
Aduh....
Jingga meringis kala tangan Oma, tak sengaja menyenggol kaki kanannya yang masih dalam balutan perban. Ia sekuat tenaga untuk menyembunyikan rasa sakit itu.
“Astaga, maafkan Oma nak, Oma tak sengaja. Ini pasti sakit sekali ya. Ah harusnya kita tidak membelikan Jingga model baju seperti ini. Harusnya kita membelikan daster saja biar mudah untuk memakannya” Desis Oma, yang merasa bersalah ketika melihat wajah Jingga sudah memerah menahan rasa sakit, karena gesekan antara tangan Oma yang bersentuhan dengan kakinya.
“Tidak Nyonya Oma, tidak masalah aku suka sekali dengan dress ini. Warnanya sangat cantik, modelnya simple aku suka sekali”
“Sebenarnya Oma, menyiapkan gamis itu untuk acara tujuh bulanan kehamilan kamu nak, rencana awal kami ingin menggunakan kebaya dengan bawahan jarik. Seperti pakem tradisi di acara tingkepan (adat jawa), tapi melihat kondisi kamu yang masih seperti ini rasanya tidak memungkinkan jika harus mengunakan jarik beserta kebayanya. Oleh sebab itu Oma memilih dress ini sebagai gantinya”
“Tak masalah Oma, aku suka sekali dengan dress ini” Jingga tersenyum dan memeluk dress warna pink yang ada di pangkuannya.
“Dua minggu lagi, kehamilanmu akan masuk usia tujuh bulan. Kami berencana untuk melakukan syukuran sayang. Bagaimana apa kamu bersedia?”
Jingga terdiam, ia melirik sekilas kakinya yang masih di perban.
“Tak masalah, jangan khawatir kami akan mempersiapkan semuanya”
.
.
.
Seminggu berlalu, sejak kedatangan Oma dan Bu Nadin menjenguk Jingga. Tibalah hari ini jadwal pemeriksaan Jingga. Dokter baru saja tiba di kediaman Fajar. Sepulang dari rumah sakit pasca perawatan dulu, Fajar tak pernah lagi membawa Jingga ke rumah sakit walau hanya sekedar untuk kontrol kesehatannya. Ia memilih untuk mendatangkan Dokter pribadi ke rumahnya.
Seperti biasah Dokter akan datang bersama beberapa perawat yang menemani, tak lupa mereka membawa sejumlah peralatan yang di gunakan untuk melakukan prosedur penanganan. Selama itu pula Fajar selalu setia menemani Jingga sampai selesai. Ia akan mengosongkan segala jadwal yang ada jika waktu pemeriksaan Jingga telah tiba.
“Perkembangannya sangat bangus. Sepertinya Nyonya Jingga dapat sembuh lebih cepat dari perkiraan. Kalau kondisinya stabil seperti ini terus tiga hari lagi Nyonya sudah di perkenankan untuk tak memakai perban dan mulai bisa berlatih berjalan” Ucap Dokter, secara membersihkan beberapa peralatan yang ada di sampingnya. Ia mulai memasukan satu persatu peralatan tersebut dalam tas miliknya.
“Kira-kira berapa lama lagi istri saya dapat sembuh total, dan dapat berjalan seperti sedia kala?” Tanya Fajar dengan duduk mendekat ke arah Dokter yang sedang berada di tepi ranjang Jingga.
“Itu semua tergantung kondisi Nyonya. Jika perkembangan Nyonya bisa stabil seperti ini terus, tak kan lama Nyonya Jingga akan kembali bisa berjalan”
“Apa saya bisa berjalan sebelum melahirkan?” tanya Jingga dengan ragu. Jauh dari dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia ingin bisa merasakan seperti wanita hamil pada umumnya. Bisa berjalan, berolahraga ringan terlebih bisa memakai baju hamil dengan leluasa.
“Tentu saja bisa. Asalkan Nyonya semangat untuk sembuh dan perbanyak konsumsi kalsium. Saya akan meresepkan beberapa obat untuk Nyonya”
“Kalau begitu saya permisi dulu. Mari Tuan Nyonya”
Fajar hanya mengangguk singkat tanpa beranjak dari sisi ranjang duduknya. Ia membiarkan pelayan mengantar Dokter tersebut hingga ke lantai dasar rumah mereka.
“Sayang, apa yang kau rasakan? Apakah masih terasa sakit?”
__ADS_1
Jingga tersenyum menatap sang suami. Ia mulai menggelengkan kepalanya dengan pelan, Entah mengapa setelah beberapa minggu dalam kondisi seperti ini Jingga mulai terbiasa dengan segala rasa yang ada.
“Jangan bersedih, semau pasti akan baik-baik saja sayang. Kamu akan lekas sembuh” Fajar mengelus lembut kepala Jingga, lantas membuka penutup kepala tersebut dengan pelan.
“Aku tahu kalau kau merasa gerah dengan ini”
Jingga, memang sudah terbiasa untuk memakai jilbab sejak dulu, tapi entah mengapa semejak kehamilannya semakin membesar ia sering kali merasakan gerah yang tiada terkira. Walau seluruh penjuru rumah Fajar di lengkapi dengan pendingin ruangan. Tapi ketika hijab mengenai dagunya ia akan merasakan mual yang tiada terkira.
Dengan keadaan Jingga yang demikian. Fajar tidak memperbolehkan pelayan pria memasuki rumah utama tanpa seijin Jingga terlebih dahulu. Fajar memberikan kesempatan dan keringan pada Jingga untuk tidak memakai jilbabnya selama di dalam rumah. Hanya selama di dalam rumah dan tak ada pria lain di sana.
“Mas, tidak e kantor kah hari ini?” tanya Jingga ketika mendapati penampilan suaminya yang terlihat berbeda. Pagi itu Fajar hanya menggunakan kaos oblong warna navi dengan bawahan celana pendek traning santai. Paria itu juga tak memakai jam tangan di pergelangan tangannya.
“Aku rasa tidak, aku ingin menemani istri dan calon anakku hari ini”
“Tapi ini bukan hari libur mas? Apa mas Fajar tak memiliki kesibukan lainnya?”
“Kau meragukan ku sayang?”
“Bukan, bukan seperti itu. Tapi Mas Fajar kan pimpinan di kantor, masa iya seorang pimpinan malah tidak masuk di jam kerja” gerutu Jingga kemudian.
“Justru karena aku pimpinan dan pemilik perusahaan, jadi aku bisa mengatur kapan saja aku mau bekerja dan tidak. Jadi tenanglah wahai istriku. Jangan takut untuk miskin, bahkan hartaku tidak akan habis hingga anak cicit kita nanti”
Fajar, merengkuh istrinya dalam diam. Ia menghirup cukup lama rambut Jingga yang tergerai sangat wangi. Meskipun sedang sakit wanita itu tidak pernah melewatkan waktunya untu melakukan perawatan tubuh. Ia kan tetap melakukannya demi memanjakan suami dan sebagai wujud rasa sukur pada sang pencipta, yakni merawat dengan baik nikmat tubuh yang di berikan padanya.
Lama sekali Fajar merengkuh istrinya dalam diam. Menikmati setiap terpaan angin yang mengenai tubuh mereka, hingga suara Jingga membuyarkan lamunan Fajar “Mas, aku tida bisa bernafas kalau seperti ini terus” rintihnya di sela-sela dekapan yang di berikan Fajar.
“Sabar” ucap Jingga dengan lirih, ada rasa bersalah ketika tidak bisa melayani sang suami dengan maksimal.
“Tak masalah, aku akan sellau menunggumu, lekas sembuh ya”
Cup.
Fajar mencium sekilas sudut bibir Jingga.
Cup.
Jingga pun membalas dengan lembut kecupan dari sang suami.
“Untuk saat ini, cukup sampai di sini saja. Jangan membuatku repot dengan meminta yang lain” ledek Fajar pada istrinya.
“Siapa yang meminta!” Jingga melotot tak terima, meski tak dapat di pungkiri dalam hati ia begitu rindu saat-saat bersama suaminya.
“Ngomong-ngomong, apa kabar yang di dalam sini”
__ADS_1
Jingga menggelengkan kepalanya dengan pelan, ia sendiri tak tahu. Sudah hampir satu bulan mereka belum melakukan pemeriksaan untuk melihat perkembangan anak mereka. Selama ini Fajar, hanya fokus pada kesehatan Jingga terutama pemulihan kakinya.
Tangan Fajar, mulai terulur menyibak daster panjang yang di gunakan Jingga. Ia menyibak hingga ke atas dan menunjukan bagian perutnya yang sudah membuncit sempurna.
“Hah! Mau ngapain?” tanya Jingga dengan panik ketika mendapat perlakuan semacam itu.
“Mau menyapa anakku lah, mau ngapain lagi coba”
“Oh aku pikir mau itu” jawab Jingga dengan memutar bola matanya malas.
“Tuh kan, sekarang jadi kelihatan siapa yang paling....” Fajar tak meneruskan kalimatnya. Ia lebih memilih untuk mengulum senyum dan mengedipkan matanya.
“Mas....” rengek Jingga dengan malu. Wajahnya sudah memerah seperti kepiting rebus.
Jingga tak bersuara lagi, ia memberikan Fajar yang sepertinya sedang ingin berlama-lama menyentuh anaknya di dalam sana. Ia memandang dengan lekat perut buncit sang istri.
“Astaga bulat sekali sayang” Fajar masih terdiam, ia sekan sedang terhipnotis dengan pemandangan yang ada. Ini adalah salah satu wujud dari kuasa sang pencipta yang terpampang nyata di depan mata. Tangannya mengelus lembut permukaan perut Jingga. Menyusuri setiap inci di sana.
“Ternyata semakin besar dia, semakin keras ya” Ucap Fajar yang masih takjub dengan apa yang di lihatnya.
“Mas pikir?” Jingga kembali memutar bola matanya dengan malas.
“Aku kira perut ibu hamil akan terasa lembek” Fajar mendongak menatap sang istri, berharap sebuah penjelasan di sana.
“Kalau lembek bukan bayi isinya tapi lemak” jawab Jingga, hingga membuat pria di depannya tertawa geli.
Fajar masih dalam posisi ang sama. Ia sama sekali enggan untuk beranjak. Tangannya kembali mengelus lembut dan sesekali memberikan kecupan di pusar Jingga.
Dung....
Satu tendangan kecil mendarat di wajah Fajar, saat bibirnya menyentuh kulit perut Jingga.
“Astaga bayi kecilku sedang menyapa”
Fajar tersenyum geli, ia kembali mengelus lembut perut sang istri, seakan sedang mengajak sang anak untuk bercanda. Kini Fajar, beralih ia mencium bagian sisi kanan perut Jingga.
Dung....
Satu tendangan kembali di berikan bayi tepat di bibir Fajar. Lagi-lagi pria itu tertawa geli melihat tingkah sang anak.
“Ah, kamu lucu sekali. Bahkan belum lahir saja sudah bisa membuatku tersenyum seperti ini. Jadi tak sabar menunggumu lahir” ucap Fajar dengan riang. Laki-laki dewasa itu seakan menemukan mainan baru hari ini.
“Mas, udah ah geli” rengek Jingga dengan menutup kembali perutnya.
__ADS_1
“Yah padahal aku masih ingin bermain-main sama dia. Sayang besok kita panggil Dokter Ambar ya, aku tak sabar ingin melihat dia secara langsung. Aku rasa jenis kelaminnya juga sudah terbentuk, ini kan sudah memasuki usia kandungan tujuh bulan” Jemari Fajar, mulai menghitung kehamilan istrinya.
“Mas, berbicara tentang usia kandungan yang menginjak tujuh bulan. Bagaimana dengan rencana Oma yang menginginkan mengadakan syukuran tujuh bulanan? Sementara keadaanku saat ini masih seperti ini?”