
Tunggu!
Kenapa banyak sekali namaku di sini?
Jemarinya kembali membolak-balikkan deretan kertas yang ada di atas meja. Ia mengangkat beberapa lembar dokumen dan membacanya dengan pelan, sejurus kemudian Jingga menemukan nama sang ayah dalam tumpukan kertas di sana. Angannya semakin ingin mengetahui tentang surat-surat yang ada di depannya.
Ceklek...
Pintu kamar mandi terbuka. Fajar keluar dengan wajah yang lebih segar selepas mencuci muka.
“Sayang kamu ngapain?” tanyanya ketika melihat Jingga membawa tumpukan lembar kertas di tangannya.
“Mas ini kenapa banyak namaku di sini?” ucap Jingga, dengan tatapan penuh tanda tanya, keningnya berkerut menuntut sebuah penjelasan.
“Tidak ada apa-apa sayang. Apa tidak boleh nama sang istri ada di beberapa lembar kerja suaminya?”
“Mas aku sedang bertanya yang sesungguhnya!” Jingga masih menuntut penjelasan dari suaminya. Ia sama sekali tak puas dengan jawaban Fajar. Sementara Fajar, masih enggan untuk menceritakan pada Jingga sebelum semuanya berakhir dan berhasil.
“Ayo kita makan dulu. Pasti si kecil sudah kelaparan bukan?” alih-alih menjawab pertanyaan Jingga, laki-laki itu memilih untuk menarik tangan istrinya dan membawanya duduk di sofa yang ada di ruang kerja.
“Mas... ini apa sih?” Rengek Jingga dengan manja dan penuh penasaran.
Fajar mendekat dan menangkup ke dua pipi istrinya, manik matanya menatap dengan tajam pada istrinya. “Ini bukan apa-apa, percayalah suamimu ini hanya sedang mengusahakan yang terbaik untukmu dan anak kita. Jangan banyak pikiran fokuslah pada kehamilan anak kita”
Cup...
Fajar memberikan ciuman sekilas di sudut bibir istrinya. “Ayo makan sayang”
Wajah Jingga memerah, salah satu sikap Fajar yang bisa membuatnya meleleh seketika ketika mendapat perlakuan semacam ini.
“Masak apa hari ini?”
“Tadi mbah Inah bikin capcay dan udang tepung mas”
Dentingan sendok dan garpu mulai saling beradu untuk menikmati suap demi suap yang masuk ke dalam mulut istrinya.
“Mas tidak makan?”
“Ini lagi makan”
“Mana ada, mas Fajar sejak tadi cuma nyuapin aku saja gak makan-makan”
__ADS_1
Fajar tersenyum mendengar penuturan istrinya. Ia datang ke kantor berkedok mengantarkan makan siang untuk suaminya, namun sesampai di kantor ia sendiri yang menghabiskan makanan itu. Fajar tak memberikan kesempatan padanya untuk tidak mengunyah. Dan Jingga menerima dengan baik setiap asupan nutrisi yang melewati tangan suaminya.
“Mas nanti pulang jam berapa?” tanyanya di sela-sela kunyahan.
“Sepertinya akan malam sayang. Nanti biar Reza yang ngantar ya”
“Aku bisa pulang sendiri mas”
“Tapi aku tidak mengizinkan istri dan anakku pulang sendiri, terlebih dengan kondisimu yang seperti ini, Ini sangat beresiko”
“Tida papa mas, aku sudah terbiasa untuk naik ojek” celoteh Jingga begitu saja.
“Naik ojek? Bahkan naik taxi on line saja aku tak memberimu izin” Fajar menatap geram pada istrinya.
“Baik paduka raja, siap”
****
Cahaya surya mulai meredup, meninggalkan siluet warna jingga di ufuk barat. Gema azan mulai menggema memenuhi seluruh penjuru kota. Jingga berdiri di depan pintu, ia berkali-kali masuk dan keluar dari sana. Jemarinya saling meremas resah ketika suaminya tak kunjung pulang petang itu.
“Sus, kenapa Mas Fajar tak pulang-pulang?”
Perutnya yang membuncit dengan tubuh yang sedikit berisi membuat penampilan Jingga terlihat semakin menggoda. Entah mengapa postur tubuhnya yang demikian semakin memancarkan aura kecantikannya.
“Tapi sudah sebulan ini Mas Fajar, tidak pernah pulang lebih dari jam lima sore. Lihatlah Sus, ini bahkan sudah hampir jam enam, tapi suamiku kenapa tak pulang-pulang”
“Saya rasa Tuan sedang sibuk Non, tenanglah jangan resah semua akan baik-baik saja. Bukankah tadi siang Non Jingga juga sudah ke kantor untuk mengantarkan makan siang?”
“Aku masih kangen Sus!” Jingga menatap Susi dengan raut wajah memelas dan berharap di kasihani.
“Astaga Non, baru juga tadi siang ketemu sudah angen saja”
“Kamu tidak mengerti sih Sus rasanya seperti apa? Aku tuh kangen pengen mencium bau harum suamiku. Aku rindu dengannya!” Jingga menghentakkan kakinya ke lantai dengan sebal ketika Susi, sama sekali tak bisa mengerti apa yang sedang ia rasakan.
Astaga apa yang terjadi dengan Non Jingga, kehamilan benar-benar merubah semua yang ada dalam dirinya. Aku seperti melihat dua orang yang berbeda saat ini dan dulu.
Susi menatap dengan jengah tingkah Nona mudanya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan pelan.
Kenapa gak di kandangin aja tuh suaminya. Biar gak bisa ke mana-mana, sekalian tiap waktu di pantengin. Kali aja ada yang bergeser bulu mata atau rambut alisnya.
Susi memilih untuk menuju dapur. Ia berencana membuatkan coklat panas untuk majikannya. Menurut beberapa penelitian yang pernah ia baca dalam jurnal, kandungan coklat dapat meningkatkan dan memperbaiki mood seseorang.
__ADS_1
.
.
.
“Tuan saya rasa ada yang mengikuti mobil kita” ucap Reza, yang kini sedang mengendarai mobil bersama Fajar.
Diam.
Fajar tak menjawab pertanyaan Reza. Sorot matanya menatap spion mobil yang ada di sebelah kiri,
“Tuan” suara Reza kembali terdengar.
“Tingkatkan laju mobilnya!” titahnya dengan dingin, Fajar duduk bersendekap dengan cukup tenang.
Mendengar perintah tersebut, Reza lekas menaikan kecepatan mobilnya dengan penuh. Pria itu dengan cukup lihai membelah jalanan Surabaya yang cukup lenggang mengingat waktu sudah cukup malam untuk bekerja.
“Tuan!” serunya kembali menunggu perintah selanjutnya.
Mata Fajar kembali melirik spion mobil yang ada di sampingnya, benar saja jika mobil hitam itu masih mengikutinya. Bahkan mereka berada dalam jarak yang cukup dekat.
“Arahkan ke tempat biasah!”
Tanpa memberikan jawaban. Reza lekas menjalankan instruksi yang di berikan Fajar. Ia mengendarai mobil dengan kecepatan penuh. Sesampainya di belokan depan, ia memutar arah menuju tempat biasah yang di maksud Fajar. Sementara mobil yang mengikuti mereka di buat kelimpungan dengan tindakan Reza yang membelok secara tiba-tiba.
Citttt
Decitan yang berasal dari ban dan aspal yang saling beradu berbunyi. Reza masih membawa mobil dengan kecepatan penuh. Ia menuju area khusus yang terbilang sepi dan jarang di lewati warga.
Mobil lawan mulai menyusul dengan cepat, setelah tertinggal beberapa saat yang lalu. Satu orang menampakan dirinya, kepalanya keluar dari jendela ketika memasuki kawasan yang sepi dan gelap. Ia mulai mengeluarkan senjata api di tangannya.
“Tuan bagaimana ini?”
“Tenang, kemudikan saja mobil ini dengan penuh konsentrasi”
Mobil hitam itu masih terus mengikutinya, bahkan saat ini posisi mereka hampir berdampingan satu sama lain.
Cit...
Reza kembali memutar arah mencari celah jalan lain. Mobil hitam itu berada dalam radius sepuluh meter lebih. Satu orang tak di kenal masih berada dalam posisi yang sama.
__ADS_1
Dor....