
"Ayah, kemana saja? Chika kangen banget sama Ayah," ucap Chika, sambil menatap Chandra.
"Ayah ada kok di rumah sayang," jawab Chandra, sambil tersenyum terhadap putri semata wayangnya.
"Maksudnya, di rumah yang dulu Chika sama Ibu tempati ya? Kenapa Ayah tidak pernah main ke rumah nenek untuk menemui Chika? Ayah tidak kangen sama Chika ya?" tanya kembali Chika.
"Kata siapa Ayah tidak kangen? Justru Ayah sangat kangen sama kamu, sayang." ucap Chandra.
"Kalau Ayah memang kangen sama Chika, kenapa Ayah tidak pernah menemui Chika selama ini?" tanya Chika, sambil menatap sendu Chandra.
"Kamu tahu sendiri sayang, kalau Ayah sangat sibuk bekerja. Sehingga kalau pulang kerja, Ayah selalu malam. Makanya selalu tidak ada waktu untuk menemui Nak," ucap Chandra, sambil mengusap rambut putrinya.
"Oh, gitu Yah. Tapi kan, Ayah bisa kalau libur kerja bisa datang ke rumah nenek untuk menemui Chika. Ayah tahu, enggak? Setiap hari Chika selalu menunggu kehadiran Ayah lho." ucap Chika.
Chandra pun benar-benar bingung, harus berkata apa lagi kepada putrinya. Karena alasan sebenarnya adalah karena keegoisan sendiri, hanya memikirkan kehidupannya sendiri.
"Maaf kan Ayah ya sayang. Ayah tidak pernah menemui mu, karena alasan sebenarnya ...." ucapan Chandra sengaja di gantung, lalu menatap wajah intens putrinya.
"Kenapa Ayah, tidak melanjutkan lagi perkataannya?" tanya Chika.
__ADS_1
"Nanti kalau kamu sudah besar, pasti tahu alasannya apa sayang," ucap Chandra, sambil tersenyum terhadap putrinya.
Chika pun hanya diam saja, karena benar-benar tidak mengerti maksud perkataan Ayahnya apa.
"Oya, kamu lagi apa disini Nak?" tanya Chandra kepada putrinya.
"Chika lagi-" perkataan Chika harus terputus, saat Tika tiba-tiba menyela pembicaraan putrinya.
"Ayo sayang, katanya kamu makan. Ayo kita pergi dari sini," ucap Tika, sambil memangku putrinya dari pangkuan Chandra.
Chandra hanya tersenyum miring, saat melihat tingkah Tika yang memangku Chika dari pangkuannya.
"Oh, iya, Chika lupa, kalau tadi Chika merengek lapar pingin makan," Chika, sambil cengengesan.
"Bu, tunggu!" ucap Chika, membuat langkah Tika tiba-tiba berhenti.
"Iya, kenapa sayang?" tanya Tika kepada putrinya.
"Ibu tidak mau mengajak Ayah makan bersama? Padahal Chika masih kangen sama Ayah," ucap Chika, sambil menatap Chandra yang masih berdiri mematung.
__ADS_1
"Ibu tidak ada waktu untuk makan bersama dengan Ayah," ucap Tika, sambil tersenyum sinis terhadap Chandra.
"Ibu, kenapa berbicara begitu sama Ayah? Tega sekali Ibu sama Ayah," ucap Chika, merasa tidak suka melihat Ibunya bersikap seperti itu kepada Chandra.
"Sudahlah sayang, ayo kita pergi makan. Kita tidak ada waktu lama-lama disini," Tika, sambil menarik lembut tangan putrinya.
"Chika tidak jadi makan, kalau Ayah tidak ikut." Protes Chika, terhadap Ibunya.
"Katanya kamu tadi lapar, dan lagi pula ini saatnya kamu makan siang, jadi ayo kita makan." ajak Tika.
"Chika sudah bilang sama Ibu, kalau Chika enggak mau makan siang, kalau Ayah tidak ikut juga!" tegas Chika.
Tika pun sedikit kesal terhadap putrinya. Bagaimana bisa, putrinya meminta seperti itu. Andai saja, kalau putrinya sudah besar pasti dia bakal mengerti perasaan Ibunya.
"Ya sudah, kalau kamu tidak mau makan. Biar saja, Ibu sendiri yang makan." ucap Tika, sambil melangkahkan kakinya.
Chika pun merasa sedih, dan sakit hati saat melihat sifat Ibunya seperti itu. Chika benar-benar tidak mengerti, kenapa Ibunya sangat membenci Ayahnya.
Langkah kaki Tika tiba-tiba terhenti, lalu membalikan badannya menatap putrinya. Tika merasa bersalah terhadap putrinya, dan merasa egois karena tidak bisa membuat putrinya harus berlama-lama dengan Chandra.
__ADS_1
Chika menatap Tika dengan sendu, dan matanya berbinar saat Tika menghampirinya. Kemudian Tika menatap Chandra dari atas sampai bawah, dan menatap dengan tatapan susah di artikan.
Bersambung dulu...