
“Hah! Lima belas juta? Hanya untuk siomay?”
“Kenapa tidak? aku tidak menghitung jumlahnya. Bahkan bisa jadi lebih” Fajar dengan sangat enteng menjawabnya.
“Sudah, istirahat dulu ya sayang. Kau terlalu banyak aktivitas hari ini. Aku tak mau kamu kelelahan dan kembali sakit. Ini adalah masa pemulihan untukmu, jadi turuti semua perintah dokter”
Jadi seperti ini rasanya makan siomay harga lima belas juta, Jingga menelan ludahnya dengan susah. Terkadang ia masih lupa jika saat ini sudah menjadi istri orang kaya.
“Siap baginda raja” kini Jingga sedang berada dalam gendongan Fajar menuju kamar mereka untuk beristirahat.
Kedatangan Jingga dan Fajar beserta bodyguard yang membawa banyak sekali bungkusan somay tentu di sambut hangat oleh seluruh pelayan yang ada di sana. Mereka secara berjejer duduk di tepian kolam menikmati somay pagi itu. Jingga yang melihat dari balik balkon kamarnya tersenyum lega ketika dapat berbagi dan menyenangkan hati orang lain.
“Kau bahagia sayang?”
Jingga menganggukkan kepalanya. “Kau memang wanita istimewa, di saat semua wanita menginginkan barang-barang mewah untuk dirinya sendiri. Istriku yang cantik ini masih sempat untuk memikirkan orang lain” Jingga masih dalam gendongan Fajar, ia memandang lekat wajah bidari yang ada dalam gendongannya.
“Karena aku bukan siapa-siapa tanpa mereka. Mereka telah banyak membantuku, terlebih dengan keadaanku yang sekarang seperti ini. Mereka semua begitu sabar”
"Dan satu lagi, biar mereka bisa merasakan rasanya makan siomay lima belas juta" Jingga tersenyum geli mengingat tingkah suaminya yang kelewat dermawan.
“Istirahatlah sayang, biarkan mereka menikmati makannya”
Fajar membawa istrinya di atas ranjang, menyelimuti tubuh Jingga dengan pelan dan mulai menyalakan AC dalam kamar mereka.
“Mas tidak istirahat?”
“Aku harus memeriksa beberapa dokumen sebentar”.
.
.
.
__ADS_1
Golden Tulip Resort.
Pak Angga mematung sejenak melihat keberadaan Hermawan. Ia tidak menyangka jika akan bertemu kembali dengan mantan calon besannya di sini. Terlebih ternyata mereka terlibat dalam satu lingkup kerja sama yang sama. Pak Angga baru tahu jika, Hermawan juga termasuk pemegang saham perusahaan ini.
Keduanya saling memberikan senyuman dalam jarak radius cukup jauh, sebelum saling mendekat dan berjabat tangan satu sama lain. Pak Angga memilih untuk bersikap biasa saja dan terkesan tidak mengetahui segala hal yang tejadi antara Hermawan dan Fajar.
“Hay sob, lama tak jumpa” sapa Hermawan, keduanya saling berjabat tangan satu sama lain. Mata mereka saling menetap dengan jemari yang saling bertautan. Senyum terpancar dari bibir keduanya.
Untuk hati siapa yang tahu isinya, namun jika melihat sedikit dengusan yang tersurat dari wajah mereka, kobaran rasa kebencian dan rasa tidak suka terlihat jelas dalam guratan wajah meraka.
“Bagaimana kabarmu? Aku tak menyangka jika kita bisa bertemu kembali di sini?” tanya Pak Angga dan mempersilahkan duduk pada Hermawan dalam satu meja yang sama.
“Seperti yang kau lihat, aku baik. Bahkan sangat baik sekali. Lama tak melihatmu, aku pikir kamu sudah mundur dari dunia bisnis dan berencana untuk istirahat” jawab Hermawan kemudian.
“Aku berfikir juga demikian, tapi rasanya lelah juga jika tidak melakukan aktivitas apapun hanya berdiam diri di rumah. Aku bahkan belum merasakan tua, kenapa harus menjompo” ucap Pak Angga, yang kemudian mengundang gelak tawa investor lainnya.
“Sepertinya kau semakin berjaya saat ini Her?”
“Aku dengar menantumu sedang terkena musibah. Bagaimana keadaanya sekarang?”
“Alhamdulilah, Jingga berikut bayinya baik-baik saja. Tak ada cidera yang berarti mengenai tubuhnya”
“Oh ya? Syukurlah, bolehkah aku mengunjunginya?” Hermawan meremas tangannya yang berada di bawah meja.
“Tentu saja boleh, tapi tidak untuk saat ini. Bukankah kita sedang melakukan meeting penting”
Meeting di mulai lebih dari dua jam lamanya, selama meeting semua peserta sibuk dengan pemaparan yang ada di depan mereka. Namun tidak dengan Hermawan dan Pak Angga, keduanya saling mencuri pandangan melihat ekpresi masing-masing. Keduanya saling bersaing untuk memberikan pendapat mereka, seolah ingin menunjukan pada semua yang ada jika salah satu dari mereka lebih kuat.
Satu jam kemudian meeting berakhir. Pak Angga dapat bernafas dengan lega, ketika melihat hasil akhir yang menunjukan bahwa usulan Pak Angga di terima. Sementara Hermawan keluar dari ruangan dengan wajah yang masam.
****
“Jingga..”
__ADS_1
“Jingga, lihat ini aku membawa banyak hadiah untuk mu” suara Oma yang tak lagi merdu menggelegar mengisi seluruh ruang tamu ramah Fajar malam itu. Ia datang bersama dengan Bu Nadin dan beberapa pelayan yang lainnya. Kehadiran Oma, ke rumah Fajar membawakan banyak sekali hadiah untuk cucu menantunya.
Jingga yang menyadari kedatangan tamu agung dalam rumahnya lekas meminta Susi untuk mendorong kursi rodanya menuju ruang tamu.
“Jingga” suara Oma kembali terucap, ia berjalan dengan menggunakan satu tongkat dalam tangan kanannya. Sementara bu Nadin menenteng tas mahal di tangannya.
“Iya Nyonya Oma” jawab Jingga dengan riang. Jingga paling senang jika Oma dan mertuanya berkunjung ke rumahnya, ia tidak akan merasakan kesepian terlebih akhir-akhir ini Fajar slalu pulang larut malam, sementara ruang geraknya terbatas karena kakinya yang belum sembuh seutuhnya.
“Nyonya Oma, Mama” sapanya dengan Susi, yang mendorong kursi roda mengarahkan pada dua wanita yang kini sedang duduk di sofa ruang tamu. Jingga datang mencium tangan mereka dengan penuh takzim.
“Wau, luar biasah sekali. Hasil mahakarya cucuku ini” Oma mengelus lembut perut Jingga yang sudah membulat.
“Ah kamu pasti sangat tersiksa dengan keadaan seperti ini. Hamil saja sudah susah apa lagi harus dengan duduk di kursi roda semacam ini” Oma menatap dengan sendu nasib Jingga, yang tak dapat menikmati masa hamilnya selayaknya wanita pada umunya.
“Tapi tenang, kita akan mencarikan Dokter terbaik untukmu”
“Sabar ya nak, sebentar lagi semuanya akan kembali. Kamu pasti akan sembuh” Kini Bu Nadin mengelus lembut punggung Jingga, mencoba memberikan kekuatan di sana.
Sementara Oma, masih dalam posisi yang sama, tangannya enggan beranjak dari perut Jingga. Oma mengelus berkali-kali perut cucunya hingga suatau gerakan dapat terasa di telapak tangannya.
“Oh cicitku menyapa” ia terperanjat kaget dengan gerakan halus yang tercipta di sana. Oma tak kuasa menahan senyum ketika merasakan gerakan itu. Hal yang sama di lakukan Bu Nadin, beliau tak ingin melewatkan moment sapaan cucunya.
“Wah luar biasa aktif sekali, seperti bapaknya dulu”
“Jingga, kami ke sini membawakan banyak baju untukmu. Aku yakin bajumu sudah banyak yang tidak muat bukan? Lihat ini semoga kamu menyukainya”
“Banyak sekali nyonya Oma, maafkan Jingga yang slalu merepotkan. Bahkan Jingga sudah lama tak main ke rumah Mama”
“Tak masalah, saat ini yang penting adalah kesehatanmu”
“Coba pakai yang ini” Oma menyerahkan satu baju warna pink berupa dress pada Jingga. Ia mulai mencoba memakaikan pada Jingga.
Aduh....
__ADS_1