
“Aku rasa saat ini Tuan Fajar, sedang menghadapi banyak kerepotan. Bagaimana tidak, istrinya yang penurut dan tidak banyak menuntut, sekarang berubah menjadi manusia ajaib dengan banyak permintaan absurd” celoteh Susi, di tengah-tengah moment sarapan para pelayan dalam rumah Fajar.
“Aku rasa Non Jingga, memang sedang mengandung. Tanpa harus melakukan pemeriksaan aku sudah yakin itu. Lihat saja bentuk tubuhnya menjadi sedikit berisi, dan kau tahu dua buah yang menggantung miliknya juga terlihat semakin bulat keras dan menantang” Wima mempraktekan dengan menunjukan miliknya.
“Aku rasa itu yang membuat Tuan Fajar kelimpungan jika tak menyentuhnya walau hanya semalam saja” Susi, tertawa cekikikan.
“Hus kalian jangan bicara macam-macam, nanti kalau tiba-tiba orangnya muncul bagaimana? Kalian dalam masalah nanti!” Kini Mbah Inah, pelayan tertua dalam rumah itu yang angkat bicara.
“Aku rasa mereka tidak mungkin pulang dengan cepat. Terlebih Non Jingga sangat merindukan suaminya. Aku yakin saat ini Tuan Fajar sedang kerepotan memenuhi permintaan istrinya”
“Aku tak sabar membayangkan wajah anak mereka nanti akan seperti apa, lihat saja ibu dan bapaknya saja bibit unggul yang memiliki kadar kecantikan dan kegantengan jauh di atas rata-rata” Wima bertopang dagu membayangkan seperti apa kolaborasi majikannya nanti.
“Satu sih yang aku yakini nanti, mau cewek atau cowok anak mereka nanti pasti dia suka sekali menghambur-hamburkan uang. Lihat saja masih dalam bentuk zigot saja sudah memiliki permintaan yang macam-macam. Mana kemarin ngabisin tujuh botol parfum bapaknya pula” Susi tertawa mengingat tingkah Jingga beberapa waktu yang lalu sebelum kepulangan suaminya.
“Padahal calon ibunya tak suka belanja ya. Tapi gak tau juga kalau mewarisi gen dari nyonya buyutnya. Bisa-bisa sekali jalan kebeli tuh mall sekalian isinya” hahahaha mereka tertawa renyah bersama, seakan sedang membayangkan kekonyolan yang terjadi beberapa tahun yang akan datang.
****
Dalam bentangan langit Indonesia yang panas. Reza mulai berkeliling mencari keberadaan lumba-lumba yang di inginkan Jingga. Ia mendatangi kebun binatang Surabaya, melihat secara langsung kondisi satwa laut di sana. Namun sayang, di kebun binatang Surabaya tak ada lumba-lumba yang ia cari. Menurut petugas kebun binatang Surabaya, sudah lama lumba-lumba di sana meninggal.
Reza mencoba untuk menghubungi seluruh sirkus yang ada di kawasan surabaya dan sekitarnya, namun lagi-lagi iya harus kecewa karena tak ada satu tempat sirkus pun yang menyediakan lumba-lumba sebagai hiburan di tempat mereka.
Reza mendapat rekomendasi dari salah satu pemilik sirkus untuk ke Batu Malang. Konon di salah satu kebun binatang di sana, hewan lautnya lengkap. Tanpa pikir panjang, Reza lekas melajukan mobilnya membelah padatnya Surabaya menuju Malang untuk mengunjungi kebun binatang yang di tunjuk tersebut.
Menempuh perjalan lebih dari tiga jam, sampailah Reza di kota Batu Malang. Ia lekas menuju kebun binatang yang di tunjuk. Sesampainya di sana, Reza harus mendapat masalah baru, sekalipun membawa nama besar keluarga Dirgantara, namun kebijakan dari kebun binatang tak memberikan ijin jika membawa satwa mereka untuk ke Surabaya, terlebih luma-lumba adalah salah satu hewan yang langka di sana.
“Pak tolonglah, kami akan membayar berapapun untuk itu”
“Mohon maaf pak tidak bisa, ini terlalu beresiko untuk keselamatan satwa kami”
Negoisasi berjalan alot dan tak kunjung menemukan titik terang.
Calling Tuan Fajar...
__ADS_1
“Kosongkan saja kebun binatang tersebut dalam beberapa hari depan. Kita akan sewa tempat itu sampai istriku benar-benar puas bermain dengan lumba-lumbanya” instruksi Fajar yang berada jauh di sana.
“Baik pak”
Satu kesepakatan telah di pilih. Untuk beberapa hari ke depan, kebun binatang Batu Malang di tutup tidak melayani tamu selain dari keluarga Dirgantara.
****
Perlahan Jingga mulai membuka matanya. Ia merasakan tidur yang cukup panjang pagi ini. Rasanya begitu nyaman tiada terkira terlebih ketika sebuah tangan kekar melingkar di pinggangnya. Rasanya enggan untuk membuka mata walau matahari sudah beranjak tingga.
“Hay sudah bangun” sapa Fajar, satu tangannya di gunakan untuk menyangga kepala agar tidak menimpa istrinya.
Hem.
“Mau makan apa? Pasti lapar ya?”
Hem.
Lagi-lagi Jingga hanya menggunakan kepala dan berbicara seadanya, ia lebih sibuk untuk membelai dan bermain-main dengan wajah suaminya.
Hmmm.
Jemarinya masih sibuk bermain di wajah suaminya, membuat Fajar tak kuasa menahan segala gejolak yang ada. Andai saja tak sedang hamil muda, mungkin lah raga di siang hari akan mereka lakukan.
Tangan Fajar mulai terulur meraih pesawat telepon yang ada di sebelahnya dan mengarahkan ke telinganya.
“Tunggu” rengek Jingga dengan manja.
“Kenapa sayang?”
“Aku mau makan gado-gado” ia menunjukan senyum termanis yang dia punya.
“Baiklah sayang”
__ADS_1
“Tunggu” Jingga kembali menahan tangan suaminya.
“Kenapa lagi?” mata Fajar, mulai menatap dengan tatapan tak biasa.
“Mau makan gado-gado di hajatan khitanan anak orang”.
Fajar menepuk kepalanya dengan pelan.
Astaga.
“Sayang gado-gado di hotel ini terkenal enak sekali, kita makan gado-gado di sini saja ya. Di sini ada chef khusus yang membuatnya”. Bujuk Fajar pada istrinya.
“Tapi kan, aku mau makan gado-gadonya yang di hajatan khitanan anak orang. Bukan yang di hotel atau di tempat lain” Ia menunjukan wajah memelas, sorot matanya seperti kucing yang minta di kasihani hendak di pungut.
Miau...miau...
“Sayang” Fajar mengacak-ngacak rambutnya dengan frustasi, baru saja satu masalah luma-lumba terselesaikan kini ada lagi masalah baru.
“Aku kan tidak bisa makan nasi” ia menundukan wajahnya dengan memelas.
“Tapi tadi pagi bisa kan sayang, aku suapin ya, kita makan di sini saja ya” pinta Fajar Kembali dengan mengiba.
Jingga menggelengkan kepalanya dengan pelan. “Aku tak mau, aku tidak bisa makan nasi. Aku cuma mau makan gado-gado di khitanan anak orang yang di buat oleh tangan-tangan sederhana warga” Ia kembali memelas.
Fajar meraup wajahnya dengan kasar.
“Sayang lumba-lumbanya sudah dapat lo, kita ke Malang ya setelah ini untuk lihat lumba-lumba sekalian kita cari gado-gado di restoran sepanjang jalan nanti” Fajar kembali menawar, ia masih berharap belas kasih dari wanita hamil di hadapannya.
“Aku sudah tidak mau lihat atau pelihara luma-luma lagi” wajahnya memelas, ia berdiri dengan menggoyang-goyangkan badannya ke kanan dan ke kiri. Sementara wajahnya menunduk menatap lantai hotel yang beralaskan karpet berbulu tebal.
“Kenapa sayang? Kok sudah tidak mau lihat lumba-lumba?” Fajar, bangkit dari tempat duduknya. Ia berdiri tepat di hadapan istrinya. Tangannya menangkup kedua pipi wanita itu, mengangkat wajah mereka agar saling berpandangan.
“Karena tadi saat tidur aku sudah mimpi ketemu lumba-lumba" jawabnya dengan santai dan tanpa rasa bersalah sedikitpun.
__ADS_1
Ya Allah jerit Fajar kemudian.