
“Lantas bagaimana dengan Gendhis? Apa kamu tega meninggalkan dia di rumah?”
“Pergilah besok bersama Mama, biar Gendhis bersamaku. Untuk beberapa hari ini aku akan
cuti dulu untuk tidak ke kantor”
Fajar turut bergabung duduk di ruang keluarga. Ia menggendong Gendhis di bagian depan. Bayi kecilnya mulai bisa untuk menyangga leher membuat dia ingin di gendong dalam posisi duduk di depan.
“Tapi mas?”
“Kenapa? Kamu lupa aku pemilik perusahaan Dirgantara Grup. Aku tidak akan menjadi miskin
hanya karena beberapa hari tidak masuk ke kantor. Aku juga akan mempersiapkan pengalihan perusahaan Cakrawala atas namu. Itu hak milikmu atas usaha keras mendiang orang tuamu dulu sayang. Nanti Reza biar di bantu tim yang lainnya untuk mengurus itu semua”
“Sebenarnya aku tidak terlalu menginginkan perusahaan itu mas, jauh di lubuk hatimu yang terdalam hanya ingin memiliki keluarga yang utuh, harmonis damai dan sejahtera. Lagian
semua kebutuhanku juga sudah terpenuhi atasmu”
“Tidak seperti itu sayang. Cakrawala Grup sepenuhnya hakmu. Aku akan mengambil alih
itu dari Hermawan. Setidaknya jika perusahaan dan segala aset kekayaanya jatuh padamu, kamu bisa mempergunakan itu di jalan kebaikan. Kamu bisa menjadi donatur utama beberapa panti atau lembaga-lembaga pendidikan bagi kalangan bawah. Kamu bisa melakukan itu semua sebagai wujud baktimu pada orang tua. Setidaknya kamu
telah mengirimkan jariyah untuk mereka saat ini dan sampai nanti”
“Namun, jika harta tersebut masih dalam kekuasan Hermawan, ia hanya akan menggunakannya dalam hal keburukan. Bisa jadi ia akan menggunakannya untuk mencelakai kita
lagi ketika sudah terbebas dari penjara nantinya”
Jingga terdiam untuk beberapa saat. Ia menyandarkan punggungnya pada sofa coklat yang di duduk’i. Apa yang di katakan Fajar, memanglah benar adanya. Sudah seharusnya
dia mendapatkan itu semuanya.
“Aku ikut apa kata mas Fajar saja. Aku benar-benar buta dalam dunia bisnis mas. Aku
bahkan tak bersekolah tinggi. Aku mana mengerti hal demikian”
“Tenang sayang, kita belajar bersama-sama nantinya”
Fajar memegang tangan istrinya dengan lembut, ia juga memberikan kecupan manis di tangan Jingga. Beberapa detik kemudian Gendhis memukul-mukul wajah Fajar dan Jingga secara bergantian, sebagai wujud protes karena tak di hiraukan.
“Ah, kamu gemes sekali sih nak. Sini sama nenek saja biar Mama Papamu berduaan”
Tanpa banyak bicara, Bu Nadin lekas mengambil alih Gendhis dari tangan Fajar, ia membawa cucunya untuk bermain di kamarnya.
****
“Bug...”
“Bangun”
“Bangun..”
“Beraninya kau tidur tempatku!”
Seorang pria yang memiliki tubuh besar dan tinggi menendang paksa tubuh Hermawan yang
__ADS_1
sedang meringkuk di atas lantai beralaskan tikar tipis. Hal ini membuat ia Spontan membelalakkan matanya dan menatap lawan bicaranya dengan sinis.
“Pengawal, beri dia pelajaran” ucap Hermawan kemudian, ketika masih dalam posisi yang sama
meringkuk di atas lantai beralaskan tikar tipis berwarna hijau dan biru.
Hahahaha...
Ucapan Hermawan yang baru saja keluar dari mulutnya sontak mengundang gelak tawa bagi
penghuni jeruji besi tersebut. Mereka menatap Herawan dengan tatapan aneh.
“Makanya bangun, jangan kebanyakan tidur”
“Dasar bodoh tukang mimpi. Siang bolong seperti ini cari pengawal. Pengawal dari
Hongkong?” ejek salah satu penghuni lapas dengan tertawa lepas. Mereka seakan menemukan hiburan baru ketika Hermawan mulai masuk ke dalam sana.
“Diam, atau kalian akan berurusan denganku. Kalian tak tahu aku ini siapa? Heh! Aku penguasa
kerajaan bisnis minuman dan makanan ringan di negara ini. Pengawal cepat beri dia pelajaran” teriaknya kembali seperti biasanya. Hal lumrah yang akan ia lakukan. Memerintah dan mengharap perlindungan dari orang lain asalkan memiliki uang.
Hahahaha...
Lagi-lagi suara gelak tawa mengedar, mengisi seluruh penjuru ruangan yang ada di sana.
Menyadari akan hal itu. Hermawan lekas melirik sekilas rekan-rekan yang ada dalam ruangan tersebut. Matanya memindai satu persatu penghuni di dalam sana. Sejurus kemudian ia melirik pada diri sendiri, mendapati baju biru yang di pakainya.
“Bagiamana? Sudah bangun dari tidurnya? Sudah mimpinya jadi orang kaya? Heh!” salah satu
Hermawan tertunduk untuk sesaat. Ia kembali termenung dan teringat akan semua peristiwa
yang menimpanya beberapa waktu yang lalu. Terkadang ia berharap semua itu hanya sebuah mimpi. Dan saat terbangun mimpi itu sudah sirna kembali ke dunia nyata. Namun na’asnya itu semua bukan mimpi justru kenyataan yang ada.
“Enak saja jam segini tidur. Pijat kami dulu”
Mata mereka saling melotot dan menuntut pada Hermawan.
“Saya tidak bisa memijat”
“Kalau begitu panggil pengawalmu untuk memijat”
Lagi-lagi mereka mengejek dan meremehkan Hermawan. Andai mereka mengenal lelaki itu
sebelum masuk di sini, kemungkinan besar Hermawan akan membeli mulut-mulut
pedas mereka dengan kontan. Hanya saja untuk saat ini takdir telah berpihak pada keadilan. Ia tak dapat lagi dengan leluasa untuk berkuasa menciptakan angkara kemurkaan.
“Jadi pengawalmu tak ada di sini? Mereka hanya hadir di alam mimpimu bukan?”
Hahahaha.
“Dasar laki-laki tua yang bodoh”
“Cepat pijit!”
__ADS_1
Pria dengan tubuh besar itu, lekas meletakan kakinya di depan Hermawan. Sementara Hermawan hanya tertunduk lesu tak bisa melakukan apa-apa.
“Aku bilang pijat!”
Tangannya yang gemetaran mulai meraba kaki itu dengan pelan. Memberikan sentuhan dan
sedikit penekanan untuk menghasilkan sebuah rasa. Jujur dalam hatinya, ia sedang mengumpat tiada terkira banyaknya.
“Hah! Pijatanmu sama sekali tak terasa. Lebih keras lagi!”
Hermawan tak punya cukup keberanian untuk melawan. Saat ini ia hanya bisa pasrah akan
takdir yang ada. Ia menuruti semua perintah yang di berikan beberapa orang di dalam sana. Tak hanya satu orang. Hampir semua penghuni di sana memperlakukan Hermawan dengan demikian. Ini adalah sebagian kecil dari pembalasan ketika masih di dunia. Dulu ia begitu dengan mudah menyakiti seseorang yang
menghalangi langkahnya untuk meraih sesuatu. Tak tanggung-tanggung ia akan menyewa jasa preman untuk hal itu.
“Sekarang giliranku”
Semua penghuni lapas silih berganti untuk duduk di hadapan Hermawan. Merebahkan tubuhnya di sana.
“Kau tau kenapa kami ada di sini?” tanya pria tersebut ketika mendapati Hermawan hanya menunduk saja.
Hermawan memilih untuk menggelengkan kepalanya saja, karena ia memang tak tahu akan hal itu.
“Kau Lihat yang di sana. Pria itu masuk ke lapas karena melakukan kekerasan pada istrinya. Yang sebelah sana, kerena mencuri dan yang sebelah sana mereka merampok. Di antara kami tidak ada yang menjadi pembunuh. Lantas bagaimana
denganmu. Apa yang membuatmu masuk ke dalam sini?”
Diam
Hermawan menghentikan aktivitas memijatnya. Ia memilih diam tak menjawab. Pikirannya
sibuk menghitung segala kejahatan yang telah di perbuatan.
Kejahatan Hermawan begitu lengkap. Ia menganiaya, mencuri, merampok dan telah membunuh. Bahkan ia sendiri yang tanpa sengaja menyebabkan anak dan istrinya harus
meregang nyawa karena keserakahannya.
“Hah dasar manusia bodoh. Atau jangan-jangan kau masuk penjara kerena kebodohanmu?”
Gelak tawa kembali menguar memenuhi ruangan tempatnya berada. Ia tak berani menjawab
pertanyaan rekan satu ruangannya. Nyatanya manusia paling jahat dan iblis adalah
dia. Ia melakukan semua yang teman-temannya tak lakukan.
“Ah, sudahlah. Pijat saja kami sampai hilang rasa capek. Jangan harap kalau malam kamu bisa tertidur dengan pulas jika kami belum memberimu izin”
“Mengerti!”
Sentak mereka dengan sangat keras tepat di hadapan Hermawan.
“Diam-diam jangan menimbulkan kekacauan” teriak petugas lapas ketika melewati tempat
Hermawan an kawan-kawannya.
__ADS_1