JINGGA

JINGGA
97


__ADS_3

“Pulang, ku bilang pulang ya pulang” Jingga menangis, entah mengapa ia begitu emosian kala berhadapan dengan Fajar. Rasa rindu yang menggebu-gebu membuatnya suka bertindak konyol.


“Astaga sayang, kenapa nangis lagi sih? Emang mau ngapain kalau aku sudah pulang? Segitunya ya rindu sama aku?”


“Mas Fajar kok gitu sih ngomongnya? Aku kan cuma mau ketemu sama kamu mas. Apa memang benar kalau di sana Mas punya wanita lain? Jadi malas untuk pulang? Kenapa apa kurangnya aku mas? Aku sudah menuruti semua perintah mas Fajar. Aku hampir setiap hari melakukan perawatan tubuh demi untuk Mas Fajar” hiks...hik...Jingga menangis ia menutup wajahnya dengan kedua tangan.


“Astaga sayang, coba lihat sekarang aku lagi di mana? Ini di kantor, aku sedang tidak berlibur. Sehina itukah aku di matamu? Aku lebih menyukai mencari uang dari pada mencari wanita”


“Sungguh?” Jingga masih meragukan.


“Hum, beberapa hari lagi aku akan pulang. Setelah kepulanganku nanti aku akan, mengosongkan jadwalku khusus untuk menemani permaisuri yang cantik ini”.


Jingga mulai mendongak menatap ke layar ponselnya “Sungguh?”


“Iya sayangku”.


“Kata Susi, kamu belum mau makan nasi, besok ke Dokter ya, tolong jangan sakit. Aku takut kamu kenapa-napa"


“Aku tida papa mas” jawabnya dengan lesu.


"kalau gak papa, kenapa gak mau makan nasi?"


"Apa sebelumnya kamu pernah sakit lambung sayang?"


Jingga menggelengkan kepalanya dengan pelan.


"Aku mau makan nasi kalau sama Mas" rengeknya dengan manja hingga membuat Fajar tak kuasa mendengar ucapan itu.


“Makan yang banyak ya”

__ADS_1


“Nanti kalau aku gendut gimana? Kan jadi jelek” Jingga menunjukan wajah yang sangat mengemaskan. Bibirnya sedikit manyun tapi tidak bisa menutupi wajah imutnya terlebih ketika helaian rambut yang tergerai membuatnya semakin cantik dan lebih muda.


“Tidak sayang, kamu tetap cantik. Tolong di jaga makannya. Apa kamu merindukanku?” pertanyaan yang membahas tentang rasa rindu kembali terlontar.


Hiks..hiks...hiks..


Jingga kembali menangis. Ia ingin memeluk suaminya. Ingin mencium harum tubuh suaminya. Lagi-lagi perasaan melo itu muncul. Alih-alih menjawab pertanyaan Fajar, Jingga lebih memilih untuk menenggelamkan wajahnya di dalam dekapan guling yang telah di semprot parfum suaminya.


“Hedeh, salah lagi” helaan nafas berat dan panjang keluar dari mulut Fajar.


****


Cina


Reza datang dengan membawa banyak lembaran dokumen di tangannya. Ia berjalan dengan cukup tenang dan memasang wajah datar. Rupanya berinteraksi dengan Fajar sepanjang waktu membuatnya sedikit terkontaminasi dengan sikap atasannya.


“Tuan, berikut adalah usaha-usaha Tuan Bramantyo yang bekerja sama dengan keluarga Hermawan. Tuan Fajar bisa mempelajari dulu untuk lebih detailnya”


“Kenapa pada tahu 1999, nama pemilik dari Cakrawala Grup berubah? Apa yang terjadi saat itu?” Mata Fajar fokus menatap pada semua kertas yang ada di depannya.


“Menurut sumber informasi yang telah saya terima, keluarga Bramantyo memiliki banyak perusahan baik itu yang bergerak dalam bidang pangan maupun non pangan. Perusahan terbesarnya berada di Surabaya yang kita kenal dengan Cakrawala Grup”


“Lantas?” Fajar menyilangkan satu kakinya ke atas, dengan tangan yang memegang bolpoint sementara matanya masih sibuk membaca satu persatu lembar kertas tersebut.


“Keluarga Hernawan adalah sahabat Tuan Bramantyo ketika masih di bangku sekolah dasar. Keduanya berpisah saat Hermawan berpindah ke Kalimantan untuk mengikuti ayahnya yang sedang bertugas di sana. Sementara Tuan Bramantyo tetap tinggal di Surabaya”


Hmmm


“Keduanya kembali di pertemukan saat memasuki bangku kuliah, merea berdua kemudian merintis usaha yang sama dalam bidang minuman ringan Es, selepas itu Keluarga Hermawan kembali menghilang tak tau kemana. Sedangkan usaha es yang tela di geluti Tuan Bramantyo semakin maju dan memiliki banyak cabang”.

__ADS_1


“Atas kerja keras dan usahanya perlahan Tuan Bramantyo mulai mendirikan CV yang kemudian berkembang menjadi perusahaan. Namun beberapa tahun kemudian Hermawan kembali datang dan menawarkan beberapa kerja sama untuk pengembangan pabrik di Kalimantan. Setelah di selidiki perusahan yang ada di Kalimantan hanya fiktif tak ada”


“Aku dapat menarik garis besar dari ini” Mata Fajar kembali menatap dengan tajam jemarinya saling meremas.


“Menurut orang kepercayaan Tuan Bramantyo hak asuk Non Jingga jatuh pada kakek dan neneknya, namun hingga saat ini keberadaan kakak dan nenek Non Jingga tak kunjung di temukan keberadaanya di mana. Entah itu masih hidup atau sudah meninggal” Reza mengangkat bahunya.


“Cari terus keberadaan keluarga Jingga yang lainnya”.


“Baik Tuan”.


“Aku rasa besok harus pulang, cukup sudah keberadaan kita di sini. Aku akan menyetujui kerja sama dengan Cakrawala untuk membuka pabrik baru di sini agar mereka tidak curiga”.


“Bai Tuan” Reza menganggukkan kepalanya dengan pelan.


"Urus semuanya secepatnya"


“Aku rasa ada sesuatu yang tidak beres pada istriku, sikapnya mendadak berubah. Emosinya naik turun tak jelas” curhat sekilas Fajar yang tampak frustasi dengan sikap istrinya.


“Mohon maaf Tuan, apa Non Jingga sedang datang bulan?” tanyanya degan ragu takut terlalu mencampuri urusan atasannya.


“Aku rasa tidak”.


“Atau jangan-jangan Non Jingga sedang hamil muda Tuan, menurut buku yang pernah saya baca emosi ibu hamil di awal-awal kehamilan sering naik turun karena perubahan hormon” terang Reza dengan begitu rincinya.


“Apakah seperti itu?”


"Iya Tuan, biasanya di kehamilannya yang awal akan lebih sensitif baik itu emosi dan juga makannya. mereka akan bertindak semaunya, tak jarang permintaan mereka jauh melesat dari orbit yang sesungguhnya"


Fajar mengangguk-anggukan kepalanya mencoba mencerna setiap ucapan dari Reza. Bagi Fajar Reza sudah lebih dari seorang asisten pribadi. Ia bisa menjadi sahabat atau saudara.

__ADS_1


“Tapi berbicara prihal kehamilan kenapa kamu paham betul dengan hal-hal semacam itu?” Fajar menatap Reza dengan penuh selidik.


__ADS_2