JINGGA

JINGGA
127


__ADS_3

“Lantas bagaimana bisa seorang penyusup masuk dan kau tidak mengetahui itu!”


Diam.


Kepala petugas keamanan hanya mampu untuk diam tanpa bersuara, dalam hal ini memang lalai saat bertugas.


“Jawab!” tatapan Fajar menghunus tajam pada salah satu pekerjanya.


“Kau tahu karena keteledoran kamu, nyawa anak dan istriku dalam bahaya!”


“Za, cari tahu siapa wanita yang ada dalam Cctv itu, bawa dia secepatnya untuk kemari. Dan kau Sus, lebih berhati-hatilah saat menjaga istriku, jangan pergi meningalkan dia selama aku tak ada di rumah. Kau bisa minta tolong pada pelayan yang lain ketika hendak membuat sesuatu atau membutuhkan sesuatu. Pastikan semua yang masuk ke dalam mulut istriku aman dari segala bahaya!”


“Dan kau!” Fajar menunjuk satu tangannya tepat di hadapan wajah ketua keamanan di rumahnya.


“Kau aku pecat!”


“Tuan, tolong saya. Ampuni saya yang telah lalai ketika bertugas, tapi tolong jangan pecat saya. Saya sangat butuh sekali pekerjaan ini Tuan” wajahnya mengiba, tangannya memohon dengan berkaca-kaca.


“Mas, ayolah kasihan dia. Lagian aku juga sudah tidak apa-apa. Gendhis juga selamat bukan?”


“Tidak bisa seperti itu sayang. Aku takut sesuatu hal buruk kembali lagi terjadi padamu”


“Tapi tidak juga dengan memberhentikan dia Mas. Dia sudah banyak berjasa untuk keluarga kita. Mas ingat bukan siapa yang dulu meminjamkan sepeda motor saat Mas jemput aku di Resto. Ayolah Mas, aku rasa kita hanya perlu untuk meningkatkan pengawasan saja di rumah ini, tanpa harus mengganti personil yang bekerja”.


Fajar terdiam, ia sedang berusaha mempertimbangkan saran dari istrinya.


“Baik, kalia berdua harus bekerja lebih hati-hati lagi. Jika kejadian seperti ini kembali terulang, aku tak segan-segan untuk memecat kalian saat itu juga!” ucapnya pada kepala pelayan dan juga keamanan yang bekerja di rumahnya.


Dalam rumah itu Fajar adalah Tuannya tapi Jingga adalah ratunya, apa saja yang di minta sang istri, ia tak kuasa untuk tidak mengabulkannya.


****

__ADS_1


Satu minggu berlalu sejak kelahiran Gndhis. Bayi kecil itu masih harus dalam pengawasan Dokter, mengingat belum semua organ tubuhnya dapat berfungsi dengan baik. Gendhis masih harus memakai alat bantu pernafasan, Dokter Ambar mengatakan jika paru-parunya belum bisa bekerja dengan baik, namun seiring bertambahnya usia semua akan kembali normal.


Saat pagi datang, Jingga yang di dampingi Fajar akan ke rumah sakit untuk menjenguk sang putri. Jingga memberi ASI secara langsung pada anaknya demi untuk mempercepat masa observasi sang anak.


“Mas sampai kapan Gendhis harus berada di inkubator? Aku ingin sekali bisa menggendongnya mendekap di sepanjang waktu” ucap Jingga dengan sendu ketika melihat sang anak yang masih memejamkan matanya.


“Sabar ya sayang. Dokter Ambar, mengatakan jika dalam waktu dekat ini kondisinya bisa stabil seperti ini terus, maka Gendhis bisa lekas di bawa pulang” Fajar mengelus pipi kecil sang anak dengan jarinya. Sontak beberapa saat kemudian bayi itu membuka mata sejenak dan sedikit mengeliat.


“Sayang, apa kamu mau pulang nak?” tanya Jingga pada ankanya ketika melihat Gendhis yang bergerak-gerak saat itu.


Tidak ada jawaban, dan tidak ada tangisan.


“Mas, Gendhis tidak meresopon” rengek Jingga dengan cemas.


“Sayang, dia kan masih bayi, bagaimana harus merespon ucapan kamu. Kamu pikir dia sudah bisa menjaab ucapan Mamanya?” Fajar meneyntuh kepala sang istri dengan tersenyum, ia berusaha untuk menyadaran Jingga meski dalam hati rasanya begitu gemas sekali dan ingin menjitak kepala istrinya.


“Sayang, Gendhis mau pulang nak? Papa akan siapkan kamar yang terbaik untuk tempat bermain Gendhis. Cepat sembuh ya nak biar kita bisa main di rumah bersama-sama” Tangan Fajar, terulur untuk mengelus lembut pipi Gendhis, ia mencondongkan wajahnya ke arah sang putri.


Bayi itu berekasi, dia mengeluarkan sedikit suaranya sejurus kemudian tersenyum.


“Mas, lihat mas dia merespon ucapan kamu” Jingga kegirangan melihat ekpresi sang anak yang sedang tersenyum dan mengeliatkan tubuhnya.


“Aku rasa dia memang anakku sayang, buktinya kalau aku yang ngajak bicara langsung di respon. Lihat saja semua yang ada pada dirinya hampir keseluran mirip denganku. Matanya, hidungnya, rambutnya” terang Fajar dengan bangga.


“Ya memang dia anak kamu mas, kemarin cuma numpang dalam rahimku” jawab Jingga dengan memutar bola matanya malas.


“Mas berbicara tentang kamar Gnedhis bagaimana? Kita sama sekali belum ada persiapan untuk menyambut kehadirannya?”


.


.

__ADS_1


.


.


Kediaman Dirgantara.


Pagi yang cerah, ketika matahari mulai manampakan sinarnya. Sayup-sayup hembusan angin mulai menyapa. Hari memang masih pagi, naumn rumah Pak Angga sudah di sibukan dengan serangkain kegiatan yang tidak biasa. Pak Angga dan Fajar, memutuskan untuk sementara Jingga dan Gnedhis akan tinggal di sana sampai semua kondisi dapat di pastikan aman. Setidaknya jika tinggal di sana, akan ada Oma dan Bu Nadin yang turut menjaga mereka saat Fajar tak ada di rumah.


Oma sudah di hebohkan dengan kesibukan barunya selama beberapa hari ini, semenjak kedatangannya, Oma sama sekali tak pernah diam. Beliau begitu antusias untuk menyambut kedatangan cicit mereka. Oma yang tak lagi muda rela untuk beberapa kali pergi ke mall demi menyiapkan kamar dan segala keperluan sang cicit.


Oma dengan senagaja mendekor kamar bayi Gendhis dengan nuansa Barbie, mengingat cicitnya perempuan dan ia penggemar berat boneka itu. Seluruh ruangan kamar bayi di desain dengan warna pink yang berkolaborasi dengan putih.


Oma dan Bu Nadin sengaja membuat kamar bayi yang berukuran sangat luas, bahkan ruangan tersebut selayaknya aula yang mampu menampung puluhan orang dalam waktu yang bersaman. Kamar Gedhis berada di lantai dua bersebelahan dengan kamar orang tuanya.


Terdapat satu ranjang berukuran sangat besar di bagin tengah kamar. Bu Nadin sengaja meletakan satu ranjang besar di sana, untuk tempat tidur Jingga maupun yang lainnya ketika ingin menghabiskan hari bersama Gendhis. Di bagian sisi kanan ranjang ada box bayi yang berwarna pink, terdapat banyak sekali aksosoris yang berbau barbie di sana. Oma ingin menajdikan cicit kecilnya putri di dalam istana miliknya. Tak lupa sebuah kelambu warna putih yang menjuntai panjang sebagai penutup box untuk melindungi bayi.


Lebih dari itu, segala baju juga sudah tersedia di almari pakaian anak. Mulai dari baju untuk new born hingga anak usia tiga tahun. Bu Nadin, yang terlalu gemas dengan baju-baju itu memilih untuk memborong semuanya tanpa sisa. Sepatu, sandal, topi semuanya sudah tersedia dengan lengkap dalam berbagi model dan ukuran.


Deretan boneka juga berjajar rapi di bagian sisi tembok, mulai dari yang terkecil, sedan hingga ukuran besar semuanya ada. Bukan hanya boneka beberapa mainan anak juga sudah tertata rapi di kamar Gendhis.


Di bagian sisi almari pakaian Gendhis, di lengkapi dengan sofa berukuran sedang yang sangat empuk. Oma memasukan sofa di sana sebagai tempat duduk jika ada tamu yang hendak berkunjung untuk melihat bayi mereka.


Rentetan perlengkapan makan untuk anak nantinya juga sudah tersedia di sana. Oma bahkan membeli segala perlengkapan untuk persiapan MPASI Genesis. Deretan botol susu mulai dari yang terkecil hingga terbesar juga ada di sana. Oma membeli dalam berbagai merk, mengingat ia belum tahu Gendhis maunya minum seperti apa.


“Surprise”


Ucap seluruh keluarga saat Jingga mulai memasuki kamar sang anak.


Mata Jingga berkaca-kaca melihat semua yang ada di depan matanya. Satu tangannya membekap mulut yang tampak menganga dengan kejutan yang ada.


“Bagaimana apa kamu menyukainya?”

__ADS_1


“Mas ini, mau bikin toko apa bagaimana?”


__ADS_2