
“Nek bagaimana?”
Bu Kinan terdiam, ia memandang wajah Jingga dengan lekat.
Kagum.
Begitulah.gambaran yang terlintas dalam benaknya.
“Ayu”
“Kamu mirip sekali dengan Ayu Mamamu nduk” ia menyeka sudut matanya yang berair ketika melihat pemandangan yang ada di depannya.
“Sungguh kamu mirip sekali dengan Mamamu. Lihat Yu putrimu sudah tumbuh menjadi dewasa.
Ia bahkan sudah mempunya seorang anak yang cantik dan lihatlah dia ketika memakai bajumu. Wajah kalian bak pinang di belah dua.
“Coba, sekarang kamu pakai rok ini nak. Dulu Ayu jika memakai kemeja ini, ia akan menggunakan bawahan rok ini”
Jemari Bu Kinan sibuk mencari tumpukan rok plisket dengan warna merah marun sejurus
kemudian ia menyerahkan rok tersebut pada Jingga dan meminta untuk memakainya.
“Lihat sini”
Ia membawa sang cucu menuju cermin besar yang ada di sisi ranjang utama “kamu cantik, cantik sekali. Aku rasa suamimu akan suka jika kamu memakai ini nanti”
Jingga tersenyum dan memandang pantulan tubuhnya dari balik cermin besar yang ada di kamar tesebut.
.
.
.
Fajar mengurungkan niatnya untuk menyusul Jingga masuk ke dalam kamar. Ia memilih
untuk duduk di teras menikmati hamparan tanaman yang masih menghijau. Ia sengaja menepi untuk memberikan ruang pada Jingga dan neneknya yang sedang merindu.
Fajar menyandarkan tubuhnya di punggung kursi jati yang ada di halaman teras, ia menikmati setiap terpaan angin yang mengenai tubuhnya. Dalam benaknya terfikir untuk membuka usaha di sini sekalian memberdayakan orang-orang di sini agar memiliki penghasilan yang lebih layak. Bukankah potensi bahan baku di sini sangat potensial jika mampu di kelola dengan baik nantinya.
Iatersenyum ketika angannya datang begitu saja. Membayangkan hidup menua bersama Jingga dan anak cucunya di desa yang jauh dari hiruk pikuk kota namun tetap dapat menghasilkan banyak uang untuk membantu sesama. Sempat terbesit untuk memperbesar usaha mertuanya dengan mengembangkan usaha minuman di sini tentu semua akan bisa membantu memperbaiki perekonomian keluarga di sini.
Ia melamun, dengan segenap angan yang ada di kepalanya. Tangannya menopang di pipi dengan pandangan yang mengedar ke segala penjuru yang ada di sekitar sana.
Berdering...
Suara getaran ponsel membuyarkan fajar dari lamunannya. Ia lekas meraih ponsel yang ada
di saku celananya dan menerima panggilan dari Reza.
“Ada apa Za?” ucapnya setelah menggeser tombol hijau yang ada di sana.
“Tuan pengalihan seluruh aset atas nama Non Jingga sudah selesai di lakukan. Kini semua
aset atas nama Tuan Bramantyo di bawah tangan Hermawan telah berpindah tangan ke Non Jingga”
“Bagus, aku suka dengan cara kerjamu yang cepat dan pasti”
Fajar tersenyum mendengar kabar dari asisten pribadinya. Reza mengalah salah satu
karyawannya yang begitu di andalkan Fajar, pria itu dapat dengan mudah menyelesaikan
segala permasalahan yang ada dalam keluarganya.
“Lantas adakah tugas lain yang harus saya kerjakan Tuan?”
__ADS_1
Diam.
Fajar sedang memikirkan sebuah rencana besar untuk Jingga. Ia ingin membuat wanita
itu bahagia setelah perjalanan panjang yang ia lalui.
“Aku ingin merayakan keberhasilan ini Za, tolong atur segalanya. Buatkan acara besar sebagai pengumuman atas kembalinya hak milik perusahan Cakrawala atas nama Jingga”
Diam
Reza tak memberikan jawaban dari perintah Fajar. Ia seakan sedang mencerna perintah yang baru saja di berikan padanya.
“Zam bagaimana?”
“Baik Tuan. Akan lekas saya persiapkan semuanya setelah ini”
“Bagus aku suka dengan cara kerjamu. Aku akan menambah bonus dan gajimu setelah ini”
Sambungan telfon berakhir. Fajar kembali mengangumi keadaan yang ada di sekitar rumah
neneknya.
“Hay ngapain di sini?”
Jingga tiba-tiba duduk di sebelah suaminya. Ia duduk dan mengikis jarak di antara keduanya.
“Aku sedang mengagumi kuasa pencipta. Di sini enak ya. Udaranya dingin sekali”
“Iya mas, aku juga di sini”
“Hawa di sini cocok untuk bercocok tanam. Iya bercocok tanam yang itu”
“Adu mas kenapa setiap hanya berdua denganmu obralan slalu menjurus ke arah sana saja” Jingga tak kuasa untuk tak mencubit lengan suaminya.
“Karena kamu terlalu gemas untuk di lewatkan sayang”
baju ini?”
Tanya Fajar dengan melihat istrinya dari atas hingga bawah. Jingga menggunakan gaya
yang berbeda ia memasukan kemejanya pad rok plisket yang di gunakan. Lantas di bagian belakangnya ia mengeluarkan sedikit bagian kemejanya.
“Kenapa mas?”
“Cantik cocok dengan kamu. Tapi kamu pakai apa saja sudah cocok sayang”
“Ini baju Mama, semua bajunya masih tersimpan rapi di almari pakaiannya”
“Wah keren juga ya selera Mama kamu. Kayak anak muda jaman sekarang”
“Pastinya dong, sapa dulu anaknya” ledek Jingga dengan bangga.
“Yang ada itu siapa dulu mamanya gitu sayang”
Fajar membawa Jingga dalam dekapannya saat itu juga, keduanya saling tersenyum penuh bahagia.
Bu Kinan yang mengamat interaksi mereka dari baik jendela tersenyum lega ketika sang cucu mendapatkan orang yang tepat dalam hidupnya.
“Mas istirahat dulu gih, tidur sama Gendhis di kamar Mamaku. Sudah ku bersihkan
tadi”
“Oh ya sayang nanti kita mu menginap apa bagaimana?” tanya Fajar meminta kepastian,
agar ia lekas bisa menyusun jadwal kerjanya besok.
__ADS_1
“Sebenarnya jika Mas berkenan aku ingin menginap di sini sehari saja mas. Aku ingin melepas rindu dengan nenekku, aku juga ingin membujuknya agar mau ikut ke Surabaya dan
tinggal di rumah Papa Mama. Di sana rumahnya kan juga kosong”
“Baiklah kalau begitu, bukan hanya sehari. Bahkan jika berhari-hari pun aku siap untuk
menemanimu di sini”
“Sungguh?”
“Tentu saja”
“Tapi bagaimana dengan pekerjaan Mas di sana?” tanya Jingga dengan ragu.
“Nah itu sudah pintar hehehe. Untuk saat ini kita menginap saja sehari ya di sini sambil kita bujuk nenek untuk turut ikut ke Surabaya. Kapan-kapan kita main lagi ke sini kalau waktunya senggang sekalian bawa perlengkapan yang memadai
biar bisa menikmati liburan dengan khusuk” terang Fajar dengan mengelus lembut kepala istrinya yang sedang bersandar pada dada bidangnya.
“Istirahat dulu gih, aku mau ngobrol-ngobrol dulu sama nenek. Mas bisa pakai baju Papa dulu untuk ganti. Di almari banyak sekali baju-baju papa”
Jingga menarik tangan Fajar. Membimbing suaminya menuju kamar yang di tempati Gendhis
untuk tidur.
Jingga turut bergabung dengan Mbak Asih, Bi Minah dan neneknya di dapur. Ia memotong
beberapa sayuran yang akan di masak untuk makan malam nantinya. Jingga yang sudah terbiasa berkutik di dapur sama sekali tak adq kesulitan untuk hal ini.
“Nek, tolong ceritakan tentang orang tuaku” ucapnya di tengah-tengah tangan yang sibuk
memisahkan sayur dengan batangnya.
“Orang tuamu itu orang yang baik. Tak ada gambaran yang dapat di jelaskan selain kesempurnaan pada diri mereka. Keduanya begitu dermawan dan loyal pada orang
dan siapapun itu yang membutuhkan”
Bu Kinan menjeda aktivitasnya. Ingatannya kembali pada beberapa puluh tahu yang
lalu.
“Nenek jadi teringat waktu kelahiran kamu dulu. Ayu meminta untuk melahirkan di sini
bukan di kota ia menginginkan bayinya dapat menghirup udara yang segar di awal
kehidupannya. Dan papanya menyetujui akan hal itu”
“Pagi itu tibalah saat Mamamu mengalami kontraksi di usia kandungan yang memasuki tiga
puluh delapan minggu. Sejak pagi ia sudah merasakan mulas di perutnya, namun ia
enggan untuk bercerita. Begitulah Ayu. Pribadi yang enggan untuk merepotkan orang lain”
“Ia diam saja tak mengeluh sama sekali, hingga waktu memasuki pukul empat sore kontraksinya semakin cepat. Aku rasa ia sudah tidak bisa menahan rasa sakit lagi dan meminta Papamu untuk mengantar ke rumah sakit terdekat di sini”
Jingga begitu antusias mendengarkan rangkaian cerita neneknya.
“Lantas nek?”
“Mamamu hendak melahirkan, namun di saat bersamaan pula ada Ibu-ibu yang hendak melahirkan. Mereka dari kalangan keluarga biasanya saja. Sedang saat itu ruang yang tersisa hanya satu bagian saja. Dan itu bagian VIP. Ibu tersebut merintih kesakitan tiada terkira. Bahkan tingkahnya sudah tidak karuan. Namun mereka
tidak mampu membayar biaya kamar inapnya”
“Kedua calon orang tua itu bingung harus berbuat apa. Sementara kamar yang tersisa
hanya satu saja untuk bersalin dan itu ruangan VIP, kerena merasa tak tega Mamamu memberikan begitu saja kamarnya untuk mereka. Papa dan Mamamu mengira jika persalinannya masih lama. Mengingat Mamamu yang hanya diam saja tak merintih seperti wanita itu”
__ADS_1
Bi Minah, Asih dan Jingga masih konsentrasi mendengar cerita tersebut. Bahkan Jingga turu merasakan mulas ketika mendengar cerita neneknya.
“Kamu tahu apa yang terjadi selanjutnya?”