Izinkan Aku Pergi(Aku Lelah)

Izinkan Aku Pergi(Aku Lelah)
109. Tidak percaya


__ADS_3

Gimana sayang, sudah kenyang makannya?" tanya Tika, kepada putrinya.


"Iya Bu, Chika kenyang banget."


"Ya sudah, karena makannya sudah selesai, ayo kita ke hotel lagi." ajak Tika, kepada putrinya.


"Baiklah Bu." jawab Chika.


Karena makan siangnya sudah selesai, Tika, Chika dan Andrew segera pergi dari restoran tersebut. Dan harus kembali ke hotel dimana ibu dan ayahnya masih berada disana, karena acaranya belum selesai.


"Ayo masuk," Andrew dengan membukakan pintu mobil tersebut.


Chika dan Tika dengan segera naik ke dalam mobil tersebut. Ketika keadaanya sudah siap, dengan segera Andrew menjalankan mobilnya.


"Tika, aku boleh nanya sesuatu enggak?" tanya Andrew, sambil menatap Tika dari balik kaca depan mobil.


"Tentu saja boleh. Memangnya kamu mau nanya apa sih?"


"Sebenanya ada hubungan apa, kamu dengan Reza?" tanya Andrew.


"Kenapa kamu berkata seperti itu? Aku tidak ada hubungan apa-apa kok dengan Reza." jawab Tika.


"Oya? Lalu apakah ada sesuatu yang pernah terjadi diantara kalian?" tanya Andrew lagi.


"Terjadi sesuatu? Enggak kok, kata siapa? Kamu kalau bicara jangan ngawur," ucap Tika, dengan kikuk.


"Jangan bohong Tika, aku tahu ada sesuatu yang terjadi di antara kalian kan? Jujur sajalah Tika, aku tahu kok tadi kamu mencoba menghindari dari Reza kan?!"

__ADS_1


Deg.


Bagaimana bisa dia tahu, kalau aku dan Reza pernah terjadi sesuatu? dia manusia atau apa sih, kok bisa tahu sih batin Tika.


"Tika, kenapa kamu diam saja? Jawab dong perkataanku. Ya sudah, kalau kamu tidak mau menjawab perkataanku juga tidak masalah kok." ucap Andrew.


Tika pun terpaksa harus menceritakan semua kejadian waktu itu bersama Reza.


"Oke, baiklah aku akan menceritakan semuanya kepadamu," jawab Tika, langsung menceritakan semuanya kepada Reza..


"Yang benar saja, saat kamu pura-pura miskin, Ibunya Reza memakimu habis-habisan. saat mengetahui kamu anak konglomerat, Ibunya Reza, berusaha bersikap baik, dan pura-pura tidak pernah ada sesuatu terjadi? Manusia apaan itu, tidak punya rasa manusiawi banget sih," Andrew tertawa sinis, sambil mengelengkan kepala.


"Iya gila kan? Makanya aku tuh benci banget sama dia, sok pura-pura akting. Aku kesal banget sama si Reza, dia malah diam saja saat aku di hina habis-habisan," gerutu Tika, dengan wajah sebal saat mengingat kejadian waktu dulu, kemudian Tika menatap putrinya yang tertidur di dalam mobil.


"Sabarlah Tika, lagi pula sekarang sudah tahu Ibunya Reza seperti apa, dan Reza orangnya kayaknya gimana, jadi jangan dipikirin Tik," ucap Andrew.


"Ya sudah, mending mikirin aku saja, pria tampan, yang tidak pernah sombong, murah hati, dan kaya raya," Andrew memuji dirinya sendiri, lalu menaik turunkan alisnya sambil menatap Tika dari kaca depan mobil.


"Ih ini orang so kepede'an lagi, menyombongkan diri lagi." Tika tertawa renyah, sambil melempar boneka milik putrinya, hingga mengenai wajah Andrew.


"Tika ... ini sudah dua kali tahu, kamu melempar boneka tepat di wajahku." Andrew, dengan menyipitkan matanya.


"Habisnya kamu tuh menyebalkan tahu enggak, menyombong diri segala lagi," Tika, sambil menatap Andrew.


"Lagi pula kan, ini fakta kok yang ada pada diriku. Kamu bilang aku menyebalkan? Menyebalkan tapi ngangenin kan?" rayu Andrew, dengan tersenyum simpul.


"Ih so pede banget ini orang," Tika, dengan mengelengkan kepalanya, dan tertawa renyah melihat candaan Andrew yang so usil dimata Tika.

__ADS_1


Andrew, merasa terpana saat melihat cantik, dan manis saat Tika, tertawa begitu terhibur karena dirinya.


Aku tidak mengerti apa yang terjadi padaku? Pada kamu? Pada kita?


Mengapa rasanya semua berjalan begitu cepat, tiba-tiba saja kamu telah menyita seluruh isi pikiranku.


Tiba-tiba saja, hadirnya kamu disampingku selalu ku harapkan.


Kita mulai dekat, bercanda, juga ketawa.


Kamu membawa perasaan lain dihatiku, ketika aku menatap matamu, saat berbicara denganmu. Perasaan yang benar-benar membuatku nyaman. Membuatku tidak ingin beranjak dari sisimu sedikit pun Tika.


Semua jadi terasa berbeda karena hadirnya kamu.


Hitam dan putih yang biasanya mengisi hari-hariku terasa lebih berwarna.


Lebih hidup ketika kamu hadir mengenapkan ruang-ruang kosong yang diselebungi kesepian di hatiku.


Obrolan-obrolan ringan yang kita jalin terasa tidak lagi biasa.


Terasa begitu berharga bagiku.


Perasaan ini tumbuh lebih cepat dari yang ku duga, aku menjadi susah karena perasaan ini.


Sekuat aku bisa , aku berusaha untuk menyanggah perasaanku padamu. Berusaha menghindari kamu dan perasaanku sendiri, namun nyatanya sia-sia, aku tidak bisa Tika. Maafkan aku yang sudah hadir di kehidupanmu batin Andrew, sambil mengingat kembali saat satu bulan yang lalu Tika resign, dari perusahaannya dan hidupnya terasa hampa tanpa kehadiran Tika.


Aku tidak akan menyerah mendapatkanmu Tika, aku janji bila kamu jadi milikku, aku akan berusaha membahagiakamu semampuku batin Andrew, sambil menatap Tika dari kaca depan mobil yang sedang memandang pemandangan di luar.

__ADS_1


__ADS_2