
“Aku rindu sama kamu” bisik Fajar, dengan menempelkan sekilas bibir mereka beberapa detik.
Jingga sama sekali tak menjawab. Ia masih kaget tak percaya dengan apa yang d lihatnya. Wanita itu memilih untuk menyambut suaminya dengan air mata yang berlinang. Tangis yang beberapa waktu lalu sempat terhenti kini tanpa permisi kembali meluncur dengan begitu derasnya.
Pertahan Jingga runtuh saat itu juga. Ia menangis tersedu-sedu di bawah tatapan sang suami yang menatapnya dengan penuh cinta. Jingga tak lagi mengenal gengsi untuk mengekspresikan rasa rindunya pada sang suami. Ia membalas pelukan Fajar dengan segera. Ia menangis tersedu-sedu dengan badan yang gemetaran serta perasan meluap-luap. Wangi tubuh Fajar yang menenangkan dan cukup membuatnya gila beberapa waktu ini.
“Mas sungguh kamu sudah pulang?” tanyanya kembali setelah beberapa menit mereka saling berpelukan tanpa kata.
“Atau ini hanya banyang-banyangmu saja halusinasiku semata?” ia berucap di tengah-tengah tangisnya.
“Sayang, aku sungguh sudah pulang. Aku ada di sini saat ini?” Fajar melerai pelukan istrinya. Ia menangkup pipi Jingga yang sudah basah dan menatap mata wanita itu dengan dalam.
“Mas Fajar jahat” rengeknya kemudian.
“Sayang, aku hanya tak menghubungimu lebih darti tiga jam. Tolong cabut kata-katamu yang mengatakan aku jahat. Aku bukan suami yang jahat pada istrinya”
“Tapi mas memang jahat. Mas Fajar membiarkan aku merasakan rindu sendirian hiks...hiks...”
“Aku juga rindu kamu sayang” Fajar kembali membawa istrinya dalam dekapannya. Mengelus lembut rambut panjang dan sesekali menciumnya.
“Apa aku berlebihan mas?”
“Tidak sayang, kamu tidak berlebihan” Fajar kembali menatap istrinya dnegan dalam, ia mulai mengikis jarak di antara keduanya. Memagut bibir sang istri dengan penuh kerinduan. Jingga pun tak kuasa untuk tak membalas. Kini mereka sedang menumpahkan segala rasa yang ada.
*****
Suara kicauan burung mulai terdengar. Hawa rerumputan yang basah oleh embun mulai tercium. Jingga membuka matanya dengan pelan. Setelah lebih dari sepuluh hari tak dapat merasakan tidur dengan tenang. Semalam ia kembali bisa merasakan tidur dengan pulas tanpa rasa gelisah sedikitpun.
Perlahan matanya terbuka dengan pelan. Pemandangan pertama yang di lihat pagi itu adalah wajah suaminya yang sudah tampak segar. Fajar sepertinya sudah mandi, terlihat dari buliran air yang masih membasahi rambutnya.
“Selamat pagi sayang” sapanya dengan lembut dan tersenyum manis.
“Air panasnya sudah siap. Silahkan tuan putri mandi dulu. Setelah ini kita sholat berjamaah” Tangan Fajar terulur membantu istrinya untuk duduk dan membawanya ke kamar mandi.
Jingga tersenyum, lagi-lagi segala perbuatan Fajar membuatnya melayang, pantas saja ia tak bisa jika berjauhan terlalu lama dengan sang suami.
__ADS_1
.
.
.
“Mas hari in tidak ke kantor?” tanyanya ketika Fajar kembali mengenakan kaos selepas melepas baju koko yang di gunakan untuk sholat.
Fajar tak memberikan jawab, ia hanya menggelengkan kepalanya dengan pelan. Tangan Fajar terulur membawa Jingga keluar, melihat alam taman yang indah dari balik balkon kamar mereka.
Jingga berdiri di ambang partisi pembatas. Ia merentangkan tangannya menghirup udara yang sejuk pagi itu. Meski berada di tengah kota, tapi rumah Fajar di desain sangat asri terdapat banyak pohon di sana. Jingga memejamkan matanya dan tersenyum. Sementara Fajar, ia memeluk istrinya dari belakang. Menenggelamkan kepalanya di sana.
Ini adalah posisi yang paling mereka sukai. Keduanya dalam posisi paling dekat dan menempel satu sama lain. Kulit mereka yang saling bersentuhan menimbulkan sensasi merinding yang berbeda di antara keduanya.
“Sayang, aku ingin memastikan sesuatu”
Fajar berbisik tepat di telinga istrinya dengan lembut. Ia juga sedikit memberikan gigitan kecil di telinga Jingga. Yang berakhir dengan teriakan kecil dari Jingga.
“Memastikan apa mas?”
“Aku rasa di sini sudah ada Fajar junior, kita harus melakukan pemeriksaan untuk memastikan semuanya”
“Aku takut” jawabnya dengan lirih.
“Takut untuk apa?”
“Jia ternyata ia belum hadir bagaimana? Aku takut Mas kecewa” ia kembali menunduk.
“Kita buat lagi sayang sampai dia benar-benar jadi dan hadir di sini” Tangan Fajar mengelus lembut perut istrinya yang masih datar.
“Tapi Mas”.
“Tidak ada tapi. Aku sudah menyuruh Reza melakukan reservasi dokter kandungan pukul delapan pagi ini. Jadi bersiaplah tuan putri sebentar lagi kita akan berangkat”.
Pagi itu para pelayan di kejutkan dengan kehadiran Fajar yang turut memeriahkan sarapan pagi di sana. Selama Fajar tak ada di rumah Jingga menyuruh seluruh pelayan untuk makan bersama, dalam satu meja yang sama. Hal ini di lakukan agar Jingga mau makan. Mengingat akhir-akhir ini selera makannya berbeda.
__ADS_1
“Kami makan di belakang Non” pamit Susi, matanya lekas menyorot rekan-rekan sesama pelayan untuk pergi kebelakang agar tak menggangu majikan mereka.
Jingga menggunakan kepalnya dengan pelan. Ia memang sedang menginginkan waktu hany berdua dengan suaminya.
“Makan yang banyak ya?”
“Aku tidak bisa makan nasi mas, mual nanti perutku”
“Coba dulu ya sayang” tangan Fajar terulur, tanpa banyak bicara ia menyuapi istrinya. Sementara Jingga mengunyah semua makanan yang di sodorkan Fajar ke dalam mulutnya. Tanpa terasa ia menghabiskan satu piring nasi dnegan lauk rawon daging pagi itu.
“Kok tidak mual ya? Biasanya kalau pagi mual, terlebih jika melihat nasi? Ucapnya dengan tampak heran.
“Itu karena di sini ada bayinya. Anak kita mau Papanya yang nyuapin” Fajar tertawa kecil membayangkan segala kemungkinan yang terjadi.
“Yok siap-siap sebentar lagi kita berangkat”.
Fajar bersama Jingga berangkat ke rumah sakit tanpa sopir. Mereka sengaja ingin menghabiskan hari hanya berdua hari itu. Tak butuh waktu yang lama. Tiga puluh menit kemudian pasangan muda ini sudah sampai di pelantaran rumah sakit. Berbekal nama Dirgantara di belakang nama mereka, membuat keduanya mendapat perlakukan khusus.
Jingga dan Fajar di perkenankan untuk masuk ke ruang pemeriksaan tanpa melakukan antrian. Maklum sebelumnya Reza sudah melakukan reservasi terlebih dahulu.
“Selamat pagi Bu, jadi apa yang sedang ibu keluhkan?” tanya dokter Ambar. Beliau tersenyum ramah menyambut pasiennya.
Jingga hanya menggelengkan kepalanya dengan pelan.
“Kalau begitu apa yangs sedang ibu rasakan saat ini?”
“Saya lagi bahagia Dok. Akhirnya suami saya pulang. Saya jadi bisa tidur dengan tenang” jawab Jingga dengan jujur, yang membuat Fajar harus menggaruk kepalanya yang tak gatal.
“Dok tolong periksa istri saya. Kami ingin memastikan apakah istri saya hamil atau tidak? Beberapa hari ini banyak perubahan yang terjadi padanya” terang Fajar dengan sangat lugas.
“Baik, kalau boleh tahu kapan terakhir ibu mendapat menstruasi?”
Jingga menggelengkan kepalanya tak tahu. Ia sama sekali tak ingat akan hal itu.
"Lupa"
__ADS_1
“Tanggal 24 Dok, ini adalah catatan haid istri saya” Fajar menyerahkan sebuah aplikasi dalam ponselnya.
Jingga tercengang melihat itu. Dalam hati berfikir luar biasa suamiku.