JINGGA

JINGGA
164


__ADS_3

Subuh yang damai, ketika bisa berada satu shaft di belakang pasangan kita. Meraih tangan dan menciumnya dengan penuh takzim. Lantas di balas dengan kecupan singkat yang mendarat di kening. Sungguh itu adalah nikmat Tuhan yang tak ternilai harganya.


Jingga dan Fajar saling melempar senyum, ketika kembali dapat menjalankan ritual sebagai muslim bersama-sama, setelah apa yang mereka lewati beberapa waktu terakhir ini. Keduanya saling menangkupkan tangan di dada dengan mata yang terpejam. Memohon segala sesuatu yang ada di dalam hati mereka. Lantas satu aamiin dari barisan belakang imam mengudara ketika berakhirnya sebuah do’a.


Perlahan Jingga, mulai bangkit dari tempat duduknya merapikan gelaran sajadah yang baru


saja mereka gunakan. Ia juga melipat mukenanya lantas menyimpan di laci yang ada di sisi ranjang mereka. Sementara Fajar, pria itu kembali merangkak ke atas kasur. Merebahkan dirinya bersebelahan dengan sang putri. Semenjak peristiwa penculikan beberapa waktu yang lalu, Jingga dan Fajar memutuskan untuk sementara tidur bersama putri mereka.


“Apa rencanamu hari ini sayang?” tanya Fajar, ketika Jingga hendak duduk di depan meja rias untuk merapikan rambutnya.


“Sesuai janjiku kemarin Mas, aku ingin menjenguk Nyonya Oma bersama Mama. Aku akan memasak makanan kesukaan Nyonya Oma setelah ini”


“Sayang, plis hentikan panggilan yang terkesan alai itu. Kamu cukup memanggil dengan


sebutan Oma saja. Sama sepertiku”


Jingga terkekeh geli mendengar penuturan suaminya, bukan hanya sang suami yang


mengatakan panggilan itu alay. Bahkan Bu Nadin pun berkata demikian. Namun Jingga bisa apa? Jika yang menginginkan panggilan seperti itu adalah Omanya sendiri.


“Biarlah Mas. Itu semua permintaan Oma. Aku tidak ingin membuatnya kecewa. Oh ya mas mau


di masakin apa? Biar sekalian nanti aku buatnya”


Jingga menghentikan sejenak aktivitas menyisir rambutnya. Ia meletakan kembali sisir itu pada tempatnya. Kini tangannya mengelus-elus pipi gembul Gendhis.


“Aku sebenarnya ingin makan kamu. Tapi aku rasa waktunya belum tepat, kamu sedang


sibuk. Bagaimana kalau nanti malam saja?” Fajar memandang dengan wajah tengilnya. Ia menaik turunkan alisnya secara bergantian ketika melihat sang istri.


“Ih apa’an sih mas”


Jingga melempar bantal dengan pelan ke wajah suaminya dan berlalu meninggalkan pria itu. Sebelum ia berubah pikiran dan ingin memakannya saat itu juga.


.


.


.


Jingga termenung untuk sesaat ketika berdiri di hadapan lemari pendingin. Ia bingung ingin membuat apa untuk Oma. Makanan yang kira-kira dapat menggugah selera makannya nanti. Ia melirik sekilas bahan-bahan yang masih tersedia di sana.


Aku rasa, aku harus membuat sesuatu yang berbeda untuk Oma.


Mama Mengatakan jika Oma, tidak mau makan nasi. Ia akan muntah kembali nasinya ketika sampai di kerongkongan. Bagaimana kalau bikin lontong balap saja.


Setelah berdebat dengan diri sendiri Jingga mulai mengeksekusi masakannya. Ia memasak


lontong dengan metode kilat mengigat waktunya tak lama. Ia yang di bantu oleh Asih lekas menyelesaikan masakannya dengan segera. Dalam kurun waktu kurang dari satu jam semua makanan sudah tersaji. Selain membuat makanan lontong balap untuk Oma, Jingga juga membuat untuk seluruh penghuni rumah di sana tanpa terkecuali.


“Ma, sudah siap” ucap Jingga ketika sedang merapikan rantang susun di atas meja makan.

__ADS_1


“Ayo, kita sarapan di rumah sakit saja sekalian sama Oma dan Papa. Aku rasa dengan begitu Oma akan mau makan”


“Baiklah Ma, kalau begitu aku akan menambah porsinya”


Jingga kembali mempersiapkan semuanya dengan cekatan. Jemarinya begitu lihai untuk


menata keperluan pagi itu.


“Hati-hati di jalan. Kabari jika sudah sampai rumah sakit” teriak Fajar yang sedang menggendong Gendhis dalam dekapannya.


.


.


.


“Assalamualaikum Nyonya Oma” ucap Jingga dengan santun ketika mulai memasuki ruang rawat Oma. Seperti biasah ia lekas mencium tangan Oma dengan penuh takzim.


“Waalaikumsalam”


jawab Oma dengan tertatih sedang menahan rasa sakit.


“Nyonya Oma bagiamana kondisinya? Apakah sudah membaik? Bagian mana yang terasa sakit?”


Jingga duduk di samping kasur Oma. Tangannya memegang jemari keriput yanga ada di depannya.


“Oma sudah sehat. Hanya saja Oma sudah tua, jadi ya seperti ini. Kamu baik-baik saja nak? Oma sudah lama tidak melihatmu”


keluarga dengan sengaja untuk merahasiakan hal itu darinya.


“Aku sehat Nyonya, kami baik-baik saja semuanya termasuk Gendhis. Hanya saja beberapa waktu kemarin Gendhis sedikit rewel jadi aku tak bisa untuk menjenguk Nyonya Oma. Maafkan Jingga ya Oma”


Oma tak memberikan jawaban wanita tua itu hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja.


“Nyonya Oma. Aku hari ini masak lontong balap. Kita makan sama-sama ya”


“Aku tidak lapar”


“Tapi Nyonya Oma harus makan. Nyonya Oma harus mencobanya ini adalah masakan pertamaku membuat lontong balap. Kalau tidak Nyonya Oma yang memberikan masukan


kurang lebihnya apa? Nanti aku tidak tahu kekurangannya di mana”


Jingga berusaha untuk merayu Oma makan. Beliau beberapa hari ini hanya menerima cairan


infus dan beberapa teguk air putih tanpa makan apa pun itu termasuk roti berikut nasi maupun buah.


“Aku tak berselera” jawabnya dengan acuh dan memutar badannya ke samping.


Jingga tak pantang menyerah. Ia memilih berjalan menuju sofa yang ada di ruangan Oma. Membuka dengan pelan rantang yang ia bawa dari rumah. Ia mulai menata dan menyajikan di


atas meja. Bau harum mulai mengudara mengisi ruang rawat Oma.

__ADS_1


“Mama, Papa makanlah kalian pasti belum sarapan” ucap Jingga dengan mengedipkan satu


matanya. Ia mulai mengisi piring mertuanya dan menyerahkan pada mereka.


“Oma kami makan dulu ya” pamitnya kemudian yang di susul dengan suara decapan dari


mulut Bu Nadin dan Pak Angga yang saling bersahutan.


“Ya ampun Jingga ini enak sekali” Bu Nadin sengaja memuji dengan sedikit mengeraskan


suaranya, ia berharap Oma mendengarnya. Hal yang sama juga di lakukan Pak Angga, beliau mengipas kepulan kuah lontong balap tersebut dan mengarahkan pada Oma.


“Enak sekali, pandai memang menantu Papa masaknya. Kapan-kapan boleh lah kamu masak


lagi begini”


Jingga tersenyum, dan mereka bertiga saling menikmati makanan yang ada. Membuat cara


makan mereka sedemikian rupa enaknya, guna untuk menarik perhatian Oma.


“Coba bawa sini, aku mau coba sedikit saja”


Suara Oma terdengar di tengah aktivitas makan mereka bertiga.


“Yes” desis Jingga dalam hati.


Ia lekas menata lontong balap dalam piring, menghiasnya dengan begitu menarik. Ia juga


membawa Oma untuk duduk di kursi roda mendorongnya hingga di bagian jendela besar. Jingga lantas menyibak korden besar yang menutupi ruangan tersebut. Terlihat pemandangan jalanan yang padat dari lantai 20 tempat Oma sekarang berada.


“Nyonya Oma makanlah. Aku ingin melihat Nyonya Oma kembali sehat. Kita bisa jalan-jalan


kembali bersama-sama”


Dengan cukup telaten Jingga mulai, memasukan suap demi suap lontong beserta kuahnya di


mulut Oma. Ia bercerita banyak hal pada Oma hingga membuat wanita tua itu tak sadar menghabiskan isi piringnya.


“Dulu saat aku masih muda. Aku sering sekali lari pagi di sana” Oma menunjuk satu ruas jalan yang terlihat dari jendela.


“Aku akan lari pagi bersama sahabatku. Dia berasal dari sebuah desa kecil di jawa timur. Kami sama-sama menjadi anak rantau untuk menempuh pendidikan sarjana di sini”


Jingga terdiam mendengarkan setiap kalimat yang di ucapkan Oma. Ia ingin mejadi pendengar yang baik dan memposisikan diri selayaknya teman.


“Aku sudah lama tak berjumpa dengannya. Sudah lenih dari dua puluh tahun kami tak


berjumpa. Dia sudah seperti saudaraku sendiri”


“Angga” Oma memanggil Pak Angga yang tengah menikmati sarapannya.


“Aku ingin bertemu Kinanti. Bisakah kau mencarinya untukku?”

__ADS_1


Oma menatap putranya dengan penuh harap.


__ADS_2