sama kamu ya? Sekarang dimana dia?" tanya bu Lena sambil menatap putranya.
"Dia sudah pergi Bu. Katanya, ada pekerjaan yang harus di selesaikan. Ck, sombong sekali dia sekarang. Mentang-mentang kita sekarang jadi miskin Bu."
Bu Lena pun hanya tersenyum mendengar ucapan putranya. Bagaimana bisa, putranya masih membenci mantan istrinya. Kalau di pikir-pikir Tika memang menantu yang baik, dia mau melakukan pekerjaan rumah tanpa di suruh.
Entahlah, mungkin kebecian bu Lena terhadap Tika, karena dendam terhadap orangtuanya Tika. Ada rasa menyesal, telah menyia-nyia kan, Tika.
"Kenapa Ibu sekarang membela dia? Ya jelas Bu, ini semua kesalahan Tika! Andai saja, ayah efendy tidak mengambil aset-aset yang ada di perusahaanku, mungkin kita tidak akan jatuh miskin Bu," ucap Chandra sambil menatap Ibunya.
"Apakah kamu lupa? itu semua milik Efendy. Dia membantumu, karena kamu menantunya. Efendy tidak mau melihat perusahaanmu hancur dan bangkrut. Efendy akan melakukan apa pun demi putri tercintanya yaitu Tika." ucap bu Lena.
Chandra pun hanya terdiam tanpa membalas ucapan Ibunya.
"Efendy memang pantas mengambil aset-asetnya dari perusahaanmu, karena ulah kita sendiri yang telah menyakiti Tika selama ini. Mungkin kita orangnya tidak tahu bersyukur, telah di bantu olehnya tapi kita menyakiti perasaan putrinya." ucap bu Lena, ada rasa penyesalan sangat mendalam.
Karena egonya masih tinggi, Chandra enggan memakui apa yang di ucapkan oleh Ibunya.
"Sudahlah Bu, ngapain puji si Tika segala." gerutu Chandra.
__ADS_1
Dokter yang memeriksa Vika pun, kini sudah berada di luar. Chandra, Bu Lena dan Lisa langsung berjalan menghampiri dokter tersebut.
"Apakah Anda, dari keluarga pasien tersebut?" tanya Dokter Meti.
"Iya Dok, saya suaminya Vika." Jawab Chandra,"oya Dok, gimana keadaan istri saya? Apakah istri saya baik-baik saja?" tanya Chandra sambil menatap Dokter Meti dengan cemas.
"Istri, Anda ...." ucapan Dokter Meti sengaja di gantung, lalu menatap Chandra, Bu Lena dan Lisa dengan tatapan yang susah di artikan.
Bersambung ....
******
#yuk mampir dan kepoin karya dari temanku yang pemes ini, dijamin bikin baper dan ceritanya seru banget.
Napen:Santi Suki
Judul:
DUDA VS ANAK PERAWAN
(Santi Suki)
Yusuf, Duda muda dan keren yang beranak satu. Karena kebaikan akhlaknya banyak disukai oleh kaum hawa.
Zulaikha, anak perawan yang masih berseragam OSIS. Bilqis, mahasiswi magang di tempat anaknya sekolah. Sarah, CEO muda yang merupakan atasannya di kantor.
Yusuf, harus membesarkan Asiah seorang diri. Anak gadis kecil yang aktif dengan rasa ingin tahu yang kuat. Kecerdasan dan gaya bicaranya sering membuat orang-orang dibuat mati kutu.
Bagaimana kisah Yusuf dalam membesarkan Asiah. Anak perawan mana yang akan mendapatkan hati Yusuf?
__ADS_1