
"Jangan lakukan itu Ayah," ucap Tika, sambil menatap Ayah Efendy.
"Loh, kenapa Ayah tidak boleh melakukan itu?" tanya Ayah Efendy sambil mengerutkan keningnya.
"Kasihan dia Yah. Dia sudah hidup menderita, jadi jangan di tambah menderita lagi Yah." ucap Tika, dengan suara memelas.
"Kamu bilang kasihan? Pria brengsek seperti dia, tidak pantas kamu kasihani. Dengar ya sayang, sesekali kamu itu harus kasih pelajaran sama seseorang yang telah membuatmu terluka." ucap Ayah Efendy, sambil menatap putrinya.
"Tapi Yah, dia itu-" ucapan Tika terputus, saat Ayah Efendy memotong pembicaraannya.
"Jangan bilang, kalau kamu masih punya perasaan sama si pria brengsek itu!" ucap Ayah Efendy dengan tegas.
"Ya ampun Ayah, kenapa Ayah berpikiran seperti itu kepadaku? Asal ayah tahu ya, sebenarnya Tika tidak punya perasaan apapun sama dia! Rasa Tika terhadap dia, sudah mati Yah, saat itu juga. Saat Chandra ketahuan selingkuh." ucap Tika.
"Baguslah kalau begitu. Lalu apa alasannya, kamu tidak memperbolehkan Ayah untuk menendang Chandra dari perusahaanmu?" tanya Ayah Efendy.
"Karena ...." ucapan Tika tergantung, karena bingung harus mulai dari mana untuk mengatakannya.
"Karena apa? Kenapa kamu tidak melanjutkan perkataanmu? Apakah Chandra mengancammu?" tanya Ayah Efendy dengan beberapa pertanyaan.
"Ayah ini, kenapa pikirannya sekarang negatif mulu. Lagi pula Chandra tidak mengancamku kok." lirih Tika.
"Serius nih? Habisnya Ayah heran banget sama kamu. Dari tadi, Ayah lihat kamu membela dia terus," ucap Ayah Efendy merasa curiga terhadap putrinya.
"Ya ampun Ayah, siapa yang membela dia? Perasaan Tika tidak membela dia kok. Ya alasannya karena tiga hari yang lalu, Tika melihat bu Lena masuk rumah sakit."
"Terus hubungannya apa?" tanya Ayah Efendy lagi.
"Masa iya sih, Ayah tidak punya rasa kasihan sama bu Lena. Mereka sekarang sudah miskin Yah, bu Lena lagi butuh biaya untuk perobatan dirinya. Mungkin, mereka hanya mengandalkan Chandra sekarang." ucap Tika.
"Emangnya, bu Lena sakit apaan?" tanya Ayah Efendy.
"Lisa bilang, katanya bu Lena terkena penyakit stroke." jawab Tika.
"S-stroke?" ucap Ayah Efendy dengan gugup, karena merasa terkejut.
__ADS_1
"Iya Ayah. Apakah Ayah tidak kasihan sama mereka? Seandainya Chandra diberhentikan bekerja? Siapa yang akan menanggung perobatan buat bu Lena?"
Ayah Efendy hanya diam saja tanpa membalas perkataan putrinya.
Lena Mutia? siapa yang tidak kenal dengan dirinya. Dia bukan cuma mantan besan, tetapi dia adalah seseorang yang pernah singgah di hati Efendy saat mereka masih muda.
Hubungan mereka harus kandas, karena Lena yang memutuskan mengakhiri hubungannya dengan efendy, dan memilih pria lain menjadi kekasihnya yang ternyata lena selingkuh diam-diam di belakang efendy dengan pria tersebut.
Saat Efendy dan Lily menjalin hubungan selama satu tahun, tiba-tiba Lena masuk kehidupan mereka. Lena tidak suka melihat efendy dan Lily menjalin hubungan, terlebih Lily adalah musuh bebuyutan sejak kuliah.
Berbagai cara telah dilakukan oleh Lena, untuk menghancurkan hubungan efendy dan lily. Tapi sayangnya rencana lena harus gagal.
Saat Lena mengatakan di depan umum, dan mengajak efendy untuk menikah, tapi sayangnya di tolak oleh efendy.
Efendy lebih memilih Lily sebagai pasangan hidupnya, hingga akhirnya efendy dan lily menikah.
Disinilah yang membuat Lena sangat membenci Tika saat itu. Karena tidak terima Lily menikah dengan efendy, harusnya dirinya yang dipilih.
"Ayah ...." panggil Tika, kepada efendy.
"Eh iya, kenapa sayang?" tanya Ayah Efendy.
"Coba Ayah bayangkan, kalau kita di posisi mereka? Pasti nyesek banget rasanya dalam kondisi pas-pasan, terlebih ibunya sakit. Dan apa salahnya juga, kita memaafkan mereka," ucap Tika kembali berbicara, sambil menatap Ayah efendy.
Ayah efendy pun menatap sebentar Tika,"baiklah jika permintaanmu seperti itu. Tapi ingat ya, ayah memaafkan mereka bukan berarti kamu harus kembali lagi ke kehidupan mereka. Ayah tidak sudi jika kamu nanti kembali lagi ke keluarga yang tidak tahu diri itu."
"Ya ampun Ayah, siapa lagi yang akan kembali lagi kepada dia. Tika cuma kasihan saja kepada mereka, terlebih lagi sama bu Lena yang pastinya butuh uang untuk berobat dirinya."
"Ayah begitu salut sama kamu, Tika. Kamu begitu selalu ada rasa iba terhadap orang yang selalu kekurangan hidupnya. Ayah sangat beruntung mempunyai anak sepertimu," ucap Ayah efendy sambil tersenyum terhadap putrinya.
Tika, kemudian membalas senyuman Ayah efendy,"namanya manusia, ya harus begitu ayah. Jangan mentang-mentang kita kaya, jadi seenaknya sama seseorang. Ya sudah Yah, Tika ngantuk mau tidur dulu."
"Oke, silahkan Nak. Oya tunggu Nak," panggil Ayah efendy, membuat langkah Tika terhenti.
"Iya, ada apa Yah?" tanya Tika.
__ADS_1
"Gimana persiapanmu besok, Apakah kamu sudah siap?" tanya Ayah efendy kepada putrinya.
"Insya allah yah, Tika siapa kok." jawab Tika, tersenyum kepada Ayahnya.
"Baguslah kalau begitu. Ya sudah sana, cepat tidur."
"Iss, ayah mengusirku?"
"Bukan mengusirmu, sayang. Kan, tadi kamu bilang sudah ngantuk, pingin tidur. Kok, kenapa bilang ayah mengusirmu?" Ayah efendy merasa jadi serba salah.
"Sory Ayah. Lagi pula, Tika cuma bercanda kok," ucap Tika, sambil cengengesan.
"Dasar kamu itu ya, ada-ada saja deh." Ayah efendy sambil menggelengkan kepala.
"Ya sudah, Tika mau ke kamar dulu ngantuk. Eh, tapi mau nengokin dulu ke kamar Chika."
"Lebih baik begitu. Jangan cuma hanya mementingkan pekerjaan mulu, anak pun harus kamu perhatikan." ucap Ayah efendy.
"Tentu saja Ayah. Ya sudah Tika, mau ke kamar Chika dulu." Tika sambil berjalan menuju kamar putrinya.
Ayah efendy tersenyum, saat menatap punggung putrinya. Ayah efendy benar-benar tidak menyangka kalau putrinya tumbuh menjadi wanita dewasa, tegar, kuat dan penuh tanggung jawab. Padahal dulu Tika, tumbuh menjadi wanita yang sangat manja terhadap orangtuanya.
Mungkin memang benar, setiap masalah yang menimpa kita, akan membuat kita dewasa, jika kita mampu menghadapinya dengan matang, dan penuh kesabaran.
**
Tika kini sudah sampai di depan pintu kamar putrinya, kemudian Tika membuka gagang pintunya, dan menatap putrinya sudah tertidur.
Tika melangkahkan kakinya untuk menghampiri putrinya.
'Maafkan, Ibu sayang. Bukannya Ibu egois, tidak pernah ada di sisimu saat siang dan malam. Tapi Ibu lakukan ini demi masa depanmu sayang, Ibu bekerja pagi, siang dan malam demi kalian. Demi masa tua Ibu, dan masa depanmu Nak,' gumam Tika, sambil menatap wajah cantik putrinya yang kini sedang tidur.
Tika kemudian mengusap lembut rambut putrinya, lalu mencium keningnya.
"Tidurlah yang nyenyak ya sayang, semoga mimpi indah, dan semoga hari esok lebih baik dari hari sekarang." ucap Tika, terhadap putrinya yang kini sedang tidur. Kemudian Tika, menyelimutkan selimut putrinya sampai sepundak.
__ADS_1
Tika lalu pergi dari kamar putrinya, dan berjalan menuju kamar dirinya.
bersambung...