JINGGA

JINGGA
115


__ADS_3

“Fajar, apa yang terjadi pada istrimu? Ini sudah lebih dari tiga jam kita menunggunya. Kenapa Jingga tak kunjung membuka matanya?”


Fajar bangkit dari sofa tempat duduknya. Ia kembali menatap lekat wajah sang istri yang masih berbaring lemas di atas pembaringan.


“Sayang” bisiknya dengan lembut tepat di telinga Jingga.


“Sayang” ia kembali mengulangi satu kata tersebut.


Perlahan Jingga, mulai menggerakkan kelopak matanya. Ia menerjap-nerjap dengan sangat pelan, menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri untuk sesaat meski matanya belum terbuka sempurna.


“Sayang, pelan-pelan” bisik kembali Fajar dengan lembut. Ia tersenyum kala Jingga merespon dengan baik panggilannya.


“Mas...” satu kalimat yang keluar dari mulut Jingga, ketika pertama kali membuka mata. Ia melihat sang suami tepat duduk di sebelahnya. Sorot matanya berembun sedang menatap rasa sakit yang tiada terkira saat itu.


“Maafkan aku, yang telah lalai menjagamu” Satu kalimat lirih yang keluar dari mulut Fajar, ia menatap sang istri dengan penuh penyesalan. Seluruh penghuni ruangan yang sedang menanti kesadaran Jingga, terdiam untuk sesaat. Mereka sedang memberikan ruang pada pasangan muda tersebut.


Alih-alih menjawab, Jingga lebih memulih untuk menggelengkan kepalanya dengan pelan.


“Mas, kenapa kakiku sakit sekali untuk di gerakan?” rintihnya saat ingin menggeser posisi kaki.


“Jangan banyak bergerak sayang, kamu sedang mengalami patah tulang. Tenang saja ini hanya sementara semua akan baik-baik saja”


Fajar kembali menatap sendu istrinya, berkali-kali tangan kekarnya membelai lembut kepala sang istri mencoba memberikan kenyamanan di sana.


“Aduh” rintih Jingga kembali. Saat kakinya benar-benar tak dapat di gerakan sama sekali.


“Sayang, kamu haus atau lapar? Aku ambilkan minum ya?”


Tanpa memberikan jawaban. Fajar lekas berbalik arah mengambil segelas air putih yang berada di sebelah kanannya. Ia menyerahkan pada Jingga, membantu untuk meminumkan dengan pelan.


Glek....glek...


Setengah gelas air putih masuk membasahi kerongkongannya yang kering. Jingga kembali terdiam untuk sesaat. Tatapan matanya tak terdefinisi. Ia mantap kosong pada dinding yang ada di depannya. Sejurus kemudian ia berteriak histeris dan memeluk perutnya.


“Anakku!”


“Anakku!” teriaknya dengan keras dan menangis.


Bu Nadin, Oma dan Pak Angga yang duduk dengan tenang di sofa ruang tunggu lekas bangkit dari tempat duduknya. Mereka menghampiri Jingga secara bersamaan dengan ajah yang panik.

__ADS_1


“Nak tenanglah nak” Suara Bu Nadin yang pelan mengusap lembut lengan sang menantu.


“Jingga, istighfar nak. Anakmu baik-baik saja” instruksi dari oma yang mengatakan dengan suara lebih keras dari bu Nadin, agar Jingga dapat mendengarkan penjelasan.


“Apa?”


“Tenanglah nak, anakmu baik-baik saja. Dia masih istirahat dengan tenang dalam kandunganmu”


Jingga masih panik, wajahnya menoleh ke kanan dan ke kiri dengan gelisah.


“Sayang tenanglah, semua akan baik-baik saja” Fajar memeluk istrinya seakan sedang memberikan ketengan untuk sang istri dalam dekapannya.


“Tenanglah nak, tenang, ambil nafas dalam lalu hembuskan. Coba rasakan kehadirannya, pegang lembut perutmu. Letakkan telapak tanganmu di atas sana” Ucap Oma kemudian saat melihat Jingga sudah mulai sedikit tenang dalam dekapan Fajar.


Sementara Fajar laki-laki itu, membimbing istrinya untuk melakukan semua instruksi yang di berikan oleh Omanya.


“Tarik nafas dalam nak, sapa anakku di dalam sana. Rasakan kehadirannya setelah ini” instruksi Oma kembali.


Tujuh


Lima


Satu


Deng....


“Mas, dia bergerak, dia masih hidup” ucap Jingga dengan raut wajah yang berbinar ketika masih dapat merasakan satu tendangan lembut dalam perutnya.


“Mana sayang, coba aku mau rasakan” tangan Fajar turut masuk ke dalam baju sang istri. Ia meraba perut Jingga yang mulai membuncit dan mencari gerakan-gerakan yang di tunggu-tunggu selama ini.


“Sayang, kok dia tidak mau berger lagi” rintih Fajar, dengan menunjukan raut wajah sedih.


“Masa sih?” Jingga kembali meraba perutnya dan menyapa sang anak.


Deng...satu tendangan kembali ia rasakan.


“Ada mas. Mungkin dia malu kalau sama Mas Fajar” Jingga tertawa geli, hingga ia tak menyadari jika dalam ruangan itu masih ada Oma, Bu Nadin yang berdiri di samping mereka. Sontak ucapan Jingga, membuat gelak tawa semuanya.


.

__ADS_1


.


.


“Permisi saya mau memeriksa kondisi Nyonya Jingga” seorang Dokter dan perawat masuk ke dalam ruangan VVIP tersebut.


“Silahkan Do’ Fajar dan menggeser tempatnya berdiri untuk memberikan akses pada Dokter memeriksa istrinya.


“Bagaimana Nyonya? Apa masih sakit?” tanya Dokter Dara dengan tersenyum.


Jingga menganggukkan kepalanya dengan pelan. Ingin mengatakan jika ini tidak sakit namun rasanya mustahil. Karena sungguh rasanya benar-benar sakit tiada terkira. Ini adalah kali pertama Jingga merasakan patah tulang dan harus di rawat di rumah sakit. Ini juga pertama kalinya ia merasakan rasanya mendapat cairan infus di tangannya.


“Sabar ya Nyonya. Ini hanya sementara sebentar lagi juga pasti akan sembuh kembali”


“Kira-kira berapa lama Dok, saya harus mengunakan alat demikian” lirik Jingga pada kaki sebelah kirinya yang harus menggunakan gift.


“Sekitar delapan mingguan, insyaallah jika semua berjalan sesuai dengan prosedur yang ada, Kaki Nyonya sudah bisa sehat kembali”.


Seketika raut wajah Jingga, kembali merasakan murung. Bagaimana tidak dalam waktu kurang lebih dari delapan minggu harus dalam posisi dan keadaan seperti ini. Tentu ini sangat tidak nyaman. Terlebih dengan keadaanya sekarang yang sedang mengandung. Sudut matanya kembali berembun. Lelehan bening itu hampir saja luruh.


“Saya periksa kandungannya ya Nyonya” Dokter Ambar, dokter kandungan Jingga juga turut menyusul dalam ruangan tersebut. Dokter Ambar di minta secara khusus oleh keluarga Dirgantara untuk merawat dan mengawasi Jingga secara langsung.


“Kandungan Nyonya, baik-baik saja. Untung saja kandungan Nyonya dalam kondisi yang kuat. Janinnya sehat dan masih aktif” ucap Dokter Ambar menuturkan kala ia meletakkan sebuah alat di perut Jingga. Dokter Ambar bisa merasakan jika mahkluk kecil yang ada di dalam sana sedang menari-nari dengan lincahnya.


“Baik saya rasa cukup pemeriksaan hari ini. Saya akan visit kembali nanti selepas magrib. Sebaiknya Nyonya Jingga istirahat dulu dan jangan banyak untuk bergerak. Satu lagi perbanyak makanan yang sehat ya” Pesan Dokter Dara dan Dokter Ambar sebelum mereka beranjak meningalkan Jingga dan keluarga di sana.


.


.


.


Oma dan Bu Nadin, masih duduk di sebelah Jingga, ketiga wanita beda generasi itu sedang terlibat dalam suatu obrolan wanita. Oma, seakan sedang memberikan wejangan pada cucu menantunya, sementara Bu Nadin sedang mengupaskan buah jeruk dalam gengamannya.


Pak Angga menarik lengan Fajar, ia membawanya keluar dari ruangan. Fajar yang menyadari hal itu lekas mengikuti instruksi yang diberikan sang Papa.


Ia berdiri di sudut lorong dengan tangan yang bersendekap di dada. Matanya menatap lurus di seberkas cahaya yang ada. Tak ada raut wajah ramah tergambar, hanya guratan rasa kecewa yang ada.


“Fajar, bagaimana kamu bisa selengah itu menjaga istrimu?”

__ADS_1


__ADS_2