
Satu minggu setelah kejadian tragis yang menimpa keluarga Dirgantara. Akhirnya
Jingga dan Fajar di perkenankan untuk kembali pulang. Kondisi Gendhis juga sudah cukup membaik bahkan bayi itu terlihat lebih aktif dari biasanya. Ia berceloteh khas bayi pada umumnya.
Pukul 15.00 wib mereka mulai meninggalkan area rumah sakit, membawa serta keluarga
lengkapnya untuk kembali pulang. Bu Nadin turut serta dalam penjemputan cucunya kali ini. Ia menitipkan Oma pada pak Angga untuk menjaganya sejenak.
Perlahan mobil mulai meningalkan rumah sakit, berjalan dengan pelan sambil menikmati
jalanan yang lenggang. Gendhis berada di pangkuan Bu Nadin. Wanita itu begitu sangat merindukan cucunya setelah seminggu lebih tak berjumpa. Banyak yang berubah dari Gendhis, bayi itu semakin banyak tingkahnya saja.
“Astaga Mas, ini kah hotel yang kemarin menjadi tempat penyekapan kami” tanya Jingga
ketika mereka melintasi area hotel yang tampak luluh lantah dengan tanah. Tak ada sama sekali yang tersisa dari bangunan itu. Hanya puing-puing bata yang saling berserakan serta warna hitam yang begitu mendominasi.
“Betul”
“Pak tolong pelankan laju mobilnya” perintah Jingga kemudian, matanya sibuk mengamati
apa yang ada di hadapannya saat ini.
“Ini sungguh sangat tragis Mas”
“Alhamdulilah ya non kita semua selamat” sahut Asih yang duduk di jok bagian belakang bersama
dengan tumpukan baju-baju majikannya.
“Iya alhamdulilah kita selamat. Semoga setelah ini tidak ada lagi kejadian semacam ini kembali. Jangan sampai anak dan cucuku mengulang apa yang pernah terjadi pada kami saat ini”
Begitulah do’a yang sepenuh hati Jingga gaungkan untuk anak dan keturunannya nanti.
Bagaimanapun juga keluarga Jingga dan Fajar adalah keluarga yang kaya raya. Pasti banyak sekali musuh atau orang yang iri pada kehidupan mereka.
“Aamiin”
Sahut dengan kompak semua yang ada di dalam mobil.
Perlahan mobil mulai melaju meninggalkan hotel dengan segenap kenangan buruknya di sana.
Pandangan Jingga masih terpusat pada area sana. Sisa-sisa rasa takut dan trauma masih begitu jelas di sana.
“Mas, bolehkah aku mengunjungi makam Bu Lia dan Dahlia?” tanya Jingga ketika pandangan
pada hotel tersebut telah hilang, termakan jarak mobil yang berjalan meningalkan area.
“Untuk apa?” kening Fajar, berkerut ketika mendengar ucapan istrinya. Ia menatap sang
istri dengan penuh tanda tanya.
__ADS_1
“Aku ingin mendoakannya mas. Bagaimanapun juga aku pernah tinggal bersama dengan mereka sangat lama. Aku juga ingin mengucapkan terima kasih pada Dahlia”
“Terimakasih untuk apa? Bahkan dia hampir saja mencelakai nyawamu”
“Terimakasih, karena kaburnya dia dalam pernikahannya dulu. Membawaku untuk berjodoh denganmu Mas”
Uh hati Fajar meleleh mendengar ucapan istrinya.
“Kamu terlalu baik nak pada semua orang. Bahkan pada mereka yang sudah jelas-jelas bersikap jahat padamu, kamu masih mau mendoakannya” sela Bu Nadin yang memandang kagum pada menantu di sebelahnya.
“Sesama manusia kita harus saling memaafkan dan mendoakan kebaikan Ma”
Ia menyandarkan dirinya pada Bu Nadin, seolah sedang merasakan kasih sayang Mama kandungnya.
“Baiklah kalau begitu”
“Pak kita mampir dulu ke pemakaman terdekat di area sini”
“Baik Tuan”
Lima belas menit berlalu, sampailah mereka dia area parkiran makam. Sopir lekas memarkirkan mobilnya di tempat yang aman. Sementara Jingga mulai turun dari mobilnya, di susul dengan Fajar dan Asih yang mengikuti di bagian belakang.
“Mama, tunggu di sini saja ya. Kasihan Gendhis kalau di ajak ke makam”
Jingga menganggukkan kepalanya.
Mereka bertiga mulai mencari keberadaan makam Bu Lia dan Dalia, petugas makam yang
“Ini Tuan, makan dari Bu Lia dan Dahlia”
Dua nama wanita yang Jingga kenal kini telah tertulis di atas nisan. Dua wanita yang beberapa hari lalu telah menyiksa dan hampir membunuhnya. Justru kini merekalah yang harus terbaring selamanya di bawah timbunan tanah.
Jingga mulai duduk, tangannya menangkup di dada dengan mata yang terpejam. Bibirnya
sibuk merapalkan doa-doa untuk orang yanga ada didepannya saat ini.
Cukup lama ia berdoa dalam diam. Bahkan air mata juga sempat singgah di pipi indahnya.
“Stop jangan menangis”
“Jangan tangisi mereka yang telah berbuat jahat padamu”
“Aku tidak menangisi untuk itu Mas, aku hanya kasihan pada mereka saja. Hidupnya harus
berakhir seperti ini. Oh ya untuk Pak Hermawan sekarang di mana? Apakah dia masih berkeliaran di luar?”
Wajah Jingga mendadak panik, ia takut jika tiba-tiba Hermawan datang dan kembali mengacaukan kehidupannya saat ini.
“tidak sayang, kamu tenang saja. Dia sudah di penjara”
__ADS_1
“Ada banyak hal yang ingin aku tanyakan pada belau mas”
“Untuk apa?”
“Prihal keluargaku, asal-usul ku. Aku ingin mengetahui semua itu”
“Tentu sayang, aku akan membantu mencarikan informasi untuk itu”
Asih dan Jingga mulai menaburkan bunga di atas Bu Lia dan Dahlia, mereka juga menyiramkan air di atas sana.
*****
Hari mulai petang, ketika matahari mulai merangkak untuk pulang. Fajar beserta
keluarga telah sampai di kediaman rumah utama Pak Angga. Mereka sedang duduk di
l ruang tengah dengan bermain bersama Gendhis. Menikmati moment keluarga yang
telah hilang beberapa waktu yang lalu.
“Ma kira-kira kapan Oma di perbolehkan untuk pulang? Aku ingin berkunjung ke sana” ucap Jingga di tengah keriuhan bermain dengan anaknya. Sungguh rasanya ingin sekali bisa kembali melihat kondisi Oma. Namun Jingga, juga trauma jika harus meningalkan Gendhis seorang diri. Ia takut sesuatu hal buruk terjadi kembali pada anaknya.
Bu Nadin diam sejak. Ia bahkan meletakan mainan Gendhis yang ada dalam gengamannya. Pandangannya tiba-tiba menguar menatap ke segala arah. Seakan sedang menyimpan sesuatu di sana.
“Aku tak tahu nak” jawabnya dengan lirih setengah putus asa.
“Ada apa Ma? Apakah terjadi sesuatu pada Oma?”
Mendengar jawaban mertuanya yang terbilang pasrah membuat wanita itu, takut akan sesuatu
hal buruk terjadi pada Oma.
“Dokter mengatakan kondisi Oma tak kunjung membaik. Semakin hari daya tubuhnya semakin
menurun. Faktor usia menambah sukarnya pengobatan untuknya” Bu Nadin menyeka
sudut matanya yang berembun. Ia begitu menyayangi Oma selayaknya Ibu kandungnya
sendiri.
Sejak menikah dengan Pak Angga, Oma tak pernah membedakan perlakuannya. Ia begitu
baik sekali padanya, meskipun hanya seorang menantu dalam keluarga Dirgantara dan berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja. Untuk itulah Bu Nadin, slalu bersikap baik pada Jingga. Ia bercermin dan mencontoh cara Oma ketika
memperlakukannya dulu dan sampai saat ini.
“Oma juga tidak mau makan Jingga. Mama sudah berusaha untuk membujuknya tapi
entahlah. Oma begitu susah ketika di suruh makan”
__ADS_1
“Bagiamana kalau besok aku masak untuk Oma Ma. Aku akan mengantarkan sarapan untuk beliau ke rumah sakit”
“Lantas bagaimana dengan Gendhis? Apa kamu tega meningalkan dia di rumah?”