
“Aku masih tidak menyangka Kinan, ketidak mungkin nan yang slalu kita semoga kan nyatanya terwujud. Allah berbaik hati untuk mewujudkan semua itu”
Seminggu berlalu, semenjak kehadiran Bu Kinan yang turut serta merawat Oma membuat kesehatan Oma cenderung membaik. Ia mengalaimi kemajuan yang luar biasa. Sehari
setelah pertemuannya dengan Bu Kinan, Oma telah mampu untuk kembali membuka matanya. Tangis haru menyertai pertemuan mereka ketika keduanya sudah saling bisa berbicara dengan baik, layaknya orang sehat pada umumnya.
“Aku pun demikian Laras, aku sudah putus asa akan rencana itu, bahkan jauh ketika cucuku
di ambil alih oleh Hermawan”
Saat ini, keduanya sedang menikmati udara pagi di kediaman Oma. Sudah lebih dari tiga hari ini Bu Kinan menginap di sana. Atas permintaan Jingga dan juga Oma. Tak ingin membuat cucu dan sahabatnya kecewa ia dengan senang hati menerima tawaran tersebut.
“Aku takut tak bisa berjumpa denganmu sebelum sempat untuk meminta maaf. Beberapa waktu
yang lalu, aku meminta pada Angga untuk mencari keberadaanmu. Aku ingin meminta
maaf kerana tidak bisa menepati janjiku. Fajar telah menikahi wanita lain”
“Aku khaatir jika maafku belum sampai tapi ajalku lebih dulu untuk menjemput. Namun ternyata
aku keliru. Lagi-lagi Allah telah berbaik hati denganku. Ternyata Jingga adalah cucumu. Cucu yang telah lama terpisah. Aku tidak perlu ragu untuk itu, bonusnya bisa bertemu kembali denganmu Kinan”
Keduanya nampak asyik berbincang di taman, menikmati secangkir teh hangat dan beberap
kue tradisioanal yang ada di sebelah mereka. Sungguh ini adalah cita-cita mereka sejak masih remaja. Bisa menghabiskan masa tua bersama dengan anak cucu mereka. Lantunan suara gending-gending jawa yang fenomenal pada masanya mengiringi cerita mereka berdua.
****
Hari memang masih pagi. Tapi di kediaman Dirgantara sudah di hebohkan dengan rencana
yang telah di susun Fajar beberapa waktu yang lalu. Beberapa MUA telah datang untuk membatu merias Jingga dan Bu Nadin. Fajar mengharapkan hari ini terlihat sempurna di mata semu orang nantinya.
Jingga memakai gaun panjang sederhana namum elegan warna pink nude. Ia juga melengkapi tampilan pagi ini dengn hijab pasmina yang di tata sedemikian rupa agar
penampilannya terlihat sempurna. Seperti biasah ia akan menggunakan bros kecil berlogo C yang di letakan pada kerudungnya.
Tak lupa Fajar, memberikan sebuah cincin cantik dengan aksen batu safir yang ada di tengahnya. Konon cincin itu keluaran terbaru dan hanya ada lima buah di seluruh dunia. Sebenarnya tanpa barang-barang mewah pun penampilan Jingga sudah terlihat sangat cantik dan elegan.
Semua keluarga turut serta dalam acara ini. Termasuk Oma berikut nenek. Mereka berada
dalam satu mobil yang sama, dua sahabat ini sama sekali tak terpisahkan semenjak awal pertemuan mereka beberapa hari yang lalu. Gendhis bayi kecil itu juga tak kalah menyita perhatian semua orang. Ia memakai gaun warna senada dengan orang tuanya. Di tambah topi kecil yang berenda menambah tingkat kecantikannya.
Rombongan terdiri dari tiga mobil. Di mana mobil pertama di isi oleh bu Nadin dan pak Angga
yang di susul dengan mobil ke dua membawa serta Nenek Kinan dan juga Oma Laras. Tentu saja di dampingi oleh beberapa pelayan dan pengawal lainnya. Sementara mobil ke tiga di isi oleh Fajar, Jingga beserta dengan Gendhis. Mobil mulai melaju dengan pelan membelah padatnya jalanan Surabaya ketika pagi hari.
“Mas sebenarnya kita mau ke mana?”
__ADS_1
“Kenapa harus berpakaian seperti ini?” tanya Jingga dengan bingung. Semenjak memiliki
anak, ia jarang sekali memakai pakaian formal. Jingga lebih nyaman menggunakan setelan atas bawah yang memudahkan ruang geraknya dalam menjaga sang anak.
“Setelah ini kamu akan tahu sayang”
Mobil kembali melaju dengan kecepatan cenderung pelan mengingat saat pagi datang
jalanan Surabaya begitu padat layaknya Ibu kota. Perlahan mobil mulai memasuki kawasan sebuah hotel berbintang lima yang ada di pusat kota.
Mobil Bu Nadin mulai berhenti di depan lobi hotel yang di susul dengan mobil yang lainnya. Seluruh keluarga besar Dirgantara sudah tiba di lobi hotel. Bu Nadin dan pak Angga berjalan lebih dulu dengan bergandengan tangan mengikuti
instruksi yang di berikan oleh petugas hotel.
Hal yang sama juga di lakukan Oma dan nenek Kinan. Oma yang sedang duduk di kursi roda di bantu oleh suster untuk ikut serta mengikuti langkah Pak Angga ke tempat yang telah di tentukan. Bu Kinan begitu setia berada di samping sahabatnya.
Rombongan terakhir adalah Jingga dan Fajar, mereka berjalan beriringan dengan Gendis
berada di dalam dekapan Fajar. Satu tangan Fajar yang lainnya menggandeng tangan Jingga dengan penuh cinta. Keluarga Dirgantara lekas menuju aula khusus yang telah di pesan Fajar.
Suasana aula yang di gunakan untuk meeting telah di penuhi banyak orang. Mayoritas mereka
dari kalangan orang-orang penting dan berkelas, terlihat dari penampilan mereka yang begitu elegan.
Seluruh keluarga Dirgantara duduk di barisan paling depan dan sling bersebelahan dengan
perusahaan.
PakAngga sebagai pemilik Dirgantara grup lekas membuka rapat hari ini dengan segera. Ia mengumumkan estafet kepemimpinan Diantara setelah ini bergeser pada Fajar selaku putra satu-satunya.
Pernyataan Pak Angga lekas di sambut dengan tepuk tangan meriah dari seluruh anggota yang
hadir di sana. Mereka sudah dapat menebak akan hal ini. Pada siapa lagi kepemilikan perusahaan akan jatuh jika tidak pada putra mahkota.
“Terima kasih, atas dukungannya. Adapun hal besar kedua yang akan saya sampaikan adalah prihal Cakrawala Grup. Kita tahu Dirgantara dan Cakrawala adalah dua perusahan besar yang saling bekerja sama sejak dulu”
“Mungkin rekan-rekan di sini bingung, mengapa pengumuman kepemilikan Dirgantara Grup
harus mengundang beberapa petinggi penting dari Cakrawala Grup”
Seluruh peserta rapat tampak mengangguk-anggukkan kepala. Ia lekas melirik beberapa reka di sampingnya yang memanglah dari perusahaan yang berbeda.
“Prihal Cakrawala Grup, kepemilikannya akan jatuh pada Jingga Ayu Kemuning selaku anak
kandung dari Pak Bramantyo”
Deg
__ADS_1
Jantung Jingga rasanya terhenti saat itu juga, ini di luar apa yang di perkirakan. Ia tak menyangka jika secepat ini kepemilikan perusahaan akan berganti.
“Beliau ada di sana, Jingga adalah menantu saya kebetulan istri dari Fajar Dirgantara. Kita tahu bahwa Cakrawala bukanlah milik Hermawan. Cakrawala adalah milik Bramantyo”
Pak Angga menunjuk ke arah Jingga saat itu juga, membuat seluruh mata tertuju padanya.
Jingga membalas dengan tersenyum manis meski rasanya ia sendiri bingung harus berbuat
apa.
Tak ada satu pun dari peserta rapat yang protes prihal hal ini, mengingat sejak awal mereka tahu jika Hermawan bukanlah pemilik asli dari Cakrawala. Namun yang mereka tahu kabar kematian anak dari Bramantyo telah beredar di kalangan pebisnis, membuat mereka mengira jika Hermawan dan anak turunnya yang akan
menjadi penerus dari Cakrawala.
“Saya harap kerjasamanya untuk kemajuan Cakrawala dan Dirgantara. Setelah ini dua
perusahaan ini akan bergabung menjadi satu, tidak akan ada saingan ataupun lawan di antara keduanya. Karena pemilik dari kedua perusahan besar ini adalah sepasang suami istri” terang Pak Angga yang di sambut gelak tawa dan ucapan
selamat dari seluruh peserta yang hadir di sana.
“Saya ingin memberikan kesempatan pada anak dan cucu saya sebagai pemilik perusahaan
untuk memberikan sedikit sapaannya pada rekan-rekan yang hadir di sini”
Pak Angga memilih turun dan mempersilahkan Fajar dan Jingga menggantikan saat itu
juga. Fajar dengan cukup percaya diri menggandeng istrinya untuk maju ke depan
dan satu tangannya menggendong Gendhis.
“Selamat pagi semuanya” sapanya dengan penuh karisma.
“Saya akan memperkenalkan anak dan istri saya, karena sebagian besar dari rekan-rekan
di sini sudah mengenal saja”
“wanita cantik yang ada di sebelah saya adalah Jingga. Seperti namanya dia begitu cantik
dan mempesona, tentu hanya saya yang boleh memujinya. Dia adalah istri saya tercinta partner dalam segala hal termasuk dalam memimpin perusahaan ini nantinya, dia juga adalah pewaris tunggal dari Cakrawala grup”
Pernyataan Fajar, lekas di sambut riuh dengan tepuk tangan peserta rapat.
“Bayi kecil ini, adalah putri kami berdua namanya Gendhis. Putri kami ini adalah pemilik dari Dirgantara dan Cakrawala grup nantinya”
Gendhis melambaikan tangannya, sekaan turut menyapa seluruh peserta rapat yang ada. Sontak
tingkahnya yang mengemaskan membuat riuh dan tepuk tangan bagi peserta lainnya.
__ADS_1