JINGGA

JINGGA
101


__ADS_3

“Kenapa gak mau?”


“Gak cinta ya sama aku?”


Hiks...hiks... wanita hamil itu menangis dan merajuk.


“Sayang, tidak seperti itu. Tapi di mana harus cari lumba-lumba?”


“Ya gak tau mas, cari saja di toko orange kali aja ada. Pokoknya aku mau pelihara lumba-lumba titik” Jingga memilih untuk memalingkan wajahnya menatap jalanan. Ia enggan untuk berbicara dengan suaminya.


“Hem bagaiman kalau kita cari makan saja? Atau kita jalan-jalan ke mall. Kamu boleh belanja apa saja yang kamu mau?”


Fajar menaik turunkan alisnya secara bergantian, dalam hati berharap jika istrinya mau untuk berbelanja.


“Tapi aku gak pengen belanja Mas. Aku pengennya pelihara lumba-lumba. Tak usah banyak-banyak dua saja sudah cukup, seperti program pemerintah begitu”


“Astaga sayang, itu anak bukan binatang”


“Ya kan aku maunya lumba-lumbanya dua. Iya kan nak?” Jingga mengelus perutnya masih datar.


“Belanja saja ya. Menurut informasi di Pakuwon city mall sekarang lagi ada pameran perhiasan. Kamu boleh kalau mau, ambil saja keluaran terbaru nanti, atau apapun yang kamu mau”


Tawar Fajar kembali, dalam pikirannya masih bingung mencari lumba-lumba di mana?. Jika Jingga mau menerima tawarannya tentu saja itu akan mempermudah urusannya. Jangankan membeli salah satu perhiasan di sana, membeli Mall beserta isinya saja Fajar lebih dari sanggup.


“Aku tak mau mas!” ia kembali merajuk dan tak menatap Fajar.


Astaga aku bahkan lupa jika istriku ini species langka, ia adalah salah satu wanita bernyawa yang tak hobi belanja terlebih perhiasan.


Huft...


Fajar membuang nafasnya dengan kasar.

__ADS_1


“Baik-baik, kalau itu mau kamu. Sekarang kita ke kebun binatang ya. Coba kita lihat di sana ada atau tidak”.


Jingga menganggukkan kepalanya dengan patuh. Dalam hitungan detik senyum di bibirnya kembali terbit.


“Mas Fajar saja yang ke kebun binatang. Kata Dokter Ambar aku tidak boleh capek-capek berjalan. Aku mau menunggu di rumah saja”


“Aku bisa menggendongmu nanti” Fajar kembali menjalankan mobilnya, kali ini ia menjalankan dengan kecepatan sedang cenderung rendah sambil berfikir akan mencari di mana ikan luma-luma untuk anak dan istrinya. Sementara Jingga, ia bergelayutan di tangan Fajar. Tangannya tak bisa berhenti untuk mengelus lembut lengan suaminya.


“Ada apa lagi?” tanya Fajar, ketika tangan itu tak kunjung berpindah bergelayutan manja. Ia tersenyum menikmati momen saat hanya berdua dengan istrinya, terlebih jika sedang menempel dan manja seperti ini. Rasanya Fajar ingin menghentikan saja putaran sang waktu.


“Kan kangen mas. Emang kenapa sih? Gak boleh kalau kangen? Aku kangennya sama suami sendiri lo, bukan sama suami orang, masak gitu aja gak boleh?” Jingga kembali manyun, ia menghempaskan dengan paksa lengan tangan Fajar dari genggamannya.


“Astaga sayang, kamu kenapa sih? Kenapa aku tak pernah benar?”


“Siapa yang bilang mas salah” Jingga bersindekap meletakan tangannya di dada.


“Iya, iya maaf ya cantik. Maafkan suamimu ini. Sini deket-deket sama mas. Aku juga kangen sekali sama istriku ihhhh” Rayu Fajar, satu tangannya melambai untuk memanggil kembali istrinya sementara satu tangan lainnya fokus mengemudikan mobilnya.


“Maaf ya sayang” Satu tangannya terulur mencium lembut tangan istrinya.


Satu jam perjalanan, Fajar dengan sengaja mengulur waktu, ia memilih rute terjauh menuju kebun binatang Surabaya. Jarak dari rumah sakit yang harusnya dapat di tempuh dalam waktu tidak lebih dari lima belas menit, bisa di perpanjang menjadi satu jam lamanya.


“Mas masih lama ya? Kok gak sampai-sampai dari tadi?”


Seiring berjalannya waktu, membuat Jingga merasakan kantuk tiada terkira. Maklum semenjak hamil ia menjadi sering tidur di jam-jam pagi sebelum jam sepuluh. Berkali-kali ia menguap dan menutupinya dengan jemari.


“Ngantuk sayang?” Fajar tersenyum tipis, dalam hati berdoa supaya istrinya lekas tertidur.


Hem.


“Tidurlah nanti kalau sudah sampai aku bangunin”.

__ADS_1


Jingga menganggukkan kepalanya dengan pelan. Sementara Fajar, tangannya terulur untuk membelai kepala istrinya dengan pelan, seakan sedang menina bobokan anak kecil. Tak butuh waktu yang lama, hanya dalam hitungan detik Jingga sudah terlelap dalam tidurnya.


Alhamdulilah.


“Za, carikan dua lumba-lumba dan baea ke rumah. Pastikan mereka dalam kondisi sehat dan lincah”


Fajar mulai bereaksi. Ia menepikan mobilnya di salah satu hotel terdekat. Tangannya dengan cukup cekatan untuk menghubungi anak buahnya. Ia tak peduli dengan Reza, sekalipun pria itu kemarin sudah mendapat ACC untuk cuti. Nyatanya di hari yang masih cukup pagi ia sudah mendapat tugas yang luar biasa ribetnya.


Sementara di seberang sana. Reza hanya bisa melongo dan memijat pelipisnya yang mendadak terasa sakit ketika mendapat tugas yang luar biasa ajaibnya.


Di kira cari lumba-lumba kayak cari ikan lela di pasar saja.


“Aku tak peduli harus membayar berapa pun, yang aku mau ada lumba-lumba di rumah. Sekalian juga bawa pelatihnya!” suara dingin itu kembali menginstruksi dengan semaunya.


Ingin menjerit.


Begitulah yang di rasakan Reza pagi itu, di saat nyawanya belum terkumpul seutuhnya. Tubuh masih di bawa balutan selimut yang tebal harus mendapat kenyataan seperti ini.


Ya Rab, kalau seperti ini terus bagaimana aku tidak menjadi jomblo abadi. Aku bahkan tak mempunyai waktu untuk diriku sendiri.


Reza berguling-guling di atas ranjangnya. Menenggelamkan kepalanya di bawah selimut.


.


.


.


Fajar berjalan cukup pelan ketika memindahkan istrinya dari mobil menuju ranjang hotel. Tak ingin mengusik ketenangan istrinya yang sedang tertidur damai. Bahkan Fajar, tak memberikan kesempatan bagi resepsionis untuk menyapa, walau hanya sekedar menunjukan tipe kamar yang tersedia dalam hotel mereka. Sorot matanya yang berbicara, menginstruksi untuk diam tak bersuara.


“Baik Pak” jawabnya setengah berbisik. Ia tertunduk sangat sopan dan berjalan mendahului Fajar untuk membukakan pintu yang di pesannya.

__ADS_1


__ADS_2