JINGGA

JINGGA
135


__ADS_3

Kediaman Dirgantara.


Malam kian larut, rembulan malam telah menunjukan pesonanya. Ia bersinar dengan terang di tengah-tengah bentangan langit malam. Jingga menunggu suaminya dengan gusar. Ini sudah lewat pukul sepuluh malam tetapi pria itu masih belum juga menunjukan batang hidungnya. Bukankah sebelum berangkat ia telah berjanji jika akan pulang lebih awal dari biasanya. Fajar mengatakan jika tidak bisa jauh dari sang anak dan istrinya.


Rentetan pikiran buruk mulai berkecamuk di kepala. Terlebih sejak sore tadi ponsel Fajar sama sekali tak dapat di hubungi. Jingga, masih terjaga bahkan ia menyempatkan diri untuk keluar dari rumah,melihat kondisi di teras rumah mertuanya. Jemarinya saling meremas dengan resah malam itu.


“Tidurlah nak, mungkin suamimu sedang banyak pekerjaaan di kantor. Nanti jika sudah pulang aku akan membangunkan mu” Ucap Bu Nadin, yang menyusul Jingga di halaman teras. Ia baru saja menidurkan Gendhis. Bayi kecil itu sedikit rewel hari ini. Ia berkali-kali menangis tanpa sebab.


“Aku menunggu Mas Fajar saja Ma”


“Masuklah, istirahat. Udara malam sangat dingin tidak baik untuk kesehatan terlebih untuk Ibu yang baru saja melahirkan. Kamu masih sangat rentang, kasian Gendhis nanti, kalau kamu sakit” Bu Nadin, memilih untuk menepuk-nepuk pundak Jingga, menggiring menantunya agar masuk ke dalam rumah.


Sebagai seorang menantu, ia tak ingin membangkang. Meski jauh di dalam hatinya masih ingin di luar. Menunggu kepulangan sang suami.


“Sudahlah, ayo masuk. Dulu Fajar juga sering pulang tengah malam dari kantor. Bisah akhir bulan banyak projek yang harus di kerjakan suamimu” terang Bu Nadin untuk menenangkan menantunya.


Jingga menurut, ia mulai masuk. Sesuai dengan permintaan Oma. Jingga tidur di kamar Gendhis. Oma benar-benar tida mengizinkan mereka untuk tidur dalam satu ranjang selama beberapa waktu ini.


Ceklek.


Cukup pelan Jingga, mulai memasuki kamar sang anak. Mengganti pakaiannya dengan baju tidur yang lebih santai dan longgar. Ia mulai membersihkan diri, mengaplikan beberapa rangkaian skincare ke wajahnya. Benar saja, meskipun sudah memiliki anak, seorang istri sudah seharusnya tetap menjaga kecantikan dan merawat tubuhnya. Begitulah satu kalimat wejangan dari Oma, yang slalu Jingga pegang teguh.


Perlahan Jingga, mulai merebahkan tubuhnya di atas ranjang bersebelahan dengan Gendhis. Tangannya masih sibuk bermain ponsel, sesekali ia mengirimkan pesan pada suaminya. Berharap satu dari sepuluh pesannya untuk sang suami ada yang terbalas. Namun hingga pukul sebelas malam tak ada satu pesan pun yang terbalas. Jingga sudah berusaha untuk menahan kantuknya agar tak terlelap demi menunggu kepulangan sang suami. Namun sayang usahanya gagal. Karena kelelahan seharian mengasuh Gendhis, Jingga pun turut tertidur bersebelahan dengan bayi kecilnya.


.


.


.


Rumah Sakit.

__ADS_1


Sepulang dari kantor, Pak Hermawan memutuskan untuk langsung menuju rumah sakit. Ia ingin memastikan jika kondisi putrinya baik-baik saja. Selain itu, ia juga ingin menyuruh Bu Lia untuk beristirahat. Wanita itu sejak semalam belum pulang sama sekali dari rumah sakit.


Ceklek.


Suara pintu terbuka. Pak Hermawan datang dengan membawa bingkisan di tangan. Ia teringat jika sang putri menyukai roti bakar dengan lelehan keju yang berlimpah. Ia senagaja membeli di salah satu Resto ternama saat pulang dari kantor. Ia juga membelikan anaknya bunga segar, berharap Dahlia, aan merasakan damai dengan semerbak bunga tulip putih yang di bawanya.


“Ma...” sapanya pada Bu Lia, yang saat itu sedang menyuapi Dahlia makan malam. Rupanya sang anak sudah sadarkan diri. Sekilas kondisinya juga sudah jauh terlihat lebih baik.


“Papa sudah pulang?” Jawab Bu Lia, dengan melihat beberapa barang yang di bawa suaminya.


“Hem” Ia meletakan roti bakar dan bungan itu di meja sebelah ranjang pasien. Sejurus kemudian ia mulai duduk di samping Dahlia. Mata Dahlia menatap sang Papa dengan raut wajah memohon. Beberapa detik kemudian, air matanya kembali jatuh berlinang.


“Sudah jangan menangis lagi. Papa tidak suka melihat lelehan bening itu dari matamu” Pak Hermawan datang mendekat, ia mengusap cairan bening yang meluncur membasahi pipi sang anak.


“Papa. Maafkan aku” suara Dahlia, bergetar ia menahan rasa sakit di dadanya.


“Sudahlah, semua sudah terjadi. Maafkan Papa juga tidak mencoba untuk mencari keberadaan mu selama ini” keduanya saling berpelukan malam itu. Dahlia menangis sesenggukan, sementara Bu Lia, ia merasa lega. Akhirnya ketegangan yang terjadi dalam keluarganya telah sirna.


Pak Hermawan adalah tipe orang yang jahat pada lawan bisnisnya, tapi untuk keluarga ia begitu sayang. Dia akan rela melakukan apa saja, asalkan orang-orang yang di cintainya bahagia. Termasuk pagi tadi. Ia meluncurkan rangkain serangan ke perusahan Fajar, demi menuruti semua perintah istrinya.


Ucap Dahlia, di sela-sela tangisnya malam itu.


“Sudahlah tolong jangan menangis lagi. Papa bisa mencarikan mu suami yang jauh lebih baik dan kaya dari Fajar” terang Pal Hermawan kemudian.


Dahlia menggelengkan kepalanya dengan pelan.


“Aku tidak mau. Aku hanya mau dengan Fajar saja”


Sejak kecil Dahlia dan Jingga sudah terlibat dalam persaingan, meski Jingga sama sekali tak pernah menganggap Dahlia adalah saingannya. Namun dalam beberapa momen keduanya memang kerap kali di pertemukan dalam situasi kondisi yang harus merebutkan suatu hal. Entah itu dari segi kecantikan, juara kelas, hadiah dalam perlombaan, bahkan simpati dari beberapa teman saat sekolah dulu. Sudah dapat di tebak, jika Jingga pemenangnya.


Dahlia akan menjadi orang kedua setelah Jingga. Tentu itu sangat tidak ia sukai, terlebih teman-teman sekolahnya dulu, kerap kali membandingkan mereka. Berikut prihal jodoh. Lagi-lagi Dahlia harus kalah dengan seorang upik abu. Tentu saja ia tidak terima dengan ini semua.

__ADS_1


Pak Hermawan terdiam untuk sejenak. Ia menatap lekat wajah sang anak yang merengek seperti anak kecil kehilangan permennya.


“Pa, lakukan sesuatu. Berpikirlah, buat Fajar dan Dahlia bersatu. Pastikan Jingga kembali menderita seperti sedia kala” tambah Bu Lia kemudian. Ia berbisik tepat di telinga suaminya.


Hermawan menganguk-angkara kepalanya.


“Lekas sembuh lah, mari kita bekerja keras, untuk merebut kembali sesuatu yang harusnya menjadi milikmu”


.


.


.


Kembali Ke Kediaman Dirgantara.


Fajar melirik arloji yang melingkar di tangannya. Waktu menunjukan pukul satu dini hari. Itu berarti hari sudah berganti. Ia mulai memasuki kamarnya, membuka pintu kamar dengan pelan. Matanya mengedar mencari keberadaan sang istri. Ia meletakan tas kerjanya di atas ranjang dengan begitu saja.


“Ah iya, pasti dia tidur di kamar Gendhis” desisnya kemudian. Fajar lekas melepas sepatu yang di kenakan. Melempar dengan asal jas yang melekat pada tubuhnya. Perlahan ia mulai memasuki kamar sang anak.


Ceklek...


Ia melihat dua wanita yang di cintainya sedang meringkuk dalam damai. Bayi mungil itu terlelap dengan selimut halus yang melindungi tubuhnya. Semenata Jingga, wanita itu tidak memakai selimut. Ia senagaja memang agar tidurnya tidak terlalu pulas.


Perlahan Fajar turut merebahkan diri di samping istrinya. Ia memeluk dengan pelan, agar Jingga tak tetap terjaga dalam tidurnya.


“Hem, mas Fajar sudah pulang?” mata Jingga menerjap pelan, ketika merasakan seseorang sedang ada di sampingnya.


Laki-laki itu hanya mengangguk dan tersenyum. Kemejanya yang di gunakan terlihat sangat lusuh, seperti merasakan kelelahan yang sangat berarti.


“Mau makan? Biar aku ambilkan?” tawar Jingga, berusaha untuk duduk.

__ADS_1


Fajar menggelengkan kepalanya dengan pelan.


“Tidurlah, ini sudah dini hari”


__ADS_2