JINGGA

JINGGA
155


__ADS_3

“Tanda tangan!” Bentak Hernawan dengan sangat keras tepat di hadapan Jingga.


“Aku tidak akan menandatangani surat itu”


“Aku bilang tanda tangan, kau berani melawan kami? Heh!” kini giliran Bu Lia, jemari lentiknya mulai menyentuh pipi Jingga, menekannya dengan sangat kuat. Bahkan kuku-kukunya yang panjang menusuk di kulit Jingga membuat goresan luka di sana.


“Jangan paksa aku!”


“Berani sekali kamu melawan kami? Sudah bosan hidup?”


“Sampai mati aku tidak aka pernah tanda tangan surat-surat itu. Keluarkan aku dari sini!”


Jingga menjerit sejadi-jadinya, ia tak kalah murka layaknya lawan yang sedang di hadapannya. Sementara Asih, wanita itu tertunduk lesu di pojokan kamar. Ia memeluk dengan lembut bayi majikannya. Kepanikan dan kegelisahan tampak terlihat sangat jelas di raut wajahnya. Ia takut sesuatu hal buruk terjadi pada dirinya dan


majikannya. Terlebih pada Gendhis bayi kecil itu, ia sungguh tak tega untuk membayangkan semuanya.


Hermawan tak kehilangan akal, pria itu mengambil sapu lantai yang berada di belakangnya,jemarinya meremas dengan kuat sapu dalam genggamannya.


Bug....


Satu pukulan mendarat di punggung Jingga.


“Aduh” ringis Jingga tanpa suara, tak dapat di pungkiri rasanya sungguh sangat menyakitkan di perlakukan semacam itu.


“Tanda tangan!” matanya yang melotot sekaan hendak jatuh menambah kesan angker dalam


kamar berukuran empat kali empat itu.


“Sungguh kau ingin menuju neraka bersama orang tuamu jika tidak mau tanda tangan surat


ini”


Kini giliran Dahlia, wanita itu melangkah dengan sangat anggun. Rambutnya yang tergerai panjang di biarkan menutupi punggung yang terlihat mulus.


“Kau wanita bodoh dan tak guna, tanda tangannya di sini. Anggap saja ini sebagai


peninggalan sejarah mu yang terakhir sebelum kau mati”


“Tidak, lebih baik aku mati dari pada harus membiarkan hartaku jatuh pada orang-orang


serakah seperti kalian!”


“Oh rupanya hendak melawan, sampai seperti apa kekuatanmu? Lihat saja dirimu saat ini”


Dahlia menunjuk pada tubuh Jingga, tubuh yang terlihat lusuh dan kehilangan tenaga,


sepasang kaki yang di rantai. Beberapa luka goresan di tangan, beberapa cakaran

__ADS_1


kuku tajam yang ada di pipi serta luka-luka memar yang ada di punggung.


“Kau mau masih mau melawan?”


“Mau melawan pakai apa?”


“Atau bagaimana kalau begini? Apa kau masih berani melawan kami?”


Dahlia kembali berjalan dengan sangat anggun, kali ini ia melirik pada Asih yang terduduk lesu di pojokan kamar. Ia lekas dengan paksa menarik tangan Asih dan membawa wanita itu untuk duduk bersebelahan dengan Jingga. Dahlia menghempaskan paksa tubuh Asih yang di sepertinya. Reflek Asih meringkuk untuk melindungi Gendhis yang berada dalam gendongannya.


“Bawa sini bayi itu” perintah Dahlia kemudian. Tangannya terulur meminta pada Asih untuk


menyerahkan bayi dalam gendongannya.


“Jangan Non” Asih mengiba dengan tangisnya, ia masih mendekap erat Gendhis di tangannya.


“Jangan sentuh anakku!”


“Hahahaha”


“Bagus, sepetinya aku harus melakukan sesuatu pada anakmu, agar kamu mau tanda tangan


surat ini”


Bu Lia mulai turun tangan, ia mengambil alih Gendhis dalam dekapan Asih dengan


“Jangan sentuh anakku!” teriak Jingga dengan sangat keras.


****


“Za, apa kamu bisa mempercepat laju kendaraan ini? Kenapa semua berjalan melambat seperti ini?” desis Fajar yang kini sedang berada dalam mobil bersama beberapa anak buahnya. Ia sedang menuju tempat Jingga berada. Berdasarkan informasi yang dapat di lacak Jingga berada di suatu kawasan yang letaknya cukup jauh dari tempatnya berada saat ini. Butuh lebih dari dua jam  untuk bisa sampai ke sana. Apa lagi jika jalanan macet seperti ini bisa lebih lama lagi.


“Akan saya usahakan Tuan” jawab Reza dengan takut, mengingat mereka sedang di kejar


waktu, jika tidak nyawa Jingga dan bayinya dalam bahaya.


Fajar tak kuasa untuk menunggu dalam gelisah. Ia lekas menekan nomor salah satu pejabat daerah yang berkuasa di wilayah tersebut. Lagi-lagi kekuatan kekuasan dan uang yang berbicara. Ia meminta untuk di kosongkan jalan menuju tempat Jingga berada hingga di rasa kawasan tersebut sudah terbebas dari kemacetan.


“Za, dari jalan depan kita mabil kiri” titahnya kemudian.


Benar saja, tak berselang lama, Fajar lekas mendapati apa yang di harapkan. Jalanan


mendadak menjadi kosong tak berpenghuni. Tak ada satupun kendaraan yang melintas di sana, tak ada rambu-rambu lalu lintas yang menyala. Semua berjalan sangat lancar tanpa hambatan. Beberapa mobil rombongan dapat dengan mudah untuk menembus jalanan.


“Za, kau yakin di sini tempatnya?”


Mata Fajar, mengedar menatap sekitar area yang menunjukan kawasan sepi tak berpenghuni. Hanya ada sebuah hotel tua yang sudah terbengkalai. Tempat itu seperti tidak beroperasi dalam waktu lama. Di bagian sisi kanan, kiri berikut belakang terdapat hamparan saah yang luas serta beberapa pohon dalam ukuran besar

__ADS_1


sekali.


“Betul Tuan, ini tempatnya” jawab Reza dengan cukup yakin.


“Kita harus berpencar, aku rasa mereka membawa banyak bodyguard di sini”


Reza dengan sigap lekas mengirim pesan pada beberapa anggota yang turut dalam rombongan misi ini. Ia menjelaskan secara singkat strategi yang akan di pilih saat ini.


***


“Jangan sentuh anakku!” teriak Jingga dengan sangat keras.


Bu Lia menarik paksa Gendhis, hingga bayi itu berpindah tangan berada di gendongan


Bu Lia. Ia mengendong Gendhis hanya menggunakan satu tangan, selayaknya orang


yang hendak menjatuhkan barang dalam gengamannya.


“Jangan sakiti anakku”


Suara Jingga melemah, dalam diam merintih memohon pada sang pencipta akan kekuasaannya untuk menyelamatkan bayi berikut dirinya.


“Baik, ku beri penawaran terakhir, dan ini benar-benar terakhir, jika kau masih tak


kunjung untuk menandatangani ini. Sudah ku pastikan anakmu akan berpindah alam saat ini juga. Hermawan meletakan beberapa kertas tersebut di hadapan Jingga, ia mulai membuka borgol tangannya. Lantas ketiganya pergi dengan


membawa Gendhis sebagai jaminannya.


“Pikirkan baik-baik, kau lebih memilih hartamu atau anakmu!”


Brak pintu kembali tertutup dengan sangat keras, membuat penghuni dai dalam sana terlonjak kaget.


“Non Jingga, apa yang harus kita lakukan. Saya takut, saya takut terjadi sesuatu dengan Gendhis”


“Aku juga tidak tahu Asih, kalaupun aku menandatangani surat ini, belum tentu juga


kita akan selamat keluar dari sini, kecuali ada malaikat yang di kirim Allah untuk membantu membebaskan kita keluar dari sini”


Greek..Greek...suara jendela yang berada di sisi kanan kamar tempat penyekapan Jingga terbuka dengan pelan, sontak membuat dua wanita yang ada di dalam sana terlonjak kaget.


Brak..brak..


Pelan namun pasti, jendela tersebut terbuka semakin lebar menunjukan siapa yang telah


datang di sana.


Jantung Jingga terasa berhenti saat itu juga ketika melihat kehadiran beberapa orang

__ADS_1


yang ada di depan mata. Ia lekas menutup mulutnya dengan tangan untuk menyembunyikan rasa kagetnya. Hal yang sama juga di lakukan Asih. Pria itu memberikan isyarat untuk diam.


__ADS_2