
Dokter Ambar menatap Fajar sekilas, kemudian ia menganggukkan pelan, “Kita harus melakukan prosedur caesar saat ini juga Tuan”
“Kenapa? Apa yang terjadi pada istri saya? Dok?”
“Sepertinya Nyonya Jingga keracunan, kita harus mengeluarkan segera bayi dalam kandungannya untuk menyelamatkan ibu dan bayinya” Jawab Dokter Ambar dengan panik, ia lekas memberikan kode pada perawat yang ada dalam ruangan untuk membawa Jingga ke ruang OK saat itu juga. Fajar masih terdiam di tempat, pikirannya kalut, ia tak tega melihat Jingga yang pucat pasi seperti mayat hidup.
“Lakukan apa pun yang terbaik untuk anak dan istriku Dok”
Dokter Ambar mengangguk patuh, ia lekas membawa Jingga menuju ruang OK yang telah di siapkan khusus. Sementara Fajar, pria itu keluar ruangan dengan langkah yang gontai, tak ada senyum yang tersirat dalam wajahnya. Ia menjambak-jambak rambutnya dengan kasar.
“Fajar ada apa nak? Bagaimana kondisi Jingga?” melihat anaknya yang keluar dengan wajah murung sontak membuat Bu Nadin, turut merasakan gelisah. Beliau langsung mendatangi sang anak dan merengkuh pundak Fajar, membawanya untuk duduk di tepi lorong ruangan Jingga.
“Jingga Ma”
“Jingga...” ia menjeda ucapannya, wajahnya begitu frustasi.
“Ada apa dengan Jingga?” Bu Nadin tak sabar menunggu jawaban Fajar, ia menggoyang-goyangkan tubuh Fajar berkali-kali.
“Aku telah lalai menjaga istriku Ma”
“Ada apa?” bentak Bu Nadin dengan panik.
“Jingga keracunan, dan bayi dalam kandungannya harus lekas di keluarkan saat ini juga”
“Hah, bagaimana bisa? Bayi itu belum genap delapan bulan!” Mimik wajah Bu Nadin berubah menjadi panik, ia terbayang segala hal buruk yang akan terjadi pada menantu dan cucunya.
“Dokter sudah membawanya ke ruang operasi” Fajar, menangis dalam pelukan sang Mama. Ini kali pertama ia menangis saat sudah dewasa.
.
.
.
Fajar yang di temani Pak Angga dan Bu Nadin sedang menunggu dengan cemas. Mereka duduk di salah satu kursi yang berada di depan ruang operasi. Fajar duduk dengan menyandarkan punggungnya, matanya terpejam dengan erat, hatinya tak henti-henti memohon pada sang pencipta untuk keselamatan anak dan istrinya.
“Ma, harus berapa lama lagi kita menunggu? Apa selama ini seorang wanita ketika melahirkan?” tanya Fajar dengan resah, ia menatap wajah Bu Nadin.
“Sabar nak, lampu operasi masih nyala. Dokter dan yang lainnya sedang berusaha untuk menyelamatkan anak dan istrimu di dalam sana. Ini baru di mulai bahkan belum sampai tiga puluh menit” Jawab Bu Nadin dengan cemas.
Fajar kembali menyandarkan punggungnya di kursi stainless yang ada. Ia memejamkan dengan erat matanya. Jemarinya saling meremas, tak sabar menunggu kabar dari dokter.
“Lama sekali Ma” keluhnya kembali, Fajar kemudian bangkit dari tempat duduknya. Ia memilih untuk berjalan mondar-mandiri di depan ruang operasi.
__ADS_1
Fajar merasa Dokter Ambar, begitu lama ketika menangani istrinya. Ia yang tak sabar menunggu dalam diam, lebih memilih untuk menghampiri Dokter kandungan yang lain dan bertanya prihal prosedur operasi caesar.
“Biasanya prosedur caesar di lakukan dalam waktu kurang lebih enam puluh menit Tuan, itu pun jika tidak ada kendala yang berarti”
“Baik terima kasih Dokter” Fajar kembali meraup wajahnya dengan kasar, kenapa satu jam terasa begitu lama jika dalam kondisi seperti ini.
“Sama-sama Tuan, semoga operasi Nyonya berjalan dengan lancar”
Fajar tak kuasa untuk menjawab, ia lebih memilih menganggukkan kepala saja.
Ia kembali menghampiri Bu Nadin yang masih belum beranjak dari tempat dudunya. Fajar sedikit berlari “Ma, bagaimana apa sudah ada Dokter yang keluar? Kok ini lama sekali. Kata Dokter prosedur perasi tidak lebih dari satu jam jika tidak ada kendala. Apa semua baik-baik saja? Apa yang terjadi pada anak dan istriku?” Fajar semakin panik dan resah ketika melihat lampu operasi tak kunjung di matikan.
“Namanya juga operasi pasti lama, kamu tenang dulu kenapa? Jangan panik seperti ini. Mama jadi ikut bingung” gerutu Bu Nadin, mencoba untuk menenangkan sang anak.
“Tuan Fajar!”
Fajar yang mendengar suara Dokter Ambar lekas menghampiri Dokter tersebut. Ia setengah berlari untuk ke sana.
“Bagaimana Dok? Apa semua baik-baik saja?”
Diam.
Dokter Ambar terdiam sesaat, ia menghela nafas yang panjang. Satu tangannya melepas kaca mata yang di kenakan. Ia menunduk untuk sesaat, sejurus kemudian ia mengangkat kembali kepalanya berusaha untuk memberanikan diri menatap Fajar.
“Nyonya Jingga baik-baik saja Tuan. Kami akan segera memindahkan beliau ke ruang rawat setelah ini”
“Bayi dalam kandungan Nyonya Jingga, perempuan Tuan”
Fajar tersenyum, matanya berkaca-kaca menatap Bu Nadin dan Pak Angga yang berada di sebelahnya saat itu.
“Dimana bayi saya Dok, saya mau mengazani anak saya” tanya Fajar dengan antusias, ia tak sabar melihat bayi mungil yang telah lama mereka tunggu kehadirannya, meski bukan dengan seperti ini kelahiran yang di harapkan keluarga.
“Tuan...”
“Tuan...saya mewakili tim medis yang menangani kasus ini, memohon maaf yang sebesar-besarnya, kami tidak bisa menyelamatkan bayi anda” ucap Dokter Ambar dengan sedih.
Deg....
Satu kalimat yang keluar dari mulut Dokter Ambar seakan membuat luruh lara perasaan Fajar saat itu. Jantungnya terasa berhenti untuk berdetak. Kakinya meluruh seketika tak dapat menahan beban tubuhnya. Dalam hitungan detik Fajar tersungkur jatuh ke lantai.
“Kenapa Dok? Apa yang sebenarnya terjadi pada anak saya? Tidak seharusnya dia pergi dengan secepat ini, bahkan sebelum kami sempat untuk menjaganya”
“Dokter lakukan sesuatu utuk menyelamatkan anak saya!”
__ADS_1
“Lakukan apapun itu” air mata Fajar meluruh saat itu juga, tatapan matanya kosong dengan wajah yang mengiba.
“Dokter selamatkan anakku, selamatkan” ucap Fajar kemudian, ia meraih tangan Dokter Ambar mengguncangkan berkali-kali dengan mata yang sudah basah.
Bu Nadin dan Pak Angga tak kuasa mendengar berita ini, mereka saling memeluk memberikan ketenangan satu sama lain.
“Dokter saya tidak mau tahu, selamatkan anak saya. Selamatkan dia saat ini juga. Panggil Dokter terbaik di rumah sakit kalian lakukan sesuatu!” serunya dengan berteriak tak terima.
“Mohon maaf Tuan, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Allah lebih sayang dengan putri Tuan Fajar dan Non Jingga. Sekali lagi saya atas nama tim yang bertugas meminta maaf yang sebesar-besarnya”
“Sebaiknya Tuan melihat anak anda terlebih dahulu” Saran Dokter Ambar, yang tak kuasa untuk menahan sedih pagi itu.
“Mari saya antarkan” Dokter Ambar membimbing Fajar untuk mengikutinya, sementara Bu Nadin dan Pak Angga memilih untuk melihat kondisi menantu mereka. Mereka ingin memberikan semangat dan ketenangan pada Jingga.
“Bayi anda ada di sebelah sana Tuan” Dokter Ambar menunjuk satu ruangan khusus bayi yang baru lahir.
“Dia di sebelah sini Tuan”
Dokter Ambar membuka suatu bilik kecil, di dalam inkubator terlihat serang bayi mungil, perempuan cantik yang hanya memakai diapres. Berbagai peralatan medis masih menempel pada tubuhnya. Bayi itu terdiam dan memejamkan matanya.
“Permisi Tuan, saya akan melepas alat bantu yang ada pada bayi” perawat tersebut mulai membuka satu persatu alat bantu yang melekat pada tubuhnya. Perlahan ia mulai mengeluarkan bayi Jingga dan memberikan pada Fajar.
Fajar masih terdiam membisu, hatinya sedang berusaha untuk menerima kenyataan yang ada. Sekuat tenaga yang ada ia kumpulkan untuk bisa menerima bayi kecil itu di dalam tangannya. Perawat dengan pelan, membalut tubuh bayi yang tak bernyawa dengan bedong, sejurus kemudian ia menyerahkan pada Fajar.
“Silahkan Tuan”
Tangan Fajar bergetar hebat, ketika menerima uluran tangan perawat. Terlebih saat bayi itu dalam genggamannya dan tak menunjukan pergerakan sama sekali. Tangisnya kembali meluruh tanpa aba-aba. Jiwanya terguncang dan hatinya menjerit saat itu juga.
Fajar mengangkat tubuh sang putri, merengkuh lembut dalam dekapannya. Berkali-kali ia mencium pipi kecil sang anak hingga membuat pipi bayi itu di penuhi dengan air matanya. “Maafkan papa nak yang telah lalai menjagamu” kalimat itu berulang kali Fajar ucapkan di sela-sela tangisnya.
Masih dalam posisi yang sama. Fajar mencium berkali-kali putri kecilnya. Ucapan kata maaf tak henti-henti menggema dalam ruangan kecil itu. Dokter Ambar dan beberapa perawat yang melihatnya turut ikut sedih. Mereka tak kuasa menahan air matanya.
Dung!
Fajar merasakan ada suatu gerakan yang mengenai dadanya.
“Dokter, saya merasa anak saya bergerak” Ucap Fajar dengan mengangkat kepalanya menatap Dokter Ambar.
“Tuan, saya tahu Tuan sedang bersedih atas kehilangan sang putri tersayang. Tapi itu tidak mungkin putri anda sudah tiada. Mungkin itu hanya bagian dari halusinasi saja”
Dung!
Fajar kembali merasakan satu gerakan, bahkan ini terasa sangat jelas sekali.
__ADS_1
Fajar terdiam, ia kembali menatap Dokter Ambar dengan penuh pengharapan.
“Oeeeek....”