JINGGA

JINGGA
149


__ADS_3

Satu jam berlalu, Jingga dan rombongan sudah tiba di rumah lebih dahulu. Bahkan Bu


Nadin sudah mengganti pakaiannya dengan baju santai yang ada. Berikut dengan


Gendhis, bayi itu juga sudah berganti baju dan sedang bermain di ruang tengah.


Jingga berdiri, berkali-kali ia melihat arah keluar menunggu mobil yang di tumpangi Oma. Ia meremas jarinya dengan resah ketika mobil itu tak kunjung sampai di rumah.


“Ma, Nyonya Oma kemana ya? Seharusnya beliau sudah sampai lebih awal dari kita” tanya Jingga, ia datang menghampiri mertuanya yang sedang menikmati segelas jus alpukat siang itu.


Menyadari apa yang di katakan Jingga, membuat Bu Nadin meletakan kembali gelas dalam gengamannya. Ia mengurungkan niat untuk meminum jus tersebut. Mendadak pikirannya turut kacau dan khawatir. Terlebih ketika ia melirik jam yang ada di dinding. Tanpa


sadar sudah lebih dari dua jam Oma terpisah dari mereka semenjak di Mall tadi.


“Iya ya, harusnya Oma sudah sampai lebih dulu dari kita. Tapi sampai sekarang kenapa belum juga kembali. Apa mereka terjebak macet? Jika mereka terjebak macet di jalan kenapa kita tidak? Bukankah jalur yang kita lalui sama?” Bu Nadin mulai semakin gelisah. Ia memutuskan untuk ke kamar hendak mengambil ponselnya.


.


.


.


Kantor Dirgantara.


Fajar urung bangkit dari duduknya, ketika ponselnya bergetar di atas meja. Reza yang


hendak pergi dari ruangan tersebut juga mengurungkan niatnya ketika melihat Fajar sedang mengangkat sebuah panggilan.


Fajar terdiam sebentar, ketika melirik nomor asing yang masuk dalam ponselnya. Sebenarnya ia enggan untuk mengangkat panggilan tersebut, namun lantaran panggilan itu terus menerus dan dengan nomor yang sama membuat Fajar memilih menerima panggilan itu.


Itu mulai meletakan ponselnya di telinga, sejurus kemudian ia menjawab panggilan


itu “Hello?”


Mata Fajar menunjukan reaksi yang berbeda. Keningnya berkerut dan ia lekas menatap


Reza yang kini tengah berdiri di hadapannya. Menyadari tatapan sang atasan yang terlihat berbeda, membuat Reza menyakini jika kini sedang ada maslaah yang menimpa.


“Baik terimakasih atas informasinya. Saya akan lekas ke sana” jawab Fajar kemudian sebelum ia memutuskan untuk menutup sambungan telfon tersebut.


Reza masih diam di tempat menunggu instruksi dari sang atasan.


“Oma kecelakaan”


Raut wajah Reza berubah seketika menjadi pias, ia begitu khawatir dengan keadaan Oma. Terlebih atas jasa Omalah ia bisa berdiri sampai sejauh ini tanpa kekurangan apapun itu.


“Polisi mengatakan jika ini kecelakan tunggal. Sekarang beliau sedang ada di rumah sakit. Aku akan ke sana”


“Syaa ikut Tuan” jawab Reza dengan segera.

__ADS_1


“Kamu tunggu di sini saja, tolong pegang segala keperluan dan apapun yang berkaitan dengan proyek kita bersama Cakrawala. Bukankah selepas makan siang akan ada pertemuan dengan mereka”


Reza mengangguk dengan patuh, meskipun sebenarnya ia ingin sekali untuk turut serta


melihat kondisi Oma.


“Semoga Oma baik-baik saja Tuan”


“Jika pertemuan dengan Cakrawala sudah berakhir, lekas jemput anggota keluarga di rumah. Akan ku kirimkan alamat rumah sakitnya setalah ini!” Fajar terlihat tenang. Pria itu lekas menyambar jas yang ada di kursinya, mengancingkan dengan rapi dan membawa beberapa barang yang menurutnya penting.


Dahlia beserta rombongan sudah berada di kantor Fajar. Seperti biasah ia akan melenggang dengan percaya diri melintasi beberapa staf yang ada di lantai dasar. Senyum acuh dan arogan akan mendominasi wajahnya.


“Taun Fajar, hendak ke mana? Bukankah setelah ini kita akan meeting bersama?”  Tanya Dahlia ketika mereka berpapasan di salah satu koridor kantor.


Fajar terdiam menghentikan alunan langkah kakinya. Ia mencoba menunjukan ajah yang


biasah, menyembunyikan segala kepanikan yang ada. Bukankah jika terlihat panik akan menumbuhkan celah dari pihak lawan. Biar bagaimana pun kersa sama dengan Dahlia hanya sebuah rencana untuk sebuah penghancuran semata.


“Saya sedang ada keperluan. Reza akan mengurus semuanya!” jawabnya dengan dingin,


tanpa ekpresi. Fajar lekas meneruskan langkahnya tanpa menoleh kembali ke arah


Dahlia.


Sementara Dahlia, anita itu bersorak gembira ketika apa yang menjadi rencananya telah tercapai.


“Mampus kau Jingga, siapa suruh melawanku!” desisnya dengan pelan dan kembali melangkah


“Pak Reza sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Tuan Fajar meninggalkan meeting begitu


saja. Bukankah kita sudah menjadwalkan ini jauh-jauh hari. Ini namanya tidak profesional!” tanya Dahlia dengan tatapan mata yang mengintimidasi laan bicaranya.


Seperti minggu lalu, ia akan datang bersama dengan Boy, namun ada sedikit yang berbeda. Ia turut mendatangkan model yang akan berperan dalam iklan ini, sesuai dengan permintaan Fajar. Namun pria itu justru pergi begitu saja dari


tanggung jawab yang ada.


“Mohon maaf Nona Dahlia, itu di luar kapasitas saya untuk menjawab. Tuan Fajar sudah memberikan tugas ini pada saya” sarkas Reza dengan santai. Ia turut menatap mata Dahlia .


.


.


.


Menjelang pukul tiga sore, kabar tentang apa yang telah menimpa Oma telah samapi di keluarga Dirgantara. Semua keluarga tanpa terkecuali lekas menuju rumah sakit dengan panik termasuk Jingga dan Gendhis. Ia turut membawa Gendhis ke rumah sakit demi untuk melihat keadaan Oma.


Panik.


Begitulah suasana yang tergambar dalam keluarga itu ketiak melihat Oma sedang berbaring

__ADS_1


lemas di atas ranjang rumah sakit. Hampir empat puluh persen tubuhnya telah terpasang peralatan medis di sana. Sementara sang sopir keadaannya cukup membaik, ia selamat dalam insiden ini dan hanya mengalami beberapa luka ringan di tangan dan kakinya.


“Apa yang terjadi pada Oma? Bagaimana bisa mobil itu hilang kendali?”


“Bukankah setiap waktu sudah di lakukan pemeliharaan terstruktur?” Bu Nadin menangis tak tega melihat kondisi mertuanya yang terbaring dengan lemah.


Pak Angga masih terdiam, ia turut menatap nanar pada sosok tua yang tengah terbaring lemah tak berdaya di atas sana.


“Menurut pernyataan sopir Oma. Mobil hilang kendali. Rem dalam keadaan blong, sebelumnya


semua dalam kondisi baik-baik saja” ucap Fajar menambahkan.


Jingga pun turut bersimpuh melihat kondisi Nyonya Omanya. Ia memberikan Gendhis pada beby sister menyuruhnya untuk menjaga bayi itu di luar. Mengingat bayi tidak di perkenankan untuk menjenguk pasien sakit.


“Seharusnya aku yang naik mobil itu, seharusnya aku tidak berbelanja dalam jumlah yang banyak “


“Jika aku tidak berbelanja dalam jumlah banyak mungkin Oma tidak akan sendirian dalam


mobil itu. Pasti Oma sangat ketakutan ketika peristiwa itu terjadi”


Jingga menangis tersedu-sedu.


‘Sudahlah nak berhenti untuk menyalahkan diri sendiri. Ini adalah musibah untuk keluarga


kita” Fajar membantu Jingga untuk bangkit, pak Angga menepuk-nepuk pundak menantunya dengan pelan.


“Fajar, siapkan orang untuk mencari penyebab kecelakan Oma, aku rasa ada yang dengan


sengaja ingin melakukan itu”


“Baik Pa”


Semua keluarga sedang duduk di salah satu lorong rumah sakit, mereka berdoa bersama


akan keselamatan Oma. Tak ada satupun yang di perkenankan masuk untuk sat ini, mengingat kondisi Oma yang masih dalam tahap kritis.


“Nona...”


“Non


Jingga”


“Tuan...”


Huh..huh..huh...


Salah satu pelayan berlari dengan terengah-engah. Wajahnya panik dan tangan bergetar hebat.


“Ada apa?” kompak semua menjawab.

__ADS_1


“Itu Tuan...


__ADS_2